Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
126


__ADS_3

"*Dinginnya e**mbun pagi akan tergantikan dengan kehangatan sinar mentari begitu juga kehidupan akan terus berputar silih berganti, teruslah bersemangat agar tetap jadi terbaik dan bermanfaat untuk orang banyak*" Rendra.


Rambut tertutupi dengan syar'i, kulit putih, warna mata indah seperti penggabungan dari mata Rendra dan Candy , postur tubuh semampai ditambah senyum manis menambah ayu wajahnya, dia sudah semakin menjadi gadis remaja yang banyak dikagumi kaum adam.



Seperti hari ini sudah beberapa kaum adam dilarang masuk ke dalam rumah dinas oleh penjaga gerbang kedinasan bagi yang tidak ada kepentingan.


"Maaf..mas..harus ada alasan dan kepentingan yang sesuai dengan prosedur " tegur prajurit yang berjaga dirumah kedinasan.


"Saya..teman Ainun..pak.." ujarnya menjelaskan ke prajurit yang berjaga.


"Maaf..tapi dek..Ainun tidak berpesan kepada kami.." jawab salah satu prajurit jaga.


"Memang..bapak..abangnya..panggil..dek.." ujar yang lain ga mau pergi.


"Ya..kami sangat menyayanginya.." ucap ajudan Rendra yang kebetulan lewat terdengar tegas.


"Memang..ada keperluan apa..dengan cantik.." tanya ajudan Rendra yang sudah seperti om buat Ainun.


"Hehehe...ga cuma mau ketemu aja.." ucapnya polos dengan cengegesan tampa berpikir.


"Sudah..lah..dek..Ainun juga butuh istirahat.." seru prajurit jaga masih terlihat sabar.


"Katanya bapaknya..galak betul..pak" tanya salah seorang yang mengaku teman Ainun dengan mengaruk kepalanya.


"Ga..galak tapi hobinya suka nembak orang.." seru ajudan Rendra tegas.


"Serem amat..pak.." dengan sedikit melangkah mundur.


"Ya..udah salam aja..buat Ainun.." ucapnya berlarian keluar gerbang.


"Ada..aja..setiap harinya..yang mencari dek Ainun.." ucap salah seorang prajurit jaga.


"Siapa yang ga suka..liat apa..sempurna gitu.." ujar yang lain menjelaskan.


"Gue..juga ga nolak kalau dek..Ainun..mau sama gue" ujar yang lain dengan senyum-senyum sendiri.


"Hus..jangan khayal terlalu tinggi giliran jatuh sakit.." ujar ajudan Rendra yang menyudahi obrolan soal Ainun.


Di rumah dinas sendiri dibuat kesal dengan suara benda pipi yang saat ini berbunyi tanpa jedah hingga membuat Azlan sedikit marah.


"Mba..bisa ga sih..dimatiin berisik tahu.." protes Azlan ke Ainun yang masih membaca buku.


"Iya..dek..mba juga pusing dapat nomor dari mana mereka.." balas Ainun ke Azlan yang menonton tv terganggu.


"Yang jelas dari teman..mba..lah" ujar Azlan yang menurutnya itu yang masuk akal.


"Ada..apa..sayang.." tanya Ainun kepada kedua buah hatinya.


"Hp..mba berisik..ma.." ujar Azlan memegang tangan Ainun yang duduk diantara keduanya.


"Kenapa ga di jawab sayang.." tanya Candy dengan mengusap lembut kepala Ainun

__ADS_1


"Nomornya..ga dikenal ma.." jawab Ainun sedikit kesal dengan panggilan asing ke benda pipinya.


"Ko..bisa..sayang.." tanya Candy lagi yang sebenarnya dirinya pernah mendapatkan hal yang sama seperti Ainun beberapa tahun silam.


"Iya..ma..Ai..juga bingung mereka mendapatkan nomor dari siapa.." ujar Ainun lagi masih kesal.


"Mungkin dari salah satu teman mba..yang mba kenal.." jawab Candy menjelaskan dan menenangkan Ainun.


"Jawab..aja sayang..ga baik..jutek.." ucap Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ga..gitu pa..masalahnya Ai..ga kenal.." jawab Ainun menjelaskan ke Rendra.


"Mba..jangan tebar pesona..jadi gini..nih.." Azlan asal ngomong ke Ainun.


"Ade..ga baik ngomong gitu ke mba.." ucap Candy mendekap tubuh Azlan.


"Maaf...maafin..ade..mba.." ucap Azlan menghampiri Ainun memeluk Ainun merasa bersalah.


"Iya..mba tahu..ade..sayang mba.." Ainun balas memeluk Azlan.


"Ih..manisnya anak..mama" Candy memeluk keduanya dengan penuh kehangatan.


"Papa..juga mau.." tangan kokoh Rendra memeluk ketiganya hingga Azlan berontak.


"Ade..susah napas..nih.." protes Azlan hingga pelukan dari orang tersayang melepaskannya dan tawa mereka pecah terlihat kehangatan di keluarga kecil Rendra dan Candy.


"Pa..bukannya mau ke rumah..mas Panji.." Candy mengingatkan Rendra.


Tidak beberapa lama Rendra keluar dari kamarnya tapi Candy merasa tidak suka melihat pakaian yang Rendah kenakan.


"Pa..jangan yang itu..dong Can..ga suka liatnya.." protes Candy ke Rendra dengan menggandeng Rendra kembali masuk ke kamarnya.


"Mas..yang ini..nih.." Candy memberikan baju casual yang terlihat santai agar nyaman buat Rendra diwaktu liburnya.


"Kirain mau ngajak..mas.." goda Rendra yang langsung di tutup mulut Rendra dengan tangan Candy yang malu takut didengar anak-anaknya.


"Bukannya..mau tambah..baby.." goda Rendra lagi yang membuat Candy merengek.


"Mas..ada anak-anak..Can..malu..ih.." protes Candy yang membuat Rendra makin senang.


Benda pipi Rendra berdering dan suara Azlan memanggil nama papanya.


"Pa..om Panji telpon.." seru Azlan yang membuat Rendra sedikit sewot.


"Kebiasaan ga bisa..liat orang senang sedikit.." sewot Rendra dengan melangkah keluar kamarnya.


Sesaat Rendra berbicara dengan benda pipinya tidak terlihat serius sebab sesekali Rendra tersenyum tipis.


Tidak beberapa lama Rendra mengakhiri obrolannya lewat benda pipi miliknya dan akan berpamitan kepada keduanya anak dan istri tercintanya.


"Sayang..baik-baik..ya.dirumah sama mama..mau pesan apa sebelum papa pulang.." ucap Rendra kepada dua buah hatinya.


"Apa..ya..oh..iya..pa..makanan yang ga bau tangan.." ucap polos Azlan yang sebenarnya mengoda papanya.

__ADS_1


"Apa..itu dek..papa baru denger.." tanya Rendra yang masih bingung.


"Ih..papa ga gaul..sih..itu artinya ga pesan papa..sebab mana ada makanan ga bau tangan..ayo coba..papa pikir..mau pakai kaki memegangnya" jelas Ainu yang membuat Rendra dan Candy tersenyum.


"Ade..udah pintar..ya..godain papa.." ucap Rendra yang mengusap kepala Azlan.


"Honey..mas pergi dulu..dirumah baik-baik ya..kalau butuh sesuatu telepon mas..ok.." dengan menangkup muka imut Candy dan tanpa malu Rendra mencium bibir Candy sontak bikin Candy malu sebab ada buah hatinya.


"Ih..papa.." kedua buah hatinya protes dengan menutup matanya dengan tangannya masing-masing.


"Mas.." ucap Candy malu tapi apa daya sudah terjadi.


"Maaf..lupa.." ucap Rendra dengan mengusap bibir Candy dan berbisik pelan.


"Nanti..sambung lagi..Honey.." Rendra tersenyum tipis Candy hanya malu yang ditampakkan dengan pura-pura membukakan pintu Rendra.


"Dah..sayang..Honey..papa pergi dulu..assalamualaikum.." ucapnya keluar dari rumah dinasnya.


"Waalaikum salam..hati-hati.." balas ketiganya dengan melihat Rendra semakin menjauh dari rumah dinasnya.


"Mama..ade mau..dibuatkan minum yang seger dong.." pinta Azlan dengan sopan ke Candy.


"Kita..bikin sama-sama yuk..ade pilih isinya..mau apa.." Candy menggandeng tangan Azlan menuju dapur.


"Mba..mau ga.." tanya Azlan ke Ainun yang sudah ikut bergabung.


"Mau..dong..pakai..ini..ma..biar tabah segar.." usul Ainun dan mendapat persetujuan dari mama dan adiknya.


"Ih..mba..enak.segar lagi.." ujar Azlan senang dengan terus menikmati minuman kekinian yang segar buatan mamanya yang dibantu keduanya.



"Mama..pinter..deh..enak..ma..segar..sayang..papa..ga disini..ikut menikmati ini" ujar Azlan masih menikmati minumannya.


"Ade..biar minumannya ada temannya mama bawa..ini.." Candy membawa makanan pendamping buat buah hatinya yang paling suka dirumah.



"Mama..ini mah tambah enak.." ucap Ainun yang masih ikut bergabung.


"Ma..kenapa ga..bikin kafe aja..mama..pinter bikin makanan.." usul Azlan yang suka masakan mamanya.


"Sayang mana ada waktu..buat ngurus semua itu..untuk kalian saja mama masih merasa bersalah sebab masih kurang waktunya.." Candy menjelaskan ke Azlan.


"Kenapa bukan kita aja..mba.." usul Azlan yang masih sekolah dasar udah mikir bisnis memang benar-benar darah bisnisnya sudah mulai tumbuh dari keluarga papanya.


"Kita..minta bantuan..papa aja..mba.." usul Azlan lagi yang seperti keinginan berbisnis dan kemandirinya sudah mulai tumbuh.


"Sudah kalian..sekolah aja..dulu..soal itu nanti dipikirkan setelah kalian kuliah.." Candy menjelaskan dan masih memperhatikan keduanya makan.


Candy hanya bisa berkata dalam hatinya "Mas..kalau saja saat ini ada di sini..pasti akan berkata ini sedikit banyak menurun dari diri mas..yang mandiri dan pekerja keras" Candy tersenyum seorang diri.


Sebenarnya ada rasa bangga tapi ini belum saatnya menurut Candy yang berharap pendidikan lebih utama terlebih dahulu sebab dari ilmu kita bisa dihargai dan banyak memberikan manfaat untuk orang lain.

__ADS_1


__ADS_2