
"Memang benar cinta akan membuat dunia berputar tetapi cinta yang berputar didunia bisa membuat perjalanan didunia sangat berharga" Candy.
Dibelahan dunia yang lain kawan tim Rendra menikmati kebersamaannya seperti biasa dengan gurauan yang konyol yang tidak asing lagi tapi ada bagian yang hilang yang dirasakan diantara mereka apalagi yang pasti kehadiran Rendra sebagai pelengkap tidak ada diantara mereka.
"Cie...Cie...yang sudah menuju halal" goda Ifan ke Farel yang semalam melakukan lamaran ke keluarga Nafandra memintanya untuk di jadikan istrinya.
"Apa sih...yang harus di goda itu..tuh" Farel menunjuk Panji yang duduk bersandar.
"Dia...mah ga seru..." ujar Ifan yang masih ingin menjailin Farel yang akhirnya menjalin hubungan serius dengan Nafandra.
"Seru...lah penganten baru...belah duren" ucap Farel ke Ifan yang cuek mendengar celotehnya yang menurutnya ga asyik.
"Ko...gue ga di bagi sih makan duren...pelit" ucap Alfa yang hanya mendengar bagian akhirnya saja, tanpa tahu apa yang sedang di omongin.
"Urusan perut mulu...bocil..." ucap Farel dengan mengacak kepala Alfa yang baru bergabung di antara mereka.
"Apa...sih ga mau bagi ya...udah" Alfa menunjukkan muka betenya yang sedikit kesal ke Farel yang menurutnya pelit.
"Hai...bocil bukan duren yang biasa loe makan" ucap farel menjelaskan ke Alfa yang masih diam karena kesal.
"Au...ah..." ucap Alfa yang masih ga perduli dengan omongan Farel karena masih kesal.
Semua tertawa melihat muka kesal Alfa yang masih ga mau tahu apa yang sebenarnya, ajudan Rendra datang menghampiri dan menghadap Panji yang mengantikan posisi Rendra saat ini.
"Selamat siang...Letnan Panji..., ada perintah menghadap ke kantor Komandan" ucap ajudan Rendra dengan tangan memberikan hormat.
"Siang...siap menghadap" balas Panji dengan memberikan hormat.
Ajudan Rendra meninggalkan kawan Rendra sedangkan Panji menghadap ke kantor Komandan untuk menerima tugas.
Ifan hanya menatap Farel dan Alfa penuh tanda tanya ada tugas apa yang harus di laksanakan di saat Rendra tidak bersama mereka saat ini.
"Apa..." ucap Farel ke Ifan penuh penasaran tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Ga..., ada apa ya..." ucap Ifan menyelidik penasaran dengan situasi saat ini.
"Kenapa tanya gue..."ucap Farel konyol dengan muka datar dalam benaknya sama seperti Ifan ada tanda tanya yang besar ada apa ini?.
"Tunggu aja paling tugas..."ucap Alfa yang dari tadi hanya diam karena kesal.
__ADS_1
Tidak beberpa lama Panji datang dengan muka yang sedikit kesal tapi tidak membuat yang lain penasaran, ada apa.
"Gimana bro..." tanya Ifan yang sudah ga sabar menunggu penjelasan dari Panji.
"Iya...ada apa" ujar Farel menambahkan dengan memaksa Panji bicara, hanya Alfa yang terlihat menyimak tanpa bertanya ke Panji.
"Ada tugas...tapi.." ucap Panji yang menggantung yang semakin membuat kawannya penasaran.
"Berat..." ucap Farel yang tidak sabar menunggu penjelasan dari Panji yang hanya mengusap mukanya.
"Ga...tapi hanya membantu, tapi harus ga ada korban" Panji menjelaskan apa yang di perintahkan Komandannya.
"Serius...apa sih..." tanya Ifan masih belum mengerti maksud dari penjelasan Panji.
"Menyelamatkan sandera anak kolong merat" ucap Panji yang membuat kawan satu timnya ikut diam.
"Kita hanya membantu pihak kepolisian sektor setempat, sebab menurut info dari Komandan mereka pemain profesional yang bersenjata" ucap Panji menjelaskan kasus yang akan mereka hadapi.
"Terus...kita.." ucap Farel makin penasaran dengan tugas barunya.
"Ya...ikuti prosedur dari pihak sektor kepolisian kita kan hanya di minta membantu" ucap Panji yang ditugaskan menggantikan Rendra dalam tugas kali ini.
"Tapi...penasaran juga sih.." ucap Ifan yang membuat yang lain bertanya dengan apa yang di ucapkan Ifan.
"Siapa yang diculik, apa motifnya..." ujar Ifan sedikit menjelaskan maksud ucapannya.
"Oh...iya...ya..." ujar Farel dengan cenggar-cenggir tanpa dosa ke Ifan.
"Hu....dasar...buaya buntung" ucap Panji yang asal ngomong tanpa ada maksud lain.
"Ha...ha...ha...sudah ga punya ekor" ucap Alfa yang dari tadi diam menyimak.
"Apaan...sih cil..."ujar Farel protes ga terima dengan ucapan Alfa yang menurutnya menghilangkan wibawa ke tampanannya.
"Kita harus bersiap sore nanti kumpul ditempat biasa"ucap Panji memerintahkan ke kawan satu timnya, untuk menyudahi candaan di antara mereka saat ini.
"Siap..."ucap yang lain tanpa penolakan dengan muka serius terlihat diantara mereka.
Menjelang sore kawan satu tim Rendra sudah berkumpul sesuai perintah dari Panji, mereka berpakaian lengkap dan siap menuju ke tempat sesuai perintah kesatuan sektor kepolisian yang memberikan perintah.
__ADS_1
Ditempat tujuan Panji menghadap ke Komandan yang di tugaskan untuk menanyakan apa tugas selanjutnya untuk kejelasan penyelesaian kasus yang akan di hadapinya bersama kawan satu timnya.
Daerah tempat penculikan cukup sulit di lalui oleh kendaraan hanya bisa mengunakan sepeda motor, yang lebih sulit lagi harus tidak ada korban sedangkan posisi tempat itu di daerah padat penduduknya.
"Profesional...banget..." ucap Panji yang mengamati daerah yang di laluinya dengan mata penuh waspada menyelidik.
Panji menghadap lagi ke kesatuan sektor untuk menerima prosedur yang akan di jalankan dari pihak kepolisian sebab kesatuan Panji hanya membantu jadi harus mengikuti perintah dan tidak boleh mendahului.
Panji memerintahkan kawan satu timnya menempati posisinya masing-masing sesuai intruksi dari Panji.
Pihak kepolisian sudah memerintahkan penyerangan dan tim Panji sudah mendekat ke arah sandera berada.
Alfa yang di tugaskan Panji mendekat ke arah sandera dibikin terkejut sebab yang mereka sandera adalah Tazkia yang terlihat tidak sadarkan diri dengan muka yang sudah lemas dan ada bekas darah di ujung bibirnya membuat Alfa sangat miris melihatnya.
"Kia...ki..kia" ucap Alfa berbisik di teliganya dengan tangan membuka ikatan tali yang mengikat tangan Tazkia.
Mata Tazkia menatap Alfa dengan samar dan telinga terdengar suara orang baku hantam dan sedikit terdengar suara peluru yang saling bersahutan.
Tanpa Alfa sadari salah satu dari penculik melihat Alfa yang akan membebaskan Tazkia dan bersiap menyerang Alfa.
"Awas..." teriak Tazkia yang melihat orang yang akan menyerang Alfa.
Merasa terdesak salah satu penculik itu mengarahkan pistolnya dan meletus tepat di dada sebelah kiri Alfa yang membuat Tazkia berteriak dan tim Panji balas menembak penculik yang langsung tumbang tak bernyawa.
Tazkia hanya menangis dan semua pihak dapat menyelesaikan tugasnya, pihak dari Panji Alfa yang jadi korban sedangkan dari pihak penculik ada dua yang langsung meninggal di tempat selebihnya kena tembak tapi tidak meninggal.
"Mas...ga apa-apakan" tanya Tazkia ke Alfa yang sudah bersimbah darah dan sudah hampir pingsan tapi masih bisa melihat Tazkia lepas dari ikatannya.
"Mas..." teriak Tazkia melihat Alfa memejamkan matanya dengan tersenyum ke Tazkia tanpa merasakan sakitnya peluru bersarang di dadanya.
Panji dan Ifan mengambil tidakan langsung mengangkat tubuh Alfa dengan sedikit berlari sedangkan Farel sudah bersiap dengan motornya untuk membawa Alfa ke rumah sakit.
Sepeninggalnya Farel, Panji dan Alfa untuk ke rumah sakit tugas di tempat kejadian diambil alih oleh Ifan yang menyerahkan Tazkia sebagai sandera ke pihak sektor kepolisian dan Tazkia sendiri masih memikirkan Alfa.
"Bang...bagaimana keadaannya " tanya Tazkia ke Ifan yang menurutnya seperti kakak buat Alfa.
"Do'akan saja dia baik-baik saja" ucap Ifan tapi dalam hatinya seperti ada kecemasan yang tidak dapat di sembunyikan dari mukanya.
Pihak kepolisian membawa Tazkia untuk bertemu keluarganya dan Ifan memberikan laporan ke komandan baik kepada pihak kepolisian dan kesatuannya.
__ADS_1
Tapi ada rasa cemas dalam dadanya yang tidak bisa di tutupinya dan ingatannya melayang jauh ke Rendra "Kapt...kami butuh kamu saat ini" gumam Ifan menunduk mengingat wajah Rendra.
Tanpa mereka tahu Rendra pun sama merasakan kegelisahan yang menurutnya ada hubungannya dengan kawan satu timnya, mereka tidak separah tapi ada ikatan yang lebih dari sedarah yaitu persaudaraan seiman.