Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
218


__ADS_3

..."Ya..Allah jadikan hari-hari kami penuh ketaatan padaMu, dan jadikan hati ini penuh kesabaran agar selalu terbuka pintu rahmatMu " Rendra....


Hari sudah berganti menjadi minggu begitu pun minggu sudah berganti bulan, belum ada terlihat tanda-tanda gunung es pada hati Allea mencair, apa lagi pagi ini lebih dari puncak ujian bagi Azlan yang baru pulang dari masjid selepas sholat subuh.


Azlan yang sudah di dalam rumah hanya bisa melihat Allea masih tertidur tidak seperti biasanya, Azlan hanya bisa membangunkan untuk mengingatkan sholat subuh itu saja.


Azlan memilih menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah beserta pekerjaan rumah lainnya tanpa melibatkan Allea yang masih tertidur.


Hingga tiba waktu Azlan berdinas, dilihatnya Allea masih di dalam kamar tepatnya masih terbungkus selimut, Azlan tidak marah dia hanya memeriksa saja kondisi Allea sebelum dirinya meninggalkan rumah.


"Om..berdinas dulu..ya..sarapan jangan lupa sudah om..siapkan.." Azlan mencium kepala Allea dengan lembut.


"Assalamualaikum..qalbii.." Azlan keluar dari kamar dan bersiap untuk apel pagi seperti biasa kegiatan rutinnya.


Azlan sudah pergi meninggalkan rumah dinas dengan keadaan rumah sudah bersih dan soal urusan perut juga sudah tersedia.


Allea yang sebenarnya sudah bangun selepas subuh tadi cuma di karena kan dirinya sedang kedatangan tamu jadi tidak sholat subuh dan merasakan kram perut tapi tidak mau memberitahukan pada Azlan.


Allea yang merasakan sakit di perutnya, ingin berusaha untuk membersihkan diri tapi apa yang didapatnya dia pingsan di depan pintu masuk dengan kondisi baju yang sudah basah karena terpeleset.


Azlan yang biasanya selepas apel langsung menuju ruangannya kali ini dia lupa membawa benda pipinya, Azlan mengucap salam dan masuk kedalam suasana rumahnya masih seperti dirinya pergi tidak terlihat Allea yang seharusnya dia bersiap untuk kuliah pagi pikir Azlan.


Di dalam kamar Azlan tidak menemukan Allea, dia mencari ke dapur juga tidak ada di diperiksanya meja makan masih dengan makanan yang belum tersentuh.


Azlan menuju kamar mandi di lihatnya Allea dengan baju yang basah dalam keadaan tidak sadarkan diri, Azlan bingung sebab selama ini dia belum pernah menyentuh tubuh Allea.


Masih dalam keadaan khawatir Azlan mengangkat tubuh Allea dengan baju basah, ingin rasanya Azlan minta tolong ibu sebelah rumah dinasnya tapi Azlan berpikir lagi kalau saja ibu itu tahu dirinya belum menyentuh istrinya aib bagi dirinya juga Allea dengan rasa bersalah Azlan mengantikan baju basah Allea dengan jantung yang tidak menentu.


Dia lelaki normal apa lagi Allea wanita halalnya, bohong besar bila tidak ada keinginan untuk menyentuhnya tapi dia masih memiliki iman dan akal sehatnya masih dalam keadaan terkontrol baik, hingga pikiran dari setan jauh melesat.


Hanya bacaan bismillah dan istighfar yang dia baca selama menggantikan baju Allea, apalagi dilihatnya ada cairan merah dia bingung apa yang harus dilakukannya, menyadarkan Allea yang masih belum tersadar dengan terpaksa dia bertanya pada mba google.


Dari situ dia dapat jawaban dan bagaimana harus dia lakukan, setelah semua beres Azlan meminta ijin datang terlambat beserta alasannya dan permohonan itu di mengerti oleh komandannya.


Allea mulai membuka matanya perlahan dengan kondisi sudah berganti pakaian dan dihadapannya Azlan duduk menemaninya.

__ADS_1


"Sudah..bangun..qalbii.." Azlan dengan muka khawatirnya yang dia tunjukkan.


"Maaf..om bingung harus berbuat apa..tapi yang jelas om hanya berniat mengantikan tidak lebih.." Azlan memberikan teh lemon hangat untuk mengurangi rasa sakit dari perutnya setelah bertanya pada mba google.


Allea yang duduk di kasur terlihat malu tapi apa mau di kata dirinya tidak sadarkan diri saat itu, Allea enggan melihat Azlan setelah kejadian yang menimpahnya walaupun dia sudah ditolongnya.


Untuk mengucapkan terimakasih saja Allea tidak sanggup karena rasa malu yang lebih mendominasi saat ini, hanya wajah tertunduk yang Allea tunjukkan pada Azlan.


"Soal absen om..sudah meminta ijin langsung pada dosen yang mengajar study hari ini..jadi istirahat saja..tidak usah khawatir.." ucap Azlan dengan mengusap kepala Allea.


"Masih..sakit..kita ke dokter..yuk.." ajak Azlan pada Allea yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Om..bisa tinggal..atau mau di jagain..biar om ijin.." tanya Azlan dengan serius menatap Allea.


"Al..sendiri ga apa-apa ko.." jawabnya dengan masih tertunduk malu.


"Ya..udah..om pergi dulu..kalau ada apa-apa hubungi om..ok.." Azlan mencium kepala Allea lembut.


Azlan melangkah keluar kamar belum juga Azlan menutup pintu Allea mengerang kesakitan yang membuat Azlan kembali kedalam di lihatnya Allea memegang perutnya dan terlihat pucat wajahnya.


Azlan melakukan apa yang diperintahkan mamanya dengan mengompres perut Allea dan memberikan obat pereda rasa nyeri dan sesekali Azlan memijat kaki Allea yang terasa dingin karena menahan sakit.


Seseorang datang kerumah dinas untuk memastikan kondisi Azlan dan Azlan menjelaskan bahwa istrinya sakit serta tidak bisa di tinggalkan seorang diri sebab beberapa jam lalu di tidak sadarkan diri, seseorang itu mengerti dan kabar ini di dengar oleh eyang yang langsung datang ke rumah dinas Azlan.


"Gimana kondisi..Al..mas.." tanya eyang dengan menepuk pundak Azlan.


"Sudah sedikit membaik yang..cuma belum mau diajak ke dokter.." Azlan menjelaskan.


Di lihatnya Allea yang tertidur dan eyang tidak ingin membangunkannya, eyang tidak khawatir sebab Allea bersama orang yang bertanggungjawab dan terlihat sabar merawatnya.


"Terimakasih sudah merawat Al..maafkan bila sudah merepotkan..mas.." eyang melangkah bersama Azlan menuju pintu keluar.


"Eyang titip..Al.." pinta eyang tanpa henti pada Azlan.


"Sudah jadi kewajiban ku eyang tidak usah sungkan dan khawatir.." Azlan memegang erat tangan eyang.

__ADS_1


"Biar eyang yang akan meminta ijin..jaga saja Al..hingga membaik.." pinta eyang dengan menjelaskan pada Azlan yang hanya mengangguk tanda mengerti.


Selepas kepergian eyang Azlan menghubungi mamanya menanyakan makanan apa sebaiknya yang harus di berikan pada Allea, mamanya seperti mengerti dan mamanya meminta Azlan tenang akan ada sopir dari rumah kakek yang akan membawakan makanan selama Allea dalam keadaan sakit, Candy sendiri yang menyiapkan berserta makanan untuk Azlan yang mamanya bawakan.


Azlan dengan sabar menyuapi Allea yang masih lemah, untuk keperluan ke kamar mandi Azlan mendampinginya walaupun hanya menunggu di pintu masuk, begitu perhatian Azlan pada Allea yang masih lemah.


Tapi sayang gunung es itu hanya sedikit mencair sepertinya mentari masih enggan menghangatkan gunung es itu agar labih cepat mencair.


Entah Azlan yang salah dengar atau suasana hati Allea yang berubah ubah, selepas sholat magrib Azlan membaca ayat suci hingga menjelang sholat isya dia kembali ke masjid dan setibanya di rumah di lihatnya Allea yang memegang perutnya kembali kesakitan.


"Masih..sakit..ayo kita ke dokter.." pinta Azlan pada Allea.


"Ga..mas..sudah baik kan ko.." balas Allea meninggalkan Azlan yang seperti salah dengar dengan panggilan dirinya dari Allea.


"Sudah..makan.." tanya Azlan dengan lembut.


"Belum.." jawab Allea singkat yang duduk di kursi panjang di ruang tengah.


"Tunggu..sebentar om siapkan.." pinta Azlan yang meninggalkan Allea.


Azlan membawa sepiring nasi yang di masak setengah lembek dengan sup hangat beserta lauk lainnya, dengan sabar Azlan kembali menyuapi Allea yang sepertinya malu tapi Azlan memintanya.


"Masih..mau tambah.." tanya Azlan dengan tersenyum.


"Ga..terimakasih mas.." Azlan kembali terdiam untuk memastikan itu panggilan untuknya di rumah dinasnya bukan di rumah eyang atau keluarganya.


"Qalbii.." panggil Azlan lembut pada Allea yang masih duduk di dekatnya.


"Iya..mas.." balas Allea dengan memandang Azlan polos, Azlan langsung memeluk Allea dan menangis serta meminta Allea memanggilnya lagi.


"Iya..mas..ada apa..ya..mas.." Allea dengan bingung memandang Azlan yang menangis memeluknya dengan hangat tanpa berkata apapun yang jelas Azlan senang Allea memanggil sebutan itu disaat berdua.


Buah kesabarannya mulai terlihat memang Allah maha pembolak balik hati, Allea yang keras tidak di lawan dengan sifat keras oleh Azlan tapi kelembutan yang Azlan tunjukkan walaupun arti dari nama Azlan sendiri singa tapi dia bisa selembut belaian ibu.


Azlan hanya bisa berterimakasih pada Allah yang sudah melembutkan hati keras Allea, Azlan tidak meminta lebih hanya minta selalu bisa sabar dalam hal ini selama Allea masih mau bersamanya.

__ADS_1


Soal yang lain tidak terbersit sedikitpun dalam hati Azlan terpikirkan, kawan dinas hanya melihatnya Azlan bucin padahal perih yang saat ini Azlan rasakan tapi nilai ibadah yang terus Azlan yakini jadi terasa tenang dalam menjalaninya.


__ADS_2