
"Kamu tetaplah kamu begitu juga dengan diriku, jadilah pribadi yang mau belajar menjadi lebih baik hingga membuat pasanganmu merasa tidak salah memilih dirimu untuk dijadikan teman sepanjang jalan mengarungi bahtera untuk mencari ridho-Nya" Candy.
Di kedinasan Rendra lagi ramai pembahasan yang cukup membuat Rendra penasaran padahal Rendra bukan orang yang tidak pernah mau cari tahu urusan orang tapi ini lain menurutnya bukan soal gosip yang tidak bermutu tapi sepak terjang anak baru yang punya potensi dalam kedinasan walaupun beda divisi tapi cukup membuat Rendra penasaran.
Yang Rendra dengar sedikit dari ajudannya anak baru itu pangkatnya hanya berbeda satu tingkatan dibawah Rendra, dia masih muda hampir seumuran dengan Indra keponakannya yang akan wisuda di jenjang master dunia medis yang dia tekuni.
Kepiawaiannya memecahkan kasus yang sesuai dengan divisi yang dinaunginya sedikit banyak menjadi pembahasan yang ramai dalam kedinasannya tidak terkecuali kawan satu tim Rendra yang ikut penasaran, sebab menurut mereka dalam kedinasan di batalyonnya akan semakin solid bukan dalam divisinya saja divisi lain akan semakin saling mendukung, hingga membuat batalyon lain tidak memandang sebelah mata dalam sepak terjang dalam penyelesaian kasus-kasus yang akan menimbulkan bahaya maupun ketentraman negara juga warga negaranya.
Seperti biasa di waktu istirahat siang ini, kawan satu tim Rendra berkumpul di ruangan dinas Rendra yang cukup nyaman juga bersih sesuai dengan pemiliknya yang lebih menyukai kebersihan dan kenyamanan.
"Siang..bro, sibuk.." tanya Panji yang masuk kedalam ruangan Rendra.
"Siang..bro, ya..seperti biasa.." balas Rendra dengan mempersilakkan duduk diruangannya.
"Kemana..yang lain.." tanya Rendra dengan masih fokus ke benda pipi yang cukup lebar di meja kerjanya.
"Siang..siap hadir..kami..ada.." jawab Alfa yang bersamaan dengan Farel juga Ifan masuk beriringan kedalam ruangan Rendra.
Rendra tersenyum menyambut kedatangan kawan satu timnya yang seperti biasa untuk sekedar saling berbagi cerita dalam banyak hal, atau hanya menghilangkan penat karena rutinitas kerja yang butuh refreshing dalam pemulihan sesaat.
"Bener ga sih..yang gue..denger..bro.." tanya Farel penasaran dengan bertanya.
"Apanya..yang bener..yang jelas..dong.." balas Ifan pada Farel tidak kalah jail.
"Alah..ga mungkin loe ga tahu bro..bukannya pada suka kepo.." ujar Fadel berbalik jail.
"Oh..soal anak baru..yang gue..denger sih gitu.." Panji sedikit menjelaskan dengan tangan mengambil cemilan di meja tamu seperti biasa mereka berkumpul.
Rendra yang penasaran akhirnya berpindah tempat duduk merapat dengan kawan satu timnya, seakan ingin tahu banyak siapa anak baru itu bukan kepo hanya saja merasa baguslah ada anak muda yang memiliki potensi yang bagus kenapa tidak diberi support itu saja dalam benaknya.
"Sebenarnya ini kasus yang baru yang dia tangani di kedinasan barunya..sebab dikedinasan lamanya memang dia sudah diakui sepak terjangnya dalam divisinya itu yang gue tahu.." Ifan menjelaskan yang dia tahu.
"Baguslah..biar regenerasi.." ujar Alfa dengan mulut mengunyah.
__ADS_1
"Boleh..jelasin tapi makanan habisin dulu apa.." protes Farel yang kebetulan dekat dengan Alfa.
"Sorry..bang.." ujar Alfa polos seperti biasa.
Rendra hanya jadi pendengar tanpa berkata sebab dia tidak banyak tahu maklum saja dia lebih banyak kesibukan bukan di kedinasannya saja terkadang harus menghadiri pertemuan atau rapat dinas di kantor pusat atau batalyon lain kawan satu timnya tahu itu dan mereka pun memakluminya.
"Anak muda memang..harus punya potensi di jaman yang semakin dituntut serba cepat dan tepat.." tambah Rendra sekedar menambahkan sebab hanya secara global saja tentang potensi anak muda.
"Benar..bro, kita butuh anak muda yang banyak ide untuk kemajuan negara yang semakin banyak berhubungan dengan negara lain..jangan sampai kita diremehkan apalagi ditindas..lah" Ifan ikut menjelaskan dengan semangat.
"Sebenarnya anak muda kita punya potensi ko..cuma tidak banyak yang mendukung..itu masalahnya.." Rendra menambahkan lagi dengan lebih serius.
"Tapi..bro ada juga yang orang tuanya mendukung malah anaknya tidak menunjukkan potensinya malah cenderung memanfaatkannya dengan kurang baik..ya seperti dua sisi mata uang gitu sih sebenarnya dalam kehidupan ini.." Panji memberikan gambaran yang lain yang cukup masuk akal menurut kawan satu timnya.
"Ya..semua kita kembalikan semua kepada yang menjalankannya.." ucap Rendra bijak.
Bincang santai harus disudahi karena sudah masuk jam kerja lagi, berpisah bukan berarti jauh tapi tetap dekat di hati itulah kedekatan mereka.
Rendra yang masih harus memenuhi undangan rapat dinas di batalyon lain yang seperti biasa diterimani ajudannya yang setia dari awal kedinasannya hingga kini, keduanya sudah sangat dekat hingga layaknya saudara walaupun dari keluarga yang berbeda tapi kedinasan yang membuatnya jadi dekat.
Rendra yang tidak memanfaatkan fasilitas dinas bukan berarti merasa tidak butuh tapi menurutnya selama dirinya masih bisa mandiri apa salahnya biar untuk yang lebih membutuhkannya pikirnya seperti itu.
Hampir magrib Rendra sampai di kedinasannya dengan langkah setengah tergesa memasuki ruang dinasnya Rendra merapikan beberapa berkas kedinasan yang tidak ingin di bawahnya pulang.
Menurutnya sekalian mengantarkan ajudannya pulang kerumah dinasnya, soal dirinya biasa pulang dengan membawa mobil sendiri dan akan mampir sebentar ke rumah mba Ayu untuk keperluan lain yang kebetulan mba Ayu sendiri sekarang sedang ada di amerika beberapa hari bersama mas Rudi untuk menghadiri acara wisuda Indra.
"Let..langsung pulang..atau bagaiman.." tanya ajudannya yang masih setia menemaninya di ruang dinasnya merapikan ruangan.
"Kita sholat magrib dulu..sebentar lagi masuk sholat magrib.." seru Rendra menjelaskan.
Ajudan Rendra mengerti memang Rendra lebih mengutamakan menjalankan perintah tuhannya selama masih bisa diusahakan selama ada kesempatan kenapa harus ditunda itu prinsipnya.
Keduanya sudah berada di lingkungan masjid milik kedinasan, dan iqomah telah dikumandangkan menandakan sholat akan di laksanakan sedangkan Rendra dengan ajudannya masih mengambil wudhu.
__ADS_1
Di dalam masjid sendiri tanpa saling tunjuk dan atas kesadaran dari tiap individunya siapa yang akan menjadi iman untuk sholat magrib saat ini, bukan pangkat yang jadi patokan tapi pemahaman dan ilmu agama yang dimiliki dan kebetulan anak baru yang saat ini menjadi imam sebab dia sendiri juga menempati rumah dinas dan kebetulan juga rumah bekas Rendra dulu yang dia tempati.
Tiap baris bacaan yang dia baca sesuai dengan hukum bacaan dalam al-qur'an dan sangat khusyuk dalam tiap gerakan hingga sholat magrib ini cukup memberikan kesan siapa yang menjadi imamnya, semua yang kebetulan ikut sholat berjama'ah berpikiran yang sama tidak terkecuali Rendra dan ajudannya yang menjadi makmum.
"Dulu..waktu masih ada dilingkungan dinas..kapten..yang mengimami seperti ini..mungkin ini penggantinya yang tuhan kirim.." gumam salah satu penghuni rumah dinas melangkah keluar masjid.
Rendra dan ajudannya saling memandang yang jelas Rendra yang mereka maksud tapi seperti biasa Rendra selalu merendahkan diri pura-pura tidak mendengar dan melihat.
Rendra sendiri dibuat kagum dengan imam yang baru saja menjadi imam sholat magribnya, ajudan Rendra ingin menjelaskan tapi sapaan seseorang membatalkan niatnya.
"Belum pulang..bro.." tanya Panji yang kebetulan menggandeng tangan putranya.
"Ya...hai jagoan..tambah sholeh..ya.." diusapnya kepala jagoan Panji oleh Rendra.
"Cepat..sana..pulang kasihan..mba Can, menunggu.." ucap Alfa yang masih sangat menyayangi Candy layaknya kakaknya.
"Siap..adikku.." balas Rendra dengan merangkul pundak Alfa yang sama-sama akan berjalan keluar masjid.
"Langsung pulang..jangan kemana-mana.." perintah Alfa dengan serius.
"Siap pak..laksanakan sesuai perintah.." jawab Rendra dengan gaya ajudannya.
"Songong loe.." jitak Farel pada Alfa yang bisa menghidar.
"Emang..enak..ga kena.." balas Alfa yang menjadikan Rendra tameng untuk dirinya dari Farel.
"Loe..sih bro..bocil kelewat dimanja..gitu..tuh jadinya..ngelunjak.." protes Farel yang disambut tawa oleh kawan satu timnya yang jalan bersama.
Seperti itulah mereka bila bersama jabatan hanya formalitas selebihnya rasa kekeluargaan yang lebih diperlihatkan tanpa ada batasan mana yang lebih tua juga muda tapi ini yang asyik menurut mereka.
"Aku pamit..ya..assalamualaikum.." ucap Rendra membuka pintu mobil mewah miliknya.
"Waalaikum salam..ya hati-hati salam buat mba Can.." ucap kawan satu timnya bersamaan.
__ADS_1
Rendra hanya memberikan tanda jempolnya sebelum menutup pintu mobilnya yang akan meninggalkan tempat kedinasannya.
Begitu juga dengan kawan dinasnya yang kembali dalam lingkungan kecil mereka untuk saling berbagi kebahagian dan kasih sayang ini salah satu kewajiban untuk mereka.