
Ruang Rawat Rendra
Rendra masih dengan kondisi yang belum sadar dari pengaruh bius, seakan di kondisi ini dia tidur dengan lelapnya menghilangkan segala beban yang berat yang selama ini dia rasakan seorang diri.
Melihat kondisi Rendra yanga masih belum sadarkan diri akhirnya rekan satu timnya berbagi tugas, karena mereka juga belum berganti seragam juga belum membuat laporan ke atas mereka.
Farel dan Alfa bertugas membuat laporan sekaligus berganti seragam sedangkan Panji dan Ifan saat sedang di kantin Rumah Sakit untuk mengisi perut mereka, yang belum terisi dari kemarin karena mengkhawatirkan kondisinya Rendra yang belum sadar diri dari obat biusnya.
Ruang rawat Rendra yang akan Candy kunjungi untuk pemeriksaan sebelum pergantian jaga hari, dengan dokter jaga yang lainnya.
Candy saat ini tidak sendiri di bantu suster Tiara untuk memeriksa perkembangan kondisi Rendra masih dalam pengaruh bius yang di berikan saat di operasi.
"Assalamualaikum,..."Candy mengucapkan salam tanpa ada jawaban, sebab hanya Rendra tidak ada kawan satu timnya dan kondisi masih tertidur.
Dalam ruangan Rendra seorang diri tidak ada yang menemani, tidak seperti beberapa jam yang lalu masih ada yang menemaninya.
"Ra...coba cek tekanan darahnya " perintah Candy kepada Tiara yang bersamanya.
Candy memeriksa data Rendra dan mencatatnya.
"Gimana,Ra..."Candy menyerah kan kertas catatan Rendra untuk di tulis hasil tensinya oleh Tiara.
"Normal dok,..."tangan Tiara merapikan alat tensi.
"Maaf...pa,saya akan memeriksa bapa" ucap Candy kepada Rendra yang masih belum sadarkan diri.
Dengan teliti Candy memeriksa Rendra mulai dari dada namun (detak jantung pasien aneh menurut Candy) tapi sebisa mungkin dibikin biasa di depan Tiara, dan Candy tahu Rendra sudah mulai tersadar, pemeriksaan berlanjut ke perut,mata dan bekas operasinya.
Rendra sendiri terkejut juga senang yang memeriksanya pemilik mata indah itu.
"YA...Rabb inikah rencana Mu untukku, dengan cara dan kondisi yang sama Kau pertemukan aku dengan dirinya" batin Rendra.
Rendra yang sudah mulai sadar membiarkan Candy melakukan pemeriksaan, walaupun dengan jantung yang tidak seirama dan sesekali mata Rendra yang belum terbuka penuh memperhatikan mata indah Candy .
Candy pun merasa sudah selesai memeriksa Rendra, akan melanjutkan ke pasien lainnya.
"Hmmm....Ra,saya rasa cukup kita ke ruang lain,biarkan dia istirahat " Candy mengajak Tiara ke luar ruangan lain.
Candy membalikkan badan untuk melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Rendra ,dikejutkan dengan suara yang keluar dari mulut Rendra.
__ADS_1
"Aw...."Rendra dengan berpura-pura baru sadar, dan berpura-pura sakit .
Candy yang tahu akan terjadi hal seperti ini, dengan senyumnya medekat ke arah Rendra.
"Alhamdulillah,...bapa sudah sadar" Candy masih dengan senyumnya yang tahu kalau pasiennya pura-pura.
"Apa..ada yang sakit pa" Candy mencairkan suasana biar tidak kelihatan aneh.
"Perih...disini..."Rendra menunjukkan bekas operasinya denga polos yang dibikin senormal mungkin.
"Sejalannya waktu akan berkurang rasa sakit itu"Candy menjelaskan sesuai keadaannya.
"Maaf saya harus memeriksa yang lain" ucap Candy untuk keluar dari ruangan Rendra.
Rendra merasa ini waktu yang tepat untuk pemilik mata indah itu mengingat dan mengenalinya kembali.
Saat langkah Candy akan melangkah keluar dari ruang Rendra menghentikan nya.
"Dok,bisa minta waktu dokter bicara berdua saja "Rendra meminta Candy dengan sopan.
"Bisa, apa yang dapat saya bantu" ucap Candy dan memberikan tanda agar Tiara meninggalkannya.
"Dokter,tidak kenal saya" Rendra memulainya untuk mengingat kan Candy.
"Maaf...saya lupa,sebab pasien saya banyak, tidak mungki saya mengingatnya satu persatu " ucap Candy santai dan senormal mungkin.
Mata Rendra tidak sengaja bertemu mata indah Candy "Astagfiruallah,pesona mata ini" batin Rendra, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Terimakasih,kamu sudah menolong saya" ucap Rendra menghilangkan gundah hatinya yang sudah sangat lama di dirasakannya.
"sama - sama,sudah kewajiban saya"jawab Candy senormal mungkin dan sopan.
"Sekarang saya pasien kamu, tapi dulu kamu yang menolong saya sebelum kamu jadi dokter"Rendra berusaha mengingatkan Candy dengan dirinya beberapa tahun yang lalu.
"Kakak...."Candy dengan suara cukup keras yang membuat Rendra terkejut walaupun tidak sampai keluar ruangan itu.
"Maaf...kakak berubah...aku jadi ga mengenalinya "Candy memberikan penjelasan dengan perubahan dari Rendra.
Benar apa yang Candy bilang Rendra banyak berubah dari postur tubuh, muka, karakter hingga tidak bisa dikenalnya.
__ADS_1
"Aku sudah mencarimu kemana - mana" Rendra dengan muka datar tanpa ekspresi.
"Sebegitu...pentingnya...kah aku,dimata kaka" Candy dengan rasa ingin tahu.
"Ya...kamu inspirasi ku" ucap Rendra tanpa malu di ungkapkan ke Candy.
"Siapa...aku..kak sampai..."Candy tidak melanjutkan apa yang akan dikeluarkan dari mulutnya karena malu.
"Kamu segalanya untuk ku"Rendra sudah tidak malu lagi menyatakan rasa yang ada di dadanya selama ini dipendamnya.
Candy hanya terdiam mendengarkan semua suara dalam hati Rendra yang ingin diutarakannya ke Candy yang selama ini di pendamnya dalam dadanya entah berapa tahun lamanya.
Candy melihat jam ditangannya, ia ingat tugas jaganya dan ingin profesional dalam menjalankan tugasnya, Rendra pun tahu itu.
Candy pun berpamitan, namun Rendra meminta Candy ke ruangannya sebelum pulang dinas nanti.
Candy sendiri belum bisa mencerna apa yang Rendra ucapkan.
Tidak beberapa lama teman satu tim Rendra pun datang ke ruangannya untuk melihat kondisi Rendra.
"Sudah...kenyang tidurmu"Ifan menepuk pundak Rendra yang sudah bangun dari tidurnya yang nyenyak.
Rendra hanya balas tersenyum senang, mereka tidak tahu hati Rendra sedang berbunga - bunga sudah dipertemukan dengan seseorang yang telah lama dicarinya.
"Bikin...khawatir aja...maafkan aku bro "ucap Panji dengan rasa bersalah.
"Apaan....sih...gue ga apa - apa..ko"Rendra masih dengan senyumnya agar rekannya tenang bahwa dia baik.
Farel dan Alfa masuk dengan muka yang sudah segar dan sudah dengan baju santainya.
"Gimana...bro..."Alfa menanyakan keadaan Rendra, hanya di balas salam gaya lelaki dengan tangannya.
"Dikit...biasalah" ucap Rendra menyakinkan rekannya.
" Apaan...dikit...buktinya loe sampai pingsan bikin panik aja"ujar Ifan menjelaskan masih dengan rasa khawatir untuk mengingat hal itu.
Rendra hanya tersenyum mengingat Candy serta hikmah dari ke jadian ini dia dapat bertemu dan dapat lebih dekat dengan seseorang yang dicarinya, yang harus dibayar mahal dengan dirinya harus masuk ruang operasi.
"Gue ...penasaran sama pemilik mata indah itu" Farel mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
Rendra seketika teringat mata Candy, ada rasa kesal takut Farel ingin memilikinya, namun seorag Rendra yang sudah terbiasa menyembunyikan rasa bersikaf santai walaupun berbeda dengan yang di rasakan dalam hatinya.