Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
171


__ADS_3

..."Aku mencintaimu bukan tanpa alasan tapi karena kederhanaanmu yang tidak ditemukan pada orang lain selain dirimu" Candy....


Persiapan KOAS sudah Ainun siapkan begitu juga dengan rumah sakit yang akan menjadi tempat KOAS, dan menunggu bukan hal yang mengasyikan buat siapa pun termasuk Ainun yang kini dia rasakan seorang diri di rumah mewah milik kakeknya.


Seluruh orang rumah pergi sesuai kepentingannya hingga menyisakan dirinya dengan beberapa asisten rumah tangga yang sibuk merapikan rumah beserta isinya juga lingkungan taman yang terlihat indah dengan beraneka bunga dari yang paling imut sampai yang besar di pandang mata.


Akhirnya Ainun memilih untuk berjalan-jalan atau nonton film di bioskop bila ada yang tertarik itu pikirnya setelah berpamitan pada asisten rumah tapi Ainun juga mengirimkan pesan pada mama dimana dirinya sekarang berada agar tidak khawatir.


Mall saat ini pilihan Ainun untuk mengusir rasa jenuhnya dan di salah satu kedai dia memesan minuman tanpa makanan pikirnya baru saja makan jadi hanya minuman yang dia pesan.


Langkah kakinya menaiki tangga yang berjalan untuk menuju lantai atas untuk mencari buku yang akan dia beli atau hanya melihat lihat saja.


Tertata rapi buku-buku yang dilihatnya, tangan Ainun mengambil buku yang sampulnya cukup membuat dirinya tertarik tapi tangan seseorang bersamaan meraih buku yang sama dengan dirinya.


"Kakak.." panggil Ainun pada Andika yang kebetulan juga ada disitu.


"Ai.." Andika dengan lembut memanggil Ainun.


Akhirnya Andika mengalah membiarkan Ainun yang mengambil buku itu, dan terlihat Ainun membaca isi dari buku itu yang berhubungan dengan keluarga bahagia dunia dan akhirat.


"Sudah..siap diajak berkeluarga.." tanya Andika pada Ainun.


"Sedang berusaha..siap.." jawab Ainun tanpa memandang lawan bicaranya.


"Benar..kah.." goda Andika pada Ainun dengan tangan memilih buku yang tertata rapi di rak.


"Apaan..sih..kak.." balas Ainun yang tidak ingin berlama-lama di toko buku untuk saat ini, dan tidak jadi membeli buku hanya melihat-lihat saja.


"Kak..Ai..duluan ya.." seru Ainun sebelum meninggalkan Andika.


"Buru-buru.." tanya Andika singkat pada Ainun yang menghentikan langkahnya.


"Ga..hanya ingin jalan ke tempat yang bikin Ai..tertawa saja.." balasnya yang membuat Andika bingung.


"Mana..ada.." balas Andika masih dalam bingungnya.


"Kasihan..deh..kakak ga tahu.." ujar Ainun dengan tawa kecilnya dengan muka ditutupi buku.


"Ai..kasih tahu dong.." Andika penasaran dan mengikuti langkah Ainun.


Ainun meletakkan kembali buku pada tempatnya, dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari toko buku itu tanpa ingin mengajak Andika tapi karena penasaran Andika tanpa diajak mengekor di belakang Ainun yang ternyata langkahnya cukup cepat.


Masih dengan rasa bingungnya Andika mengikuti Ainun, langkah Ainun berhenti pas di depan pintu masuk bioskop yang membuat Andika menarik tangan Ainun pelan.


"Ai..ini tempat yang dimaksud.." tanya Andika masih dalam bingungnya.


"Ya.." jawab singkat Ainun tapi dengan jari menunjukkan film komedi.


Andika hanya geleng kepala " Aku diakui cerdas ternyata kalah cerdas dengan kamu" dalam hati Andika berkata.


"Dah..kak..Ai..masuk dulu.." ucap Ainun yang meninggalkan Andika yang masih memikirkan bagaiamana caranya bisa ikut dengan Ainun.


Otak encernya cepat terkoneksi dan hasilnya dia memesan tiket nonton film yang sama dengan Ainun, tapi betapa terkejutnya yang dia lihat Ainun berdampingan dengan laki-laki disebelahnya.


Otaknya kembali berpikir dan didapat ide gila yang membuat laki-laki disamping Ainun mau bertukar tempat duduk dengan Andika.

__ADS_1


"Mas..maaf bisa bantu saya.." ucap Andika sopan pada pemuda disebelah Ainun.


"Ya..apa ya..mas.." balasnya sopan juga.


"Maaf yang duduk disebelah mas dia istri saya cuma dia lagi marah jadi tidak mau duduk bareng saya..dan kalau marah orang yang di dekatnya suka digigit..saya takut mas kena gigit dia makanya saya mohon mas bisa pindah ke kursi ini.." Andika dengan berbisik dan memberikan tiket yang ada di tangannya tapi sebelumnya pemuda itu melihat ke Ainun entah apa yang ada dalam pikirannya yang jelas pasti berpikir cantik-cantik sadis.


Ainun yang asyik menonton film yang sudah diputar bingung saja melihat pemuda disampingnya yang seperti takut melihat dirinya, dan berganti dengan Andika yang duduk disampingnya.


"Kakak.." ucap Ainun heran ko bisa ada disampingnya bukannya tadi bukan dirinya.


"Udah lanjut aja nontonnya " ujar Andika santai dengan membawa makanan khas nonton film juga dua minuman.


Sesekali keduanya tertawa lepas menyaksikan film yang di putar layar lebar di depannya, tapi sayang tiap kali tertawa Ainun selalu saja menutup wajahnya dengan tas kecil yang selalu di bawanya hingga tidak terlihat wajah memerah Ainun.


Andika baru tahu bagaimana cerianya Ainun yang tertawa lepas hanya suara tawa kecilnya yang terdengar dan senyum yang menghiasi bibirnya selepas tawa itu hilang.


Film telah usai menyisakan rona memerah di pipi Ainun terkena sinar lampu terang di dalam bioskop.


"Ai..kenapa pipimu.." tanya Andika menggoda Ainun.


"Ih..kakak.." Ainun menunduk malu dipandang Andika.


Keduanya meninggalkan bioskop dan berniat pulang tapi terdengar bunyi dari perut Andika yang membuat Ainun tersenyum.


"Kasihan..kamu lapar..ya.." tanya Andika pada perutnya.


"Kakak..ko gitu sih.." ujar Aini pada Andika yang mengusap perutnya.


"Ai..temani..yuk.." ajak Ainun dan Andika menurutinya.


"Kak..baso..aja..mau ga.." ujar Ainun yang membuat Andika berpikir lagi " Ini anak sultan tapi makanan rakyat yang selalu dipilihnya" pikir Andika.


"Boleh..tapi gimana nanti perut Ai..ga apa.." tanya Andika seperti khawatir.


"Ha..ha..memang perut Ai..kenapa.." dengan tertawa yang ditutupi Ainun bertanya.


"Takut aja..ga biasa gitu.." jawab Andika menjelaskan.


"Apa..pun yang penting halal..dan ga beracun.." ajak Ainun yang sudah melangkah menuju kedai baso.


Andika makin dibuat bingung tiap kali bersama dengannya banyak hal-hal yang tidak biasa di lihatnya sebab dari rekan-rekan dan teman kuliahnya dulu cewek kebanyakan mau di tempat yang terkenal makanannya dan tempat yang lebih terlihat mewah ini terbalik yang dilihatnya Ainun memilih tempat yang nyaman bukan mewah, makanan yang merakyat tapi segi rasa dan kebersihan terjamin kamu benar-benar istimewa.


Seperti apa orang tuanya itu yang sekarang dalam pikiran Andika yang duduk didepan Ainun, yang mendidiknya dengan kesederhanaan.


"Ai..mau pesan..apa.." tanya Andika masih dibuat bingung dengan kesederhanaan Ainun.


"Ai..setengah aja ya..kak.." pinta Ainun pada Andika.


"Siap..tuan putri.." jawab Andika yang melangkah memesan apa yang Ainun mau.


Tidak beberapa lama Ainun dan Andika menikmati pesanannya tapi tiba-tiba pelayan terjatuh dan sebagian pesan pelanggan jatuh di gamis Ainun.


"Maaf..mba..maaf.." ucap pelayan dengan membersihkan sisa kuah di gamis Ainun.


"Mba..sudah ga apa-apa bisa di cuci ko..mba ga apa-apa kan.." tanya Ainun membantu pelayan merapikan pesanan yang berhamburan.

__ADS_1


Andika juga tidak tinggal diam membantu mbanya merapikan hingga bersih kembali.


"Terimakasih..mba..mas.." ucap pelayan dengan selidik malu.


"Sama-sama.." kedua menjawab dan melanjutkan kembali menikmati makanan yang dipesannya.


"Oh..iya..kakak masih ke kampus.." tanya Ainun yang tangannya mengaduk minuman.


"Masih..ada apa gitu..masih ada yang mengganggu Ai.." tanya Andika yang sudah menyelesaikan makannya.


"Alhamdulillah..sudah ga..sebab Ai..ga ada di kampus.." balasnya yang membuat Andika bengong.


"Ko..bisa.." ucap Andika melihat serius wajah Ainun sesaat.


"Bisa..lah..besok Ai..sudah mulai KOAS.." ujar Ainun yang membuat Andika diam.


"Sementara beda..alam dulu.." seru Ainun yang membuat Andika jujur berkata.


"Ya..nanti ada yang merindu..loh.." ucapnya dengan serius terdengar.


"Kak..kak..ada juga meriang..ga ada..merindu" jawab Ainun yang membuat Andika tersenyum.


"Kalau ada gimana.." goda Andika bertanya pada Ainun.


"Yang..mana ya..kak.." tanya Ainun bingung.


"Dua..duanya.." balas Andika menunggu jawaban dari Ainun yang masih mengaduk minumannya.


"Gimana..ya sebab Ai..selama ini belum pernah merindu..kalaupun meriang beneran meriang bukan merindukan kasih sayang" balas Aini apa adanya.


"Ai..Ai..mana ada gadis seperti kamu ga ada yang suka sih.." ujar Andika polos tanpa bermaksud menggoda.


"Apaan..sih..kak.." Ainun malu dengan menunduk tidak menjawab.


"Di rumah sakit mana..Ai..KOAS.." tanya Andika dengan santai.


"Ada..apa..gitu..kakak.." tanya Ainun yang hanya ingin tahu.


"Kali..aja..kakak..kehabisan uang bisa pinjam dulu..kan ada Ai..disitu.." Andika jail pada Ainun.


"Kak..Ai..bukan pegadaian..bisa kakak jadikan pinjaman.." jawab Ainun yang membuat Andika tertawa " cerdas juga ini cewek..dalam bercanda masih bisa berpikir yang logis" batin Andika berkata.


"Ai..tahu apa yang kakak pikirkan..ko bisa ya..mikir kesitu..iya..kan..jelas bisa Ai..punya teman kerja di pegadaian yang suka pinjaman duit.." Ainun tertawa menunduk.


Andika makin tertawa memang ini anak ajaib banget selain bisa menenangkan tapi juga bisa menghibur "Rasanya ga sabar aku bawa pulang kamu Ai.." batin Andika.


"Ya..kak nanti Ai..kasih alamatnya.." balas Ainun dengan serius.


Ainun menyudahi pertemuan ini dan tidak mau diantar dengan motor Andika bukan karena motornya tapi Ainun belum siap ditanya orang rumah, Ainun menjelaskan itu pada Andika dan Andika mengerti itu sebab Ainun ingin lulus kuliah dulu sebelum mengemban tugas besar sebagai seorang istri yang harus juga siap jadi seorang ibu.


Ada rasa senang yang keduanya rasakan dalam perjumpaan itu walaupun hanya jalan ke tempat yang biasa tapi banyak pesan yang keduanya ambil terutama oleh Andika, kesederhanaan Ainun, ke rendah hatian Ainun dan sikap malu seorang wanita masih dia miliki.


Bagi Ainun Andika yang mau berbagi, sopan, melindungi dan humoris serta rasa nyaman bersamanya itu jadi nilai lebih buat Ainun yang dibesarkan oleh seorang papa yang bucin abis pada orang kesayangannya.


Tapi ada rasa takut yang Andika rasakan pantaskah dirinya bersama Ainun dia harus banyak bercermin agar sadar siapa dirinya, tapi hati kecilnya yakin Ainun belahan jiwanya yang harus diperjuangkan.

__ADS_1


__ADS_2