Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
164


__ADS_3

"Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh cinta, Allah melihat mereka dengan belas kasih" Rendra.


Pagi menjelang siang ini Indra dan Nisrina sudah sampai di villa yang dipesan Rendra dan Candy sebagai kado pernikahan keduanya, kota yogyakarta pilihan yang Rendra pilihkan buat keduanya selain kotanya yang indah juga berhawa sejuk cocok buat yang mau honeymoon seperti Indra dan Nisrina.


Sebelum masuk ke villa keduanya melewati salah satu sudut kaliurang yang cukup menarik seperti menyambut kedatangan keduanya untuk menikmati suasana kaliurang yang sejuk ini.



Didepan villa Indra dan Nisrina sudah disambut beberapa orang yang ditugaskan untuk memenuhi keperluan Indra dan Nisrina selama di villa ini.


"Sugeng rawuh..den.." sapa salah satu perempuan yang ditugaskan memenuhi keperluan keduanya.


"Matur..nuwun..ibu.." balas keduanya dengan ramah dan sopan.


Beberapa orang membantu membawakan barang milik Indra dan Nisrina untuk keperluan selama di kaliurang ini, terlihat bangunan villa yang indah dan terawat tidak salah Rendra memilihkan ini untuk kedua keponakan tercintanya.



Salah satu dari mereka menanyakan apa yang ingin keduanya perlukan saat ini dan mereka akan menyiapkan keperluan itu.


"Terimakasih biar..kami istirahat dulu ya..mba.." jawab Indra dengan sopan pada wanita yang terlihat masih muda itu.


Wanita itu meninggalkan keduanya dikamar yang tertata rapi dan harum wangi bunga mawar dan melati yang memenuhi ruangan.


Nisrina menata baju dari dalam tas dan koper yang dibawanya dan Indra pun membantunya tanpa sungkan.


"Mas..biar..Nis aja.." pinta Nisrina dengan manja yang membuat Indra mendekatinya.


"Ga..boleh mas bantu.." godanya dengan memegang dagu Nisrina.


"Bukan ga boleh biar..Nis aja.." balas Nisrina dengan sedikit malu.


Karena lelah perjalanan setelah membersihkan diri Nisrina merebahkan diri di kasur yang sangat nyaman untuknya beristirahat, tanpa terasa dirinya terlelap hingga suara Indra memanggilnya tidak didengarnya.


"Ya'asalii..oh..tenyata.." Indra mencium kepala Nisrina yang masih terlelap.


Indra memilih mengecek laporan kantornya, tanpa disadari olehnya pelukan dari belakang menghangatkan yang dirasakan oleh Indra.


"Ya'asalii..sudah bangun.." tanya Indra yang mencium pipinya dari samping.


Indra menyudahi memeriksa laporan kantornya sebab ini bukan waktunya kerja tapi bersenang-senang itu yang sekarang dia pikirkan.


Terdengar suara dari perut Nisrina yang membuat Indra mengusap pipi Nisrina dengan lembut.


"Lapar..ya..tunggu ya.." pinta Indra menuju ruangan asisten berada.


Tidak berapa lama Indra kembali dan menggandeng tangan Nisrina menuju ruang makan yang sudah tersedia menu yang mengngundang selera, Indra memberikan piring yang sudah berisikan nasi dan beberapa pilihan lauk yang membuat Nisrina malu.


"Mas..biar..Nis..ambil sendiri.." ucap Nisrina dengan menerima piring dari Indra.


"Boleh..dong mas melayani istri mas.." balas Indra yang sudah siap menikmati makanan yang cukup banyak bila untuk berdua.


"Mas..kenapa ga mba-mba itu ga ikut bareng kita aja makan ini terlalu banyak untuk kita berdua.." ujar Nisrina dengan melihat menu yang tertata rapi di meja.


"Ya..sebentar mas panggilkan.." Indra bangkit dari tempat duduknya untuk menemui asisten villa yang kebetulan masih di dapur.


"Mba..bisa saya minta..tolong.." pinta Indra yang langsung disanggupi oleh asisten.

__ADS_1


"Ya..mas..apa yang bisa saya bantu.." tanya salah satu asisten sopan.


"Temani..kami berdua makan ya.." ucap Indra yang terdengar aneh oleh asisten villa.


"Maaf..mas..rasanya tidak sopan..untuk yang satu itu.." jawab asisten villa yang baru kali ini ada yang mengajak asisten makan bersama.


"Maaf ya..saya ga mau di tolak..ya..ayo.." pinta Indra yang melangkah lebih dulu.


Mau tidak mau asisten villa yang berjumlah kurang lebih tiga orang wanita dan satu pria itu mendekat dengan rasa sungkan tapi apa daya, Indra tamu disini yang harus dihormati dan dilayani keperluannya selama disini.


"Silakan duduk...dan nikmati makanan semua ini bareng kita..dan saya mohon jangan sungkan..santai saja.." pinta Indra dengan tersenyum ramah.


Mereka menikmati makan bersama dengan sedikit obrolan ringan seputar kaliurang, selain hawanya yang sejuk pemandangan yang memanjakan mata terdapat banyak tempat wisata yang tidak kalah dari tempat lain tapi tujuan Indra bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan saja tapi ingin lebih mengenal Nisrina secara halal juga.


Seperti Pagi ini selepas sholat subuh keduanya berjalan kaki menikmati udara sejuk juga melihat pemandangan yang masih tertutup kabut pagi.


"Dingin..ya.." tanya Indra yang menggandeng tangan Nisrina.


"Iya..ko sampe ke tulang sih rasanya.." Nisrina menahan rasa dingin tubuhnya hingga pipinya memerah.


"Ya'asalii..sakit.." Indra bertanya dengan rasa khawatir melihat kedua pipi Nisrina karena kedinginan.


"Ga..cuma dingin mas.." Nisrina memeluk satu tangan Indra.


"Ayo..kita balik lagi..ayo naik.." Indra meminta Nisrina naik ke punggungnya.


"Ga..mas..Nis jalan saja.." Nisrina mulai menggigil hingga terdengar dari giginya yang saling bersentuhan, Indra makin khawatir mau tidak mau akhirnya Nisrina digendong Indra.


Begitu sampai di villa Indra membuatkan susu coklat panas dan mengambilnya air hangat untuk merendam kaki Nisrina yang sudah terlihat pucat.


"Mas..kita ga usah jalan kemana-mana ya.." pinta Nisrina dengan lemah.


"Ya'asalii..mas baru tahu ya'asalii ga kuat dingin.." Indra masih menggosok tangan Nisrina.


Menjelang siang asisten villa menanyakan pada Indra apa rencana keduanya hari ini.


"Maaf mas..mau saya siapkan kendaraan.." tanya salah seorang asisten villa.


"Terimakasih mas..tidak usah biar kita di villa saja istri saja sedang kurang sehat.." Indra menjelaskan.


Ternyata benar keduanya hanya menghabiskan honeymoon di villa saja tapi banyak hal yang jadi kedua, jadi saling mengenal seperti Indra yang sangat perhatian sedangkan Nisrina yang malu bila di goda dia tidak manja tapi sangat sensitif.


Gerimis turun dari sore hingga selepas sholat isya masih belum resah membuat Indra mengkhawatirkan Nisrina hingga dia melarang Nisrina keluar dari kamarnya.


Semua aktivitas dilakukan di kamarnya itupun Indra yang menyiapkan, Nisrina merasa malu di perlakukan special seperti ini.


"Mas..Nis malu..semua disiapkan oleh..mas" Nisrina memeluk satu tangan Indra dengan manja.


"Selama mas..bisa tidak masalah.." Indra mengusap lembut kepala Nisrina yang masih tertutup hijabnya.


"Mas boleh minta lepaskan hijabnya bila berdua dengan mas.." pinta Indra yang belum pernah melihat Nisrina melepas hijabnya.


"Maaf..mas Nis belum terbiasa.." Nisrina menundukkan wajahnya malu.


Indra memandang wajah ayu Nisrina tanpa berkedip dan tangan Indra berlahan membuka hijab Nisrina, terlihat rambut panjang Nisrina yang hitam legam lagi lebat, Indra merapikan rambut Nisrina yang indah.


"Cantik..." ucapnya terdengar lembut di telinga Nisrina yang masih tertunduk malu.

__ADS_1


Indra mencium ujung kepala Nisrina lalu kedua mata Nisrina juga hidung mancung Nisrina, saat akan mencium bibir Nisrina Indra berbisik " Kita do'a dulu..ya..Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithaana wa jannibisy syaithaana ana razaqtanaa " Dengan nama tuhan ya Allah singkirkanlah syetan dari kami dan terhadap rizki (jimak) yang Engkau berikan kepada kami".


"Boleh mas..minta sekarang.." pinta Indra menatap kedua mata indah Nisrina.


Nisrina tidak menjawab hanya tertunduk malu dan mengangguk tanda menyetujui permintaan Indra yang berlahan mencium bibir indah milik Nisrina dan ada balasan dari Nisrina yang membuat Indra senang.


Dinginnya malam tidak dirasakan keduanya yang bersembunyi dibalik selimut tebal yang disiapkan pemilik villa yang seakan tahu, dibalik selimut jadi tempat ternyaman buat keduanya menyatukan bahasa cinta dalam ikatan halal.


Senyum manis terlihat menghiasi bibir Indra di sepertiga malam ini selepas sholat sunah tahajud yang melihat istrinya terlelap dalam mimpi indah selepas membersihkan diri setelah menyatukan rasa keduanya.


Indra memandang ayu wajah cantik yang sekarang jadi teman tidurnya, saat ini Indra tidak membangunkannya untuk sholat malamnya di biarkannya dia terlelap.


Dengan lembut diusapnya kepala Nisrina dalam tidur lelapnya yang ditemani dirinya berbaring di sampingnya " Mas..jam berapa.." tanya Nisrina dengan suara khas bangun tidurnya.


"Masih malam..tidur..lah.." Indra menjelaskan dengan tangan masih mengusap kepala Nisrina.


"Nis mau sholat.." Nisrina terbangun dari pembaringannya tapi apa daya ada bagian tubuhnya yang sakit juga sekujur tubuhnya serasa remuk.


"Ya..Allah.." teriaknya sedikit keras yang membuat Indra kaget.


"Ya'asalii kenapa..apa yang sakit.." tanya Indra yang pura-pura sebenarnya dia tahu.


Nisrina hanya diam tertunduk menahan sakit dan saat hendak berdiri tangan Indra lebih dulu memegang tubuh Nisrina yang sedikit goyang.


"Sudah istirahat dulu saja..masih sakitkan.." ujar Indra yang menyuruh Nisrina duduk di ujung tempat tidur.


Indra memberikan obat yang dibawanya dari rumahnya untuk Nisrina untuk mengurangi rasa sakit pada tubuhnya yang jelas hanya vitamin bukan obat yang aneh-aneh.


"Minumlah.." Indra memberikan obat juga air minum untuk Nisrina.


Subuh masih lama Nisrina kembali memeluk guling yang kebetulan tidak jauh dari sisinya dengan selimut menutupi kakinya.


"Apa..ga sebaiknya guling yang bisa bernapas yang dipeluk.." goda Indra yang sama-sama berbaring dan saling berhadapan.


"Masih..sakit.." rengeknya manja membuat Indra gemas.


"Nanti juga terbiasa.." balas Indra dengan tersenyum.


"Mas..kenapa spreinya kok..di ganti.." tanya Nisrina polos pada Indra.


"Ada..yang ternodai.." jawab Indra dengan menggoda


"Ih..mas..malu Nis.." ucap Nisrina menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa harus malu..wajarlah..tenang udah mas cuci..ko.." Indra menjelaskan yang semakin membuat Nisrina malu.


Indra semakin senang orang yang dicintainya sedari dulu kini jadi teman hidupnya, dia gadis pertama yang mengisi relung jiwanya bukan hanya cantik wajahnya dia memiliki pribadi yang baik terutama agamanya.


Dan saat ini keduanya terlihat bahagia dalam ikatan halal dan senyum yang indah nampak dari keduanya saat menikmati sarapan pagi ini, walaupun keduanya pengantin baru tapi tidak di perlihatkan pada asisten villa yang membuat tidak nyaman mereka semua masih batas wajah dan hanya candaan sesekali diperlihatkan tapi mereka pun ikut tertawa sebab itu hal yang wajar bukan yang vulgar.


Asisten villa lebih menilai keduanya orang baik yang penuh kesopanan dan tahu penempatan diri kapan dan dimana harus di lakukan itu yang membuat semua asisten villa kagum.


Tanpa terasa waktu berputar begitu cepat hingga Indra dan Nisrina undur diri dengan seluruh asisten villa, mereka merasa berat berpisah dengan tamunya yang berbeda dari tamu yang lainnya, keduanya seperti keluarga memperlakukan mereka itu yang membuat perpisahan ini berat.


Indra juga memberikan amplop yang berisikan uang sebagai bentuk terimakasih telah disambut baik dan di berikan pelayanan baik pula.


Kaliurang kota kecil yang harus keduanya tinggalkan dengan sejuta rasa yang keduanya rasakan yang akan di ingatnya selalu sebagai sweet memory.

__ADS_1


__ADS_2