
"Aku tahu aku belum merasa pantas karena itu saat ini aku berusaha dulu memperbaiki diri, agar diriku pantas untuk bersama dengan dirimu yang pantas ku perjuangkan " Rendra.
Hari ini kampus libur karena di lingkungan kampus diadakannya donor darah yang diadakan oleh senat mahasiswa untuk membantu PMI yang saat ini membutuhkan banyak kantong darah untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Peserta donor darah tidak hanya dari kalangan mahasiswa dan dosen saja tapi masyarakat umum disekitaran kampus pun di diperbolehkan asalkan memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditentukan oleh PMI.
Mahasiswa kedokteran dilibatkan termasuk Ainun yang ikut serta membantu pendonor yang sudah memenuhi syarat mulai diambil darahnya diruangan yang telah disiapkan.
"Ai..tolong bantuan..gue dong.." pinta salah satu teman Ainun yang kebetulan membutuhkan dirinya.
Ainun pun mendekat kearah orang yang membutuhkan dirinya tanpa sungkan Ainun membantu temannya.
"Mba..cantik banget..sih.." salah satu pendonor memuji Ainun membantunya mengambil darahnya, Ainun hanya tersenyum tidak lebih sebab Ainun tidak ingin menimbulkan sesuatu yang tidak di ingikannya.
"Bisu..ya.." dengan konyolnya berucap.
"Sayang ya..cantik-cantik bisu.." ucapnya lagi Ainun yakin dia bukan dari kalangan mahasiswa ataupun lingkungan kampus yang tahu siapa dirinya.
Ainun yang tidak ingin menimbulkan keributan hanya tersenyum dengan rasa kesal yang ditahan sebab dia tidak pernah di perlakukan kasar oleh lelaki di lingkungan keluarganya.
"Ko..boleh ya..gadis bisu jadi dokter.." dia seperti sok tahu kalau Ainun belum jadi seorang dokter.
Ainun masih dengan sabar menunggunya hingga darah darinya selesai memenuhi kantong darah yang ada di dekatnya, tidak beberapa lama akhirnya selesai juga prosesnya dan dengan gaya kontrolnya dia masih ingin menjailin Ainun.
"Terimakasih...sudah membantu sayang ya.. kecantikannya kalau ga bisa ngomong.." ujarnya berniat meninggalkan Ainun.
"Sama-sama..terimakasih pujiannya..yang menyakitkan.." balas Ainun yang membuat seseorang itu malu bukan kepalang.
Ada rasa yang mengiris hatinya karena ucapan pedas seseorang yang membuat dirinya menahan air matanya yang sudah di sudut mata.
"Mba bisa bantu saya.." pintanya sopan dengan posisi yang siap merebahkan diri untuk diambil darahnya.
"Ya..saya akan bantu.." jawab Ainun dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat siapa lawan bicaranya.
"Maaf..boleh..saya lakukan sekarang.." Ainun masih mengingat semua ucapan seseorang yang menyakiti dirinya.
Pada saat Ainun memasangkan jarum untuk mengambil darah dari seseorang itu, bersamaan air mata Ainun yang sudah tidak bisa ditahannya meluncur dengan bebasnya yang membuat seseorang itu bangkit dari posisinya dan bertanya keadaan dirinya.
"Mba..kamu baik-baik saja kan.." tanyanya lembut yang membuat Ainun terkejut dengan suara yang sedikit banyak dikenal beberapa minggu lalu.
__ADS_1
"Oh..maaf..menggangu kenyamanan kakak.." balasannya dengan bercampur isak.
"Saya..ok..mba yang ga nyaman sepertinya ada yang bisa saya bantu.." pintanya dengan ucapan menenangkan diri Ainun.
"Maaf..saya hanya sensitif saja.." balasnya dengan terisak pelan.
"Kenapa ga sebaiknya istirahat saja..biar saya dengan yang lain.." ucapnya dengan bertujuan menenangkan bukan bermaksud lain.
"Ga..kakak..saya baik-baik saja kok.." balas Ainun melanjutkan tugasnya tapi dengan mata yang masih meneteskan bulir beningnya.
Ainun teringat papanya yang menenangkan dirinya bila bersedih dan memeluknya dengan hangat hingga kembali tenang.
"Mba..kamu..baik-baik saja kan.." pintanya lagi hingga membuat Ainun makin bersedih.
Ainun tertunduk menangis mengingat ucapan orang yang menyakiti hatinya dengan kejam menurutnya.
Dan tanpa sadar seseorang itu mengusap tangan Ainun yang tujuannya menenangkannya tidak ada maksud lain sebab saat ini hanya beberapa orang saja yang masih diambil darahnya dengan bantuan petugas PMI itu sendiri sedangkan rekan Ainun entah menghilang kemana.
"Tenangkan dirimu..ga baik menangis di depan umum.." pintanya dengan mengusap punggung tangannya sebab dia juga bingung harus bagaimana menenangkan gadis yang mempesona didepan matanya.
Ingin rasanya memeluknya agar dirinya kembali tenang tapi dia bukan muhrimnya itu yang ada didalam benaknya, kalau saja sudah halal dia tidak hanya memeluknya tapi juga bertanya banyak siapa yang membuat dirinya menangis.
"Lihat..lah..langit diluar sana jadi mendung..matahari memilih sembunyi..karena tidak tahan melihat dukamu.." tambahnya lagi dengan tanpa senyum dia berucap seperti ikut merasakan rasa sedih yang Ainun rasakan.
"Apaan..sih..orang langit cerah gitu..matahari cukup terik dibilang sembunyi.." dengan sedikit senyum Ainun membalas ucapan konyol seseorang yang masih terbaring karena diambil darahnya.
"Iya..sekarang tapi tadi..sedikit mendung..ko malah ada sedikit rintik..yang turun.. berhubung saya baca matra jadi tuhan mengusir mendung dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi..akhirnya mendung menghilang dan mentari muncul dengan malu tapi pasti dengan sedikit senyumnya.." seseorang itu berubah jadi banyak bicara menurut Ainun yang membuat dirinya kembali sedikit tenang melupakan sakit hati yang dirasakannya.
Sosok ini sedikit banyak menyerupai papanya yang selalu ingin melihat dirinya senang dan tidak mau ada rasa sedih yang ditampakkan didepan orang tercintanya.
"Maaf...senyum kamu manis..kenapa harus air mata yang saya saksikan.." ujarnya pura-pura bergumam.
"Kakak..saya..tahu..itu untuk saya..kan.." Ainun protes dengan menundukkan mukanya malu dan sudah dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh...maaf..kalau dengar.." napasnya pura-pura tidak melihat Ainun.
Ada kenyamanan pada keduanya saat ini walaupun dalam momen yang tidak baik tapi buat keduanya ini indah sekaligus senang, entah apa ini namanya yang jelas skenario tuhan itu indah mengaturnya.
Disaat tersakiti ada obat penawar yang datang hingga sakit itu terobati tanpa harus mencari dulu penawar seperti apa yang akan menjadi obat sakit itu.
__ADS_1
Waktu begitu cepat berlalu proses pengambilan darah usai sudah, hingga membuat seseorang tidak ingin meninggalkan momen ini cepat berlalu.
"Terimakasih..kak sudah mau berpartisipasi..dalam donor darah ini.." ucap Ainun yang masih merapikan kantong darah miliknya.
"Sama-sama...jangan nangis lagi..ya..kalau ada yang menyakitkan panggil saja saya..Andika dan itu ruangan saya.." ujarnya menunjukkan nama di dadanya juga ruangan kerjanya.
"Oh..maaf..pak..saya kira kakak mahasiswa seperti saya..maaf sekali lagi pak.." ucap Ainun menangkupkan kedua tangannya didadanya.
"Saya...sama seperti kamu mahasiswa..hanya diminta membantu meringankan kerja dosen teknik kimia.." ujarnya menjelaskan apa statusnya di kampus.
"Lalu...seragam ini.." tanya Ainun penasaran.
"Oh...saya berdinas..mabes.." ucapnya menjelaskan seragam yang dikenakannya.
"Oh...seperti itu.." balas Ainun dengan mengangguk tanda mengerti.
"Bukan seperti itu tapi seperti ini.." balas Andika menjelaskan seragam yang dikenakannya dengan berdiri tegak menunjukkan serangannya.
Ainun tersenyum terlihat lucu saja kenapa juga harus di perlihatkan sebab setiap hari Ainun sering melihat papanya saat dulu sebelum kuliah itu yang dia pikirkan di benaknya.
"Maaf..ya..mba..saat ini tidak sedang jadi badut..sulap tapi jadi pendonor.." ujar Andika dengan polosnya ingin Ainun tersenyum lagi sebelum dirinya meninggalkannya karena harus menghadiri rapat penting dikedinasnnya sore nanti untuk mematangkan rencana misinya.
"Apaan sih..kakak..mana ada badut ga lucu.." seru Ainun ingin membalas Andika.
"Maaf..saya kira kamu mengira saya badut sebab dari tadi senyum-senyum terus hampir ngalahin bintang iklan pasta gigi.." ucapnya lagi yang membuat Ainun makin tersenyum.
"Sudah...senyumnya simpan dulu..saya takut nanti kehabisan stok..saya yang rugi bila senyum kamu habis.." godanya lagi yang makin membuat Ainun malu.
"Maaf...saya harus pamit pulang dulu..karena ada keperluan lain..ingat ya..jangan sedih lagi dan cari saya kalau sedih dan satu lagi simpan ya..senyumnya buat saya.." dengan santai dia berucap.
"Assalamualaikum..jaga diri baik-baik..dah.." ucapnya seperti permintaan pada Ainun.
"Waalaikum salam..ya hati-hati semoga sukses.." Ainun berucap dengan melambaikan tangannya.
Sepeninggal Andika, Ainun juga meninggalkan aula dimana donor darah berlangsung untuk mencari teman-temannya yang telah lebih dulu meninggalkan dirinya.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan keduanya Fatur melihat kedekatan keduanya, ada rasa senang juga sedih dalam dada Fatur dari rasa senang dia ikhlas Ainun mendapatkan orang yang menyayanginya, dari rasa sedih dia akan melepaskan Ainun dengan orang lain yang sangat dicintainya.
Ya..itulah sosok Ainun yang sedikit banyak di kagumi dan disukai oleh banyak orang sebab dia ramah sopan yang diimbangi kecerdasan dan kepribadian yang baik dia miliki.
__ADS_1