
Di Tempat kumpul Tim
Rendra telah sampai di tempat timnya berkumpul, mereka masih sibuk menganalisa data dan pendalaman kasus, dan untuk pembagian tugas dalam penyergapan kasus penyelundupan barang ilegal yang melibatkan warga negara asing yang bekerja sama dengan warga sipil yang tidak menyadari perbuatan ini merugikan negara, Rendra dan timnya hanya diminta bantuan oleh sektor kepolisian setempat, walaupun sebagai tim pembantu tetap harus melakukan persiapan yang matang sebab ada warga sipil juga yang akan terkena tampaknya dari penyerapan ini di usahanya tidak ada warga sipil yang terkena imbasnya, sebab letak lokasi penyimpanan barang sebagai tanda bukti berlokasi di pemukiman warga walaupun tidak banyak, sebisa mungkin tidak ada korban dari warga sipil yang berdekatan lokasi penyergapan.
Teman-teman satu tim Rendra, memperhatikan ada yang berbeda dari diri seorang Kapten yang selalu semangat dalam menjalankan tugas, dari kedatangan sampe sudah beberapa hari ini terlihat sangat kusut seakan ada beban yang berat di pundaknya yang sangat berat tapi apa mereka tidak tahu sebab Rendra tidak biasa terbuka untuk hal yang bersifat pribadi, memang Rendra orangnya sangat tertutup tapi tidak seperti hari-hari ini, mulutnya bisa dia tutup serapat mungkin tapi tidak dengan sikap dan bahasa tubuh yang dirasakan oleh timnya.
"Bro...gue...rasa ada yang aneh dari kapten kita" Panji memulai obrolannya santai setelah briefing kasus yang akan dijalani timnya.
"Benar...apa ya..." ucap Ifan sambil bersandar di kursi tempat duduknya.
Sesaat diam semua karena Rendra masuk ke dalam tempat mereka berkumpul untuk membahas kasus.
"Maaf...Kapt...ada masalah, kusut banget tuh..." Alfa memberanikan diri bertanya ke Rendra.
"Maaf...bro...dikit " saut Rendra menutup matanya yang merasakan berat bebannya.
"Tapi...ini seperti bukan loe..." ujar farel yang sibuk merapikan meja.
"Mohon do'anya ...aja" Rendra buka suara yang tadi terdiam.
"Do'ain apa...kita ga tahu " ucap panji ikutan ngomong seakan meminta penjelasan dari Rendra.
Rendra terdiam, memikirkan omongan mereka ada benarnya,tapi bukan sifat Rendra yang terbuka untuk hal yang sifatnya pribadi.
"Siap...bro...ya kita do'ain yang terbaik untukmu " ujar Alfa memberanikan diri, menetral suasana yang menurutnya sangat tidak nyaman di situasi seperti ini.
__ADS_1
Rendra melangkah ke luar menenangkan suasana hatinya, yang dia sendiri ga tahu, ada apa dengan suasana hatinya.
Di dalam ruangan teman satu tim masih memikirkan keadaan Rendra yang dingin banget tidak seperti biasanya seakan-akan akan menerkam musuh hidup-hidup tanpa ampun.
"Jujur..aja gue serem... liatnya" ujar Farel seperti ketakutan.
"Iya...seumur-umur gue kenal dia baru liat kayak gini" jawab Ifan sambil geleng kepala.
"Gue...rasa pasti cewe penyebab nya" Farel dengan tangan memegang jidatnya.
"Itumah...loe" jawab Panji meninju Farel.
"Trus...apa..dong coba pikir " jawab Farel ga terima di tinju panji walupun becanda.
"Kita cari tahu nanti...pas beres..." Panji menenangkan semuanya.
Rendra berdiri seorang diri di bibir pantai masih memandang mentari yang akan tenggelam keperaduannya menandakan sore akan menjadi malam.
"Ya...Rabb tuntunlah dan berikanlah jalan hamba untuk bertemu dengannya " seuntai do'a Rendra dalam hati.
Tampa menunggu beberapa lama terdengar suara adzan berkumandang, Rendra beranjak dari pantai melangkah ke masjid sekitar daerah itu, untuk menunaikan kewajibannya kepada tuhannya dengan menyerahkan semua urusannya kepada pemilik hidupnya untuk keputusan yang terbaik untuknya.
Sekembalinya Rendra dari masjid ke tempat timnya berada, ia kembali dengan muka yang sudah seperti biasa seakan-akan tidak terjadi sesuatu pada dirinya,itu hebatnya seorang Rendra bisa menyelesaikan masalah tanpa melibatkan orang lain tapi hatinya remuk redam merasakan beban seorang diri, sepeti tidak menandakan sedang memikirkan bebannya lagi dan sudah jadi kebiasaan Rendra selalu membawa makanan untuk timnya.
"Tahu...aja..kita laper..Kapt" ucap Alfa dengan tangan menerima bungkusan dari Rendra.
__ADS_1
"Terimakasih...Kapt " Panji ikut menikmati apa yang di bawah Rendra.
"Sama-sama...nikmatilah" Rendra dengan senyumnya yang sudah normal diperlihatkan.
"Lapar...apa doyan..hoy "Ifan menegur Alfa yang masih menyunya makanannya.
"Laper....tapi enak juga sih" jawabn Alfa masih dengan mulut penuh makanan.
"Santai...bro jangan buru-buru kurang beli lagi" Rendra menepuk pundak Alfa.
"Bener ya...Kapt " ucap Alfa polos.
"Perut...apa..karung..sih" ucap Farel dengan mengelus perut Alpa yang bocah kecil tapi banyak makan.
Rendra dan yang lain tertawa melihat tingkah Farel seperti suami yang mengelus perut istrinya yang hamil, tawa mereka sampai tidak bisa di tahan dan hampir terkencing-kencing dibuatnya.
Ada saja tingkah mereka yang jadi hiburan buat semuanya di situasi yang terkadang butuh hiburan **** sang meregangkan otot saraf agar santai sesaat.
Bagi Rendra kerja sama tim diatas segalanya dan tugas negara haruslah di jadikan prioritas utamanya bukan memikirkan kepentingan pribadinya saat ini, yang menurunnya pasti ada jalan keluar dari tiap masalah yang kita hadapi, cepat atau lambat harus dihadapinya akan ada jalan yang tuhan tunjukan tapi masih dengan usaha dan tidak putus dalam do'a.
Semua akan ada jalannya asalkan mau berusaha, tiap usaha sekecil apapun akan terlihat hasilnya yang terpenting jangan ada kata menyerah dan putus asa dan dalam kamus seorang Rendra itu tidak ada yang ada pantang mundur sebelum maju.
Menyerah itu dulu buat seorang Rendra, tidak lagi dia sekarang jadi pribadi yang lain yang tidak bisa anggap remeh jangankan musuh tim yang lainpun berpikir untuk menjatuhkan seorang Rendra yang pembawaannya santai, tapi berkarisma, boleh diadu dari otot sampai otak dia jagonya tapi dia sangat cuek untuk semua.
Jangankan kawan satu timnya Komandan saja dibikin takjub sama pembawaan seorang Rendra tapi kerendahan hatinya tidak ada lawan semua dari senior sampai junior tidak terkecuali mengetahui itu.
__ADS_1
Tapi kawan satu timnya tidak banyak yang tahu kalau seorang Rendra keturunan dari keluarga yang sangat berada sebab dia tidak pernah menceritakan keadaan keluarga yang mereka tahu selayaknya keluarga seperti mereka saja cuma bedanya dia seorang yang sudah berpangkat Kapten dan atasan mereka.