
"Pasangan itu saling melengkapi bukan saling mencela kekurangannya, sebab tidak ada pasangan yang sempurna hanya ada saling berusaha jadi ternyaman untuk pasangannya" Candy.
Terik sinar mentari tidak menyurutkan semangat Rendra untuk menyelesaikan tugasnya yang terganggu oleh candaannya dengan belahan jiwanya.
"Siang...Kapt " ucap ajudan Rendra dengan membawa beberapa kotak makanan yang di kirimkan istrinya dengan bantuan sopir keluarga Mama mertuanya.
"Siang...ayo...kita makan bersama"ujar Rendra yang sudah membuka beberapa kotak makanan, yang dikirimkan Candy ke tempat dinasnya.
"Maaf..Kapt...inikan buat Kapt dari Mba..." ujar ajudan yang tidak enak selalu di perlakukan baik tanpa memandang siapa dirinya.
"Kamu bener ga...mau..rugi loh.." ucap Alfa yang baru masuk tanpa salam terlebih dahulu, dengan santai mencicipi salah satu isi kotak makanan.
"Ayo...ini terlalu banyak buatku" ujar Rendra yang tahu banget kalau istrinya tidak pernah membawakan makanan sedikit untuknya sebab Rendra tidak pernah sendiri bila menikmati makannya.
"Siap...kita serbu.."ucap Alfa yang sudah membasuh tangannya untuk menikmati makanan yang di bawakan Candy untuk suami tercintanya.
Akhirnya makanan habis tidak bersisa di nikmati oleh Rendra dan Alfa juga ajudannya, dengan sangat menikmati tiap isi kotaknya, ditutup dengan buah potong yang masih segar kesukaan Rendra.
"Alhamdulillah...terimakasih Honey..." ucap Rendra yang terdengar oleh Alfa dan ajudannya, yang merasa aneh sebab Candy tidak ada di antara mereka.
"Mba..kan ga ada di sini kenapa harus terimakasih Kapt" tanya ajudan dengan rasa pemasarannya.
"Ups...lupa kebiasaan..." dengan tawanya Rendra mengingat istri tercintanya.
"Terlalu baik ya...Mba Can..Kapt.."ucap Alfa yang sangat mengagumi pribadi Candy.
"Banget...baiknya" ujar ajudan Rendra yang sangat menghormati pribadi kedua pasangan ini.
Rendra hanya tersenyum mendengar pujian untuk istrinya dari orang yang menurutnya dekat dengan keduanya.
Setelah merapikan kotak makanan yang di bawakan Candy ajudan Rendra berpamitan dan menitip ucapan terimakasih untuk Candy atas makanan yang sudah dinikmatinya.
Meninggalkan Alfa dan Rendra yang masih dalam bincang santai dalam ruangan Rendra.
"Gimana kabar...kamu sepeninggal aku" tanya Rendra ke Alfa yang hanya senyum-senyum.
Akhirnya Alfa menceritakan apa yang menimpanya sepanjang kepergian Rendra ke boston, Rendra banyak terdiam begitu serius mendengarkan hingga Alfa meminta pendapatnya soal keinginannya melamar Tazkia yang notabene anak orang berada berbeda jauh dengan dirinya seorang anak kampung yang hanya di besar oleh kedua orang tuanya sebagai guru biasa di kota kecil.
__ADS_1
"Kamu...malu.." tanya Rendra tegas dan ingin menggertak Alfa tentang keseriusannya.
"Malu...tidak lah, gue bangga Kapt memiliki orang tua seperti mereka" tegas Alfa yang sangat komitmen dengan apa yang di kerjakan dalam kariernya.
"Bagus...aku dukung, terus apa yang bikin kamu risau" ujar Rendra menunggu penjelasan dari Alfa yang juga serius mendengarkan masukan dari Rendra.
"Soal...anaknya..gue yakin, tapi ga tahu ortunya Kapt" ucap Alfa dengan PDnya ke Rendra menyampaikan.
"Kalau anaknya udah yakin...soal orang tuanya gampang...yang penting tunjukin seserius apa kamu sama anaknya itu saja" Rendra seperti memberikan pengarahan ke Alfa untuk tidak boleh mundur sebelum menghadapi medan perang.
"Semudah itukah...Kapt "Alfa ingin Rendra memberikan keyakinan dalam dirinya.
"Ya...berserakan dirilah kepada yang maha pengatur hidup, jika dia memang jodohmu akan ada jalan, bila tidak akan ada yang lebih baik di depan sana untukmu"Rendra menepuk pundak Alfa dengan penuh ketegasan agar Alfa yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
"Terus langkah pertama yang harus gue...ambil apa Kapt" tanya Alfa yang ingin Rendra membimbing disetiap langkahnya.
"Haruskah...aku memberi tahukan caranya" dengan tersenyum Rendra mengoda Alfa.
"Please...Kapt, ayo...lah bantu gue" ujar Alfa dengan muka memelas memohon ke Rendra.
"Melamarlah secara pribadi terlebih dahulu kepada orangtuanya, apabila beliau menolak tidak terlalu terluka nantinya dan kamu juga harus bisa menjelaskan ke anaknya bila ada penolakan bahwa kita menjalankan ini harus ada restu jangan memaksakan " Rendra menjelaskan sekaligus membimbing Alfa.
"Cie...cie...yang sudah mulai mencari konsultan, sudah yakin...nih" goda Ifan yang masuk tanpa di sadari keduanya yang asyik ngobrol.
"Yang belum siap...duitnya" balas Alfa bergurau dengan tertawa konyol.
"Seberapa banyak sih...loe mau, gue bantu deh.." goda Ifan lagi dengan balasan tawa ke Alfa yang hanya nyengir.
"Ga...gitu bang...gue minder aja..sebab abang tahu sendiri siapa mereka" ucap Alfa dengan menundukkan mukanya tanda tidak percaya diri dengan keadaannya.
"Jangan takut...yakin saja sama diri sendiri sesuai kemampuanmu, jadilah dirimu sendiri jangan jadi orang lain biarkan mereka menilai" ujar Rendra lagi makin menyakinkan Alfa.
"Tumben...loe ngomong serius"ucap Panji yang menguping dari luar apa sebenarnya yang di omongin mereka.
"Mana berani bang...gue main-main sama anak orang" ujar Alfa dengan serius terdengar di telinga semua yang ada dalam ruangan.
"Bagus...aku percaya sama kamu" ucap Rendra senang melihat Alfa yang menurutnya memiliki kepribadian baik.
__ADS_1
"Kapt...bukannya Mama lebih mengenal keluarga Tazkia, kita bisa tahu siapa mereka dan apa pandangan Mama...coba Kapt tanya Mama" ucap Ifan meminta Rendra mencari tahu siapa keluarga Tazkia.
"Ok...apapun akan aku bantu...tapi yakinlah pada dirimu" ujar Rendra tidak ingin dalam urusan ini Alfa bersandar kepada orang lain sebab pemilik kehidupanlah sebaik-baiknya kita bersandar.
"Itu...pasti Kapt" ucap Alfa sependapat dengan Rendra untuk soal yang satu ini.
"Hai...cil...jangan nyusul duluan apa gue kan jadi malu" Farel dengan konyol mengatakan.
"Sensi dia...sama gelarnya..." ucap Panji dengan tawa yang bikin yang lain ikut mendukung.
"Bukannya kamu sudah siap sama Nafandra" tanya Rendra yang ingin penjelasan dari Farel.
"Iya...tapi Nafandra meminta menunggu kedatangan keluarga dari luar kota yang saat ini lagi menemani orang tuanya di rawat" ujar Farel menjelaskan keadaannya.
"Ya...udah sabar aja...kenapa harus menghalangi jalan orang lain menjemput jodohnya" ucap Ifan ke Farel yang malu di protes Ifan.
"Yang jelas semua sudah ada jalannya masing-masing" ucap Rendra yang selalu saja bijak dalam menengahi perdebatan diantara mereka.
"Cil...boleh tahu apa yang bikin Kia yakin sama loe.."tanya Panji mengoda Alfa yang masih suka konyol dan polos.
"Entahlah...tapi seingat gue...dia bilang gue polos dan apa adanya katanya" ujar Alfa dengan malu menyembunyikan mukanya.
"Serius...polos jangan-jangan malah yang paling jago"ujar Ifan ingin mengoda Alfa yang makin tersudut.
"Jago..ayam jago kali bang" protes Alfa yang tidak mengerti lagi di goda.
"Hai...cil bukannya selama ini loe suka jadi pendengar berarti tinggal prakteknya dong...betulkan" ujar Panji yang makin ingin Alfa di jailin oleh semuanya.
"Oh...iya...ya...gue jadi ga sabar pengen lihat...eh...salah denger endingnya" ucap Ifan lagi dengan senyum-senyum membayangkan apa yang akan terjadi.
"Woi...woi jangan konyol kalian lebih baik pulang langsung praktek saja, nanti pada ngompol lagi" ucap Rendra yang ga kalah konyol sontak membuat semuanya menghadap ke Rendra yang sepertinya tidak percaya dari mulutnya bisa keluar ucapan konyolnya.
"Kapt...gue ga salah denger nih..." ucap Panji dengan serius memandang ke Rendra.
"Ada yang salah dengan ucapanku" tanya Rendra yang terdengar serius.
"Ga...cuma benar..gue jadi pengen pulang" ujar Panji dengan bangun dari tempat duduknya berniat keluar karena ada panggilan telpon untuk menjawabnya.
__ADS_1
Sontak membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal menurutnya maklum masih pengantin baru, tapi ga berpikir aneh-aneh sebab Rena sendiri sedang berdinas mau sama siapa menyalurkan hasratnya.
Bersama untuk berbagi akan lebih baik itu yang selalu ditunjukkan kawan satu tim Rendra tanpa ada perbedaan, akan selalu ada tangan dan bahu untuk bersandar dan merangkul dalam keadaan apapun indahnya hidup ini bila bersama orang yang baik di dekat kita.