
"Akan ada hari....dimana Allah akan menjadi saksi kau lingkarkan ikatan suci mitsaqon ghalidza di jari manisku, walau aku tak sempurna" Candy.
Kicau burung saling bersahutan terdengar dari balik jendela menandakan pagi yang cerah, masih berbalut mukenah Candy melantunkan ayat-ayat penyejukan kalbu dengan khusyuknya, berharap kemudahan selalu diberikan kepadanya dari pemilik kehidupan.
Suara tangis baby mungil yang sekarang jadi penamba kemeriahan rumah Ayah, dikala pagi menyambut.
Nisrina Nur kamilah (Bunga mawar putih cahaya kesempurnaan) itulah sebaris kata yang sekarang dia sandang pemberian untuknya dari Ayah tercinta (Mas Dimas) dari nama itu sang Ayah barharap menjadikan dirinya seorang wanita yang mandiri, berakhlak baik, dapat menjaga harga dirinya, agama dan nama baik keluarganya, saat ini tumbuh berkembangnya cukup sesuai umurnya yang sudah mulai aktif berinteraksi dengan orang sekitarnya.
"Cantik....haus...ya.. " sapa sang Ayah (Mas Dimas) yang melihat anaknya digendong bundanya (Rahma) untuk diberi ASI.
"Cup...cup..cup sabar...ya" ucap bundanya mencari tempat yang nyaman untuk menyusui.
"Kenapa...sayangnya Mas" ucap Mas Dimas bertanya ke istri tercintanya Rahma.
Hanya gelengan kepala yang Rahma berikan ke Mas Dimas, yang membuat Mas Dimas bingung.
Candy keluar dari kamarnya, mendekat ke Rahma dan babynya yang asyik menikmati ASI dari bundanya.
"Cantik...bagi dong...Cantik " goda Candy ke baby yang masih dengan lahapnya menikmati ASI.
Mas Dimas juga Rahma hanya tersenyum melihat tingkah Candy yang mengelus tangan lembut babynya.
"Kesayangan....Mas...sudah siap menerima pinangan Rendra " ucap Mas Dimas dengan mengelus rambut Candy yang tidak tertutup hijabnya.
"Insyaallah...Can...siap...dengan bismillah...mudah-mudahan ini yang terbaik Allah kasih buat Can..." ucap Candy terdengar tegas tapi lembut.
"Ya...dia baik dan bertanggungjawab Mas lihat dari caranya memperlakukan kesayangan Mas"ujar Mas Dimas melihat Candy yang masih mengusap tangan baby.
"Mudah-mudahan ini yang terbaik untukmu dari Allah" ucap Rahma dengan posisi masih menyusui Nisrina.
"Sudah...libatkan Allah...dalam hal ini" ucap Mas Dimas dengan suaranya terdengar tegas tapi tidak ingin menyakiti.
"Insyaallah...sudah entah sudah beberapa kali" Candy sambil memeluk pundak Rahma.
" Boleh Mas tahu apa yang di dapat hingga Kesayangan Mas yakin" ujar Mas Dimas minta penjelasan dari Candy.
Candy tersenyum malu mendengar Mas Dimas menanyakan itu dengan serius sebab baru pertama kalinya Mas Dimas bertanya seserius ini, terlihat dari mukanya yang tidak ada senyum hanya muka tanpa ekspresi penuh penegasan tidak ada main-main.
"Dia tersenyum...lewat mimpi...Can dan bukan sekali..setiap..Can...sholat istikharah, sebenarnya sejak pertama ketemu di rumah sakit saat PTT dia sudah langsung melamar Can...secara pribadi Mas...cuma Can...ga..menerimanya dan yang membuat Can...yakin dia tidak memaksakan Can...untuk seperti orang pacaran yang harus ada, saat kami bertemu dalam keadaan tidak sengaja dan hanya hal penting itupun sepengetahuan Ayah"Candy menjelaskan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Hebat...dia lelaki yang hebat" ucap Ayah menghampiri Candy yang masih bersama Rahma yang menggendong Nisrina yang sudah tertidur.
__ADS_1
"Insyaallah Ayah tidak salah memilih dan menerima pinangan darinya untuk anak Ayah" ujar Ayah dengan suaranya terdengar berharap ini sudah yang terbaik untuk anaknya.
Candy memeluk Ayah dan tidak terasa kristal bening yang transparan itu meluncur dengan gayanya tanpa minta ijin terlebih untuk jatuh ke pipinya, ada rasa haru dengan apa yang Ayah ucapkan.
Terdengar suara salam dari luar rumah yang jelas dari suara yang sangat di kenalnya dan sangat di tunggu kedatangannya.
Setelah di persilakan masuk oleh pemilik rumah dan tanpa dikomando langkah kecilnya memeluk tubuh mungil Candy dengan tangannya dan suara khasnya sudah mulai terdengar jelas tiap katanya mengikuti perkembangan usianya.
"Tante...bibi kangen" teriaknya dengan berlari kecil memeluk Candy.
"Aduh....bibi tante juga kangen bibi" ucap Candy membalas pelukan Habibi.
"Cantik...Cantik"ucap Habibi beralih ke Nisrina yang dekat dengan Candy.
"Mas...salim dulu sayang" ujar Mba Salma ke Habibi.
Habibipun menjalankan perintah bundanya menyalami semua anggota keluarga Candy.
"Mas...udah gede ya..."ucap Mas Dimas ke Habibi yang duduk dekat Ayah dan mengusap kepalanya, dan hanya senyum yang dia berikan ke Mas Dimas.
"Apa yang kurang nih" Mas Iqbal bertanya ke Ayah.
"Ini...Hebat..banget...Kesayangan Mas" jawab Mas Iqbal takjub sekaligus penasaran.
"Siapa dan seperti apa dia, sampai seistimewa ini memperlakukan Kesayangan Mas" ujar Mas Iqbal yang belum pernah ketemu Rendra.
"Perfect pokoknya...Mas"ucap Mas Dimas menjelaskan.
"Makin...penasaran deh" ucap Mba Salma ikut penasaran.
"Biasa saja kok..jangan percaya sama Mas Dimas musyrik " ucap Candy dengan merangkul Mas Iqbal.
"Ini serius Kesayangan Mas" Mas Iqbal masih belum hilang dari pemasarannya.
"Yah...hanya keluarga kita aja yang datang ke acara " ucap Mas Iqbal mencari tahu.
"Ada tetangga yang Ayah minta untuk hadir sebagai bukti nanti kalau ada yang bertanya Cantik masih sendiri atau sudah ada yang memiliki" Ayah menjelaskan ke semua anggota keluarganya.
"Ih...Ayah...Can ada..yang memiliki...lah...Ayah dan dua Mas yang ganteng" ucap Candy tanpa maksud becanda.
"Itu..mah sudah hak paten..maksudnya udah ada belum yang meminta jadi istri sebelum Rendra gitu Cantik " Mas Iqbal mengusap lembut pipi Candy yang masih belum percaya adiknya akan dilamar orang.
__ADS_1
Candy malu dengan memeluk tangan Ayah menyembunyikan mukanya yang masih imut dilihat.
"Malu nih...ye..."usil Mas Dimas yang didukung oleh Rahma dan Mba Salma dengan tawa mereka.
Soal goda mengoda memang jagonya Mas Dimas pokoknya selama berada di dekat Mas Dimas jangan pernah punya urat malu bakal, abis di konyolin tapi masih dalam tarap yang wajar saja ga sampai menyakiti hati.
Terdengar suara yang beradal dari benda pipi yang dimiliki di antara mereka menandakan ada panggilan yang masuk dan harus di jawab karena bikin berisik.
"Tante...Can...nih...bisik" ucap Habibi menyerah benda pipi milik Candy.
Ternyata benda pipi yang mengeluarkan suara adalah benda pipi milik Candy yang belum tahu siapa yang menghubunginya.
"Terimakasih...sholeh " ucap Candy ke Habibi.
Tertera dalam benda pipi itu nomor yang asing, tapi untuk saat ini Candy menjawab panggilan itu.
« nomor asing» Hallo mba, saya MUA yang di pesan Mas Rendra, dan kami akan datang tiga jam sebelum acara mohon kesiapannya.
Candy hanya diam masih dengan tidak percaya dengan apa yang dilakukan seorang Rendra.
«Candy » Ya...datang saja, maaf sudah tahu alamatnya?.
«nomor asing » Sudah hanya mohon kesiapan dan kerja samanya saja, terimakasih.
Dan benda pipi itu sudah tidak bersuara lagi yang meninggalkan kebingungan buat seorang Candy, yang membuat keluarganya bertanya-tanya ada apa dengan panggilan telpon itu.
Candy menarik napasnya kasar menghilangkan sedikit beban yang dirasakannya.
"Ada...apa...Kesayangan Mas"Mas Iqbal dan Mas Dimas berbarengan karena penasaran.
"Mas Rendra...."ucap Candy tidak melanjutkan ucapannya.
"Ada apa dengan Rendra "Ayah dengan muka khawatir.
"Kirim MUA ke rumah, memang harus apa?" ujar Candy yang ingin berdandan biasa saja.
Semua mengeluarkan napas kasarnya dengan apa yang baru diucapkan Candy.
"Dia ingin kasih yang terbaik kali Can" ucap Rahma menenangkan Candy.
Keluarga Candy dibikin terkejut dengan apa yang dilakukan Rendra untuk Candy yang hanya seorang biasa saja tapi di perlakukan sangat istimewa, Candy sendiri dibuat bingung harus senang atau sedih dalam hal ini dengan diperlakukan sangat istimewa oleh Rendra.
__ADS_1