
"Memuliakan pasangan merupakan ibadah tapi kenapa orang lebih memilih malu untuk melakukan kebaikan itu" Rendra.
Sesuai keinginan mba Ayu untuk berkumpul di rumah mama papa di hari libur ini, hanya ingin kumpul keluarga saja, begitupun keluarga kecil Rendra memenuhinya.
Ainun yang asyik membaca buku di taman milik neneknya tidak memperhatikan sepupunya menghampirinya.
"Asyik...banget dek..." ujar mas Indra yang kebetulan sedang liburan dari kuliahnya yang mengambil master di negara paman sam (amerika).
"Oh..iya..mas.." ujar Ainun berucap seperlunya.
Ainun masih meneruskan membaca buku yang menurutnya lebih seru hingga membiarkan mas Indra hanya jadi penonton, terdengar suara pesan masuk dari benda pipi milik Ainun yang terdengar beberapa kali hingga mengganggu konsentrasi Ainun.
"Siapa sih...berisik.." ujar Ainun sewot dan memegang benda pipi itu, untuk membaca pesan yang dikirim untuknya.
Raut wajah ayu Ainun berubah setelah membacanya raut wajah gembira yang diperlihatkan dengan senyum manis dan jari tangan yang lincah membalas pesan yang dikirim seseorang.
"Dari...siapa sih dek..senang betul.." ujar mas Indra yang penasaran.
"Mba..Nis...mas"ujar Ainun apa adanya dengan senyum yang mau hilang dari bibirnya.
"Oh.., dek..boleh mas..lihat foto propilnya?" ucap Indar ke Ainun yang penasaran seperti apa wajah gadis yang dikaguminnya sekarang sebab yang dia ingat Nisrina yang dulu saat Ainun masih kecil.
"Ga...ada..mas hanya gambar biasa..tapi Ai...ada foto mba..mas mau lihat.." ujar Ainun yang jari tangan masih memegang benda pipi.
Ainun memberikan benda pipinya yang terlihat foto cantik Nisrina yang berpose cantik yang membuat Indra semakin mengagumi paras cantiknya yang sudah berubah.
Indra hanya diam terpesona wajah ayu Nisrina yang sekarang, dia terlihat semakin cantik membuat dirinya semakin yakin akan pilihannya.
Terlihat keanggunan dari wajah cantiknya yang tertutup hijab menambah nilai lebih di mata Indra sebagai wanita muslimah yang taat akan tuhan.
"Mas...sudah liatkan..." Ainun yang meminta benda pipinya dari mas Indra.
"Dek..boleh..mas bagi foto mba Nis..." pinta Indra ke Ainun yang serius memandang ke Indra.
"Ai...ijin dulu ya..mas..ke mba.. Ai..takut mas nanti disalah gunakan.." ucap Ainun mengoda mas Indra yang sepertinya kecewa.
"Dek...ga percaya sama mas..masa mau disalah gunakan...sih" Indra membujuk Ainun yang masih ingin mengoda Indra.
"Mas..mau buat apa..memangnya" tanya Ainun yang ingin mas Indra jujur.
"He...he...buat mas...koleksi aja.." ujar Indra dengan mengaruk kepalanya.
"Tuh...kan ujung-ujungnya buat nakutin..tikus..kan" goda Ainun yang membuat Indra melebarkan matanya terkejut.
__ADS_1
"Ai...dek..kesenangan tikusnya di liatin foto cewe cantik.."balas Indra tersenyum tulus.
"Cie...cie..mas tahu ya..kalau mba Nis cantik...suka ya...bilang aja...kali mas"goda Ainun yang masih belum memberikan foto Nisrina.
"Ayo..lah..deh..kasih..mas ya..."bujuk Indra ke Ainun yang masih ingin menggoda.
"Mas..jujur dulu..ada apa..ke..Ai.."Ainun masih tidak ingin Indra ngomong tentang perasaannya.
"Dek...mas harus..ngomong apa.." Indra masih belum mau terbuka ke Ainun.
"Berhubung mas ga mau ngomong Ai..ga mau kasih...ye..dah..mas" Ainun meledek Indra dengan gaya menjulurkan lidahnya dan berlari ke dalam rumah.
Indra yang merasa diledek dan mengharapkan mendapatkan foto Nisrina mengejarnya dari belakang.
"Papa...mas...tuh..."seru Ainun yang mendekap tubuh gagah papanya yang duduk bersama keluarga besarnya.
"Apa..sih..mba.." ujar Rendra yang bingung dengan ulah keduanya.
"Ayo...lah..dek..kasih mas.." ucap Indra yang masih menginginkan foto Nisrina.
"Mas..mas..kasihan..adenya.." ujar mama Rendra yang sangat menyayangi semua cucunya.
"Ade..pelit..nek.." ucap Indra yang masih berharap Ainun memberikan foto Nisrina.
"Iya..iya..mas..Ai...kasih tapi mas jujur buat apa.." ucap Ainun dengan tawanya yang membuat semua yang ada diruangan melihat ke Indra yang malu.
Ainun di bikin geli dengan digelitikin di pinggangnya yang membuat Ainun meronta karena geli.
"Iya..iya..mas.." ujar Ainun yang ga kuat menahan geli.
"Eh...mas..anak om diapain.."protes Rendra ke Indra yang ga perduli dengan ucapan Rendra.
"Ngomong dulu...mas.." pinta Ainun yang sudah normal dan membuka aplikasi benda pipinya.
"Ok...mas...suka..sama mba.."ucap Indra yang tidak lagi malu menyatakan isi hatinya.
"Cie..cie..dari tadi ke..mas..ga harus Ai..buang tenaga.." ucap Ainun yang masih mengatur napasnya agar lebih rileks.
"Ya..elah..mas..kirain Ade..mau diapain..ga tahunya..." ucap mama Indra ( mba Ayu) ke Indra yang tahu anaknya menyukai Nisrina.
"Mas..kenapa ga minta sama mbanya aja langsung.." ucap Ainun ke Indra yang tersipu malu di lihat seluruh keluarganya.
"Ya..nanti kalau mas..udah wisuda..sebentar lagi sekaligus melamar.." seru Indra dengan spontan yang membuat semua yang mendengar terkejut bukan kepalang.
"Mau...di kasih makan apa..anak..orang..mas.." ucap papanya ( mas Rudi) ke Indra dengan serius.
__ADS_1
"Nasi..lah..makan..mah..pa.." jawab Indra ke papanya dengan polosnya.
"Papa tahu..itu tapi mas belum kerja..nak.., ga bakal dikasih Nis sama ayahnya..sebab anaknya bakal kelaparan..mas.." ucap mas Rudi ingin anaknya bertanggungjawab.
"Papa..tenang..aja soal..itu..mas..udah pikirkan ko.." ujarnya santai tapi tidak dengan Rendra yang masih belum yakin.
"Cinta..boleh tapi tanggungjawab diatas segalanya mas.." ucap Rendra ikut memberikan masukkan untuk Indra.
"Dek...itu ajaran kamu...jadi ikut bucin.."ujar mamanya (mba Ayu) ke Rendra yang tersenyum pasrah dipojokkan oleh mba Ayu.
"Ma..mas ga bucin hanya perempuan itu ingin yang pasti-pasti..iya ga om.." Indra menjelaskan dan membuat Candy malu membuang pandangan ke arah yang lain, Rendra yang tahu hanya bisa tersenyum sendiri.
"Terus..aja ngelak mas..kalau bukan bucin..terus apa.." ucap mamanya yang makin di bikin gemes oleh Indra.
"Dek..mba Nis..punya pacar ga.." tanya papanya Indra ke Ainun yang sangat dekat dengan Nisrina.
"Setahu..Ai..mba aktif di kampus..ikut apa yang namanya..nat-nat..gitu dan soal pacar mba ga pernah cerita..pak de.." jawab Ainun ke papanya Indra sebagai pak denya.
"Oh...anak senat..sayang" ucap Rendra menjelaskan ke Ainun yang belum tahu.
"Gimana mas kalau dia punya pacar.." ujar papanya yang info menggoda Indra.
"Akan diperjuangkan...bila perlu nunggu putus sama pacarnya.." jawab Indra tegas terdengar.
"Udah..jelas..dek..ini mah ilmu kamu menurun ke anakku..ini mah udah level dewa langit ini kayaknya..parah abis" tambah mba Ayu dengan menjentikan jarinya hingga berbunyi.
"Wajar..lah..ma..harus ada usaha untuk hasil yang maksimal iya ga om.."Indra seperti meminta dukungan dari omnya (Rendra).
"Seratus..buat mas..om..dukung" ujar Rendra yang membuat Candy benar-benar malu sebab tahu usaha Rendra untuk bisa bertemu dan menjadikan dirinya istri yang mendampinginya seperti sekarang ini.
"Cie..cie..yang merasa ada penerus...pede..abis dah" ujar mba Ayu ke Rendra yang makin memperlihatkan senyumnya.
"Mas..jangan kelewat pede loh..kalau Nis ga punya rasa gimana.." ujar papanya lagi ke Indra.
"Pa..Indra tahu tapi usaha harus..kan.." jawab Indra yang tidak ingin menyerah.
"Bagus..itu namanya cucu..kakek..jangan menyerah mas.."papa Rendra (kakeknya) menyemangati Indra.
"Tante..bantu mas cari info..dong..tentang Nis.." pinta Indra ke Candy yang hanya jadi pendengar lebih fokus ke Azlan yang aktif bermain.
"Iya..mas..tante usahakan ya..sebab yang sering ketemu mba Nis...mba Ainun.."ujar Candy ke Indra yang tidak ingin kecewa.
"Terimakasih...tante.." balas Indra ke Candy yang hanya tersenyum sebagai balasan mendukung.
Rendra yang melihat hanya tersenyum simpul sebab Rendra tahu Candy orang yang paling malu bila membahas urusan cinta, sebab bahasa cinta menurutnya terlalu rumit hanya bisa dirasakan tidak bisa di omongin.
__ADS_1
Sebaliknya Candy yang merasa di perlihatkan Rendra malu tidak dapat menyembunyikan pandangannya saat kedua mata keduanya bertemu dan berakhir dengan sama-sama menundukkan pandangan itulah keduanya dalam pembahasan cinta yang rumit tapi asyik.