Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
228


__ADS_3

..."Belajar mencintai tidak harus kepada seseorang saja, tapi juga pada takdir Allah karena didalamnya banyak tersimpan hikmah yang tidak kita ketahui" Rendra....


Sebenarnya hal ini berat bagi keluarga Rendra yang di amanatkan oleh Azlan sebagai putranya agar Allea dalam pengawasan keluarga besarnya.


Selepas kepulangan eyang dari rumah sakit Allea memintanya untuk beberapa hari tinggal di rumah eyang, yang menurut Allea agar bisa memantau pola makan eyang disaat pemulihan dari sakitnya.


Memang ada benarnya tapi Allea sendiri dalam keadaan hamil besar yang jelas-jelas ruang geraknya tidak sebebas wanita tidak hamil belum lagi ada hal-hal yang di takutkan terjadi.


Ini yang membuat dilema bagi Rendra, eyang keluarga Allea dan dia berhak merawatnya apa lagi dia cucu perempuannya yang sangat dekat dengan dirinya dan wanita akan lebih sabar merawat dari pada lelaki.


"Papa tidak bisa melarang..cuma pesan papa Al..harus bisa jaga diri.." Rendra mengusap punggung Allea.


"Ya..pa..Al akan ingat pesan papa.." jawab Allea dengan memeluk Candy yang terlihat sedih melepaskan Allea harus tinggal di rumah eyang.


Setelah berpamitan pada eyang dan menitipkan Allea, Rendra dan Candy meninggalkan rumah dinas eyang terlihat Candy yang masih merasa sedih.


Allea yang saat ini membantu menjaga eyang dengan menyiapkan makan dan keperluan lainnya yang dibantu oleh mbok.


Eyang yang cukup lama di rawat di rumah sakit membuat mbok tidak merawat rumah dan tidak memeriksa beberapa kebutuhan rumah yang habis membuat Allea harus berbelanja kebutuhan rumah terutama bahan makanan.


Allea di temani sopir berbelanja kebutuhan rumah disalah satu super market yang cukup besar dan komplit dalam memenuhi kebutuhan yang dia perlukan.


Allea seperti lupa kalau dirinya hamil dia asyik memilih barang makanan apa saja yang harus di belinya dengan memeriksa catatan yang telah dia catat.


"Pak..tolong bawain..yang ini.." pinta Allea pada sopir eyang yang membantu Allea.


"Ya..mba.." batasnya dengan menerima pemberian Allea.


Hampir dua kereta dorong banyaknya belanjaan Allea yang telah dia pilih kini dirinya harus ikut antrian untuk membayar, cukup lama juga dirinya mencari barang-barang yang harus di belinya di tambah lamanya mengantri untuk membayar.


Terlihat Allea kelelahan, sesekali dia mengusap keringatnya yang membasahi wajahnya tapi dia masih terlihat baik-baik saja menurutnya.


Setelah menunggu cukup lama Allea sudah keluar dari super market yang telah memindahkan barang pelajarannya kedalam mobil di bantu sopir.


"Kita..pulang ya..pak.." pinta Allea sopan pada sopirnya.


"Iya..mba.." balas sopir yang langsung tancap gas langsung ke rumah dinas eyang.

__ADS_1


Sebelum ke rumah dinas eyang Allea ke rumah dinas milik Azlan di lihatnya semua dalam keadaan kotor berdebu, dan dia berniat selepas merawat eyang akan ke rumah dinas Azlan untuk membersihkannya agar tidak terlihat kotor pikirnya.


Dilihatnya eyang yang sudah meminum obat tertidur, Allea meminta mbok menemaninya ke rumah dinas untuk membantunya membersihkan rumah dinasnya.


Setelah semua terlihat rapi dan cukup bersih Allea yang di temani mbok kembali ke rumah dinas eyang, Allea yang setelah membersihkan diri duduk di ruang tengah dengan di temani eyang yang saat ini sudah terlihat lebih sehat.


Keduanya berbincang santai seputar acara tv yang ditontonnya, dan mbok membawakan buah yang telah di potong untuk keduanya.


Allea yang merasakan tangannya kotor berniat untuk cuci tangan tapi suara mbok mengejutkan dirinya sebab sepertinya mengkhawatirkan dirinya.


"Nduk..niku opo.." mbok menunjukan darah yang ada di sandal yang Allea kenakan.


"Apa..ya..mbok.." Allea memeriksanya dan bersumber dari daerah sensitifnya.


Eyang sedikit khawatir dengan memanggil sopirnya agar memanggil bidan yang ada di dekat rumah dinas yang kebetulan suaminya salah satu anggota satu kedinasan dengan Azlan juga eyang.


"Ayo..nduk mbok bantu.." Allea dipapah berjalan kedalam kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Seorang bidan sudah ada di dalam rumah dinas eyang tepatnya kamar Allea, terlihat wajar khawatir dari eyang begitupun dengan mbok yang merasa bersalah telah membuat Allea sibuk dengan banyak hal.


Rendra sendiri saat ini ada pertemuan hingga ponselnya tidak aktif, hanya nomor rumah besar papa Rendra alternatif terakhir dan Candy yang menjawab panggilan itu.


Candy yang seorang wanita sensitif walaupun dia dokter tapi bila menyangkut orang terdekatnya dia akan mudah menangis, dengan segera dia menuju rumah sakit yang eyang beritahukan alamatnya, eyang sendiri masih dalam keadaan baru sehat tapi dia masih mampu menurutnya.


Candy yang ditemani sopir memasuki lorong rumah sakit dengan langkah yang diusahakan secepat kilat tapi dia tidak bisa untuk mencapai itu dengan sedikit berlari kecil dia menuju IGD, dan terlihat wajah panik eyang yang masih terlihat sedikit pucat.


"Gimana..pak.." tanya Candy pada eyang dengan sedikit sedih.


"Kata dokter harus diselamatkan salah satunya.." eyang sepertinya sedih namun dia laki-laki masih bisa menahan itu.


"Ya..Allah.." Candy memegang tangan eyang tidak kuat rasanya Candy berdiri.


"Kenapa bisa begini.." seru Candy pelan menyalahkan dirinya sendiri.


Candy melangkah meninggalkan eyang mencari dokter yang memeriksa Allea meminta penjelasan yang menurutnya kenapa harus mengambil tindakan seperti itu sebagai pilihan.


Perdebatan terjadi di ruangan dokter kandungan yang membuat Candy tidak bisa menolak jalan yang harus di pilihnya, langkah Candy sedikit sempoyongan sebab dia masih mengingat penjelasan dokter dengan kondisi yang Allea alami dan harus itu jalan yang harus di tempuhnya mau tidak mau itu pilihan yang terbaik buat keduanya.

__ADS_1


Rendra yang baru mengetahui kabar itu langsung meluncur dan terlihat Candy yang menundukkan wajahnya di samping eyang.


"Bagaimana..honey..?" tanya Rendra, Candy yang merasa ada seseorang yang jadi sandaran untuk dirinya menumpahkan kecemasan yang ada di hatinya langsung di peluknya dan menangis.


"Kita harus memilih salah satunya..mas.." dengan memeluk Rendra tangis Candy pecah.


"Ya..Allah.." ucap Rendra yang tidak percaya mendengar semua ini.


"Maafkan..saya nak.." eyang merasa bertanggungjawab dalam hal ini, tapi bukan itu yang Rendra maksud hanya shock untuk saat ini yang Rendra rasakan bukan tidak menerima takdir hanya masih tidak percaya saja sebab beberapa saat yang lalu Allea masih baik-baik saja setelah kepergian Rendra dan Candy.


Allea sendiri terlihat terbaring lemah dengan infus di dua tangannya, untuk menunggu jadwal operasinya beberapa jam lagi dan membiarkan dirinya istirahat.


"Kuat...ya sayang.." ucap Candy di kepala Allea yang masih tertidur.


Allea tidak tahu dengan apa yang menimpahnya yang dia tahu dia akan melahirkan terlalu dini itu saja saran dokter pada eyang agar Allea tidak panik dan nyaman serta tidak shock di saat operasinya nanti.


Rendra merasa orang yang paling bersalah dalam hal ini tidak amanah itu yang saat ini dia rasakan, dengan memandang wajah pucat Allea karena banyaknya darah yang keluar.


Rendra seperti tahu Allea akan butuh banyak darah menghubungi Alfa dan menjelaskan maksudnya dan Alfa langsung mengerti dari maksud Rendra dan siap menjalankan perintah sekaligus permintaan Rendra.


Tidak lama Allea masuk kedalam ruangan operasi tapi saat di pintu masuk Rendra, eyang juga Candy memberikan semangat dan meyakinkan Allea semua akan baik-baik saja.


"Sabar ya..sayang kami ada disini.." seru Candy mengusap tangan Allea.


"Iya..ma.." balas Allea yang melihat Candy terlihat sedih.


"Al..ga apa-apa..ma.." Allea menenangkan Candy yang sudah berkaca-kaca.


Allea memberikan senyum termanisnya membuat Candy menangis menahan bagaimana seandainya dia tahu dirinya akan kehilangan buah hatinya dan bagaimana juga dengan Azlan yang tidak mengetahui semua hal yang sedang Allea alami.


Ini bukan hal yang mudah bukan hanya untuk Rendra, Candy juga eyang tapi ini jalan satu-satu yang harus diambil dan tidak bisa menunggu lama semua harus proses cepat sebab nyawa yang saat ini jadi taruhannya.


Hanya satu yang Rendra harapkan saat ini adanya keajaiban dari Allah untuk Allea dan babynya dalam keadaan baik baik saja tidak seperti yang dokter jelaskan kepada Candy.


Eyang dan Rendra yang menjadi orang yang yang bertanggungjawab dalam kondisi ini, sesuai surat pernyataan yang keduanya tandatangani sebelum Allea masuk ke ruang operasi.


Saat ini mereka menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruangan operasi dengan berdo'a dan berharap keajaiban akan menyertai keduanya.

__ADS_1


__ADS_2