
..."Aku yang penuh kekurangan, menemukan mu melengkapi kekurangan itu untuk jadi penyempurna di hidupku" Rendra....
Hidup tidak selamanya berjalan sesuai keinginan kita, bukan berarti tuhan tidak sayang tapi tuhan ingin tahu seberapa kuat dirimu menghadapi semua itu apakah dengan berdiam diri saja tanpa usaha atau berusaha tapi masih dengan mengelu.
Seperti yang sekarang Andika rasakan dia dituntut menyelesaikan studynya untuk mengambil gelar masternya secepatnya sebab beberapa bulan kedepan dia akan ditugaskan mengawal beberapa menteri untuk keliling dibeberapa negara, tugas itu terdengar ringan tapi dalam tugas sebenarnya tidak mudah akan banyak kemungkinan terjadi.
Dan yang lebih sulit adalah ujian hati yang harus dia hadapi, dengan tidak bertemu itu tidak masalah tapi adakah godaan lain yang lebih dari itu, ya..itu yang Andika khawatirkan memang dia baru mengenal sosok yang menyenangkan bila di dekatnya.
Siang ini Andika yang kebetulan ada di kampus untuk mengajar dan menjadi pembimbing bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan skripsinya sesuai dengan study yang dia pegang.
"Pak...di bagian mana yang perlu saya perbaiki.." tanya salah satu mahasiswa yang satu ruangan dengan Andika.
"Saya koreksi dulu sebentar.." Andika membaca lembar perlembar, sejenak Andika melihat ponselnya dia memang ada jadi dengan Ainun hari ini dan kebetulan juga Ainun sudah aktif di kampus lagi.
"Sebelumnya saya mohon maaf..kalau di ijinkan besok kamu bisa ambil ini semua dengan bagian-bagian mana yang sudah saya koreksi..tapi bila kamu meminta sekarang saya tidak bisa sebab saya sudah ada janji bagaimana.." tanya Andika memberi pilihan.
"Ya..sudah..pak besok saja saya juga tidak enak sama bapak sudah merepotkan bapak.." balas mahasiswa dengan tersenyum.
Dan tidak beberapa lama mahasiswa itu pamit keluar dari ruangan Andika, dan suara dari benda pipi itu terdengar.
★★ " Assalamualaikum..kak..Ai..sudah di depan tempat parkir..kakak dimana?" tanya Ainun yang di minta untuk bertemu dengan Andika.
★★ " Waalikum salam..ya Ai tunggu kakak kesana.." pinta Andika dengan bersiap dia tidak ingin orang yang saat ini dekat dengannya menunggu.
Tidak berapa lama Andika sudah di dekatnya, melihat wajah ayu gadis yang saat ini dikaguminya.
"Kakak.." Ainun melambaikan tangannya didepan wajah Andika.
"Iya..Ai.." ujar Andika lembut terdengar.
"Ada..apa ya..minta Ai..bertemu kakak.." tanya Ainun dengan penuh harap untuk cepat mendapatkan jawaban.
"Kita..jalan yuk.." ujar Andika yang menurut Ainun sedikit berbeda tidak seperti biasanya.
"Memang harus ya..kak..ada yang penting gitu.." tanya Ainun sepertinya tahu ada perubahan dari Andika.
"Ada..yang ingin kakak sampaikan..biar nyaman saja..kita cari tempat lain.." ucap Andika sedikit pelan.
Ainun tahu sebab saat ini diparkiran saat ini ramai banyak mahasiswa yang akan pulang.
__ADS_1
Andika memilih pantai untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan pada Ainun, dia ingin Ainun tahu apa yang dia rasakan dalam hatinya dan berharap sama seperti harapannya.
Ainun yang senang melihat pantai sore menjelang malam ini, suasana masih ramai penikmat suasana pantai dengan pemandangan membius mata siapapun yang saat ini ingin menghilangkan penat.
Andika memilih tempat duduk yang disediakan restoran pinggir pantai, Ainun sendiri sudah kabur bermain air laut dengan ombak kecil yang berlarian dan momen ini tidak Andika sia-siakan dia abadikan lewat kamera ponselnya.
Tanpa sepengetahuan Ainun pastinya, dan tidak beberapa lama pesanan pun datang.
Nadila memanggil Ainun agar menyudahi bermain airnya, Ainun datang dan duduk dengan kaki masih basa air laut.
"Pakai..ini.." Andika memberikan air bersih dari botol agar kaki Ainun tidak lengket air laut dan memberikan sapu tangan untuk mengeringkan kaki Ainun tapi Ainun menolaknya dia memilih mengunakan tissu untuk mengelap kakinya.
Keduanya menikmati menu khas laut yang tersedia di restoran ini soal rasa lumayan enak di lidah tapi sayang soal harga tidak nyaman di kantong.
Setelah keduanya cukup kenyang menikmati menu pilihan keduanya memilih duduk-duduk saja melihat orang yang masih lalu lalang bermain di pantai.
"Ai..boleh minta waktunya sebentar.." pinta Andika yang terdengar serius.
"Ai..beberapa bulan kedepan..kakak akan ada perjalanan dinas mengawal beberapa duta besar ke beberapa negara..kakak rasanya belum siap bila meninggalkan Ai..belum ada kepastian..status.." Andika dengan serius berkata yang membuat Ainun bingung juga harus jawab apa.
Ainun sendiri masih ada beberapa tahapan lain yang harus dilaluinya untuk mencapai gelar dokter di sebaris namanya.
"Kak..bukannya Ai..tidak ingin status tapi Ai..ingin menyelesaikan tugas Ai..sebagai anak terlebih dahulu agar orang tua Ai..merasa bangga memiliki Ai..untuk soal hati percayakan pada Ai..dan tuhan.." ucapan Ainun dapat dimengerti oleh Andika yang saat ini menjadi seorang anak.
"Tapi..Ai..boleh dong kakak takut Ai..akan berpindah ke lain hati.." ucap Andika serius terlihat dimatanya ada rasa khawatir yang dia rasakan.
"Kak..yakin..lah..Ai..akan jaga hati..sesuai permintaan kakak..Ai..tidak janji tapi tuhan saksinya bila Ai..ingkar.." ucap Ainun serius yang membuat Andika ingin rasanya memeluk gadis manis didepanya.
"Sudahlah..kak..percaya sama Ai..dan tuhan sebagai penjaganya.." tambah Ainun lagi yang membuat Andika menunduk terlihat di ujung matanya ada bulir bening tertahan.
Dalam hati kecilnya ingin berteriak " tuhan ini kah bidadari tak bersayap itu..dalam tiap do'a ku" dia nyata di depan ku tapi susah untuk diraih saat ini.
Tiap baris kata yang keluar dari mulutnya menenangkan, tidak menuntut diriku untuk jadi pribadi yang lain dan bersamanya ada kenyamanan dalam hati ini.
Andika masih dalam diamnya menunduk bukan kecewa yang Andika rasakan tapi yakin dia orang yang memegang komitmen bukan hanya pada dirinya sendiri tapi juga pada tuhan komitmen tertingginya.
__ADS_1
Pemandangan pantai yang menjelang malam serasa menarik Andika untuk mendekat ke bibir pantai, indahnya ciptaan tuhan menjenguk malam ini itu yang Andika rasakan.
Ainun yang masih duduk sendiri mengambil gambar diri Andika tanpa meminta ijin pemiliknya walaupun hanya tampak belakang tapi baginya cukup untuk memandangnya di kalah jauh darinya.
Ainun bukan tidak ingin diajak serius tapi ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia ingin berhasil secara akademi dulu itu prioritasnya saat ini, soal hati dia juga ada sedikit takut Andika akan ke lain hati tapi Ainun yakin Nadila bukan orang seperti itu.
Ainun seperti tidak percaya saja ternyata Andika seorang yang tidak main-main ingin bersama serius dalam hubungan walaupun belum tahu siapa dirinya, bagaimana keluarganya tapi dia langsung memintanya untuk menjadikan dirinya teman hidupnya.
Sepertinya dia yakin kalau Ainun orang yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak itu yang Ainun pikirkan.
Andika melambaikan tangannya seperti mengajak Ainun mendekat untuk bersama-sama berjalan dibibir pantai dengan mentari yang sudah berangsur-ansur menuju keperaduannya untuk berganti dengan rembulan malam menggantikan tugasnya.
"Ai..akankah rasa kita seperti bibir pantai ini tidak berujung.." ujar Andika pelan tanpa memandang Ainun.
"Insyaallah..kita sampai janah..kak.." balas Ainun yang membuat Andika memandang wajah ayu Ainun.
"Kak..kenapa harus Ai..yang kakak pilih.." tanya Ainun masih berjalan di pinggir pantai.
"Entah..lah..Ai..kakak..yakin aja, Ai berbeda dari yang lain..bagi kakak yang baru mengenal rasa" jawab Andika.
"Kalau ternyata salah..gimana.." tanya Ainun lagi, Ainun berhenti memandang jauh beberapa perahu nelayan yang masih belum menepi.
"Tidak masalah..kita sama-sama belajar untuk jadi kita yang saling menyempurnakan..toh kita memang dua pribadi yang berbeda dari awalnya.." ucap Andika menjelaskan apa yang dia yakini.
"Ai..banyak kekurangannya loh..kak.." Ainun menjelaskan siapa dirinya.
"Manusia tidak ada yang sempurna Ai..karena itu dipasangkan untuk saling menyempurnakan.." balas Andika lagi.
"Ai..gampang ngambek loh..kak.." Ainun kembali menjelaskan seperti apa dirinya.
"Pasti..ada alasannya yang membuat Ai..seperti itu.." Andika kembali menjelaskan setiap pertanyaan Ainun.
"Itu..sekarang kak..berkata seperti itu.." ujar Ainun yang seperti membayangkan seperti lelaki kebanyak di luar sana yang awalnya saja berkomitmen setelahnya dia ingkar.
"Ai..Ai..kakak tidak mengumbar janji tapi memberikan bukti kalau mau sekarang lebih cepat bukti itu terbukti.." Andika menjelaskan agar Ainun tidak menilai semua laki-laki itu sama.
"Kakak..kakak..ujung-ujungnya tetep ngarep.." Ainun dengan tawa kecilnya menunduk.
__ADS_1
Kebersamaan keduanya harus berakhir kembali pada kondisi awal masing-masing untuk waktu yang tidak bisa ditentukan hanya komitmen yang tidak tertulis dari keduanya untuk saling menjaga hati untuk disatukan disaat yang tepat.