Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
32


__ADS_3

"Ada hati yang termanis dan penuh cinta ,tentu saja kan ku balas seisi jiwa, ini kesungguhan aku sayang kamu " Rendra (kahitna)


Rendra dengan kegiatan rutinitas dinasnya,seperti biasa belum ada waktu untuk bisa bertemu dengan keluarganya untuk menyampaikan maksudnya untuk menindak lanjuti lamarannya kepada keluarga Candy.


Seperti sore menjelang malam ini,Rendra duduk sendiri di dekat taman lingkungan dinas yang tidak jauh dari rumah dinasnya.


"Hai...om...sendiri " Gadis (anak dari salah satu rekan dinas Rendra) menyapa Rendra.


"Ya...dari mana" Rendra membalas sapaan gadis.


"Jalan sore aja,om sendiri ngapain?" Gadis bertanya balik sambil memegang benda pipi sesekali dilihat nya.


"Lagi..menikmati sore aja" ucap Rendra santai (walaupun dalam hati Rendra ga nyaman).


Sapaan seseorang mengejutkan keduanya, yang membuat Rendra ngomel sedikit.


"Kebiasaan...ga bisa santai apa " ujar Rendra dengan muka masam.


"Maaf...kapt,hai..." Panji menyalami gaya cowo ke Rendra,dan menyapa Gadis juga.


"Hai...juga om.." sapa Gadis ramah ke Panji.


"Ini...calonmu...bro...parah..." bisik Panji sambil tepuk jidatnya sendiri.


"Sialan...gue..sudah gila kali...mau sama bocah " jawab Rendra sewot. ( Gadis seorang mahasiswa yang baru beberapa semester).


"Maaf...kirain loe doyan daun muda gitu" ucap Panji dengan muka ga merasa bersalah.


"Kambing kali...,buat loe..gih..baik ko anaknya juga dari bibit unggul lagi" Rendra menjelaskan dengan mendetail.


"Serius bro..." Panji meminta kepastian dari Rendra.


"Cius...mie..apa" canda Rendra dengan anggukan kepalanya.


"Om...Rendra lucu deh.." Gadis ketawa mendengar suara Rendra seperti bocah.


"Dis..sebaiknya pulang sudah mau magrib,oh...ya mau diantar sama Panji ya..." Rendra mengatakan dan tidak ada penolakan buat Panji.


Gadis dan Panji berjalan semakin menjauh,Rendra sendiri melangkah menuju Masjid tidak pulang ke rumah dinasnya.


Selesai makan malam Rendra memeriksa tugasnya yang beberapa waktu lalu belum diselesaikan besok harus di serahkan dikantornya ,suara ketukan pintu membuatnya harus melangkah ke arah sumber suara dengan berat hati harus membukanya dan seperti biasanya teman satu timnya datang yang pasti akan mengacaukan rumah dinasnya.


"Bro....maaf...ngangu ya..."Panji dengan senyuman kuda liarnya.


"Ngapain sih...dirumah aja,kaya anak perawan "Farel yang mulai mencari cemilan yang ada di meja.

__ADS_1


" Kaya tau aja perawan apa bukan " goda Ifan sambil bersandar di tempat duduknya.


"Ya...tahu lah..." Ucap Alfa yang sebenarnya sindir Farel.


"Gila...loe"ucap Panji serius dengan nada sewot.


"Serius loe...tahu"Ifan masih dengan kepenasarannya.


"Apa...bedanya " Rendra ikut penasaran.


"Mau tahu apa....mau tau banget " ucap Alfa yang biasa diam sekarang lagi kumat.


Keempat temannya langsung datang menghampiri Alfa dan ditimpahnya tubuh Alpa hingga tidak terlihat di tindih empat badan temannya yang tahu sendiri udah gede keker lagi, Alfa sampe merah padam muka di acak - acak ga jelas.


"Ampun....gue...ga maksud gitu ko " Alfa bersuara masih dengan napasnya yang belum beratur.


"Apa...trus...maksud loe " Ifan masih ingin isengin Alfa.Mereka tahu Alfa paling muda dan ga banyak tingkah hampir sebelas dua belas sama Rendra.


"Maksud...gue..kalau perawatan pintu di ketok pasti manggil mamanya,kalau ga perawan pintu di ketok langsung ditanya apa tujuannya lah...wong itu rumahnya,kalau perawan masih numpang sama ortunya " Alfa menjawab dengan polos tanpa ada beban,santai.


Kelimanya tertawa sampai terkentut-kentut, bener juga jawabnya ga salah yang lain aja udah mikir yang aneh-aneh.


"Udah...bro sakit perut gue.." Panji yang masih memegang perutnya.


"Lagian...ini semua gara - gara anak perawan " Farel mengacak rambut Alfa dengan kasar.


"Bro...loe Serius sama tuh...bocah...perawan" omongan Rendra membuat Panji terkejut.


"Cie...cie..bocah " goda Farel.


"Apaan sih..baru juga pede kate " ucap Panji membela diri.


"Ga...usah pede kate lansung tembak aja,gue bantu ngomong ke bapaknya baik kok orang nya" Rendra menyakinkan Panji.


"Serius loe...demi apa" Panji minta kepastian.


"Demi cintamu padanya "Rendra menjawab dengan senyum semanis mungkin biar bikin Panji seneng.


"Gue..serius bro..." ujar Panji merengek seperti bocah minta jajan.


"Iyalah...kapan gue...becanda untuk urusan kaya ngini " Rendra menjawab dengan muka yang mereka tahu ini muka serius Rendra.


"Thanks..ya..bro..." panji dengan muka senangnya.


"Ga...gue...belum bantu jangan makasih dulu " ucap Rendra menolak.

__ADS_1


"Ga...adil gue ga di cariin...bro "jawab Alfa yang dari tadi melongo aja jadi pendengar.


"Loe...sabar nunggu giliran..ok,yang muda ngalah "Rendra dengan tawa kecilnya menepuk pundak Alfa.


"Kapt..loe bisa urusin, urusan kita loe sendiri udah sampe mana" Ifan dengan santai memainkan benda pipinya.


"Alhamdulillah...berkat do'a kalian tinggal ajak ortu lamaran,cuma belum atur waktunya nih" Rendra dengan senyum yang tertahan.


" Loe...sendiri udah..sampe mana?" Rendra balik nanya ke Ifan.


"Lamaran udah ortu yang ngurusin , ini mau ngajuin syarat -syarat ,biar cepet halal " jawab Ifan santai.


"semoga di mudahin dah.." Rendra mengatakan dengan senyumnya.


"Babang...diem...diem bae " goda Panji Farel yang dari tadi hanya jadi pendengar setia tanpa komentarnya yang konyol.


"Habis gue bingung mau ngomong apa,bukan wilayah gue ngomong gituan " ujar Farel ga ada dosa.


"Nyadar...babang..bawa - bawa wilayah,selama ini loe ada di wilayah para gadis yang kena ngobalan loe" ucap Panji kesel sama sifat Farel suka main perasaan anak orang.


"Bukannya...gadis itu perempuan yang bahkan jadi ibu anak-anak loe , yang loe maksud wilayah mana ?" Ifan ikutan ga kalah ngegas .


"Ya...gue ngaku salah " Farel menundukkan kepalanya mengakui kesalahannya.


"Dari tadi kek...ngaku bikin naik darah aja" Omel Panji.


"Santai,pada laparkan...tunggu" Rendra melangkah ke arah pintu keluar seorang ajudannya membawakan pesanan Rendra.


Itu sebagian kecil kepedulian seorang Rendra,boleh selisih paham tapi untuk meredanya Rendra selalu memberikan sesuatu yang bikin adem hati lagi,memang panutan.


"Yo...nikmati selagi ada dan mumpung masih anget " ucap Rendra yang meletakkan bawaannya.


Hanya jajan pinggir jalan ga usah mahal tapi bikin perut kenyang plus meredam Esmoci..salah ya...emosi (martabak, susu jahe,singkong keju).


"Makasih nih...tahu aja..kapt " Alfa yang paling santai kalau urusan debat.


"Ga...usah gitu biasa aja " ujar Rendra melangkah ke dalam mengambil minuman buat teman - temannya.


"Gue jadi dienaki nih...makasih bro " ucap Farel menerima minuman gelas.


"Bro ga perlu bantuan kita nih?" ucap Alfa yang masih makan.


"Iya...bro...kayaknya kita ga ada fungsinya walaupun kita deket " Panji ikut nambahin omongan Alfa.


"Insyaallah belum,nanti pas gue perlu pasti minta tolong" Rendra menjawab dengan santai.

__ADS_1


Kedekatan mereka ya...seperti itu tapi tidak ada rasa untuk menyakiti semua pada koridornya tidak mencampur adukan, berdamai dengan hati memang susah tapi mendamaikan hati lebih nyeeesss.


__ADS_2