
"Do'akan orang yang kau kenal dalam lindungan dan kemudahan didalam jalan tuhan-Nya, sebab do'a itu akan kembali lagi padamu" Candy.
Semua kawan tim Rendra dibikin galau dengan kabar yang belum terucap dari Rendra langsung untuk kepergiannya melanjutkan studi keluar negeri atas permintaan dari kedinasannya.
"Bener ga...sih...ini kabar" ucap Panji dengan sedikit emosi memandang jauh dari jendela.
"Mudah-mudahan ga bener tuh kabar" Farel juga ikut sedikit marah karena belum mendengar langsung dari mulut Rendra.
"Dimana...sih belum nongol juga tuh orang" ujar Ifan yang masih bolak balik ga jelas seperti gelisah.
"Hai...bocah...ngapa loe bisa setenang ini" tegur Panji ke Alfa yang hanya senyum tanpa dosa.
"Kitakan belum dengar langsung dari Kapten...kenapa harus dibikin repot" ucap Alfa tanpa mau ambil pusing sepertinya.
"Awas ya...kalau nanti loe yang paling mewek..."ucap Farel yang tahu Alfa sangar dekat dengan Rendra.
Alfa hanya memberikan senyuman sedikit terlihat sebenarnya dia menutupi gundah dalam hatinya.
Rendra menyapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya sebelum memasuki ruangan dinasnya, dengan sedikit terkejut Rendra masuk dalam ruangan dinasnya yang telah ditunggu kedatangannya untuk menjawab kebenaran rumor yang beredar tentang kepergiannya ke boston untuk studi dari kedinasannya.
"Astaghfiruallah..." ucap Rendra mengusap dadanya dengan sedikit terkejut.
"Bener ga sih itu kabar...Kapt" ucap Farel yang seperti ga sabaran sehingga tidak memberikan kesempatan Rendra untuk duduk terlebih dahulu.
"Iya...kenapa harus dari orang lain kita mendengarnya" ujar Panji yang terlihat mukanya masam.
Rendra hanya tersenyum dengan mencari tempat duduk terlebih dahulu untuk menjelaskan kepada kawan satu timnya yang terlihat sudah tidak sabar penjelasan dari Rendra dengan wajah nampak setia menunggu.
"Ngomong apa...gue ga butuh senyuman" ucap Ifan dengan sedikit meminta ke Rendra agar tidak penasaran lagi.
"Sabar...sobat, apa yang harus aku jelaskan"ucap polos tampa dosa Rendra ke kawannya yang masih menunggu tapi hanya balasan tidak jelas yang keluar dari mulut Rendra membuat sedikit bertanya terus rumor itu apa, pikir yang lain bertanya dalam benak masing-masing.
"Jangan bikin orang penasaran apa" ujar Ifan menepuk pundak Rendra makin ingin meminta penjelasan.
"Ok...ok...ya, aku akan pergi ke boston tapi...."Rendra belum melanjutkan ucapannya sudah didahului oleh Panji.
"Tega...ya...loe...Kapt, gue di tinggalin saat akan nikah" ucap Panji dengan muka sedikit kecewa.
"Siapa juga yang mau ninggalin kamu...saat akan melepaskan masa lajangmu bro, makanya dengerin dulu jangan main potong aja" ucap Rendra meninju tangan Panji pelan.
__ADS_1
"Semuanya masih belum selesai di urus, kemungkinan besar setelah acara pernikahan mu sobat" Rendra berkata untuk memastikan bahwa dirinya akan ada disaat sobatnya bahagia.
"Gue...ikut seneng...Kapt loe harus studi tapi...kita merasa kehilangan kalau harus terpisah jauh untuk waktu yang tidak dapat di tentukan Kapt" ucap Farel yang menundukkan kepalanya merasa sedih takut kehilangan.
"Tenang aku ga...lama ko, dan pasti kembali diwaktu yang tepat saat di butuhkan" balas Rendra dengan senyumnya menyakinkan semuanya.
"Duo...cantik gimana Kapt" tanya Ifan ke Rendra mengalihkan pembicaraan walaupun ada rasa yang berat terucap dari Ifan.
"Mereka akan ikut serta tapi tidak dengan fasilitas negara, aku ga mau keluargaku menggunakan sesuatu yang bukan haknya" Rendra berkata terdengar penuh penekanan.
"Bukannya...semua fasilitas sudah di siapkan Kapt" Panji berkata meminta penjelasan dari Rendra.
"Iya...tapi untuk fasilitas seorang bujangan sedangkan aku ga mau harus sendiri di negara orang, aku masih punya uang buat kasih fasilitas anak istri untuk kehidupannya di luar sana" Rendra sedikit berucap sombong sebab dia tidak ingin ada orang melihatnya mengunakan fasilitas dari kedinasannya alias uang negara menurutnya tidak berkah.
"Kapt...berarti fasilitas di tinggalkan begitu saja" Farel meminta penjelasan ke Rendra.
"Biar...lah yang penting kami hidup berkah" ucap Rendra tersenyum penuh makna.
"Kenapa...ga ada yang ingin kau tanyakan" Rendra menepuk tangan Alfa yang diam saja sedari tadi hanya jadi pendengar dengan serius.
Alfa tersentak kaget dan hanya membalas dengan senyum datarnya masih bingung harus sedih atau senang mendengar semua yang Rendra katakan untuk kepergiannya.
"Sudah lah...Kapt, Komandan pastinya punya alasan dan pertimbangan yang matang tidak mungkin asal-asalan" ucap Ifan ke semuanya yang terlihat tidak bersemangat tidak seperti biasanya.
"Gimana keluarga sudah tahu..Kapt" tanya Alfa yang baru bersuara bertanya ke Rendra.
"Sudah...sebenarnya sih...keberatan terutama Mama yang baru menikmati kebersamaan dengan Ainun" ujar Rendra menjelaskan dan mengingat bagaimana Mamanya terkejut pertama kali mendengar kabar ini.
"Mata indah itu akan selalu gue kangenin Kapt..." ucap Alfa dengan muka seperti membayangkan seseorang.
"Hai...bocil...mata itu sudah ada yang miliki"Panji mengucap muka Alfa dengan kasar agar tidak terlalu berhalu.
"Gue...tahu bang...tapi ini yang junior masih ga boleh juga" protes Alfa ke Panji yang masih memandangnya.
Rendra hanya tertawa kecil mengingat mata anaknya yang sama persis seperti mata Candy yang penuh pesona saat dilihat seperti kita hanyut kedalam pesonanya sehingga tanpa disadari oleh kita tidak ingin berpaling seperti menghipnotisnya.
"Kenapa jadi pada halu...sih" Panji berucap mengejutkan semuanya dan tawa bersama mereka membuat suasana jadi cukup hangat.
"Harus ekstra Kapt...jaga cantik" ucap Farel ke Rendra yang masih menikmati kebersamaan dengan kawan satu timnya.
__ADS_1
"Soal itu tenang...ada kalian omnya yang akan menjaganya lebih dari aku" ucap Rendra tersenyum santai.
"Ini...bapa ga salah...jangan-jangan bikinnya aja yang rajin ya...pa..." ucap Panji ke Rendra dengan candanya.
"Untuk yang satu itu mah harus lah, lagian mau tahu aja..." Rendra dengan senyumnya mengoda balik.
"Ga...salah ngomong nih tumben rada menyerempet bikin pada halu aja" ujar Ifan seperti tidak percaya mendengar candaan Rendra.
"Jangan bikin syirik buat yang belum mencoba ya...Kapt" ucap Panji ke Rendra konyol terdengar.
"Makanya cepetan jangan tunggu lama-lama" Ifan berkata dengan menepuk pundak Farel yang sedikit kaget dengan tepukan tangan Ifan di pundaknya.
"Sebentar...sebentar jangan-jangan yang kalian pikirkan yang aneh juga jorok ya..." ucap Rendra dengan mata sedikit menyelidik curiga.
"Kalau bukan itu...apa coba" tanya Panji ingin tahu ke Rendra penasaran.
"Kalian akan tahu nanti pas punya baby gimana jadi bapa yang baik..." ucap Rendra masih membuat semuanya penasaran.
"Bisa ga sih...Kapt jangan ngegantung biar ga penasaran" ujar Farel yang butuh banget penjelasan dari Rendra.
"Ok...tiap malam itu suami harus rajin gantiin popok dan ikut begadang mememani istri untuk memberikan ASI ke baby, supaya bikin istri tambah sayang ke kita" Rendra berucap menjelaskan dan membuat tidak percaya dengan pernyataan yang diucapkan Rendra.
"Memang harus sampe sebegitu ya bang..." Alfa sekarang mengeluarkan pertanyaannya ke Ifan dan meminta penjelasan.
"Kalau gue...sesekali sih, sebab istri selalu melarang" jawab Ifan ke Alfa yang masih belum paham.
"gue...jadi tambah bingung" ujar Alfa lagi yang memegang kepalanya seakan mikir.
"Jangan bingung sebab itu harus langsung prakteknya akan lebih jelas..." ucap Rendra ke Alfa dengan tawa kecilnya membiarkan Alfa pusing memikirkan itu.
"Berarti kerja nyata dong...bukan sekedar teori" ucap Farel yang masih belum paham untuk soal yang satu ini.
"Lah...iya lah...emang baby bohongan"ujar Ifan sedikit suaranya ada penekanan ke Farel.
"Jangan-jangan loe...ga mau kerja sama ya...hu.."ucap Panji ke Farel yang masih belum paham juga.
"Kasihan istri kamu loh...ujung-ujungnya dia ga maksimal merawat baby dan kita juga bakalan ga di ngurusin maksimal sama istri, ingat ya...perhatian kecil kita berarti besar untuknya...yang jelas dia akan tambah cinta dan sayang ke kita loh..." Rendra berkata dengan muka serius tanpa ada candaan.
Rasa saling memiliki nampak terlihat jelas dari rasa yang mereka rasakan takut akan kehilangan salah satu kawan satu timnya yang sudah seperti bagian dari tubuhnya yang bila ada bagian yang sakit yang lain akan ikut merasakan sakit itu, bersyukurlah kalian yang memiliki sobat yang satu rasa dalam banyak hal dan ada dalam suka dan duka bersama.
__ADS_1