
"Dear seseorang biarlah saat ini rasa rinduku, ku titipkan kepada pemilik hati yang sesungguhnya agar lebih siap diwaktu yang tepat...sabar ya..untuk menanti waktu yang tepat itu" Rendra.
Saat ini Nisrina masih menemani Indra memenuhi undangan salah satu temannya, Nisrina memilih tempat duduk yang tidak banyak dipilih para tamu undangan sebab dirinya hanya menemani tidak ada seorang yang dikenalnya ditempat ini.
Tepatnya dibangku paling sudut, Indra pun setuju dengan pilihan Nisrina yang lebih ingin mengenal Nisrina ketimbang acara yang dihadirinya walaupun ada berapa persen dari saham miliknya dari produk yang akan launching perdana malam ini.
Indra yang saat ini mengambilkan beberapa menu makanan yang disediakan tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang akan menimbulkan keributan bukan untuk dirinya tapi tepatnya Nisrina yang jadi sasarannya tepatnya korban salah sasaran, tapi ada banyak rencana tuhan yang indah dari kejadian yang salah sasaran ini.
"Kalau mau jadi penggoda..liat-liat..dong siapa yang kamu goda.." bentaknya ke Nisrina yang didatangi oleh beberapa wanita yang sedikit lebih dua atau tiga tahun umurnya diatas Nisrina.
Nisrina sendiri terlihat bingung dengan apa yang diucapkan dari salah satu wanita yang tiba-tiba mendatangi tempat duduknya.
"Jangan..sok polos..kita sama-sama perempuan..kamu tega..ya.." ucapnya lagi dengan tanpa berpikir siapa yang sedang dibentaknya.
Nisrina tidak membalasnya masih tetap diam, hanya saja dia jadi pusat perhatian orang yang menghadiri undangan saat ini.
Nisrina masih tetap dalam keadaan sabar walaupun ada sedikit rasa malu dengan tuduhan yang dilontarkan dari mulut wanita yang sama sekali tidak dikenalnya, yang masih mencaci makin Nisrina seenak mulutnya yang seperti kendaraan yang remnya blong.
Indra yang akan kembali ketempat duduknya dibuat bingung juga sedikit kesal sebab dia tahu siapa Nisrina dengan sedikit meninggikan suaranya Indra menghentikan wanita itu untuk stop mempermalukan Nisrina.
"Stop..maaf..mba..kenal..siapa dia.." tanya Indra yang spontan mendekap Nisrina yang mulai sedikit takut juga malu walaupun awalnya masih tenang.
"Tahu..lah..dia penggoda.." teriaknya membalas pertanyaan Indra.
"Penggoda..siapa yang mba bilang penggoda.." tanya Indra lagi semakin meninggikan suaranya.
"Dia..penggoda pacar saya.." balas wanita itu lagi tanpa memikirkan ucapannya.
"Yang mana..pacar anda.." pinta Indra makin marah kepada wanita yang masih merasa dirinya benar.
Wanita itu dengan pedenya menarik lelaki yang dia sebut pacarnya yang hanya tertunduk malu tidak dapat berkata sepatah katapun yang makin membuat Indra naik darah.
"Mba..saya masih menghargai anda sebagai wanita kalau saja.." belum selesai Indra berkata wanita itu lebih dulu berceloteh yang semakin indra hilang kesabarannya.
"Kalau saya bukan wanita terus anda mau apa..ayo..mau apa.." teriaknya lagi ga mau kalah keras bersuara.
"Ok..mba..ini pacar..mba..boleh saya tanya..mas..kenal..ini siapa.." tanya Indra memegang bahu Nisrina yang gemetar.
__ADS_1
"Maaf..mas..maafkan pacar..saya.." ucap lelaki itu belum menjawab pertanyaan Indra.
"Mas..jawab dulu..pertanyaan saya.., saya tidak butuh maaf..mas.." mental Indra tambah kesal.
"Maaf..mas..saya tidak mengenalnya.." jawab lelaki itu dengan tangan tanda meminta maaf.
"Ok..mba sudah dengar dengan jelas.." Indra masih dengan suara kesalnya.
"Gimana sih baby..bukannya tadi perempuan ini menggoda mu baby..." seru wanita itu ke pacarnya.
"Mba..asal mba tahu saja..ya..dia bukan menggoda pacar mba tapi menggoda saya sebab saya calon..suaminya..masih belum jelas..dia dari tadi hanya berdua dengan saya tidak berbincang dengan siapapun..jika mba belum percaya juga baiklah.." Indra memberikan tanda kepada temannya yang mengundangnya.
Keduanya seperti faham tanpa banyak cakap langsung menjelaskan bahwa Indra dan Nisrina adalah calon suami istri, sejak kedatangannya tidak berbincang dengan orang lain selain mereka hanya berduaan saja.
Nisrina sendiri hanya dia dalam dekapan Indra bukan nyaman hanya meminta perlindungan sebab dengan cara bagaiamana pun wanita itu tidak akan mau mendengarkan penjelasan dari dirinya.
Dengan rasa malu beberapa wanita itu meminta maaf begitupun lelaki yang disebut pacar dari salah satu wanita itu, Indra yang masih geram masih menyimpan rasa kesal.
"Kalau saja bukan di acara..loe..udah gue..bikin rujak bebek..lagian jadi laki..kaga ada tegas-tegasnya..bikin kesal..saja" seru Indra yang masih belum sadar masih mendekap Nisrina yang masih terlihat sedikit sedih dipemalukan didepan orang banyak.
"Secara pribadi gue..minta maaf sama loe..terkhusus buat Nis..maaf ya..Nis diawal pertemuan kita ada insiden yang bikin Nis ga nyaman sekali lagi maaf.." ucap teman Indra ke Indra dan Nisrina.
Saat menunggu mobil miliknya datang Indra baru menyadari dirinya masih mendekap Nisrina " maaf..maafin..mas bukan memanfaatkan situasi..sekali lagi maafin mas.." dengan cepat Indra melepaskan dekapannya.
Nisrina mengerti situasi yang harus membuat Indra melakukan itu dan itu diluar kesadarannya, tapi ada rasa yang nyaman dari dekapan tangan Indra apa karena Indra satu-satunya lelaki yang pertama melakukan itu entahlah yang jelas ada rasa yang nyaman Nisrina rasakan dalam dadanya.
Tanpa sadar air mata Nisrina menetes karena merasa Indra telah menjadi pelindung bagi dirinya sesaat Nisrina mengingat peristiwa yang baru saja dialaminya.
"Nis..maafin mas..karena mas yang menyebabkan Nis jadi terluka.." ucap Indra yang akan menghapus air mata Nisrina, Nisrina menolaknya dengan harus.
"Tidak ada yang salah mas..semua sudah diatur oleh tuhan..semua tidak ada yang kebetulan dalam hidup kita.." ucap Nisrina yang terlihat sedikit tenang, yang membuat Indra sedikit tercengang dikondisinya yang terluka masih bisa berpikir bijak " setulus itu..hatimu.." batin Indra dengan memandang intens Nisrina.
"Nis..boleh..mas..minta waktu sebentar..kita mampir dulu ke tempat yang bikin Nis sedikit santai mas tidak mau, Nis mas..ajak pulang dengan kondisi tidak nyaman seperti ini..mas akan bersalah didepan ayah Nis..mas ga mau itu terjadi pada saat baru saja diijinkan pergi dengan Nis.." pinta Indra dengan penjelasan yang cukup masuk akal.
"Tapi..jangan pake lama ya..mas Nis ga mau memanfaatkan kebaikan ayah.." pinta Nisrina ke Indra.
"Siap..laksanakan..tuan putri..meluncur.." ucap Indra menjalankan empat roda bundarnya ke tempat tujuannya, cukup dikenal oleh anak muda yang ingin santai atau bersama orang terdekat bisa juga berbagi kebahagian dengan orang tersayang.
__ADS_1
Disini terlihat tenang walaupun banyak pengunjung yang datang, Indra yang humoris juga pandai membuat situasi jadi hangat ada saja tiap ucapannya membuat Nisrina tersenyum hingga terlihat sebaris gigi putih miliknya.
Indra senang Nisrina merasa nyaman ada bersamanya walaupun sesekali membuat Nisrina menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar oleh Indra yang cukup membuat dirinya sedikit berpikir mengapa harus ditutupi bila tertawa sedikit terbahak, sehingga Indra tampa malu bertanya.
"Nis..kenapa tawanya harus ditutupi..biarkan lepas agar sedikit menghilangkan bebanmu..loh.." secara tidak langsung Indra bertanya.
"Tidak sopan menurut..Nis, Nis..kan perempuan mas.." jawabnya yang menurut Indra masuk akal juga sebab suara sebagian dari rasa malu pada wanita.
Dalam diri keduanya tanpa disadari sudah ada rasa kenyamanan saat bersama walaupun baru pertama buat Nisrina juga Indra, Nisrina yang masih membatasi diri untuk terbuka diri tapi ini sudah lebih dari cukup untuk Indra yang baru mengenal Nisrina secara personal.
Sesuai janjinya Indra tidak lama di cafe itu, saat ini keduanya sudah menelusuri jalanan menuju kediaman orang tua Nisrina, memang jam masih belum terlalu malam tapi di jam seperti ini paling asyik ada di rumah kumpul bareng keluarga atau sekedar tidur-tiduran dikasur empuk dengan bertelepon ria dengan seseorang siapapun itu.
Mobil mewah itu sudah menghentikan lajunya, Indra yang telah membukakan pintu untuk Nisrina disambung dengan Nisrina keluar dari dalam mobil mewah milik Indra.
"Nis..sekali lagi maafin...mas yang belum bisa menjaga amanah ayah..Nis dan terimakasih untuk waktunya menemani mas.." ucap Indra sebelum sampai di pintu utama rumah ayah Nisrina.
Dan tak butuh lama lelaki paru baya yang dipanggil ayah oleh Nisrina membuka pintu dan menjawab salam dari kedua anak muda yang dikenalnya, Indra tidak mau mengganggu waktu istirahat keluarga Nisrina dia langsung berpamitan.
"Om..terima kasih sudah mengijinkan Nis menemani saya..dan mohon dimaaf bila terlalu lama..membawa Nis " ucap Indra dengan sopan ke ayah Nisrina.
"Sama-sama..nak Indra, ayah tahu pasti nak Indra sudah mengusahakan iya..kan.." balas ayah Nisrina yang melihat Indra bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dijanjikan padanya.
"Masuk dulu nak.." ujar ayah Nisrina menguji Indra.
"Maaf..om..bukan tidak mau hanya saja ini sudah waktunya istirahat lain waktu saja..saya permisi sekali lagi terimakasih sudah mengijinkan Nis menemani saya.." ucap Indra sopan dan mencium tangan ayah Nisrina akan meninggalkan kediaman Nisrina.
Indra berpamitan juga kapada Nisrina yang berdiri disamping ayahnya." Nis..saya pamit dulu dan terimakasih atas waktunya.." dengan tersenyum ramah indra berucap.
Nisrina sendiri hanya tersenyum membalas ucapan dari Indra dan hanya memandang Indra yang masuk kedalam mobil milik Indra yang siap meluncur meninggal kediamannya.
Nisrina yang dirangkul oleh ayahnya masuk dan digoda oleh ayahnya dengan candaan membuat Nisrina malu.
"Cie..cie..awas..nanti ada rasa..loh.." goda Dimas ke anak gadisnya yang malu.
"Ayah..jangan mulai..mba lagi cape..nih.." balas Nisrina yang meninggalkan ayahnya menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan sholat isya, Nisrina merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya dengan tangan memegang benda pipi miliknya dan membaca beberapa pesan masuk dan membalasnya, ada satu pesan yang membuat hatinya sedikit berbunga juga membuat kupu-kupu berterbangan memang tidak tertera dari siapa pengirim pesan itu.
"Terimakasih untuk hari yang indah ini dengan kehadiran senyummu..selamat istirahat..salam dari seseorang yang sudah mulai merindu.." Nisrina hanya tersenyum tanpa membalas pesan itu, membiarkan seseorang disana dibuatnya penasaran tapi bukan seperti itu juga sebenarnya hanya tidak ingin hatinya menyimpan rasa yang belum jelas-jelas untuknya.