
..."Manusia itu sebenarnya hidupnya sederhana hanya butuh sepiring nasi untuk mencukupi perutnya yang lapar, pakaian sederhana yang untuk menutupi uratnya, hanya butuh sedikit tempat untuk menopang tidurnya, tapi nafsu yang besar mengajaknya untuk memiliki semuanya berlebih " Rendra....
Sebulan, tiga bulan, enam bulan Allea masih bisa enjoy menikmati kehidupan tanpa kehadiran Azlan disisinya tapi di momen-momen tertentu dia mulai gelisah merasakan ada sesuatu dalam hidupnya yang hilang, seperti tugas kuliah yang saat ini dirinya dalam pengajuan skripsi tidak ada yang membantunya, di saat kondisi sakit dirinya tidak ada sosok yang biasanya memberikan perhatian dan saat berkumpul bersama keluarga besar Azlan semua hadir berpasangan hanya dirinya yang sendiri apalagi keluarga Azlan bucin abis bila memberikan perhatian pada pasangannya.
Seperti saat ini di momen ulang tahun pernikahan kakek neneknya semua anggota keluarga besar kumpulan dari keluarga besar mama Ayu dan papa Rudi, mas Indra dan mba Nisrina yang hamil dan Akhtar yang sudah bersekolah, di tambah adik mas Indra bersama istrinya juga buah hatinya yang masih balita.
Dari keluarga papa Rendra dan mama Candy, kehadiran mba Nasyauqi bersama mas Andika tidak ketinggalan si kembar yang turut serta, sedangkan Allea seorang diri.
Merinduan sosok Azlan makin bertambah bila Allea memasuki kamar milik Azlan aroma parfum milik Azlan makin nyata bisa dia cium, aroma itu seperti tertinggal dan menenangkan hatinya yang sangat merindukan kehadirannya saat ini.
"Al..Al..Allea.." suara panggilan itu tidak di dengar Allea yang menutup dirinya dengan bantal dalam tangisnya di kamar milik Azlan.
"Sayang..kangen ya..sama mas..mu.." mama memeluk Allea yang masih dalam tangisnya.
"Sabar..ya..mas mu juga pasti rindu sama seperti Al.." mama makin dalam memeluk Allea agar bisa tenang.
"Jangan nangis lagi ya..sini ada mama papa mba juga mas.." pinta mama dengan mengusap kepala Allea yang tertutup hijab.
"Ayo..ikut..mama.." ajak Candy agar Allea tidak merasa sendiri.
"Al..sendiri dulu ya..mama.." pinta Allea pada Candy yang akan mengajaknya.
"Baiklah..tapi mama tunggu ya..sayang.." seru Candy yang menutup kembali pintu kamar besar Azlan.
Allea masuk ke kamar mandi dan menyalakan kran air agar tangisnya tidak terdengar, dalam batinnya kenapa sosok itu makin bermain di ingatnya senyumnya, lembut suaranya bila berdua dan tegas di lain tempat apa lagi bila memanggilnya " Ya Qalbii.." terdengar menenangkan dan hanya dirinya yang memanggilnya seperti itu.
"Kamu...jahat..kenapa saat hatiku menerimamu..kamu ga ada..." teriak Allea dalam tangisnya di kamar mandi.
"Kenapa kamu..tinggalkan aku..." dalam tangisnya Allea memaki Azlan.
"Aku..benci kamu...Azlan..benci..." teriaknya dalam tangis yang makin dalam, hingga baju dan hijabnya basah karena air.
Semakin Allea marah pada dirinya akan sosok Azlan makin nyata sosok itu menggoda di pikiran Allea dengan sapaan lembutnya "qalbii.." hingga Allea menangis terseduh-seduh, hingga sesak di dadanya.
Setelah cukup lama didalam kamar mandi dan dirinya tenang Allea keluar kamarnya si kembar dan Akhtar mengajak Allea bermain di taman, entah karena Allea semakin merindu atau karena belum makan sebab selama beberapa hari ini dia seakan lupa dan selera makannya menurun drastis Allea pingsan membuat ketiga bocah itu memanggil papa Rendra yang kebetulan tidak jauh dari taman.
"Kakek..tante..jatuh terus tidur ga bangun-bangun tuh..di sana " Akhtar menjelaskan pada Rendra dan menarik tangannya.
"Astagfirullah...Allea..sayang bangun sayang.." Rendra mengangkat kepala Allea di tepuknya pipi Allea tapi Allea masih belum juga sadar.
Rendra mengangkat tubuh Allea dan direbahkan di atas sofa ruang keluarga dan Candy membantu menyadarkannya dan tidak lama Allea tersadar dan kembali menangis memeluk Candy.
"Tenang...sayang..kami ada di sini.." ucap Candy memeluk Allea.
"Mas..ma..mas..Azlan.." ucap Allea masih dalam tangisnya.
"Iya..sayang mas juga pasti sama rindu..Al.." Rendra ikut menenangkan Allea mengusap lembut kepala Allea.
Mas Andika yang kebetulan ada di dekatnya merekam adegan itu dan di kirim pada Azlan video itu dengan tersenyum seorang diri Andika bergumam " akhirnya..perjuanganmu tidak sia-sia..dek..".
"Ayo..apa..senyum-senyum..sendiri.." tanya Nasyauqi pada Andika.
"Ga..ada..apa-apa..hanya membayangkan saya bila mas yang bertugas gimana dengan..ruhiku.." goda Andika yang langsung mencium bibir Nasyauqi singkat.
"Ih...memanfaatkan momen..udah tahu lagi pada panik..ini malah..mas.." balas Nasyauqi mencubit pelan Andika.
"Wadauh..ga boleh..ya..udah mas ambil.." Andika kembali mencium bibir Nasyauqi.
__ADS_1
Bersamaan dengan Indra dan Nisrina masuk "Busyet deh..bisa di kondisikan ga sih.." goda Indra yang bikin malu Andika sebab ada Nisrina.
"Maaf..maaf..spontan mas.." Andika menutupi rasa malunya.
Allea makin di bikin senang oleh keluarga besar Azlan, mama Ayu selalu bikin candaan yang bikin semua ketawa begitupun mas Indra ada saja bahan untuk semua ketawa pecah, hingga sesekali terlihat senyum di bibir Allea, nenek kakek juga tidak mau kalah sesekali memeluknya menenangkannya agar tidak merasa sedih.
Azlan diselah-selah tugasnya melihat video yang mas Andika kirimkan ada rasa bahagia di hatinya tapi rasa bersalah yang makin besar yang Azlan rasakan pada Allea yang harus di tinggalkannya.
Sudah beberapa hari ini Azlan susah menghubungi Allea sehingga Azlan menghubungi eyang, dari eyang Azlan tahu ternyata Allea sedang mempersiapkan diri untuk sidang serta perbaikan skripsinya.
Azlan semakin bersalah sebab dirinya tidak ada dimana Allea membutuhkannya, seperti saat ini contohnya dan hanya lewat do'a Azlan berharap Allah memberikan kemudahan pada Allea yang menurut mama sering menangis.
Langit malam di negara orang tidak seperti langit di negara sendiri itu yang Azlan rasakan, di tambah angin malam yang mulai menerpa wajah gagahnya.
"Kangen..ya..bro.." tanya seseorang pada Azlan yang duduk sendirian di temani segelas kopi hangat di saat libur tugasnya.
"Ya..gitu deh.." balas Azlan seadanya.
Azlan hanya jadi pendengar saat ini, rekannya lebih dari dirinya keadaannya istri tercintanya baru saja melahirkan ditambah ayahnya sakit dan masuk rumah sakit, dalam hati Azlan dirinya belum seberapa di berikan ujian oleh Allah hanya rasa rindu sedangkan rekannya bukan hanya rindu tapi juga rasa cemas, khawatir juga bersalah tidak ada di dekat orang-orang tercintanya.
Azlan mendapatkan kabar dari rekan dosen kalau Allea hari ini sidang, Azlan hanya bisa mengirimkan buket bunga untuk memberikan semangat pada istrinya serta kartu ucapan darinya.
~Mas hanya bisa bantu do'a dari jauh semangat ya..qalbii..Allah bersertamu ~ I love you π
Tapi sayang buket bunga itu datang terlambat Allen sudah lebih dulu pergi ke kampusnya, yang tidak ingin terlambat hanya mbok yang menerima buket bunga itu.
Sidang berjalan sesuai rencana walaupun ada sedikit perbaikan untuk hasil skripsi Allea tapi yang jelas hasil sidang menyatakan Allea lulus dengan hasil memuaskan.
Terdengar lagi dari Bunga Citra Lestari ~ saat kau pergi ~ ada bagian dari syair lagu itu mengusik relung hati Allea.
Apakah kau melihat
Dan mendengar
Tangis kehilangan dariku
Baru saja
Ku' ingin kau tahu perasaan ku padamu
Allea masih kuat menahan tangisnya dengan tertunduk lesu mengingat sosok yang sangat di rindukannya untuk memberikan selamat atas keberhasilannya.
Belum juga dirinya bisa berdamai dengan hatinya, kembali terdengar lagu yang di putar di cafe itu dari BCL ~ rindu kamu ~
Malam takkan pernah indah tanpa bintang-bintang
Begitupun diriku tanpamu
Sekian lama kita harus berpisah demi waktu
Ku jalani hariku tampak kehadiranmu
Jelas menyiksaku memikirkan mu
Kasih betapa ku terbelenggu rindu
__ADS_1
Adakah kau tahu, aku juga rindu kamu
Adakah kau tahu
'Kan ku jaga semua, cerita cinta kita
Sampai kau kembali
Allea sudah tidak bisa menahan rasa rindu yang makin membelenggu hatinya tanpa terasa air mata menetes jatuh di pipinya yang membuat kawan-kawan Allea mengkhawatirkan dirinya.
"Al..you ok.." tanya salah satu kawannya, Allea memeluk kawan yang di dekatnya semakin dalam Allea menangis.
"Sabar..Al..ortu loe..pasti bahagia melihat loe sukses.." ujarnya yang sebenarnya tidak berhubungan dengan hal itu Allea menangis.
Allea berusaha menenangkan diri, dan tidak lama mereka semua harus kembali ke rumah masing-masing begitupun dengan Allea yang baru turun dari taxi dan sapaan seseorang mengejutkan dirinya.
"Dengan mba Allea maaf..ini mohon di tanda tangani.." pintanya memberikan selembar nota.
"Ya..terimakasih.." balas Allea menerima buket bunga yang indah dengan kartu ucapan.
β β©Hanya sebaris ucapan selamat untuk mewakili kehadiranku disisimu, seulas senyum indah yang ku harapakan darimu atas keberhasilanmu dan maaf belum bisa hadir memelukmu atas keberhasilanmu Ya qolbii.. β©β I love you.
Allea berlari ke dalam kamarnya dan menguncinya ingin rasanya dia berlari mengapai sosok itu dan menangis didadanya dan memukulnya keras karena sudah membuat dirinya tersiksa dalam hari-hari yang dilaluinya tanpa kehadiran dirinya yang sudah mulai mengisi kekosongan hatinya.
Terlihat di mejanya buket yang besar yang ternyata dari orang yang sama yang mengusik hari-harinya " Al..butuh mas..bukan ini.." Allea melempar semua buket bunga besar itu hingga berhamburan di kamarnya tapi aroma bunga itu lambat laun menenangkan dirinya, salah satu bunga diambilnya tapi tangkainya masih terdapat duri dan mengores salah satu jari Allea bersamaan suara ponsel miliknya berdering dan dia menjawabnya tanpa melihat dari siapa.
β β " Assalamualaikum..ya qalbii.." ucap Azlan dari tempat yang jauh tapi terlihat Allea yang tanpa lusuh dan muka seperti menangis.
β β " Waalaikum salam..ya mas.." balasnya dengan menahan sakit.
β β " Kenapa.." tanya Azlan lembut Allea hanya menunjukkan jarinya yang berdarah.
β β " Mana mbok...cepat di obati qolbii..kenapa itu.." tanya Azlan lagi Allea menunjukan salah satu mawar.
β β " Maafin mas..ya..mawarnya nakal..ya.." Azlan dengan rasa khawatirnya.
β β " Ayo..obatin dulu.." pinta Azlan dan Allea mencari penutup luka dan menunjukkan pada Azlan, Azlan tersenyum senang.
β β " Selamat..ya..maaf mas ga bisa di dekat qalbii.." ucap Azlan yang membuat Allea kembali bersedih.
β β " Sudah..jangan nangis mas jadi sedih disini..do'ain mas kembali tidak lama lagi ko..mas akan turuti kemanapun maunya qalbii mas janji.." ucap Azlan dengan terus tersenyum agar Allea tenang.
β β " Janji ya.." balasnya dengan manja membuat Azlan senang.
β β " Sabar ya..kita pasti bersama..lagi..mana senyumnya.." goda Azlan pada Allea yang malu terlihat Allea terlihat menunduk.
Azlan banyak bercerita tentang kondisi keadaan di negara yang sekarang dirinya berpijak bersama rekan tugasnya, Azlan tidak mau bercerita keadaan yang sebenarnya di tempat ini, hanya cerita bahagia yang Azlan ceritakan pada Allea yang sesekali terdengar suara tawa kecil Allea yang membuat Azlan senang.
Di akhir telpon Azlan terlihat sedih begitu pun Allea yang mulai menangis, Azlan hanya bisa menenangkan tidak bisa lebih sebab jarak yang tidak memungkinkan.
β β " Sudah..dulu..ya..assalamualaikum qalbii..i love you.." ucap Azlan sebelum menutup ponselnya.
Allea mendekap ponselnya seperti mendekap Azlan, baru saja dirinya mendengar semua cerita dari bibirnya yang selalu memberikan senyum termanisnya lewat video call tapi harus kembali merasakan hal yang sama sepi tanpa kehadirannya.
Memang benar orang bila waktu yang bisa membuat orang berubah dan merubahnya maka bijaklah dengan waktu dengan orang tercinta sebelum kita kehilangan waktu dengannya.
__ADS_1