Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
15


__ADS_3

Rumah Ayah


Sudah beberapa hari Rahma tinggal bersama keluarga Candy, yang sebelumnya Mas Dimas meminta ijin terlebih dahulu kepada kedua orang tua Rahma, juga tidsk lupa meminta persetujuan juga sama Rahma dan mengutarakan keinginannya membawa Rahma untuk tinggal bersamanya juga Ayahnya, keluarga Rahma keluarga yang paham agama tampa menolak mereka langsung mengijinkan sebab menurut mereka suami yang sekarang berhak atas Rahma, dan menurut mereka Mas Dimas suami yang bertanggungjawab yang bisa membimbing Rahma jadi istri yang baik.


Candy sibuk di dapur yang di bantu Rahma, Rahma yang sudah mulai sibuk mengajar lagi sebab masa cutinya sudah habis.


Di meja makan


"Mas...sudah kamu gauli isterimu dangan baik sesuai tuntunan agama "Ayah mengingat kan anaknya.


Ayah membicarakan hal ini tanpa ada Rahma, Ayah tahu dia pasti malu pembahasan soal ini, tapi hal ini harus di bicarakan menurut Ayah menyangkut tuntunan tentang suami istri, takut Dimas melupakannya, dan langsung tancap gas saja bablas takut lupa sama rem, maklum masih jiwa muda dan pengantin baru halal lagi menurut mereka.


"Belum...yah..kasih pendekatan dulu masih cape juga, biar dia menyesuaikan diri dulu denganku dan keluarga kita, aku ga mau dia nanti melakukannya karena terpaksa " Dimas sambil tersenyum malu.


"Tapi...sudah kamu bicarakan dengannya apa alasan kamu belum mengaulinya, nanti salah faham...loh...hati-hati" ucap Ayah mengingat kan Dimas.


"Insyaallah,..yah..Mas ga lupa" ucap Dimas menyakinkan Ayahnya .


"Sudah aku omongin...katanya dia juga perlu penyesuaian diri dulu dengan ku"Dimas menyakinkan Ayahnya.


"Syukur...deh Ayah percaya sama kamu"Ayah tersenyum bahagia menurutnya anak lelakinya sudah berpikir dewasa.


"Tapi...kalian berdua bahagiakan dengan pernikahan kalian" Ayah penasaran.


"Alhamdulillah...yah, Rahma terima Dimas dengan apa adanya, soal cinta percayakan sama Dimas "Dimas merangkul bahu Ayahnya dan mengedipkan satu matanya membuat Ayahnya yakin.


"Makan...makan..."Candy datang dengan membawa makanan hasil racikannya dengan Rahma.


"Mas...makan yang banyak...butuh tenaga ekstra kan?" goda Candy yang membuat malu Rahma yang ikut mendengarkan.


"Cantik...Ayah...jangan usil" tegur Ayah ke Candy yang suka menggoda Mas Dimas


"Maaf....yah..."Candy menunjukkan rasa bersalah.


Candy tahu Ayah tidak suka gurauan yang Candy sampaikan membuat Rahma yang baru di kelurga mereka jadi malu mendengarnya.


Setelah makan malam selesai Rahma di bantu Mas Dimas mencuci piring kotor di dapur sedangkan Candy merapikan meja makan, Ayah sendiri keluar rumah ada keperluan sama pa Rt soal kepindahan Rahma di rumah Ayah.

__ADS_1


"Cie...cie...kerja sama nih..." goda Candy yang melihat keduanya.


Rahma malu dengan muka merah merona walaupun Candy temanya tapi Mas Dimas termasuk orang yang baru saja dikenalnya menurut Rahma.


"Cantik...jangan menggoda terus sayangnya Mas" ucapan Mas Dimas makin bikin Rahma malu.


"Kapan bikin junior yang lucu dan cantik buat ku" Candy makin mengoda Rahma.


"Secepatnya...do'ain saja lansung tokcer "Mas Dimas memeluk dan mencium pipi Rahma yang pastinya si empunya pipi memerah, jadi kaya kepiting rebus.


"Ih...sensor ada anak di bawa umur "Candy pura-pura malu sambil menutup mata.


Jangan di tanya bagaimana muka Rahma makin malu dan dengan tangan mencubit perut Mas Dimas pelan.


"Auw ...maaf "Mas Dimas pura-pura sakit dan makin seneng melihat Rahma malu.


"Hus...hus...hus lanjutnya di kamar ya..." Candy masih ingin menggoda Rahma, yang sepertinya kode buat Mas Dimas yang dengan santainya langsung merangkul pinggang Rahma yang di ajak ke kamarnya, Rahma menyetujui ajakan Mas Dimas.


"Bikin yang lucu,imut,cakep dan cantik" ucap Candy dengan ketawa puas mengoda Rahma.


"kayak...bikin gambar aja bisa cetak semaunya...Can"Mas Dimas balas omongan Candy yang hanya di dengar Rahma, dengan senyum malu Rahma mengikuti Mas Dimas.


Kamar Mas Dimas


Sesantai mungkin Dimas melakukan pendekatan kepada Rahma yang sama-sama baru dikenalnya.


"Jangan di ambil hati candaan Can...ya sayangnya Mas"Mas Dimas mengusap kerudung Rahma.


"Ga...Mas...aku tahu Can,ko" Rahma masih malu kalau bicara sama Mas Dimas.


"Maaf...ga apa Mas panggil kamu sayangnya Mas" Mas Dimas meminta persetujuan Rahma.


"Ga..apa,Mas.."masih dengan malu Rahma berucap dengan mata yang tidak ingin bertemu dengan mata Mas Dimas.


Hari berganti minggu begitupun minggu berganti bulan, Rahma makin betah tinggal bersama keluarga barunya, ada rasa baru juga yang tumbuh jadi cinta untuk suami yang baru dikenalnya, rasa sayang untuk keluarga besar suaminya, Rahma sangat beruntung mendapatkan keluarga baru yang sangat pengertian dengan rutinitasnya sebagai seorang guru.


Mas Dimas sendiri masih dengan rutinitasnya tidak mengurangi perhatian dan sikap yang lembut diberikannya kepada Rahma, membuatnya membuka hati untuk mencintai Mas Dimas yang orang baru dalam hidupnya.

__ADS_1


Ayah sendiri masih belum pensiunan masih sibuk kerja, walaupun anak-anak sudah mengingatkan untuk mengurangi kerja tapi dengan alasan mengisi waktu dan belum tua banget, masih ingin dengan rutinitasnya dengan seperti ini masih bisa bertemu banyak teman.


Proses pengajuan PTT sudah Candy terima, tinggal menunggu pengumuman penempatan didaerah mana Candy akan ditempatkan.


Siang menjelang sore ini mentari seakan lambat untuk menuju peraduannya, begitu juga dengan Candy yang biasa aktif dengan segala rutinitasnya hari ini, telah ia mengerjakan semuan pekerjaan rumahnya dari rapi-rapi rumah, memasak, merapikan pakaian, sampai duduk santai di kamarnya dengan bacaan novel masih terasa bosan juga.


Terdengar suara kaki melangkah mendekat ke kamar Candy, berganti dengan suara pintu kamarnya di ketok.


"Ya...tunggu" pasti Rahma pikir Candy sebab biasanya sore hari dia baru pulang dari mengajar dari sekolah dalam hati Candy berucap.


Candy membuka pintu bersamaan Rahma masuk ke dalam kamar Candy yang terlihat rapi dan nyaman.


"Lagi...ngapain?" Rahma bertanya dan tangannya menyerahkan undangan yang dibawanya dari sekolah.


"Santai...aja...apaan.. ini?"Candy meminta Rahma menjelaskan apa yang dibawanya yang sekarang sudah berpindah ke tangannya.


Rahma membiarkan Candy membuka dan pembaca undangan itu.


"Mau...datang...Mba ?" Candy bertanya ke Rahma yang sekarang harus di panggil Mba oleh Candy , Ayah yang menyuruh menjaga etika menurutnya, sebab Rahma menikah dengan Mas Dimas kakak dari Candy.


"Ijin dulu sama Mas Dimas"Rahma santai menjawab sambil duduk di atas tempat tidur Candy.


"Can,yang bilang deh...ga usah ga enak sama Masku... " Candy tahu Rahma harus tahu diri sekarang dia seorang istri bukan lagi gadis seperti dirinya dahulu.


Rahma masih diam melihat Candy yang masih memegang undangan yang di bawahnya.


"Apa ....ada yang di pikirin?" Candy makin penasaran.


"Aku...maunya Mas ikut"Rahma malu mengatakannya kepada Candy yang belum terbiasa.


"Oh...santai aja..kali...aku bantu ngomong deh"Candy menyakinkan Rahma yang belum mengenal betul siapa Mas Dimas.


"Janji....ya..."Rahma senang dan memeluk Candy dengan gembira terlihat senyumnya mengembang.


Undangan yang di bawa Rahma adalah undangan reuni sekolah yang baru kali ini Candy bisa menghadirinya sebab waktu yang selalu saja tidak mengijinkan hadir di acara itu.


Ada rasa senang terbersit di hati Candy karena semenjak lulus dari bangku sekolah yang berseragam putih abu-abu itu Candy tidak pernah bertemu dengan teman sekolahnya hanya Rahma yang sekarang menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


Membayangkan saja Candy sudah senyum-senyum sendiri mengingat kelucuan kawan satu kelasnya yang selalu membuat ulah di tiap hari-harinya tanpa terlewatkan, hingga keinginan hadir di acara itu semakin besar dalam hati Candy untuk kembali bertemu kawan satu kelasnya walaupun sekedar melepaskan kerinduan masa SMAnya.


__ADS_2