
"Belajarlah dari alam, salah satunya seperti air sungai dia tidak akan menyerah walaupun berada di arus deras sebab pada akhirnya akan berakhir dimuara yang tenang" Rendra.
Rendra dan Candy juga Ainun dalam perjalanan untuk berkunjung ke rumah Ayah Candy selain bersilaturahmi juga meminta do'a restu untuk perjalanan dinas Rendra melanjutkan studi dari kedinasannya ke boston.
Kedatangan keluarga kecil ini disambut dengan gembira oleh Ayah sebab Ayah jarang sekali menemui Candy di kediaman mertuanya sebab menurut Ayah tidak baik terlalu sering menemui anak perempuan bila sudah berumah tangga pasti ada waktunya anak bersilaturahmi ke rumah Ayahnya, biarlah keluarga kecil mereka tumbuh tanpa campur tangan banyak orang yang terkadang membuat bimbang dalam menentukan arah yang benar saat berada di persimpangan jalan tersulit.
Ayah adalah pendengar yang baik dan penasehat yang bijak saat di minta itulah kedudukannya saat ini, tapi bukan jadi penabur garam dalam luka apalagi jadi pemberi bensin dalam nyala api tapi tepatnya jadi mata air yang jernih yang berada di tengah gurun pasir yang jadi pengobat dahaga diwaktu yang tepat.
"Yah...maafkan...kami jarang bersilaturahmi ke rumah Ayah" ucap Rendra disela perbincangan santai di ruang keluarga Ayah.
"Ayah...tahu dan mengerti...tapi Ayah yakin akan ada waktu kalian akan bertemu Ayah" ucap Ayah menyejukkan hati dengan tangan tuanya mengusap punggung Rendra penuh rasa sayang.
"Tapi...yah...sebenarnya aku merasa bersalah seperti membuat jarak untuk Honey dengan Ayah" ucap Rendra lagi dengan menundukkan mukanya tanda bersalah.
"Tidak seperti itu...nak Rendra, Ayah yakin kalau kalian dalam keadaan sehat pasti akan saling bertemu dan ada kalanya kita hanya bertemu lewat saling mendo'akan" ujar Ayah dengan senyum menenangkan hati.
"Terimakasih...Yah..untuk segalanya"ucap Rendra lagi mencium punggung tangannya dan memeluk tubuh tuanya.
"Ayah..."Candy memeluk dan mendekap tubuh Ayahnya seakan enggan melepaskannya, terasa hangat dan tenang dalam dekapannya, bulir bening itu mengalir tak berijin ke pemiliknya tapi dalam rasa bahagia bukan kesedihan.
Ayah mengusap punggungnya dengan rasa sayang yang dalam, dan memberikan kesempatan bulir bening itu menetes menghilangkan beban rindu yang tertahankan selama ini.
"Cantik...sudah bukan lagi jadi anak Ayah yang manja tapi sudah harus jadi ibu yang harus bisa memberikan banyak contoh dan pelajaran yang baik, ingat sabar ya...akan banyak ujian di depan nanti" ucap Ayah dalam bisiknya diteliga Candy yang membuat makin dalam isak tangis Candy.
"Yah..selalu bimbing...Can..ya.." dalam isaknya Candy berucap meminta ke Ayahnya.
"Ya...tapi Ayah yakin dukungan suamimu sudah lebih dari cukup menurut Ayah" ujar Ayah dengan menepuk tangan Candy yang sudah melepaskan pelukankannya.
"Tapi...yah aku masih butuh bimbingan..Ayah" ujar Rendra merasa tersanjung tapi tidak di dipungkiri dia masih butuh bimbingan Ayah dalam membawa keluarga kecilnya ke arah yang baik.
"Ayah yakin kalian saling melengkapi itu yang akan jadi pasangan yang mampu menerjang badai apapun" ucap Ayah dengan senyumnya menyejukkan hati keduanya.
"Dukung selalu suamimu dalam jalan kebajikan ya..." Ayah mengusap kepala Candy dengan memberikan senyumnya.
"Yah...ini yang selalu Can...rindu" Candy menyandarkan kepalanya di pundak Ayahnya.
Ayah hanya mengusap kepala Candy tanpa berkata sepatah katapun tapi dalam hatinya bergumam " Bu...anakmu sudah jadi ibu tapi aku masih merasa dia jadi anak kecil seperti dulu, begitu waktu cepat bergulir hingga hadir Candy kecil yang lucu".
__ADS_1
"Sudah..ah...malu itu diliatin Ainun " Ayah mengusap pipi Candy yang masih basa dengan air mata.
"Sudah besar ya...cucu kakek" Ayah menyapa Ainun yang ingin di pangku Candy.
"mau kakek ngendong " tangan Ayah menggapai tubuh mungil Ainun yang masih dalam pangkuan Rendra.
Ayah menggendongnya diajaknya Ainun berjalan keluar dari ruangan keluarga untuk ke taman yang ada disamping rumah Ayah yang asri dan sejuk.
"Honey...Maafkan Mas...ya.." Rendra memegang tangan Candy dengan rasa bersalah karena jarang membawanya ke rumah Ayah untuk berkunjung.
"Tidak ada yang perlu di maafkan dan tidak ada yang salah Mas" ucap Candy menjelaskan ke Rendra yang nampak bersalah terlihat dari mukanya dan menunduk tanda menyadari kesalahannya.
"Can...baik-baik saja Mas..." ujar Candy menyakinkan Rendra bahwa dirinya baik.
"Hanya kangen Mas..." ujar Candy lagi yang masih menenangkan suaminya yang masih menundukkan mukanya.
"Cie..cie..yang lagi berduaan"ucap Mas Dimas yang kebetulan masuk baru datang dari keperluannya dengan Rahma dan Nisrina.
"Kemana aja sih..ko baru pulang" ucap Candy ke Mas Dimas dengan memeluk tubuhnya dengan rasa rindu.
"Sehat...Mas" ujar Rendra dengan memeluknya dan balasan dari Mas Dimas dengan memeluk juga tersenyum.
"Alhamdulillah...sehat" ujar Mas Dimas duduk disamping keduanya.
"Assalamualaikum...cantik"ucap Rendra ke Nisrina yang menghampiri Rendra dan Candy
"Waalaikum salam...tante, om" ucap Nisrina memeluk keduanya bersamaan dengan tangannya yang hanya bisa memeluk separuh tubuh Rendra dan separuh lagi tubuh Candy.
"Tambah cantik aja...ya.." ucap Candy mengusap pipi Nisrina yang masih tersenyum di puji cantik.
"Ade mana om" tanya Nisrina ke Rendra dengan mata mencari Ainun.
"Sama kakek sayang.." ujar Rendra dengan tangan menunjuk ke arah taman milik Ayah.
Nisrina berlari kecil ke arah taman untuk bertemu sepupu kecilnya yang dirindukannya.
"Ga...kangen sama aku..ya" ucap Rahma yang membawakan makanan yang di belinya dari luar kebetulan ada pedagang keliling lewat depan rumah.
__ADS_1
"Kangen...lah...enak nih" balas Candy mendekat ke Rahma yang masih memegang kue pedagang keliling.
Mereka menikmati makanan yang di bawah kan oleh Rahma, dengan obrolan santai dengan candaan yang bikin suasana hangat.
Suara tawa Ainun dan Nisrina yang disertai pandaan dari Ayah makin jelas terdengar ternyata mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Senang ya...ketemu Mba Na..."ujar Rendra ke Ainun yang mulutnya menguap tandanya dia mengantuk.
"Cantik...Ainun...seperti mengantuk" ucap Ayah dengan mata memperhatikan Ainun.
"Sayang...mau bobo" ucap Candy dengan tangannya mengambil Ainun dari gendongan Ayahnya.
Ainun merengek dalam gendongan Candy, Candy membawa Ainun ke dalam kamarnya untuk di susuinya dan ditidurkan.
Begitu juga Nisrina dan Rahma meninggalkan Ayah, dan Mas Dimas juga Rendra yang masih menikmati kebersamaan mereka.
"Ayah dan Mas Dimas...saya, Honey juga Ainun mohon ijin serta do'anya lusa akan berangkat ke boston untuk studi dari kedinasan" ucap Rendra dengan memegang tangan Ayah Candy.
"Ayah ijinkan dan do'a Ayah menyertai kalian" ucap Ayah dengan memberikan senyum bahagianya ke Rendra.
"Pergilah...aku do'akan kalian baik-baik disana"ucap Mas Dimas ke Rendra dengan tersenyum.
"Terimakasih, yah...Mas" ucap Rendra dengan membalas senyum ke Ayah dan Mas Dimas.
"Berapa lama kalian akan ada disana" tanya Mas Dimas ingin tahu ke Rendra.
"Kurang lebih nya saringan lebih Mas...tapi aku usahakan secepatnya pulang ke sini" ucap Rendra menjelaskan ke Ayah dan Mas Dimas.
Candy dan Rahma sudah duduk di antara ketiga laki-laki yang sangat istimewa dan berarti di mata Candy.
"Can...akan kangen sama susana seperti ini" ucap Candy yang sudah berkaca-kaca.
"Sekarang mah gampang udah ada VC benarkan" ujar Ayah yang ga ingin melepaskan kepergian anaknya dengan kesan mendukung masa depan mereka untuk lebih baik.
Mas Dimas yang biasanya paling banyak mengoda dengan kejailan untuk Candy tapi tidak terkecuali Rendra yang hanya adik ipar, tapi tidak dengan saat ini lebih jadi kakak yang baik tapi dalam hati paling dalam ada rasa kehilangan yang akan dia rasakan saat melepaskan kepergian mereka.
Keluarga memang diatas segala-galanya untuk Rendra dan Candy sebab mereka berdua bisa seperti sekarang ini berkat keluarga yang selalu ada dalam keadaan apapun, arti keluarga sangat besar untuk mereka.
__ADS_1