Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
172


__ADS_3

..."Aku tahu kamu pantas diperjuangkan, dan jangan takut tuhan yang menjadi keyakinanku karena itu kita harus bersama-sama berdo'a agar kita berjodoh " Rendra....


KOAS bukan hal yang mudah buat anak kedokteran tapi banyak ilmu dan hikmah yang bisa diambil didalamnya yang sebelumnya hanya sebatas kertas yang harus dipelajari kini semuanya nyata yang dihadapi baik dari pasien, rekan dinas, obat terutama keluarga pasien yang lebih cerewet dari pasiennya sendiri itu faktanya.


Bagi Ainun ini sudah biasa sebab mamanya suka membawanya ke tempat dinasnya sesekali dan sedikit banyak dia tahu tapi tetap saja merasakan sendiri akan berbeda dengan menyaksikan itu sedikit gambaran anak KOAS.


"Dok..sampai kapan pasien..sadar.." tanya Ainun pada dokter seniornya.


"Tidak lama..tapi kalau kamu mau sholat..sholat aja dulu..biar saya jaga.." pinta dokter senior pada Ainun.


Ainun menjalankan tugas utamanya sebagai manusia yang tidak berdaya berserah diri pada pemilik kehidupan dengan khusyuk, dan tidak berapa lama Ainun akan kembali melanjutkan tugasnya tapi ada salah satu anggota keluarga pasien yang membuang sampah sembarangan dan Ainun menegurnya dengan sopan.


"Maaf..mas..disitu ada tempat sampah alangkah baiknya dibuang pada tempatnya.." ucap Ainun sopan padanya.


"Masalah buat kamu.." jawabnya pada Ainun yang kebetulan tidak mengunakan baju dinasnya.


"Tidak mas cuma disini kita harus menjaga kebersihan sebab kita ingin pasien sehat.. jadi kita butuh kerjasamanya.." Ainun menjelaskan padanya.


"Cantik..cantik ko..bawel..mana..ada yang mau.." ujarnya dengan galak, yang membuat Ainun sedih maksud baiknya dibalas dengan cacian kasar yang di terimanya.


"Siapa..bilang saya mau dan..saya suaminya.." jawab dengan suara tegas yang membuat yang mendengarnya takut sebab Andika masih menggunakan seragam dinasnya.


"Kakak.." ucap Ainun pelan dengan masih menunduk.


"Maaf..mas..saya salah.." ucapnya dengan gemetar dan memungut sampah yang dibuang sembarang tadi ke tempatnya dan buru-buru mengambil langkah seribu.


"Ai..tidak apa-apa..kan.." ucap Andika mengusap pundak Ainun.


"Ai..maafin saya..tadi tidak sopan.." Andika menjelaskan tindakannya tanpa meminta ijin Ainun terlebih dahulu.


"Ga..kakak cuma omongannya itu..bikin.." ucapannya tidak dilanjutkan lagi Ainun memilih mengusap air mata dari ujung matanya maklum saja dia tidak pernah diperlakukan kasar oleh orang terdekatnya.


"Sudah..ada kakak..yang mau ko jadi suami..Ai.. siapa bila ga ada yang mau" goda Andika yang membuat Ainun malu.


"Ih..kakak..ko.ada disini.." tanya Ainun dengan berjalan bersama.


"Ada rekan kakak yang istrinya baru saja melahirkan..hanya menengoknya.." Andika menjelaskan keberadaannya.


"Oh..kakak..maaf bukan Ai..ga mau temani kakak cuma Ai..lagi jaga..maaf ya..kakak Ai..tinggal dulu...dan makasih sudah ada buat Ai.." ucap Ainun dengan tersenyum semanis mungkin yang membuat Andika serasa terbang sesaat tanpa sayap.


"Sama-sama..kakak juga terima kasih sudah di kasih senyum termanis yang Ai..punya.." balas Andika yang membuat Ainun makin malu dan menghilang di balik pintu ruangan pasien dengan sakit apa yang dijaganya.


Kecantikan wajah yang di imbangi dengan pribadi yang santun membuat rekan dinas serta staf rumah sakit makin kagum, pasien pun banyak yang memberikan pujian untuk Ainun.


"Belum pulang..cantik.." tanya dokter wanita senior pada Ainun yang kebetulan masih berdiri di depan rumah sakit.

__ADS_1


"Ya..dokter.." jawab Ainun sopan dengan tersenyum.


"Ada..yang mau menjemput.." tanyanya lagi masih dari dalam mobilnya.


"Ga..dok.." jawab Ainun singkat.


"Ayo..nanti saya antar.." pintanya dengan ingin membukakan pintu mobilnya.


Tapi seseorang lebih dulu mengajaknya, tanpa bertanya terlebih dahulu padanya mau atau tidak.


"Terimakasih bu..biar sama saya.." ucapnya dengan sopan.


"Mas..calonnya..ya..baru saja mau saya ajak pulang bareng.." ujarnya dengan tersenyum.


Keduanya hanya tersenyum tidak menjawab hanya saling memandang mendengar ucapan dokter wanita itu.


"Mas..hati-hati mbanya banyak yang suka.." godanya dengan tersenyum.


Keduanya masih saling memandang tanpa memberikan jawaban hanya senyum keduanya semakin lebar untuk mewakili jawaban dari pendapat beliau.


"Maaf..saya..duluan..mari.." ucapnya dengan sopan.


"Oh..ya..silakan dok.." jawab Ainun masih tidak percaya Andika masih ada di lingkungan rumah sakit saat ini.


"Kakak..ini sudah malam masih disini.." sepertinya Ainun mengkhawatirkan Andika, bukannya menjawab pertanyaan Ainun Andika lebih dulu bertanya pada Ainun.


"Ga..kak..kebetulan tadi membantu di ruang operasi.." Ainun menjelaskan dengan keadaan yang sebenarnya.


"Ayo..kakak antar..dimana..kos-kosan Ai.." pinta Andika dengan memberikan helm pada Ainun.


"Ko..malah diam..ayo.." Andika mengulangi perkataanya.


"Ai..kasihan nanti kakak ke malaman dijalan.." ucap Ainun seperti merengek.


"Saya..lebih kasihan lagi kalau Ai..masih dijalan sudah malam..ayo.." Andika meminta Ainun untuk segera pulang.


Andika melepas jaketnya untuk digunakan oleh Ainun sebab angin malam dan Andika yakin Ainun tidak terbiasa berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa, apalagi saat menjalankan misi jangankan angin sungai dan laut tidak jadi halangan mau siang atau malam.


"Kakak.." ujar Ainun yang bingung di haruskan memakai jaket milik Andika.


"Pakailah..angin malam ga baik untuk Ai..wangi..ko baru tadi siang kakak cuci.." godanya pada Ainun yang membuat Ainun malu dan bersembunyi dibalik punggung Andika.


"Ayo..kapan perginya..malah main petak umpet.." goda Andika lagi yang makin membuat Ainun diam tidak bergerak.


"Ai..Ai..ayo..apa kita berdua jaga aja..didepan situ..mewakili satpam.." goda Andika yang membuat Ainun langsung menaiki motor Andika.

__ADS_1


"Udah..nih.." tanya Andika pada Ainun dengan serius terdengar oleh Ainun.


"Ya..udah kak.." jawab Ainun dengan pelan.


"Udah sampai.. kalau udah turun.." seru Andika jail, yang membuat Ainun yang mencubit pinggang Andika.


"Maaf..Ai..ayo berdo'a dulu..biar kita selamat sampai tujuan ke masa depan.." ucap Andika santai tapi tersenyum.


"Kakak.." balas Ainun yang bersembunyi dibalik helm milik Andika.


Dalam perjalanan hanya diam yang keduanya lakukan dan tidak beberapa lama sampai di tujuan, memang tidak jauh dari rumah sakit hanya berbeda dua gang saja tapi kalau jalan malam serem juga buat cewek menurut Andika.


"Stop..kak.." pinta Ainun dengan menepuk pundak Andika.


Ainun turun dan menyerahkan helm milik Andika dan Ainun tahu ini sudah malam jadi tidak meminta Andika untuk mampir terlebih dulu.


"Kak..maaf Ai..ga minta kakak mampir dulu.." ucap Ainun serius.


"Kakak..tahu..oh..iya..mana..ongkosnya..kan sudah di antar.." ujar Andika memarkirkan motornya.


"Serius..kak.." Ainun membuka tasnya untuk mengambil uang.


"Ga..mau pakai uang..Ai..pake senyum aja..yang paling manis.." goda Andika sebelum meninggalkan Ainun, Ainun yang malu dengan tersenyum memang dia tersenyum manis tanpa dipaksa.


"Sudah sana..masuk..kakak mau Ai..masuk dulu.." Ainun menuruti kemauan Andika, setelah pintu tertutup Andika menjalankan motornya meninggalkan kosan Ainun.


Di dalam kosan Ainun baru menyadari jaket Andika masih dia kenakan, setelah melepaskannya ada rasa ingin memeluk jaket itu seperti menghangatkan dirinya, tapi Ainun teringat Andika yang mengendarai motor belum lagi angin malam membuat Ainun khawatir.


Ainun bergegas mengirimkan pesan lewat chat pada Andika yang isinya.


~ Assalamualaikum..kak..jaket..kakak tertinggal maaf Ai..lupa melepaskannya...


Perjalanan dari tempat kos Ainun ke rumah dinas cukup lama juga tapi memang masih seputaran kota itu, dan lalu lintas malam tidak sepadat pagi dan sore hari dengan banyaknya kendaraan bermotor hanya lalu lalang orang ingin menikmati suasana malam itupun tidak semua lebih banyak ingin bersantai dengan keluarganya.


Dan tidak beberapa lama chat dari Ainun di balas Andika dengan balasan yang membuat Ainun sedikit bingung.


~Waalikum salam..jaket boleh dilepas tapi jangan hati ku, biar tetap tertinggal hingga waktu yang tepat akan diambil bersama yang menggunakan jaketnya.


Ainun yang membaca chat dari Andika bingung "Apaan sih..ini..orang ketempelan apa..sih jadi aneh.. ga ngerti ah" Ainun berkata seorang diri.


Ainun tidak membalasnya hanya membacanya saja biar jadi tugas buat Andika yang masih menunggu balasan dari Ainun yang sudah terlelap bersama jaket Andika yang dipeluknya.


Andika sendiri yang masih memeriksa beberapa file yang besok harus di serahkan pada komandannya sesekali memeriksa benda pipinya berharap Ainun membalasnya, hingga dirinya selesai memeriksa file belum ada balasan sedangkan matanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya.


Setelah berdo'a sempat berkata seorang diri "Ai..kau sudah membuat aku menunggu.." dengan membayangkan wajah cantik yang tersenyum malu padanya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama dia sudah masuk kedalam alam bawah sadarnya entah apa yang dia lihat disana apakah sama seperti alam nyata kah? yang masih dengan kesibukannya yang penuh dengan segala bentuk tanggungjawabnya.


__ADS_2