
"Benar yang dikatakan orang bijak hati dan pikiran terkadang tak sejalan, apalagi saat kita terbuai dalam rasa cinta karena itu libatkan tuhan sebagai pemilik kehidupan agar tak salah dalam memutuskan" Candy.
Semua masih terasa asing buat Candy tapi Rendra yang sangat sabar terus membimbingnya tidak memperdulikan apa omongan orang yang terpenting buatnya Candy ada di sisinya seperti dulu lagi karena itu sebuah hadiah terindah untuknya.
Candy yang cerdas berusaha mencari tahu untuk kesembuhannya walaupun sudah banyak memori yang di ingatnya tapi dia tidak ingin Rendra malu karena akan jadi bahan gunjingan orang karena dirinya.
"Honey..." sapa Rendra mencium kepala Candy yang tertutup hijab.
Candy hanya memberikan senyumnya ke Rendra yang terlihat makin sayang dan penuh perhatian ke Candy.
"Papa...lihat...tugas gambar Ainun baguskan" Ainun menghampiri Rendra dan menunjukkan tugas gambarnya.
"Pintarnya...anak Papa"Rendra memegang buku yang telah di gambar Ainun.
"Pa...kapan kita pindah ke tempat dinas lagi?"tanya Ainun yang sudah rindu kawan mainnya di rumah dinas.
Rendra masih belum siap meninggalkan Candy hanya seorang diri bila dirinya berdinas, karena tidak ingin Candy memikirkan sesuatu yang menyebabkan sebagian memori masih sedikit di ingatnya.
"Nenek...masih ingin kita disini dulu sayang.." ucap Rendra agar Ainun tidak lagi merengek untuk tinggal di rumah dinas lagi.
"Memang nenek kenapa Pa...?" tanya Ainun yang makin banyak tanya soal apapun.
"Nenek...kesepian sayang" ucap Mama Rendra yang kebetulan lewat di antara mereka yang masih asyik di ruang tengah.
"Nenek saja yang ikut ke rumah dinas...Pa..." ucap Ainun yang membuat Candy tertawa.
"Terus...Kakek sama siapa...cantik" ucap Candy yang makin bersalah ke gadis kecilnya yang tidak memiliki teman di rumah Mama.
"Iya...ya rumah dinaskan kecil"ucap Ainun yang bergaya seperti orang dewasa mikir.
"Besok..kita main ke rumah Mba Nisrina saja..." ucap Rendra yang ingin Ainun melepaskan masa anak-anak dengan bermain.
"Asyik...kita menginap ya...Pa..." Ainun merayu Rendra dengan bermanja duduk di sampingnya.
"Tanya nenek dulu...sayang boleh atau tidak ya..."ucap Candy yang tidak ingin membuat Mama Rendra khawatir.
"Siap...Komandan" ucap Ainun yang memberikan hormat dan berlari ke arah Mama Rendra yang kebetulan ada taman sedang melihat bunga-bunga yang baru dirapikah asistennya.
Rendra yang duduk disamping Candy tersenyum melihat tingkah lucu Ainun yang berbanding terbalik dengan Candy yang lebih cenderung pemalu.
__ADS_1
"Honey...senang di rumah Mama.." tanya Rendra ke Candy yang masih diam melihat jauh ke arah Ainun berlari.
"Can...senang dimanapun asalkan bersama Mas.."ucap Candy yang bersandar di dada Rendra yang membuat Rendra sangat senang, karena Candy malu bila berduaan bersentuhan selain di kamar.
"Ehm...ehm..maaf...anggap saja ga ada yang lewat..." goda Mba Ayu yang kebetulan mampir ke rumah Mama.
"Kebiasaan...salam dulu apa...slonang-slonong aja..." ujar Rendra yang tidak perduli dirinya masih ingin Candy bersandar di dadanya.
Candy langsung bangun dari tempat duduknya menyalami dan mencium pipi Mba Ayu, dan menanyakan kabarnya.
"Jagoan kecil mana Mba..." tanya Candy yang tidak melihat Mba Ayu menggendong anak bungsunya.
"Mba langsung dari tempat dinas...Can..." Mba Ayu menjelaskan ke adik dan iparnya.
Mba Ayu menemui Mama di taman, Rendra yang masih berduaan berbincang santai tapi sebenarnya ada obrolan penting yang akan Rendra sampaikan ke Candy namun Rendra ragu untuk menyampaikannya.
"Honey...sebelumnya Mas...minta maaf...sebenarnya tidak harus kalau Honey menolaknya tapi bila Honey menyanggupi dan merasa siap Mas mohon kehadirannya di acara kedinasan untuk istri-istri (Persit)" ucap Rendra dengan mengusap punggung tangan Candy yang memandang ke Rendra.
"Kapan...Mas...Can...usahakan " ucap Candy dengan tersenyum ke Rendra.
"Mas...ga mengharuskan loh...Honey..., besok acaranya" ucap Rendra ke Candy santai.
"Siap Can..akan bersiap...besok" ucap Candy yang ingin menyenangkan Rendra.
"Honey...sebaiknya Honey di rumah saja..." goda Rendra yang baru saja selesai olah raga pagi.
"Ko...gitu...kenapa Mas..." ucap Candy yang masih saja belum pekah di goda Rendra.
"Mas...takut aja..." dengan tangannya Rendra mengusap ujung kepala Candy dan meninggalkan Candy yang masih merapikan barang-barang keperluan anak dan suaminya.
Candy masih memikirkan ucapan Rendra, dan saat Rendra keluar dari kamar mandi Candy bertanya.
"Mas...apa maksud ucapan Mas tadi" Candy masih dengan polosnya bertanya ke Rendra.
"Mas takut nanti banyak yang menggoda Honey..." Rendra berucap dengan mencium pipi Candy yang membuat Candy membalas mengusap pipi Rendra.
"Can...ga mengoda siapapun Mas..." ujar Candy menyakinkan Rendra yang menatap mesra.
Setelah berpamitan ke Mama Papa Rendra keduanya mengantarkan Ainun terlebih dahulu ke sekolahnya, dan mereka melanjutkan ke kantor kedinasan Rendra.
__ADS_1
Saat Rendra memarkirkan kendaraannya Candy terlebih dahulu turun tanpa di duga Candy, ada dua prajurit yang tidak satu devisi dengan Rendra salah satunya mengoda Candy.
"Hai...manis...sendiri" goda seorang prajurit terdengar konyol menurut Candy yang hanya diam menundukkan kepalanya tanpa menjawab sapaannya.
"Matamu buta ini kita berdua...mau jadi berapa menurut kamu..."ujar Rendra tegas terdengar yang membuat lawan bicara tersentak kaget dan langsung memberikan hormat ke Rendra, sebab siapa yang tidak kenal Rendra yang di segani di segi apa devisi.
"Maaf...Kept.." ucap salah satu dari mereka yang sangat takut dan malu di tegur Rendra.
"Berani ya...sebagai hukuman lari keliling lapangan sampai matahari tinggi" perintah Rendra yang membuat Candy menatap ke arah Rendra.
"Siap...laksanakan" sebelum memenuhi perintah Rendra keduanya memberikan hormat terlebih dahulu.
Saat akan berlari keduanya masih saja sempat terbius pesona Candy dengan berucap "Gue..pikir bidadari itu ada di surga eh...didunia juga ada..."ucap salah satu prajurit itu yang di dengar Rendra.
"Aku...bisa dengar...aku tambahin ya...hukumannya" tegur Rendra dengan tersenyum ke Candy yang hanya senyum malu seperti biasa.
Keduanya melangkah memasuki gedung pertemuan masih saja ada godaan yang di dengar oleh telinga Rendra entah untuk ke berapa kalinya dalam waktu yang masih sepagi ini.
Tapi Rendra harus meninggalkan Candy bersama istri-istri rekan dinasnya, Rendra sendiri akan melanjutkan tugasnya di ruang dinasnya.
Saat akan meninggalkan ruangan di mana Candy berada, ada salah satu dari wanita membicarakan Candy yang sepertinya menceritakan sakit yang di derita Candy.
Rendra mencari tahu melalui ajudannya yang menurutnya ini tidak pantas, dan kalau boleh meminta Candy tidak mau merasakan sakit seperti ini.
Rekan dinas Rendra mengetahui dan paling bikin Rendra terkejut Alfa yang paling depan maju meluruskan situasi ini.
"Kapt...dia istri dari ajudan yang satu devisi dengan bang Panji" ucap Alfa yang sangat cepat memberikan informasi dari ajudan Rendra.
"Biar...gue yang tegur itu bocah..." ucap Panji tegas dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
Benar saja di ruangan devisi Panji langsung memanggil ajudannya yang tidak tahu untuk apa dia di panggil.
"Kau...ajarkan apa saja...sama istrimu?" tanya Panji yang terlihat geram menatap serius ke ajudannya.
Ajudannya hanya diam tidak berani menjawab sebab tidak mungkin Panji akan bertanya tentang istrinya kalau bukan hal yang penting menurutnya.
"Siap...Let...saya akan tanyakan selepas saya pulang dari kedinasan" jawabnya dengan wajah yang masih bingung.
"Saya...tunggu...kalau istrimu salah apa yang akan kamu lakukan?" tanya Panji yang masih saja geram tidak terima istri kawannya jadi bahan gibah.
__ADS_1
"Siap...saya akan siap menerima hukumannya sebagai suami saya tidak bisa mendidiknya"jawab ajudan Panji yang sangat kecewa terlihat dari wajahnya.
Rendra sangat bersyukur kawan dinasnya sangat mendukung dan peduli dengan kondisi Candy saat ini yang masih butuh support dari orang-orang terdekatnya, walaupun hanya dengan perhatian yang sangat kecil, ucapan terimakasih yang selalu Rendra ucapkan kepada kawan dinasnya yang selalu ada disaat suka dan duka, susah dan senang....terimakasih tuhan Kau berikan kawan yang selalu ada untukku dalam situasi apapun dalam hati Rendra berdo'a.