
..."Apa arti keluarga buatmu? buatku segalanya sebab didalamnya ada rentangan tangan yang menghangatkan yang tidak di jumpai dimanapun, senyum ketulusan yang selalu ditunjukkan dan keikhlasan yang diberikan" Rendra...
Semilir angin meniup dedaunan di taman milik ayah Candy di siang hari ini, seorang wanita duduk termenung mengenang sosok yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Ada kerinduan yang dalam akan sosok yang diharapkan kehadirannya saat ini, tangan kokohnya biasanya menghampiri dirinya bila dirinya pulang dari berpergian dan sapaan khasnya bertanya bagaimana hari yang telah dilaluinya sepanjang hari ini.
Seakan banyak cerita yang susah untuk bisa di ucapkan bila mengenang momen-momen indah bersamanya, seperti siang ini biasanya beliau duduk di taman dengan membaca buku sebagai kegemarannya mengisi waktu senggangnya.
Tidak ada yang bisa menggantikan sosoknya, beliau yang mengajarkan cinta yang pertama setelah ibu yang lebih dulu kembali pada pemilik hidup.
Entah sudah beberapa lama sosoknya menghilang dihadapan Candy tapi kenangan indah bersamanya tidak bisa dihapuskan walaupun sudah termakan waktu.
Tiap baris kata yang terucap dari bibirnya masing terngiang untuk memberikan semangat saat dirinya merasa terlalu berat beban yang dihadapi dalam studinya dan dukungannya tidak pernah surut dalam mendukung karirnya.
"Yah..Can..kangen.." ucap Candy seorang dirinya dengan menahan kerinduan pada sosok ayahnya.
"Apakah..ayah merasakan yang sama.." tanya Candy lagi dengan mendekap bantal kursi taman.
Dulu tiap kali akan berkunjung ke rumah ayah dirinya bersemangat tapi setelah ayah berpulang kesedihan yang sepertinya tidak bisa hilang sebab tiap sudut rumah ayah mengingatkan tiap momen-momen indah dengan sosok yang selalu di rindukannya.
"Honey..mas cari dimana-mana ga ada ga tahunya ada disini.." Rendra mengusap pipi Candy lembut.
"Rindu ayah ya.." ucap Rendra yang duduk disebelah Candy.
"Iya..mas.." Candy tertunduk lesu menahan tangisnya.
Rendra tanpa meminta persetujuan dari Candy langsung menggandeng tangan Candy dan menyalakan motor milik mas Dimas tanpa seijin pemiliknya terlebih dahulu, Candy ikut serta dan tidak bertanya terlebih dahulu dirinya akan diajak serta kemana.
Motor berhenti di toko bunga yang berada di pinggir jalan tanpa Rendra harus turun terlebih dahulu setelah membayar dengan sejumlah uang, motor kembali menelusuri jalan setelah masuk ke jalan kecil Candy baru paham dirinya diajak Rendra ke pemakaman dimana tempat pembaringan terakhir ayahnya.
"Assalamualaikum..ayah..Rendra datang dengan honey.." ucap Rendra dan meletakkan bungan yang dibelinya tadi.
Tidak banyak yang terucap dari mulut Rendra hanya terlihat diam membacakan do'a untuk ayah Candy sebagai mana seorang yang biasanya berziarah kubur.
Candy pun melakukan hal yang sama seperti berdo'a untuk sang ayah dan seperti melepaskan kerinduan yang selama ini di pendamnya, Candy tidak menangis hanya menahannya haru dan senyum tipis nampak dari bibirnya seperti mengingat sesuatu saat bersama sosok yang dirindukannya.
Keduanya tidak lama di pemakaman, sepanjang perjalanan pulang ada saja yang Rendra tanyakan seputar ayah Candy yang membuat Candy senyum-senyum sendiri.
Memang ayah bukan sosok yang romantis tapi dirinya berusaha untuk jadi seorang ayah yang baik seperti setiap hari ulang tahun kelahiran ayah berusaha mengajak makan bersama di luar, atau hasil ujian akhir mendapatkan nilai baik dan hafalan al-qur'an dapat diselesaikan dengan baik ayah akan memberikan hadiah kecil tapi bermanfaat buat kami.
Tanpa terasa keduanya sudah berada di rumah ayah lagi dan membuat mas Iqbal bertanya pada keduanya.
__ADS_1
"Dari mana..?" tanya mas Iqbal tersenyum dengan tangan menggendong cucunya.
"Menemui ayah..mas.." jawab Rendra dengan mengunci motor mas Dimas.
"Oh..memang beda ya..rumah tanpa ayah.." ujar mas Iqbal dengan memandang jauh seperti mengingat sosok ayahnya.
"Pasti mas sebab ayah ruhnya rumah ini.." ucap Candy yang hafal tiap sudut rumah ini ayahnya yang dulu merapikannya.
"Ayo..makan dulu.." pinta Rahma selaku tuan rumah mengajak serta saudara iparnya.
"Masak apa..mba.." tanya Candy yang kebetulan tidak membawa cucunya sebab ada acara lain bersama Azlan.
"Masuk aja lihat sendiri.." balas Rahma dengan menggandeng tangan Candy masuk.
"Ayo..kita makan bersama.." ucap Candy yang membuat mas Iqbal tersenyum.
Dalam benak mas Iqbal, Candy tetap adik kecilnya yang tidak berubah masih seperti yang dulu tapi dia semakin dewasa diusianya sekarang ini.
"Dek..kenapa Mika ga diajak.." tanya mas Dimas yang tahu Azlan dan keluarga kecilnya tinggal bersamanya.
"Mika harus ikut Azlan ada acara di kedinasan paling malam baru pulang mas.." Candy menjelaskan pada mas Dimas.
Memang biasanya kumpul keluarga di rumah ayah semua anak, menantu dan cucu juga hadir tapi kali ini acara diadakan mendadak jadi tidak bisa di hadiri oleh semua anak, menantu juga cucu karena ada keperluan yang tidak bisa di tinggalkan.
Banyak yang mereka dibincangkan dari mereka saat kumpul bersama ini, dari sekedar gurauan cucu-cucu sampai obrolan biasa saja tapi bisa mengobati rasa kangen saat tidak bersama seperti dulu saat masih ada ayah.
Tanpa terasa waktu berpisah harus mereka lakukan karena ada tanggungjawab yang lain yang dipenuhinya, seperti Candy harus kembali kerumah besar keluarga Rendra dengan memenuhi keperluan kedua orang tua Rendra.
Setibanya di rumah Candy menyiapkan makan malam untuk keluarganya dan kedua orang tua Rendra yang kebetulan sedang duduk santai di ruang tengah berbincang dengan Rendra.
Suara khas yang dirindukan menghampiri Rendra dan kedua orang tuanya.
"Akek..." serunya dengan berlari kecil dari pintu masuk menghampiri Rendra.
"Iya..cucu kakek.." Rendra menangkap tubuh mungilnya yang masih terlihat montok.
"kakek..kangen..lama banget sih.." ujar Rendra yang sudah memeluknya.
Mika hanya diam dipeluk Rendra, hanya Azlan dan Allea yang menjelaskan kenapa mereka lama meninggalkan rumah kakeknya.
"Pas..pulang macet..pa.." Azlan menjelaskan.
__ADS_1
Allea lebih dulu masuk ke kamar untuk membersihkan diri, Azlan berniat mengajak Mika membersihkan diri tapi mendapat penolakan dari Mika.
"Ama akek..papa.." pinta Mika yang mendapat persetujuan dari Rendra agar membiarkan apa maunya Mika.
"Biar..sama papa saja..ayo..nanti kelamaan tambah dingin.." keduanya berlari kecil menuju kamar mandi di lantai bawah.
"Honey..minta tolong bawakan handuk dong.." pinta Rendra yang tahu Candy sedang tidak sibuk dan tidak jauh dari kamar mandi.
Dan Candy memenuhi permintaan Rendra dengan membawa handuk menghampiri keduanya yang berada di kamar mandi.
"Eh..ada yang mandi sama kakek..siapa ya.." goda Candy pada Mika yang bersembunyi di balik tubuh Rendra.
"Baaa..ternyata Mika.." Candy memberikan handuk pada Rendra yang langsung melilitkan handuk pada Mika yang sepertinya kedinginan.
Candy membantunya memakaikan baju pada Mika dan menyisir rambut hitam lebatnya, begitu mengemaskan pipinya yang terlihat semu merah.
"Nek..Mika lapar.." pintanya dengan memegang perut kecilnya yang menandakan ingin di isi.
"Aduh kasihan cucu nenek sampai kelaparan..ayo..mau sama apa..sayang.." Rendra menggendongnya menuju meja makan, dan Mika memilih menu yang akan di makannya.
Candy dengan sabar menyuapinnya, memang benar ternyata Mika lapar dengan lahap dia menikmati suapan demi suapan dari Candy hingga habis tidak bersisa.
"Lagi..sayang.." tanya Candy pada Mika yang sudah menghabiskan makanannya.
"Ga..nek udah kenyang.." Mika mengusap perutnya yang membuat Rendra tertawa.
"Suka masakan nenek.." tanya Rendra pada Mika yang baru saja menghabiskan minumnya.
"Suka..enak kek.." ucapnya dengan menunjukkan dua jari jempolnya.
"Bisa aja..sayang biar dimasakin lagi ya..sama nenek.." ujar Rendra yang membuat Candy tersenyum melihat tingkah lucu cucunya.
Rendra dan Candy tidak membedakan cucu-cucunya tapi untuk Mika ada pengecualian semua tahu itu jadi tidak ada kecemburuan diantara mereka pada perhatian yang Rendra dan Candy berikan pada Mika.
Apalagi Nasyauqi sudah menganggap Mika seperti putranya bukan keponakannya baginya dia anaknya juga.
Begitupun kakek buyutnya sangat menyayanginya, beliau begitu perhatian seperti tidak di perbolehkan cucu buntutnya terluka selalu saja meminta asisten rumah berhati-hati menjaganya.
Candy bersyukur di pertemukan dengan keluarga keduanya setelah keluarga ayah, sehingga rasa kehilangan sosok syah tidak begitu larut dalam dirinya untuk terus merenungi kepergiannya.
Apalagi suaminya yang sepertinya tahu tidak ingin Candy terus bersedih atas kehilangan ayahnya, ada saja caranya Rendra yang membuat Candy terhibur.
__ADS_1
Candy yang baik yang di satukan dengan suami yang baik oleh tuhan itu benar adanya, keduanya menang saling melengkapi dalam hal apapun dan dimana pun.