Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
107


__ADS_3

"Penampilanmu begitu sederhana tapi tidak dalam pemikiranmu, itulah yang membuatku merasa nyaman selalu ada di sisimu"Rendra.


Candy sudah kembali bekerja sebagai bentuk mengamalkan ilmu yang di miliknya agar bermanfaat, semua sudah di bicarakan baik soal ijin kembali ke rumah sakit juga soal menjaga, antar jemput Ainun Rendra yang mengaturnya sebab rumah dinas tidak jauh dari kantor dinas Rendra.


Saat ini Candy sedang menghadiri acara seminar yang berhubungan dengan ilmu yang di miliknya, tapi ada kejadian yang tidak di harapkannya yaitu terjadi gempa yang membuat sebagian bangunan rusak parah dan berita tentang bencana itu cepat sampai diteliga Rendra yang sudah tidak dapat berpikir normal bila menyangkut Candy.


Rendra sudah mencari informasi keberadaan Candy berada dan tanpa menunggu Rendra sudah menyuruh ajudannya mengantarkan Ainun ke rumah Mamanya agar lebih menenangkan dirinya saat proses pencarian.


"Gimana Kapt...sudah ada titik terang" tanya Panji yang ikut khawatir melihat Rendra sangat panik.


Rendra tidak menjawab hanya diam dan masih menunggu informasi yang lebih akurat lagi, tapi bukan Rendra namanya kalau tidak mempunyai daya pikir yang cukup cerdas.


Tanpa sepengetahuan teman satu timnya Rendra meninggalkan kedinasan hanya menitipkan pesan pada salah satu ajudannya yang sebenarnya juga khawatir melihatnya pergi seorang diri menuju lokasi gempa.


"Honey...jangan tinggalkan Mas...sendiri lagi..Mas dan Ainun masih butuh Honey..." gumam Rendra yang membawa mobil sendiri tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya hanya wajah imut dan senyum Candy nampak melintas di benaknya.


"Tuhan...harus secepat inikah aku di pisahkan dengan Pemilik mata indah itu" dalam hati Rendra berbicara dengan airmata yang tidak dapat di tahannya.


Terdengar suara sirene ambulance yang sibuk lalu lalang melintas menambah rasa tidak menentu di benak Rendra yang membuatnya semakin gelisah memikirkan keberadaan Candy.


"Maaf...boleh saya tahu dimana korban selamat di rawat"tanya Rendra ke salah satu tim penyelamat.


"Ikuti saja ambulance itu pak..."jawab tim penyelamat ke Rendra yang semakin Rendra ingin berteriak memanggil nama Candy.


"Terimakasih....." balas Rendra yang makin menjadi mengingat keberadaan Candy.


Rendra berusaha mencari disekitar gedung dimana Candy mengadakan seminar dan di dapatkan informasi bahwa semua peserta seminar dalam keadaan sudah meninggal semua dikarenakan tertimpa puing-puing gedung.


Rendra menangis histeris yang kebetulan kawan satu timnya sudah tiba ditempat Rendra berada, tubuh gagah Rendra hampir tumbang tidak berdaya seperti tidak bertulang.


"Honey......Honey...." Rendra berteriak histeris memanggil nama Candy berulang-ulang hingga suaranya hampir serak.


"Kapt...tenangkan dirimu..." Alfa memeluk tubuh Rendra yang masih lemas dan tidak berdaya.


"Masih ada harapan Kapt...belum tentu itu kabar yang akurat" ujar Panji masih ingin menyakinkan Rendra yang sedikit bangkit setelah mendengar ucapan Panji.

__ADS_1


"Mau..kenapa Kapt.." tanya Alfa yang mengikuti langkah Rendra yang sangat cepat seperti tidak menyadari orang sekitar.


"Aku mau ke rumah sakit.." ucap Rendra tanpa memperdulikan yang lain.


"Iya...Kapten tapi kita harus naik mobil biar cepat tidak harus jalan kaki juga Kapt" Alfa menjelaskan menurutnya Rendra sudah tidak berpikir normal lebih mengikuti kata hatinya.


"Kalau kamu ga mau ikut biar aku sendiri..." ujarnya dengan tidak sedikitpun melihat ke Alfa yang mengikutinya.


"Kapt...itu mobilnya mau di tinggal..." ucap Alfa dengan menarik tangan Rendra agar menyadari dirinya terbawah situasi.


Rendra terdiam dan mengusap kasar mukanya dan beristigfar menyadari dirinya terlalu terbawah emosi dalam situasi ini.


"Bisa antar aku ke masjid terdekat..." pinta Rendra ke Alfa yang terkejut mendengar permintaan Rendra tapi Alfa hanya mengikuti apa maunya Rendra.


Tidak jauh dari mereka berdiri, letak masjid berada hanya sedikit bagian masjid itu yang rusak karena gempa, Alfa menggandeng tangan Rendra yang terasa dingin seperti tanpa darah entah karena panik atau hal lain.


Rendra melepaskan sepatunya dan menuju tempat wudhu, Alfa tahu Rendra akan sholat dia membersihkan tempat untuk Rendra sholat, benar saja Rendra sholat dengan khusyuk dan dalam do'anya Rendra meminta keselamatan untuk Candy dan mohon di pertemukan lagi dengannya dalam keadaan apapun.


Alfa yang mendengar pemohonan dalam do'a Rendra ikut menangis karena begitu dalamnya rasa sayang dan cintanya seorang Rendra ke Candy.


Sudah hampir tengah malam Rendra dan kawan satu timnya berbagi tugas mencari keberadaan Candy yang belum ada titik terang, baik dalam keadaan sehat maupun sudah tiada.


Keluarga besar Rendra juga melibatkan beberapa orang untuk membantu mencari keberadaan Candy begitu juga dengan Ayah dan kedua Mas Candy yang masih berada di lokasi gempa untuk mencari tahu keberadaannya.


Tubuh Rendra tidak merasakan lelah tapi tidak buat kawan tim Rendra yang saat ini istirahat di salah satu tenda yang didirikan oleh kesatuan dinas Rendra untuk beristirahat dan mengumpulkan informasi tentang korban dan membantu keperluan lainnya dengan personil yang dikirim dari kedinasan.


Entah apa yang mendorong Rendra untuk melangkahkan kakinya ke arah salah satu sudut rumah sakit yang tidak terbilang besar tapi apa yang dilihatnya sungguh di luar dugaannya dia melihat Candy yang terbalut perban menutupi luka di kepalanya yang masih tertidur di salah satu ranjang tempat tidur rumah sakit yang tidak dalam ruangan tapi di teras karena kapasitas rumah sakit penuh saat ini.


"Mata indah...Mas...ada di sini" bisik Rendra yang tidak ingin membuat Candy terbangun, Rendra meminta seseorang memberikan selimut untuk menutupi bagian kepala Candy yang tidak tertutup perban.


"Terimakasih...ya..Allah masih Kau pertemukan aku dengan isteriku" ucap Rendra dengan tangan seperti orang berdo'a.


Rendra mengabarkan keberadaan Candy ke Ayah dan kedua Masnya dan meminta membawakan hijab untuknya.


Tanpa disadari Rendra, Candy terbangun masih dalam keadaan bingung dimana dia berada saat ini.

__ADS_1


"Maaf...siapa anda...dan ada dimana saya" tanya Candy yang membuat Rendra menangis karena Candy tidak mengenalinya seperti dulu lagi walaupun ada di dekatnya.


"Honey...ini Mas...dan saat ini Honey ada di rumah sakit" ucap Rendra dengan mata yang tidak berhenti meneteskan air mata.


"Maaf...sejak kapan anda jadi suami saya dan kenapa saya ada di rumah sakit" ucap Candy yang memegang kepalanya yang tidak berhijab dan merasa malu.


Belum sempat Rendra menjawab pertanyaan Candy sudah mengusir Rendra dengan mengatakan.


"Maaf...anda bukan muhrim saya jadi tinggalkan saya" ucapnya yang membuat Rendra makin sedih.


Ayah dan kedua Mas Candy datang dan mereka menemui Candy, betapa terkejutnya Rendra Candy sangat mengenal keberadaan mereka dan memeluk erat ketiganya.


"Ayah...kenapa Can...ada di sini" tanya Candy manja seperti dulu sebelum menikah.


"Cantik ada di rumah sakit saat ini" ucap Ayah yang memakai kan hijab Candy.


Rendra hanya diam tidak bisa berkata-kata hanya Mas Dimas yang mendekati Rendra dan bertanya karena bingung melihat Rendra.


"Ada...apa dra..." tanya Mas Dimas yang belum tahu kalau adiknya lupa sama Rendra.


"Honey tidak mengenali ku" ucap Rendra yang menundukkan wajahnya sedih dan hampir menangis.


Mas Dimas terkejut dan berusaha menenangkan Rendra dengan memeluknya tapi Rendra sendiri berusaha tenang walaupun dalam keadaan sedih tapi masih bisa bersyukur Candy dalam keadaan masih hidup.


"Yah...Mas Dimas bicara dengan siapa sih..ko Can..ga kenal...dia dari tadi ga mau pergi dari sini walaupun sudah Can...usir" ucap Candy yang mengejutkan Ayah dan Mas Iqbal.


"Kesayangan Mas...dia suami kamu Rendra namanya" Mas Iqbal berusaha menjelaskan tapi apa reaksi Candy kesakitan yang sangat pada kepalanya hingga dia berteriak.


"Yah...kepala Can...sakit..." ucap Candy dengan tangan memegang kepalanya yang kesakitan.


Rendra yang tidak ingin melihat Candy kesakitan mencari dokter dan memintanya memeriksanya.


Sesaat Candy sudah dalam keadaan tenang Rendra meminta ijin untuk memindahkan Candy kerumah sakit yang dekat dengan kedinasannya agar mudah menjaganya dan keluarga Candy satu pemikiran dengan Rendra.


Akhirnya Candy di rawat dirumah sakit yang dimana dirinya berdinas dengan pengawasan Ayah yang mendadak mengundurkan diri dari kerjanya untuk fokus merawat Candy.

__ADS_1


Rendra sendiri semakin merasa menyalahkan dirinya sendiri tidak dapat menjaga Candy dengan baik walaupun Ayah sudah melarangnya menyalahkan diri sendiri hampir setiap malam Rendra tidur di rumah sakit, Ainun sementara di jaga oleh keluarga besar Rendra walaupun Ainun sering menangis meminta bertemu Mamanya tapi ada saja alasan untuk menyakinkan Ainun untuk saat ini belum bisa bertemu Mamanya.


__ADS_2