Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
151


__ADS_3

"Jangan cepat benci, jangan cepat marah, karena terkadang telinga salah mendengar, mulut salah berucap dan kadang hati salah menduga, jadilah jiwa pemaaf agar lebih tidak menyisakan dendam di hati" Candy.


Siang ini tidak secerah biasanya seperti menggambarkan suasana hati Nisrina yang saat ini hadir di kampusnya untuk konsultasi bimbingan skripsinya, ada beban dalam pikirannya yang berkaitan dengan setumpuk tugas kantornya yang belum diselesaikannya sedangkan akan ada tugas skripsinya juga mengharuskan dirinya secepatnya diselesaikan tanpa ada penundaan.


Seperti saat ini diruang dosen pembimbing yang kebetulan ada beberapa mahasiswa yang sama-sama ingin konsultasi masalah skripsi yang dihadapinya.


"Nis..mana traktirannya cie..cie yang udah kerja.." goda dosen pembimbing dengan tawanya.


"Bapak bisa..aja.." balas Nisrina tersenyum santai.


"Bapak..tunggu..serius Nis.." balasnya lagi dengan memeriksa tugas yang lain.


"Nis mau mengundurkan diri pak.." ujar Nisrina memilih salah bangku untuknya duduk.


"Loh..kenapa.." tanya dosen tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Nisrina adalah siswa terbaik dan magang ditempat yang prospek kedepan perusahaan itu bagus apalagi Nisrina langsung diterima bekerja ditempat itu tanpa harus cape-cape melamar terlebih dahulu.


"Nis...ingin konsentrasi skripsi dulu pak.." ujarnya terlihat serius.


"Coba..bapak lihat.." dosen itu mengambil berkas pengajuan skripsi milik Nisrina.


Dengan serius dosen mempelajari berkas pengajuan skripsi milik Nisrina, seperti Nisrina tidak yakin berkas yang diajukannya akan diterima sebab judul yang diajukan tidak umum begitu juga dengan isi skripsinya, Nisrina sepertinya ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari semua siswa yang satu angkatannya.


"Ini..sudah bagus..malah kalau boleh saya jujur..lebih dari cukup memuaskan..Nis..paling hanya ada penambahan sedikit-sedikit itu saja..terus masalahnya dimana Nis.." dengan tersenyum dosen bertanya pada Nisrina.


"Pak..Nis takut berbuat kesalahan dalam menyelesaikan tugas kantor dan ingin lebih fokus mempelajari skripsi itu..saja.." balas Nisrina santai.


"Nis..orang lain susah-susah mencari kerja kamu ada kesempatan malah ingin dilepaskan sebenarnya ada apa..sih.." tanya dosen lagi dengan serius.


"Ga..ada apa-apa..hanya ingin fokus aja..biar cepat sidang dan secepat wisuda.." dengan tertawa kecil Nisrina berkata.


"Jangan-jangan kamu mau cepat-cepat dilamar seseorang ya.." dosen menggoda Nisrina.


"Ih..bapak.." balas Nisrina malu.


"Nis wajar..lah kamu cantik..pintar..dewasa..sopan wajar banyak yang ingin meminta menjadi teman hidup..dimana masalahnya.." ujar dosen menjelaskan.


"Bisa aja..bapak.." balas Nisrina dengan tersenyum.


"Soal..skripsi ini sudah saya anggap sangat baik tinggal ditambahkan sedikit di bagian ini..ini.." dosen menunjukkan bagian-bagian yang harus ditambahkan.


"Dan..soal..kerjaan..kalau boleh saya memberikan saran jalankan saja..ini kesempatan baik..tinggal kamu bicarakan bila ada kesulitan mereka akan mengerti kok.." dosen seperti memberikan masukan sebab Nisrina siswa yang berpotensi.


"Terimakasih untuk dukungan dan memasukkannya..pak..saya akan pertimbangkan.." ujar Nisrina dengan memberikan senyum ramahnya.


"Sama-sama..bapak tunggu traktirannya.." goda dosen dengan tersenyum.

__ADS_1


"Siap..pak..Nis kirim kerumah bapak boleh.." goda Nisrina yang saat ini jail.


"Ya..bolehlah..yang enak-enak ya..bapak dengar gaji kamu bisa buat bayar spp dua semester.." balas dosen menjailin Nisrina.


"Bapak..bisa aja..apa ga sekalian aja..pak dapat pemilik perusahaannya biar bapak bisa di kasih voucher jalan-jalan plus menginap di hotel juga dengan tambahan uang saku.." goda Nisrina dengan tertawa yang ditutup mulutnya.


"Boleh-boleh bapak do'ain biar berjodoh..ya.." ga kalah konyol.


"Pak..itu..mah namanya ngarep..siapa juga Nis..pak.." balas Nisrina dengan apa adanya berucap.


"Siapa..tahu..Nis..jodoh tuhan yang atur bukan kita.." jelas dosen dengan serius.


"Mimpi..kali pak..selama kerja saja Nis belum pernah melihat batang hidungnya..seperti apa dia, sepertinya orang yang super sibuk hingga karyawannya saja tidak tahu siapa bosnya.." Nisrian menjelaskan dengan apa yang dia rasakan.


"Maklum lah..Nis dia eksekutif muda..soal karyawan kan..ada yang urus.." balasnya santai.


"Ga..penting juga pak buat Nis.." balas Nisrina dengan berpamitan untuk keluar dari ruangannya.


Tidak lama Nisrina meninggalkan ruang dosen dan bertemu dengan beberapa teman satu kelasnya yang kebetulan juga ada keperluan di kampus, mereka berkesempatan berbincang seputar tugas skripsinya juga berbincang santai hingga waktu bergulir.


Setelah dirasakan waktunya harus berpisah Nisrina minta undur diri dengan berpisah dengan kawan satu kelasnya yang sama-sama ingin pulang juga hanya saja berbeda arah.


Setelah membersihkan diri Nisrina merebahkan diri di kasur dengan memeluk erat bantal kesayangannya memandang atas langit-langit kamarnya, sebenarnya matanya ingin terpejam tapi saat ini tidak baik bila kita tertidur karena menjelang magrib.


Nisrina tersenyum seorang diri mengingat ucapan dosennya siang tadi, yang menurutnya untuk sesuatu hal yang konyol yang tidak mungkin terjadi tapi tidak apalah kalau untuk halu pikirnya dengan malu sendiri menutup mukanya dengan bantal kesayangannya, bersamaan benda pipi miliknya bersuara memintanya untuk melihatnya dan berharap menjawabnya.


Rasa enggan yang ada dipikiran Nisrina karena dari nomor yang tidak dikenalnya menurutnya dia tidak ingin diisengin oleh orang yang hanya pura-pura mengenalnya atau sekarang ini marak penelepon penipuan pikirnya lagi, hingga membiarkan begitu saja benda pipinya tanpa peduli.


Akhirnya dengan berat hati Nisrina menjawab panggilan telepon itu dengan suara yang malas, berbeda dengan orang yang meneleponnya yang begitu semangat dan sangat senang sebab suara Nisrina seperti dirinya berjalan di gurun yang panas terik menemukan oasis di tengah gurun itu, dari suara Nisrina saja sudah jadi penyejuk batinnya yang merindu.


★★ " Assalamualaikum..ya'asalii (manisku)" ucap seseorang dengan suara sopan dan lembut terdengar.


~ya'asalii (manisku) dalam bahasa arab maklum dia lulusan pesantren~


★★ "Waalaikum salam..maaf..saya bukan ya'asalii " Nisrina tidak tahu arti dari ya'asalii.


★★ "Maaf..hai..Nis apa kabar.." ucap seseorang itu dengan tawanya pecah.


★★ "Baik..gimana kabarnya..mas" balas Nisrina yang baru mengenal suara seseorang itu ternyata Indra.


★★" Alhamdulillah..baik cuma lagi malah rindu sama seseorang yang jauh disana.." balas Indra denga tawa kecilnya.


★★ "Oh..gitu ya..kasihan..ketemu lah..biar ga rindu.." balas Nisrina dengan polosnya.


★★ "Gitu..ya..tapi disana rindu ga sama mas.." goda Indra dengan terdengar tawa kecilnya.


Nisrina hanya diam mendengarkan Indra berkata sendiri hingga membuat Indra balik bertanya pada Nisrina.

__ADS_1


★★ "Nis..boleh mas..vc.." pinta Indra yang ingin melihat wajah yang dirindukannya.


★★"Maaf..mas..Nis sedang dikamar jadi Nis mohon mas mengerti.." balas Nisrina menjelaskan.


★★ "Oh..maafin..mas, mas dengar Nis ingin mengundurkan diri dari kantor..kenapa.." tanya Indra dengan rasa khawatir.


★★ "Nis..takut bekerja tidak sesuai harapan kantor..dan Nis bekerja di rumah bukan di kantor seperti di istimewain gitu..lama kelamaan akan menimbulkan kecemburuan sesama karyawan mas..ga baik juga buat semuanya.." Nisrina menjelaskan dengan sesuai faktanya.


★★ "Oh..seperti itu masalahnya..setahu mas cuma orang kepercayaan bos dan sekretaris saja yang tahu soal Nis tidak ada yang lain..kenapa harus jadi beban buat Nis..mas dengar kerja Nis bagus kok.." ujarnya memuji kinerja Nisrina.


★★ "Mas..jangan sok tahu..atau mas hanya ingin Nis senang ya..maaf ya..mas..Nis ga jadi besar kepala kok.." dengan biasa saja Nisrina berkata tapi berbeda dengan Indra yang tertawa terdengar di telinga Nisrina.


★★ "Ya'asalii..siapa juga yang sok tahu ini faktanya dan tidak ingin membuat Nis besar kepala juga.." ucapnya masih diiringi tawanya.


★★ "Maaf..mas dari tadi mas..panggil-panggil ya'asalii itu siapa ya..yang jelas ini Nisrina bukan ya'asalii.." seru Nisrina dengan polosnya bertanya.


★★ "Oh..ya'asalii..manisku..boleh kan mas panggil Nis..ya'asalii.." ujar Indra menjelaskan dengan tawa terdengar.


★★ "Mas..nanti ada yang marah..loh dan Nis ga mau jadi perebut pacar orang..takut..ih.." teriak Nisrina dengan serius terdengar.


★★"Nis yang sudah merebut hati mas.." goda Indra dengan serius.


★★ "Nis..boleh kan.." tanya Indra lagi dengan lebih serius.


★★ "Mas..rasanya ga pantas..nama itu untuk Nis..ada yang lebih pantas dari Nis buat mas.." Nisrina merendahkan dirinya dengan serius berucap.


★★ "Nis..mas hanya ingin Nis saja bukan yang lain..ya'asalii.." ucap Indra tanpa mau Nisrina membantahnya.


★★ "Nis..baru tahu kalau mas ternyata pemaksa kehendak ya.." ujar Nisrina dengan tertawa kecil.


★★"Mas bukan pemaksa hanya saja kalau ga memaksa Nis ga bakal mau terima mas..apa mas kurang cakep, kurang baik atau Nis ada seseorang yang spesial di hati Nis saat ini.." ucap Indra hanya ingin memastikan saja.


★★ "Ih..mas pede abis..mas ga ada kurangnya..malahan terlewat sempurna di mata Nis..soal yang teristimewa yang jelas adalah ayah Nis dia teristimewa buat Nis untuk saat ini dan selamanya.." ucap Nisrina menjelaskan.


★★ "Jadi bolehkah mas panggil Nis..ya'asalii..sebenarnya mas ingin langsung meminta ya'asalii jadi.."uma awlaadii.." ucap Indra dengan serius berucap.


★★"Ya..senyamannya mas aja..deh..uma awlaadii apalagi itu.." tanya Nisrina membutuhkan penjelasan.


★★ "Oh..itu..ibu dari anak-anakku..mau kan.." pinta Indra dengan serius terdengar oleh Nisrina.


Nisrina hanya terdiam ada rasa yang tidak bisa dimengerti olehnya ada senang tapi juga sedih, ternyata keduanya sudah ada getar cinta yang sama hanya masih malu yang mendominasi dalam diri Nisrina.


★★ "Ya'asalii..marah ya..sama mas yang terlalu cepat menyatakan rasa yang mas sudah tidak bisa mas tahan..maafkan mas..ya'asalii.." pinta Indra seperti memohon.


★★ "Mas..tahu ini bukan waktu yang tepat..tapi mas takut kehilangan ya'asalii.." ucapnya lagi terdengar dengan rasa sedihnya.


★★"Mas..Nis..ingin mas..pulang dengan tanpa kurang satu apapun soal rasa itu akan Nis jaga hingga mas meminta pada ayah sebagai bukti mas serius tanpa main-main itu saja pinta Nis ga lebih.." terdengar isak dari suara yang Nisrina ucapkan membuat keduanya larut dalam rasa haru bahagia.

__ADS_1


★★ "Ya'asalii..mas janji akan secepatnya menyelesaikan urusan disini dan akan datang meminta pada om untuk menjadikan ya'asalii..uma awlaadii..siap.." dengan sedikit tawa terdengar di keduanya.


Tanpa terasa adzan magrib berkumandang hingga Nisrina meminta Indra menyudahi sambungan teleponnya dan keduanya menyudahinya dengan saling memberikan semangat dan ada rasa yang ikut serta tumbuh di keduanya tanpa harus berpacaran seperti anak muda pada umumnya.


__ADS_2