Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
201


__ADS_3

..."Akan tiba dimana Allah mengabulkan segala harapan dan keinginan kita, buah dari kita berikhtiar dan berdo'a serta berserah diri pada-Nya " Rendra....


Selepas sholat subuh Rendra dan keluarganya berangkat menuju pondok pesantren seperti biasa mengunakan dua mobil, mobil yang pertama berisikan Rendra, Candy dan Nasyauqi juga Andika sedangkan yang satunya lagi berisikan ajudan, sopir dan Azlan .


Dalam mobil Rendra Nasyauqi seperti biasa hanya sibuk membaca sedangkan Rendra didepan ditemani Candy yang sesekali ngobrol santai, Andika sendiri duduk disebelah Nasyauqi yang kepalanya bersandar di bahu Andika.


Kedua mobil ini berjalan beriringan tanpa ada yang saling mendahului, sopir keluarga Rendra tiba-tiba menghentikan mobilnya dan membuat Azlan bertanya pada ajudan papanya.


"Ada..apa..om?" tanya Azlan sedikit terkejut.


"Ga..tahu..mas..mobil letnan..berhenti.." ajudan Rendra menjawab dan menjelaskan pada Azlan.


Azlan dan ajudan turun melihat apa yang terjadi, ternyata di depan mobil Rendra ada tabrakan yang korbannya minta tolong dengan muka yang bersimbah darah dan menjelaskan bahwa anaknya masih di dalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri dan terluka parah.


Rendra dan Andika sudah di dekat mobil yang mengalami kecelakaan itu dan membantu mengeluarkan korban serta membawanya ke rumah sakit, berhubung korban dalam proses tindakan Rendra di minta jadi penanggung jawab dalam hal ini oleh pihak rumah sakit sebagai prosedur awal penanganan pasien.


Salah satu wanita yang masih sadar memberikan ponselnya untuk menghubungi nama yang dia minta dan tidak beberapa lama seseorang itu datang bersama orang-orang yang terlihat berbadan besar dan cukup seram.


Rendra dan keluarga masih menunggu di ruang operasi tepatnya sebab gadis yang terluka parah itu harus secepatnya diambil di tindakan sebab ada pendarahan otak yang butuh penanganan cepat.


Seseorang itu seperti orang penting itu yang dilihat dari keluarga Rendra, tapi tidak dengan Rendra yang sudah tahu siapa dirinya.


"Mas..maaf mas..ya yang menghubungi saya..dari ponsel istri saya.." seseorang itu menjelaskan dengan sopan dan dengan kerendahan hati, hanya orang-orang yang menemaninya yang masih terlihat sangar jutek tanpa senyum.


"Ya..saya Rendra.." Rendra menjelaskan bersamaan dokter keluar dengan menjelaskan pasiennya membutuhkan darah.


"Siapa..keluarga pasien..tolong siapkan darah sesuai golongan darahnya sebab pasien butuh darah secepatnya.." ucap dokter yang kembali lagi masuk kedalam ruangan.


Lelaki itu bertanya pada orang-orangnya tapi apa, mereka tidak memiliki golongan darah yang sama dengan pasien.


"Maaf..pak..golongan darahnya sama seperti saya.." ucap Rendra yang disambut gembira oleh lelaki paru baya itu.


"Mas..tolong putri saya.." pintanya dengan muka yang sangat takut kehilangan putrinya.


"Tenang..pak saya akan mendonorkan darah saya.." Rendra bersama salah satu perawat akan mendonorkan darahnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama seorang dokter yang lain memberi tahukan bahwa istri dari lelaki paru baya itu membutuhkan darah juga karena pendarahan akibat kecelakaan itu, dan tidak berbeda dengan putrinya orang-orang yang lelaki itu bawa tidak memiliki golongan dari seperti yang dokter minta, Andika merasa dirinya memiliki golongan darah yang sama dan menawarkan diri.


"Pak..darah sama dengan golongan darah istri bapak..ambil saja..saya bersedia.." ucap Andika yang langsung menuju ke ruangan yang sama seperti Rendra.


Berhubung sudah ada keluarga dari pasien Rendra dan keluarga undur diri untuk melanjutkan perjalanan yang butuh waktu beberapa jam lagi untuk sampai di pondok pesantren.


"Maaf..berhubung sudah ada bapak saya udur diri masih ada keperluan lain.." ucap Rendra berpamitan.


"Mas..saya sangat berterimakasih dan berhutang budi pada mas dan keluarga..entah dengan apa saya akan membalasnya.." lelaki itu berucap masih dengan keadaan yang tidak tenang.


"Tidak usah berbicara seperti itu pak..kita saling membantu..selama kita bisa.." balas Rendra mengusap punggung tangannya yang menjabat Rendra.


"Bisa saya minta kartu namanya mas.." pintanya masih dengan wajah khawatir.


Lelaki paru baya itu sedikit terkejut membaca data diri Rendra yang seorang ceo dan dari keluarga Wijaya.


"Mas...cucu dari pak Wijaya group " serunya sedikit terkejut.


Rendra hanya tersenyum dan lelaki paru baya itu seperti menaruh hormat pada Rendra yang jelas Rendra tidak mengerti apa maksudnya.


"Gimana kabar beliau.." tanyanya ingin tahu.


"Sudah...beberapa tahun lalu kakek berpulang.." Rendra menjelaskan.


"Maafkan..saya tidak mendengar kabar duka itu..kebetulan saya juga baru kembali setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri.." lelaki itu menjelaskan.


"Sekali..lagi terimakasih sudah menolong istri dan putri saya.." ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Sama-sama pak.." balas Rendra memberikan senyum tulusnya.


"Mudah-mudahan kita bertemu lagi dalam keadaan yang tidak seperti ini.." ucapnya dengan menunduk.


"Insyaallah..pak.." balas Rendra dengan sopan.


Dan meninggalkan rumah sakit bersama keluarganya melanjutkan perjalanannya ke pondok pesantren.

__ADS_1


Dalam perjalanan Rendra tidak banyak bicara tapi dalam benaknya dia bisa menyimpulkan pantas putri lelaki itu bermain sangat bersih dalam menghabisi orang yang menurutnya pesaingnya, dia terbiasa di luar negeri dan orang suruhannya juga bukan amatir semua proporsional.


Dari orang-orang yang bersama lelaki itu juga bisa dilihat mereka juga seperti bekerja sama dengan mafia yang terbiasa bermain di belakangnya bukan transparan dalam berbisnis yang bukan dunia keluarga Rendra yang lebih bermain kerjasama yang sama-sama menguntungkan bukan main kotor dan bukan juga main belakang.


Setibanya di pondok pesantren seperti biasa keluarga Rendra di sambut dengan baik boleh pak kyai juga nyai yang sekarang di panggil abi dan uma oleh Nasyauqi seperti Andika.


Ajudan, sopir, Azlan dan Rendra juga Candy seperti biasa menempati ruangan yang diperuntukkan untuk tamu berbeda dengan Nasyauqi da Andika di tempat pak kyai.


Mungkin terlalu cape dalam perjalanan Nasyauqi selesai makan malam dan berbenah dia memilih masuk kamar begitu juga dengan Candy berbeda dengan semua laki-laki masih asyik berbincang di teras ditemani jagung dan kacang rebus yang masih hangat juga minuman jahe yang menghangatkan tubuh di malam yang kebetulan angin berhembus cukup dingin.


Satu persatu dari mereka meninggalkan tempat hingga menyisakan Rendra dan Andika yang sepertinya banyak yang ingin Rendra sampaikan pada menantu lelaki kesayangannya.


"Mas..tolong rahasia ini.." pinta Rendra pada Andika yang membuat Andika lebih mendekat.


"Iya..pa.." balas Andika serius dan menghadap Rendra dengan serius.


"Pasti mas..banyak pertanyaan saat di rumah sakit.." seru Rendra dengan santai, semua ucapan Rendra di benarkan oleh Andika.


"Mas..tahu siapa wanita muda yang kita tolong.." tanya Rendra serius.


"Tidak..pa.." jawab Andika singkat dan kembali mendengarkan penjelasan dari Rendra.


"Wanita muda itu dalang dari kejahatan yang ingin menghabisi Ainun.." Rendra menjelaskan yang membuat Andika mengepalkan tangannya.


Sebelum Andika menyampaikan kekesalannya, Rendra terlebih dahulu menjelaskan alasannya kenapa dia tidak membiarkan dia meninggal dan kenapa juga harus memberikan darahnya.


"Ada..kalahnya kejahatan tidak harus berakhir yang sama dengan kejahatan lagi tapi..papa mau dia menyadari perbuatannya itu dapat merugikan orang lain dalam arti orang-orang yang tidak bersalah..biarlah dia menikmati hukuman dari tuhan yang lebih tahu bagaimana caranya agar dia kembali kejalan yang benar untuk menyadari perbuatannya.." dengan mata berkaca-kaca Rendra seperti mengenang bagaimana dirinya menyelamatkan putri cantiknya.


Dalam hati Andika yang masih diliputi kesal berangsur-angsur membaik setelah mendengarkan penjelasan dari Rendra, sebegitu berjiwa besarnya seorang Rendra yang dia belum begitu lama dikenalnya, masih dalam diamnya Andika mengagumi sosok bijaksana di depannya.


Betapa bangganya Nasyauqi seandainya dia tahu siapa papanya pikir Andika, pantas saja anak-anak Rendra begitu menghormati orang yang lain dari sudut pandang mana pun tanpa membeda-bedakan.


Dia di besar oleh orang tua berkepribadian yang sempurna menurut Andika baik dari segi agama maupun sosial, Andika seperti terbuka matanya yang selama ini yang dia tahu semua nilai kebaikan hanya ada dalam konteks wacana tapi ini nyata yang membuat dirinya bertekad ingin memiliki kepribadian yang sama dengan mertua sekaligus seorang mentor selain abinya yang selalu mengajarkan kebaikan.


Seperti tidak ada sedikit pun rasa marah dan dendam dalam hati Rendra yang terlihat dari matanya hanya harapan agar pelaku menyadari perbuatannya dan kembali kejalan yang benar.

__ADS_1


__ADS_2