
..."Kita harus yakin tidak ada sesuatu pun yang sia-sia dalam menjalankan ibadah soal diterima atau tidak urusan Allah yang jelas sudah menjalankan dengan syariatnya dan sesuai tuntutannya karena Allah maha tahu" Candy...
Azlan sudah kembali ke rumah dinasnya begitupun dengan Allea ikut serta bersama Azlan, keduanya menjalankan tugas rumah bersama-sama memang Allea yang lebih dominan soal urusan rumah, Azlan mengerti itu hanya saja Azlan tidak mau tinggal diam selama dirinya bisa akan ikut turut serta untuk membantu.
Seperti malam ini Allea yang sudah tertidur dengan tugas yang masih belum dia selesaikan terlihat dari benda pipi lebar yang masih menyala di meja dan dia tergeletak tertidur di sampingnya.
Azlan mengangkat tubuh Allea kedalam kamar dan dia tidak terbangun menandakan dia pulas mungkin terlalu lelah dengan tugas rutin sebagai mahasiswanya, Azlan kembali memeriksa tugas Allea dan di bantunya menyelesaikan tugasnya hingga larut malam.
Dan seperti biasa di sepertiga malam Azlan sholat malam sudah jadi rutinitasnya hingga menjelang subuh, Allea yang merasa tugasnya belum selesai terlihat tergesa selepas subuh dia memeriksa tugasnya, namun setelah di periksa semuanya sudah selesai dan sudah di cetak dalam kondisi rapi Allea ingin mencari Azlan tapi yang di cari seperti biasa sudah pergi ke masjid sebagai agenda rutinnya.
Hari ini Azlan akan ada di kampus karena ada jam kuliah sebagai pengajar seperti biasanya dan salah satunya kelas Allea.
Seperti biasa Azlan bersikap wajar sesuai permintaan Allea, Azlan menyebutkan satu persatu nama mahasiswa untuk mengabsennya agar tahu siapa saja yang hadir dan yang tidak tiba giliran nama Allea berat rasanya Azlan memanggil nama Allea yang sudah terbiasa dengan panggilan qalbii dengan pelan Azlan menyebutkan nama Allea dan di ujung nama itu perlahan dia memanggil qalbii yang membuat mahasiswa bertanya.
"Maaf..pak nama itu ga ada di kelas kita pak.." ujar salah satu mahasiswa yang membuat Azlan pura-pura mengecek nama itu dan dengan santai dia cuma berkata.
"Maaf.." dan melanjutkan menyebutkan kembali nama mahasiswanya.
Allea sendiri tidak mau tahu soal itu, semua berjalan seperti biasa hingga waktu pulang Azlan bingung harus bersikap bagaimana pada Allea, dia termenung di dalam ruangannya hingga sapaan seseorang membuatnya terkejut.
"Belum pulang..pak.." tanya salah satu dosen yang kebetulan lewat.
"Ya..sebentar lagi.." balas Azlan dengan pura-pura merapikan mejanya.
Akhirnya Azlan meninggalkan kampus tanpa bertanya pada Allea mau pulang bareng dirinya atau tidak, tapi di luar kampus hujan lebat terlihat Allea masih berdiri di halte kampus dan kebetulan juga tidak terlihat mahasiswa yang satu jurusan dengan Allea.
Azlan menghentikan mobilnya dan keluar dengan membawa payung meminta Allea pulang bersamanya dengan sedikit berbisik Azlan meminta Allen turut serta " ya..qalbii ayo pulang.." pintanya pelan dan lembut.
Allea seperti biasa tidak membalas ucapan Azlan dia hanya ikut serta apa maunya Azlan untuk masuk kedalam mobil untuk ikut serta bersamanya.
Sesampainya di rumah Azlan memberikan handuk untuk Allea yang sedikit basa, Allea sendiri langsung ke kamar mandi membersihkan diri hanya Azlan yang masuk ke dapur membuat teh manis hangat untuk keduanya.
"Minumlah..biar sedikit hangat.." pinta Azlan pada Allea yang terdengar beberapa kali bersin-bersin.
"Terimakasih.." balas Allea yang sudah berganti pakaian dan duduk menikmati teh hangat buatan Azlan, Azlan sendiri membersihkan diri karena pakaiannya basa.
Tidak lama Azlan ikut duduk disamping Allea menikmati teh yang sudah hampir dingin tapi pikirnya tidak masalah.
"Qalbii besok kita bermalam di rumah kakek..mama minta kita kumpul mba Nasyauqi juga bareng keluarganya..akan ada disana" Azlan menjelaskan keinginan mamanya.
"Ya.." balas Allea singkat, ucapan singkat dari Allea sudah membuat Azlan senang sebab keduanya tinggal bersama tapi tidak ada obrolan dari keduanya Azlan yang tidak ingin membuat Allea marah padanya dengan obrolan yang tidak penting menurut Allea, jadi Azlan memilih diam dari pada ujung-ujungnya nanti membuat Allea makin marah padanya jadi biarlah Azlan mengikuti alurnya tapi Azlan yakin akan jalan tuhan untuk menyatukan cinta keduanya di waktu yang tepat.
Semua berjalan seperti biasanya, hingga keduanya tiba di rumah mewah milik kakeknya sambutan hangat dari keluarga besarnya untuk keduanya terutama mama dan nenek juga Nasyauqi pada Allea.
__ADS_1
"Sini..sayang ayo..cobain mba yang bikin.." pinta mama pada Allea.
"Gimana.." tanya mama Azlan dengan menunggu jawaban dari Allea yang sedang menikmati.
"Enak..ma.." balasnya dengan tersenyum.
"Hai..cantik.." sapa Allea pada Aisyah yang kebetulan meminta minum pada mama Azlan.
"Sayang tolong bawain ini untuk mas mu.." pinta mama memberikan makanan yang baru saja di cobanya untuk Azlan.
"Iya..ma.." Allea membawakan makanan pada Azlan yang kebetulan sedang asyik berbincang dengan papa, kakek juga mas Andika.
"Mas..maaf..ini dari mama.." ucap Allea yang membuat Azlan senang bukan kepalang.
"Terimakasih qalbii.." balas Azlan dengan tersenyum semanis mungkin.
"Sama-sama..mas.." balas Allea yang kembali berkumpul dengan mama juga nenek yang menemani Aisyah mewarnai, Nasyauqi sendiri menidurkan Arshaka yang mengantuk.
Kehangatan keluarga sangat terasa terlihat keakraban dari kakek yang menggoda Arshaka yang memintanya di temani memberi makan burung dan ikan di kolam yang tidak besar tapi banyak ikan hias yang kakek miliki, Rendra sendiri bersama Aisyah yang memintanya menangkap capung di taman bunga milik nenek buyutnya yang tumbuh berbagai jenis bunga.
"Al..gimana..Azlan.." tanya Nasyauqi pada Allea yang ingin tahu bagaimana adiknya memperlakukan istrinya.
"Ga..gimana..gimana, baik seperti biasanya seperti suami-suami yang lain.." ujar Allea yang apa adanya tapi apa balasan dari Nasyauqi di luar dugaan Allea.
"Ga..asyik..nanti mba tegur..masa sih ga ada romantis..romantisnya.." seru Nasysauqi dengan muka seperti ingin menelan adik semata wayangnya.
"Apaan...sih mba..pelan dikit apa.." protes Azlan dengan suara masih belum santai.
"Apa..mesti mas Andika ajarin kamu dek..bisa ga sih..romantis dikit.." protes Nasyauqi pada Azlan yang membuat Azlan mati gaya di depan Allea yang sudah memerah karena malu.
"Mba..ga gitu juga memang harus di tunjukkan di depan mba.." balas Azlan dengan sedikit cemberut.
Andika yang datang tiba-tiba yang tidak tahu kalau ada perdebatan antara Azlan dan Nasyauqi dengan santai dan langsung mencium kepala Nasyauqi.
"Ruhi..dimana Ais..sama Arsha.." tanya Andika yang langsung mencium kepala Nasyauqi.
"Tuh..kan sudah di contoh in..bisa kan.." seru Nasyauqi yang membuat bingung Andika.
Sebenarnya Azlan panas di komplain mbanya tapi Azlan masih berpikir tenang, bisa saja Azlan mencium Allea di depan keduanya tapi apa balasan nanti dari Allea dia akan makin menjauh dari dirinya.
"Siap..mas..mohon terima muridmu.." balasan dari Azlan membungkuk pada Andika seperti seorang murid yang akan berguru.
"Apaan..sih..dek.." ujar Andika tidak paham, Allea sendiri hanya tertunduk malu.
__ADS_1
Itu baru Nasyauqi dan Andika yang bucin, di saat makan malam bersama giliran Rendra yang melayani istri tercintanya dengan menyuapinya sebab Candy menyuapi keduanya cucunya yang meminta di suapi oleh neneknya.
"Honey..satu lagi.." pinta Rendra pada Candy dengan memberikan suapan terakhir dari tangan Rendra langsung tanpa sendok.
Allea sedikit terkejut ternyata keluarga Azlan bucin parah pantas saja Azlan selalu memperlakukan dirinya dengan sabar sebab yang dia lihat dan rasakan dari orang terdekatnya begitu menghargai wanita tepatnya memuliakan wanita.
"Terimakasih mas.." balas Candy pada Rendra dan Rendra membalasnya dengan mencium kepala Candy dengan lembut dan ucapan lembut.
"Sama..sama honey.." dengan tersenyum menghangatkan.
Selepas makan malam mereka bersantai dengan obrolan juga suguhan tingkah si kembar yang tidak mau diam, ada saja yang membuat Rendra dan papanya sasaran keusilan Arshaka tapi keduanya terlihat senang.
Di tempat berbeda Andika dan Azlan berdiri di ujung kolam yang terlihat beragam ikan hias warna warni milik kakeknya.
"Gimana..dek.." tanya Andika yang sudah jelas tahu tentang bagaimana sikap Allea terhadap Azlan.
"Masih perlu waktu mas.." balas Azlan santai.
"Semua akan indah pada waktunya dek.." Andika menyemangati Azlan.
"Iya..mas aku menunggu waktu itu.." ucap Azlan semangat dengan tersenyum.
"Tapi mas lihat baik-baik saja.." Andika hanya menilai apa yang dilihatnya.
"Ya..seperti itu permintaannya.." Azlan bukan mengumbar aib pasangannya hanya meminta pandangan pada mas Andika yang sudah seperti mas kandungnya.
"Ya..udah ajak aja..kumpul keluarga terus biar dia tambah mengenal mu dek..dan makin dekat.." Andika seperti memberikan jalan untuk Azlan.
"Maunya seperti itu tapi dia kan harus kuliah juga banyak tugas juga mas.." Azlan menerima saran mas Andika tapi ada sedikit halangan karena Allea juga punya kewajiban sebagai mahasiswa yang tidak bisa di tinggalkan.
Allea yang sudah berada di kamar milik Azlan yang sangat besar dan luas semua tertata rapi sesuai dengan letaknya terdapat balkon yang terlihat pemandangan indah terutama malam ini sebab Allea pertama kalinya berkunjung dan langsung bermalam di rumah mewah milik keluarga Azlan.
Nampak lampu seperti kunang-kunang yang membuat Allea tersenyum sendiri, Azlan yang kebetulan masuk hanya bisa memandang tidak banyak bertanya.
"Belum tidur..qalbii.." Azlan mendekat memberikan selimut untuk menutupi tubuh Allea karena angin malam.
"Indah..ya.." ujarnya menunjukkan lampu yang jauh dari rumah-rumah penduduk.
"Ya..qalbii..istirahatlah..ini sudah malam.." pinta Azlan.
Allea yang sudah membersihkan diri langsung naik ke tempat tidur yang sangat empuk yang membuat dirinya sangat menikmati ada banyak pertanyaan dalam benaknya " kenapa dia begitu bersahaja di rumah dinas sedangkan di sini hidup laksana istana.." Allea berasal dari keluarga yang ada tapi tidak seperti keluarga Azlan yang sangat berada di kelasnya hampir setara dengan sultan pikir Allea.
"Maafkan..om..ga bisa memberikan yang seperti di sini..sebab kita harus menyesuaikan dengan yang lain.." Azlan menjelaskan dengan berbaring di sampingnya.
__ADS_1
"Tidurlah.." Azlan mengusap kepala Allea yang mulai terpejam.
Di kamar ini Allea tidak seperti di rumah dinas seperti ada pembatas tidur, entah karena ini bukan rumahnya atau ada hal yang lainnya Azlan tidak tahu yang jelas dia cukup senang tapi dia tidak ingin bertindak gegabah, Azlan lebih memilih mengikuti arus yang mengalir itu yang lebih tepatnya.