
"Lakukanlah semua kebaikan dengan niat karena Allah karena akan ada nilai pahala di dalamnya" Candy.
Selagi ini Rendra sudah bersiap untuk ke tempat dinasnya karena akan banyak hal yang harus di lakukannya, Candy yang hanya memperhatikan saja tidak bisa membantu hanya menyiapkan apa yang biasanya dia siapkan untuk keperluan Rendra seperti biasa hanya saja ada tambahan seperti bekal sarapan dan makan siang yang Rendra minta khawatir tidak dapat keluar untuk makan siangnya.
"Mas...harus sepagi ini ya..." Candy seperti masih ingin Rendra ada di dekatnya.
"Ehm...ehm" hanya suara itu yang keluar dari mulut Rendra dengan tangan masih merapikan berkas kedinasannya.
"Mas..." Candy mendekat dan memeluk satu tangan Rendra terlihat manja di mata Rendra.
Setelah dirasakan Rendra semua sudah rapi termasuk berkhas penting yang akan di bawahnya, kejailan Rendra mulai beraksi.
"Iya...Honey...semua harus cepat dibereskan Mas ga mau nanti ada yang harus di urus ulang buang-buang waktu" ucap Rendra mengusap lembut kepala Candy yang tidak tertutup hijabnya.
Candy masih memeluk tangan Rendra tanpa bertanya lagi, Rendra menggandengnya hingga di ujung tempat tidurnya, Candy disuruhnya duduk dan Rendra sendiri bersimpuh di depannya.
"Honey...Maafkan Mas...ya...tidak seperti suami-suami yang lain yang selalu ada disamping Honey " Rendra menidurkan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Mas...bukan seperti itu maksud Can.."mata Candy sudah berkaca-kaca sebab menurutnya ucapan Rendra membuatnya tersentuh.
"Loh...ko...Honey..." Rendra tidak melanjutkan ucapannya Rendra langsung memeluknya dan menenangkan Candy.
"Honey...Mas ga mau melihat Honey sedih" ucap Rendra menangkap wajah mungil Candy yang sudah meneteskan bulir beningnya.
Dari awal mengenal Candy, Rendra sudah berjanji pada dirinya tidak ingin melihat orang tersayangnya terluka karena dirinya.
"Mas...sendiri kenapa nangis" ujar Candy yang menghapus air mata Rendra yang jatuh tanpa disadarinya.
"Mas...ga nangis ko" Rendra membantah agar tidak terlihat apa yang dirasakan dalam batinnya yang menurutnya sudah melukai Candy.
"Can...salah ya..maaf" suara Candy seperti merengek memohon ke Rendra sontak saja membuat Rendra makin galau karena semakin menyakiti hati Candy.
Rendra memeluk erat Candy dengan berbisik Rendra berkata lembut dan sedikit terdengar isak kecil dari Rendra.
"Honey...ga ada salah ke Mas...yang sedikit waktunya untuk Honey dan Ainun" tangan Rendra masih memeluk tubuh mungil Candy yang hampir semuanya tertutup oleh dekapan Rendra yang bertubuh tegap.
Tanpa disadari keduanya gadis kecil kesayangan Mama Papanya sedang memperhatikan apa yang sedang keduanya lakukan, suara kecilnya menyudahi pelukan keduanya.
"Ma...maa..pap..pap"ucapnya terbata-bata dengan tangan mungilnya memegang kakinya keatas dan digoyang-goyangkan.
"Oh...oh..sayangnya Papa sudah bangun" Rendra melepaskan pelukannya untuk menghampiri Ainun dan mendekatinya tidak lupa di ciumnya hingga terdengar suara ocehnya dari bibir mungilnya.
"Pa...pa..pa" dengan tawa dan ocehnya yang belum jelas membuat ngemas Rendra.
__ADS_1
"Masih bau acem...Pa.." ucap Candy ke Rendra yang masih mengoda Ainun.
"Tapi asemnya enak Honey " ujar Rendra yang masih menciumi Ainun yang tersenyum di cium Papa tersayangnya.
"Mas..katanya buru-buru tapi malah masih main sama Ainun" ucap Candy yang akan mengambil alih Ainun dari tangan Rendra.
"Lupa...deh kalau sudah sama bidadari surga" ucap Rendra dengan mencium pipi Ainun.
"Sama Mama dulu ya...sayang" Rendra menyudahi bermain dengan Ainun untuk berpamitan pergi.
Rendra mencium ujung kepala dan pipi Candy dengan sayang tak lupa mencium pipi dan kepala putri cantiknya.
"Papa pergi dulu...do'akan Mas ya..Honey" ucap Rendra sebelum keluar dari kamarnya.
"Do'a...Can...menyertaimu Mas" ucap Candy masih bisa di dengar oleh Rendra.
Saat turun dari tangga Rendra bertemu Mamanya yang akan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan paginya.
"Ma...dra pergi dulu" Rendra dengan tangan memegang tangan Mamanya untuk menyalaminya dan untuk berpamitan pergi.
"Harus sepagi inikah nak..." tanya Mama yang mengikuti langkah Rendra menuju pintu keluar.
"Harus...ke kantor pusat Ma" jawab Rendra menjelaskan menghilangkan rasa khawatir Mamanya.
"Memang tidak bisa sarapan dulu" ujar Mama masih mengkhawatirkan anaknya yang pergi sepagi ini.
"Ya...sudah hati-hati" ucap Mama yang memperhatikan anaknya hingga masuk kedalam mobilnya.
Dalam diamnya Mama hanya bergumam seorang diri "anak ga mau nyusahin orang tua eh...dapat istri sama ga mau juga nyusahi semuanya di kerjakan sendiri, kalian memang saling melengkapi " dengan gelengan kepala dan senyum simpul Mama mengingat anak dan menantunya.
Tanpa beberapa lama Rendra sampai di kantor kedinasannya, terlebih dahulu dia masuk ke dalam ruangannya dan di lanjutkan ke kantor Komandannya untuk menyerahkan beberapa berkas dan mengambil beberapa berkas yang akan di bawahnya ke kantor pusat untuk keperluan studinya di boston.
★★"Bisa datang ke ruanganku" suara Rendra menelepon seseorang.
★★"Siap...bisa,Kapt " jawab ajudan Rendra yang menjawab telpon Rendra.
Dan tidak pake lama ajudan Rendra sudah datang menemui Rendra yang sudah bersiap pergi.
"Pagi..Kapt..." ucap ajudan Rendra dengan memberikan hormat ke Rendra.
"Pagi...bisa temani aku ke kantor pusat" ucap Rendra dengan membalas hormat dan bicara serius ke ajudannya.
"Siap...Kapt..bisa" ucap ajudan Rendra yang masih berdiri didepan Rendra yang sudah di luar ruangannya.
__ADS_1
"Ayo...ngapai masih berdiri aja"ajak Rendra ke ajudannya yang masih berdiri.
"Siap...Kapt " langkah kaki ajudannya mengekor dari belakang.
Rendra memerintahkan ajudannya membawa mobilnya sedangkan Rendra sendiri duduk sebelahnya, sesekali matanya menikmati suasana pagi dipusat kota yang di laluinya.
Tidak beberpa lama mobil Rendra memasuki gerbang besar pintu masuk Kantor pusat kedinasannya dan mobilnya menempati halaman parkir kantor pusat kedinasannya.
Rendra tahu jam kerja kedinasannya masih terlalu pagi, dam masih ada waktu untuk menikmati sarapan paginya.
"Kita sarapan pagi dulu...ayo" ucap Rendra ke ajudannya yang bingung sebab Rendra masih duduk di dalam mobil tapi berucap mengajak sarapan pagi, maksudnya apa dalam benak ajudannya.
Tangan Rendra meraih tas yang ada di bangku belakang yang dibawahnya dari rumah, dalam tasnya terdapat beberapa kotak yang beragam menu yang di sediakan Candy dari roti isi, dan makanan yang siap makan hampir seperti shusi juga lauk pauk lainnya tak ketinggalan buah potong yang masih segar terlihat.
"Makanlah...terserah mana yang kamu pilih" ucap Rendra agar ajudannya nyaman ada bersamanya.
"Terimakasih...Kapt, maaf bukannya ini disiapkan buat Kapten" ucap ajudan dengan sedikit menolak tidak enak karena Rendra atasannya.
"Ceritanya kamu menolak nih...aku tahu kamu belum sarapankan" Rendra ingin menormalkan suasana biar tidak terlalu formal disaat berdua.
"Bukan begitu Kapt..." ajudan Rendra merasa tidak enak hati karena penolakannya.
"Kamu...tega liat aku harus makan sendirian dengan makanan sebanyak ini" ucap Rendra lagi dengan pura-pura marah.
"Ga...Kapt..tapi ini sudah disiapkan buat Kapten" ujar ajudan Rendra lagi dengan sopan.
"Ayo...lah kita makan berdua tolong bantu saya menghabiskan makanan ini...sebab sudah dibuat dengan cinta jadi harus di habiskan...ok" ucap Rendra yang memperlihatkan senyumnya hingga nampak gigi rapihnya.
"Siap...Kapt" ucap ajudan dengan tanpa malu lagi menikmati sarapan yang telah di siapkan Candy pagi buta tadi.
Rendra senang makan bersama ajudannya hingga tidak berjarak membuat nyaman hatinya sebab kedekatannya tidak membuat jurang pemisah dikarenakan jabatan.
"Gimana masakan istri saya...tolong kasih penilai jujur" tanya Rendra ke ajudannya dengan senyum tipisnya.
"Maaf Kapt....kalau saya lancang...saya kira Mba tidak bisa masak sebab orang sibuk tapi ini mah...kaya makan di restoran-restoran gitu Kapt..." ajudan Rendra sedikit takut berucap sebab dia bawahan tidak pantas merendahkannya.
Tawa Rendra pecah sebab orang banyak menilai istrinya wanita karir yang lebih memilih sibuk bekerja dari pada kepentingan keluarga apalagi urusan perut mungkin lebih mudah dengan cara beli atau pesan saja tidak mau sibuk dengan bau namanya dapur.
"Maaf...Kapt kalau saya salah" ucap ajudan Rendra yang masih bingung melihat Rendra tertawa.
"Kamu ga salah ko mengapa minta maaf, istri saya tidak pernah beli untuk soal makanan dia lebih suka masak sendiri dan dia bukan yang sibuk di luar terus ga memperhatikan keluarga, dia akan lebih mementingkan keluarga dari pada dirinya sendiri" Rendra menjelaskan yang sebenarnya dan membuat ajudannya merasa kekagumannya.
"Hebat ya...Mba...Kapt...terus kapan mulai dinas lagi Kapt" tanya ajudan ke Rendra penasaran.
__ADS_1
"Entah..lah dia masih ingin fokus ke gadis kecilnya" ujar Rendra menjelaskan dengan merapikan kotak makannya yang habis tak bersisa.
Rendra makin kagum ke istri tercintanya sebab bukan hanya orang terdekatnya saja yang menyukai hasil masakannya tapi kawan tim ditambah lagi ajudan Rendra menyukainya pula, Rendra hanya bergumam dalam hati "Kamu memang istimewa Honey".