Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
88


__ADS_3

"Berjumpa adalah obat rindu, begitu juga bila hati ini merasa keresahan dalam hidup itu sinyal dari hati kita ingin berjumpa dengan tuhan-Nya yang maha pemilik cinta" Rendra.


Siang menjelang sore Rendra beserta ajudannya memasuki parkiran mobil di kedinasan Rendra, yang masih ramai karena masih jam kerja berlangsung.


"Terimakasih sudah menemaniku ke kantor pusat" ucap Rendra yang akan melangkah meninggalkan ajudannya.


"Siap...sama-sama Kapt...tolong sampaikan terimakasih ke Mba Candy terimakasih makanannya...lezat" ucap ajudan Rendra dengan malu menunduk.


Rendra hanya memberikan jari jempolnya tanda siap akan di sampaikan ke Candy ucapan terimakasihnya.


"Dari mana saja...Kapt, gue ke ruangan tapi kosong" tanya Ifan dengan menepuk bahu Rendra yang masih berdiri akan masuk ke ruangannya.


"Ke kantor pusat, ada yang harus di urus" ucap Rendra menjelaskan ke Ifan.


"Positif...nih pergi" Ifan ingin penjelasan dari Rendra tentang kepastian kepergiannya ke boston.


"Ya...ini surat Ijin ikut serta Honey dan Ainun" Rendra menjelaskan dengan detail ke Ifan.


"Gue...akan kangen...Kapt" ucap Alfa yang datang tiba-tiba ikut menambahkan obrolan Ifan dan Rendra yang sudah dalam ruangan Rendra.


"Betul itu..., ga lamakan "tanya Ifan seperti tidak ingin Rendra pergi jauh dari kedinasannya.


"Ku usahakan secepatnya selesai...setidaknya sesuai target deh" ucap Rendra menyakinkan kawan satu timnya.


"Kalau boleh memilih aku lebih memilih di sini" ujar Rendra mengungkapkan apa yang dirasakannya.


"Seserius itukah...Kapt" Alfa seperti ingin tahu mengapa Rendra mengatakan seperti itu.


"Iya...lah, keluargaku, kawanku, saudaraku semua ada di sini, ini negara dan tanah airku" ucap Rendra tegas dan serius terdengar diteliga kawan satu timnya.


"Terus kapan keberangkatannya" tanya Ifan yang duduk di dekat Alfa.


"Dua hari lagi aku harus pergi...berat sebenarnya" ucap Rendra lagi dengan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Bukannya senang ditemani orang tercinta" ujar Farel yang datang dari tadi hanya menyimak.


"Iya...tapi kasihan Ainun akan beradaptasi dengan iklim disana" Rendra menjelaskan kekhawatirannya kepada putri kecilnya yang belum satu tahun.


"Kenapa harus khawatir, Mba Can..kan dokter" Ifan seperti menyakinkan Rendra bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku tahu itu tapi di indonesia tetap lebih baik untuknya" ucap Rendra yang belum di pahami kawan satu timnya.


"Tapi...ya...sudah lah mungkin ini rencana tuhan terbaik untuk semuanya" ucap Rendra menyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja.


"Kapt...rindukan gue...ya.." ucap konyol Alfa yang sontak membuat semuanya mengacak kepala Alfa dengan ngemas, dan Alfa meringis menahan rasa pusing karena kepalanya di guncang-guncang.


"Kapan Panji mulai dinas lagi..." tanya Rendra ke Farel yang satu kedinasan dengan Panji.


"Kalau ga salah dia ambil cuti panjang Kapt..." ucap Farel dengan muka seperti mengingat.


"Biar puas dia berdua-duaan..." ujar Ifan yang sudah merasakan gimana jadi pengantin baru, apalagi Panji sama Rena tidak pacaran.


"Terus kapan Rena ikut ke rumah dinas" tanya Rendra lagi yang masih memeriksa beberapa arsip yang sudah ada di mejanya.


"Setahu gue...sebelum masuk dinas Rena akan ikut menempati rumah dinas Panji" Farel seperti berusaha mengingat takut salah juga sebab itu privasi Panji dan Rena.


"Berarti Rena sudah siap jadi istri perwira"Alfa hanya menambahkan perbincangan tanpa ingin jadi sok tahu juga.


"Sebenarnya kasihan loh jadi istri perwira...harus siap dalam segala hal dan harus siap di tinggalkan kapanpun" ucap Ifan seperti memahami perasaan jadi istri perwira.


"Benar...hari ini saja aku harus pergi dinas pagi buta hingga membuat Honey sibuk menyiapkan keperluanku, walaupun tanpa aku minta...seharusnya aku masih berada dirumah untuk sarapan bersama tapi kewajiban dinas di atas segala-galanya dan Honey mengerti itu, aku hanya kasihan saja melihat dia harus menggurus gadis kecilku sendirian" Rendra menjelaskan dengan pikirannya ada di rumah ingin bersama keluarga kecilnya.


"Jadi enakan mana menikah apa membujang untuk jadi seorang perwira" tanya Alfa yang masih sendiri dan sebenarnya ini pertanyaan konyol buat Ifan dan Rendra.


"Santai Mas...bro...pahamilah kita yang belum nikah" ujar Farel yang ga kalah konyol dengan Alfa dengan senyum tanpa dosanya.


"Mau memahami dari mananya..., pembahasan nikah itu lebih banyak prakteknya dari pada teorinya" jelas Ifan ke Farel juga Alfa.


"Maksudnya...apa" ucap polos Alfa bikin geleng kepala Rendra.


"Dengerin...kalau kamu mau cium anak perawan orang belum ada ikatan nikah apalagi sampai tindakan yang lebih mau kamu dipukulin orang satu kampung...modar (mati) yang ada kamu" jelas Rendra yang sontak bikin Alfa manggut-manggut tanda paham.


"Bener juga ya...Kapt" ujar Alfa dengan tersenyum polos ke Rendra dan Rendra hanya menepuk jidatnya yang tidak pusing.


"Hukuman dari perbuatan loe, hasil dari berbuat zina...anaknya yang nanti kasihan sebab orang tuanya yang berbuat anaknya yang dapat gelar anak haram" Ifan memperjelas akibat hubungan bebas.


"Kalau lulus kuliah jadi sarjana gelarnya lah... ini gelar anak haram yang akan terus disandangnya sepanjang hidupnya"Ifan makin menjelaskan agar bocil ga salah jalan.


"Kuliah dapat gelar sarjana, anak haram sekolah ga tapi langsung lulus aja dan dapat gelar lagi" ucap konyol Alfa bikin geleng kepala Ifan, Rendra dan Farel ada aja yang selalu bikin orang lain senyum-senyum sendiri dasar bocil-bocil.

__ADS_1


"Makanya jangan berani cium-cium anak orang" goda Rendra ke Alfa yang suka konyol.


"Mana berani Kapt...mana ada cewe gue samperin langsung gue sosor bisa-bisa habis dah gue pulang-pulang tinggal nama kali" ujar Alfa lagi dengan polosnya menjawab.


"Kasian...makanya jangan jomlo...ucap Farel dengan tidak memikirkan balasan nanti dari Alfa.


"Mending gue..jomlo lebih bermartabat dari pada loe..bang...suruh nikahin anak orang yang jelas bukan perbuatan loe" sindir Alfa yang tidak bermaksud meremehkan hanya candaan saja.


"Oh...iya...ya...****** dah gue" ucap Farel dengan malu dia menutup mukanya dengan tangannya.


"Makanya jangan sok bener...kena skak dah" balas Ifan ke Farel menambahkan.


"Hai...bocil loe tambah pinter aja.." ujar Rendra dengan candanya ke Alfa yang memberikan senyum termanisnya.


"Siapa dulu "Shifu" (guru)nya"ucap Alfa dengan bangga menunjuk Rendra sontak Rendra terkejut dan menggelengkan kepalanya.


"Apaan sih...cil aku ga pantas jadi guru buat kamu, ngurusin istri aja aku masih banyak waktunya di kedinasan apalagi ngurus murid bisa sableng nanti muridnya" ucap Rendra dengan santainya tapi bikin yang lain lucu terdengar.


Suara tawa terdengar dari ruangan Rendra yang sudah memasuki jam kepulangan dinasnya tapi yang menghuni ruangan Rendra seakan tidak ingin beranjak dari singgah sananya masih asyik berkumpul memanfaatkan waktu yang ada untuk membahas kedinasan sampai yang konyol-konyolan bikin mengocok perut.


"Seperti ada yang kurang ya...ga ada Panji" ucap Rendra ke kawan satu timnya.


"Begitu juga nanti Kapt...ga ada akan sama rasanya" ujar Alfa dengan sedikit murung menyampaikan ucapannya.


"Itulah kita yang tidak hanya solid di penugasan saja tapi di mana kita kumpul yang itu dunia kita yang punya" Ifan berucap dengan menepuk pundak Alfa.


"Apalagi gue...bang banyak belajar dari kalian dari yang sepele sampai yang serius"ujar Alfa yang merasa paling kecil diantara semuanya.


"Ya...kita sama-sama belajar" ucap Rendra masih saja merendahkan dirinya.


"Memang belajar ga harus di sekolah sih" ucap Ifan dengan menangguhkan kepalanya.


"Iya...ya...cil kita banyak belajar ya..." ujar Farel menambahkan.


"Iya...bang dari urusan dinas sampai urusan kasur jadi tahu" ujar Alfa tampa bermaksud fulgar.


"Hey...hey aku ga ngajarin urusan kasur ya..." ucap Rendra dengan tegas memprotes.


"He...he...gue...nguping aja" Alfa cengar-cengir mengaku salah.

__ADS_1


"Bocil......" teriak Rendra dan Ifan bersamaan yang merasa sudah berumah tangga di bikin geregetan.


Rendra merasa takut sebagai Kapten tidak memberikan contoh dan suri teladan yang baik ke anggota timnya, makanya sangat kaget saat Alfa menyampaikan hal yang menurutnya itu urusan dalam negeri tiap pasangan ini di publikasikan itu merupakan hal yang tidak pantas, Rendra berharap dalam hatinya jadi orang yang bisa bertanggungjawab untuk amanah di tempat dinasnya.


__ADS_2