Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
114


__ADS_3

"Ujian akan selalu ada, tapi bagaimana kita menyikapi ujian itu sebagai beban atau sebagai nikmat seperti obat di kalah kita sakit untuk sehat kembali" Candy.


Rumah mewah milik orangtua Rendra saat ini ramai dengan kehadiran keluarga besar kedua belah pihak juga kerabat serta kawan dekat Rendra dan Candy untuk menghadiri acara empat bulanan kehamilan Candy yang di hadiri juga oleh anak-anak panti asuhan yang biasa di undang oleh keluarga besar Rendra.


Seperti biasa setelah usai acara inti mereka yang sangat kenal dekat dengan keluarga besar Rendra akan saling berbincang santai terlebih dahulu, dari hal yang lagi ramai di perbincangan atau sekedar saling mengoda diantara mereka.


"Hai...bro kayaknya...kita bakal jadi besanan beneran nih" ucap Mas Rudi yang membuat kanget yang mendengar.


"Sama...siapa..Mas.." tanya Rendra ke Mas Rudi yang tahu anak Mas Rudi melanjutkan study di Amerika.


"Anak...Masmu.." ujar Mas Rudi yang membuat Rendra langsung mengerti siapa yang di maksud.


"Mana...pantas...Mas..anakku cuma gadis biasa..."ujar Mas Dimas langsung menjawab yang membuat yang lain mengerti.


"Untuk urusan hati...kita tidak bisa menilai pantas atau tidak pantas" ucap Mas Rudi yang selalu merendahkan diri.


"Cie...Cie...seserius...itukah...Mas" ucap Rendra ke Mas Rudi tapi sayang yang jadi pembahasan tidak ada hanya Nisrina yang hadir di antara mereka.


"Ya.., gue dukung...gimana bro..." tanya Mas Rudi ke Mas Dimas yang hanya senyum-senyum.


"Terserah anaknya...saja...kita cuma bisa mendukung" ucap Mas Dimas yang tidak bisa menolak sebab siapa yang tidak mengenal keluarga Mas Rudi yang baik dalam pemahaman agama, dan dari keluarga baik-baik, tapi dia juga tidak ingin anaknya tertekan untuk urusan hati.


"Mas...harus siapkan...Mas Indra biar pantas untuk jadi pendamping Nisrina yang baik" ujar Rendra yang tahu baik buruknya keduanya.


"Ok...akan gue..sampaikan ke anaknya" ucap Mas Rudi yang terlihat santai.


Di ruangan yang lain Nisrina yang sibuk menjaga adiknya bersama Ainun juga anak Mas Iqbal yang kecil berbincang.


"Eh...ada mantu, makin cantik aja mantu Mama" ucap Mba Ayu ke Nisrina yang tidak mengerti ucapan Mba Ayu.


Nisrina hanya memberikan senyuman ramahnya yang tidak ingin memberikan kesan buruk untuk keluarga Candy sebagai tantenya, walaupun ada rasa yang masih belum nyaman untuk dirinya.


"Mba...jangan masukin ke hati.." bisik Candy yang tidak ingin keponakan kesayangannya merasa tidak nyaman.


Nisrina hanya mengangguk tanda mengerti, Rahma sebagai ibundanya hanya mengusap punggungnya meyakinkan bahwa ini bukan keharusan untuk anaknya.


Waktu bergulir seirama dengan suasana hati Nisrina yang ingin cepat keluar dari situasi yang membingungkan dirinya.


Kepergian keluarga Ayah Candy dan keluarga Mas Dimas meninggalkan banyak pertanyaan yang banyak di kepala Candy.


"Can..bolehkah Nis...jadi mantuku?" pinta Mba Ayu ke Candy yang ikut merapikah ruangan sisa acara empat bulanan dirinya.


"Bolehlah...Mba..." ucap Candy yang malas berdebat dengan orang, hanya dengan Rendra dan Mas Dimas dia banyak mengeluarkan pendapatnya.


"Apaan...sih..Mba...siapkan saja dulu Mas Indra, pantas ga dia ada bersamanya dan harus ada perjuangan yang Mas Indra tunjukan agar Mba Nis..yakin ada bersamanya " Rendra menjelaskan ke Mba Ayu dengan ucapan yang di mengerti Mba Ayu.


"Ok...Mba akan sampaikan...ke Mas Indra " dengan semangat Mba Ayu berucap.


Candy yang hanya jadi pendengar tapi tidak dengan hati dan isi kepalanya "Seserius itukah Mas Indra ke Mba Nis..yang belum di kenalnya" dalam benaknya Candy bertanya.


"Ko...bengong sih...non.." ucap salah satu assisten Mama Rendra ke Candy.

__ADS_1


"Bisa..aja..bu...lagi mikir aja besok masak apa yang bikin Mas..doyan makan" ujar Candy beralasan ke asisten Mama Rendra.


"Iya..ya..non..berapa bulan, den Rendra..susah menikmati makannya" ujar asisten Mama Rendra yang ikut memperhatikan keadaan Rendra.


Begitulah kondisi Rendra bila Candy mengandung dia yang akan merasakan mabuknya, tapi Rendra yang bucin tingkat dewa tanpa mengelu dia nikmati tiap momennya dengan suka cita demi orang tercintanya dalam keadaan baik-baik saja itu sudah membuatnya senang tidak kepalang.


Saat ini Candy yang sudah bersiap tidur merasakan tidak nyaman di posisi tidurnya yang membuatnya beberapa kali merubah posisinya, Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat Candy yang bergumam seorang diri.


"Anak Papa bikin Mamanya...repot ya..." seru Rendra yang mengusap kepala Candy.


"Ga...Papa...ade...baik ko.." ucap Candy yang ga mau merepotkan Rendra.


"Coba sini Papa...usap, ade...ko belum bobo..masih belum mengantuk ya...mau dengerin cerita Papa..." seru Rendra yang duduk di lantai sedangkan Candy di ujung tempat tidur dan tangannya mengusap lembut perut Candy.


Rendra mulai bercerita seperti mendongeng kepada anak kecil yang membuat Candy tersenyum diperlakukan seperti itu.


Candy jadi teringat akan masa kecilnya yang banyak dihiasi dengan kasih sayang seorang ibu yang selalu menemani dan bercerita saat menjelang tidurnya.


"Ya...ko...jadi bengong sih..apa ceritanya kurang menarik...Honey..." ujar Rendra ke Candy yang terlihat terkejut karena suara Rendra menyadarkannya.


"Menarik Mas...cuma...Can ingat ibu..." Candy menundukkan wajahnya yang sedih.


"Honey...apa yang mengingatkan Honey dengan ibu, Mas akan penuhi..biar Honey bisa melepaskan rasa rindu itu..." ucap Rendra yang ingin istrinya senang.


"Mas...Can..hanya rindu..." ucap Candy dengan mata menatap Rendra.


"Kita kirimkan...Al Fatihah..ya Honey buat ibu..mungkin ibu juga sama rindu sama Honey.." ucap Rendra dengan memberikan senyuman yang menghangatkan Candy.


"Boleh Mas..peluk..Honey..." ucap Rendra yang sudah duduk di sisi Candy.


"Mas...kenapa Mas...begitu baik...dan mengerti Can..." tanya Candy yang merasakan dekapan Rendra yang menenangkannya.


"Karena Honey alasan Mas...bisa semangat dan bukan Mas yang baik tapi Honey yang menyempurnakan hidup Mas" seru Rendra yang membuat Candy meneteskan air mata yang sangat tidak diinginkannya.


"Jangan menangis...Mas mau Honey bahagia..bukan bersedih...cukup dulu saja Mas bersedih sebelum bertemu Honey...sekarang tidak lagi.." ucap Rendra yang menahan tangisnya karena tidak ingin melihat Candy menangis.


"Bagaimana ...kalau Mas...jauh dari Can..." tanya Candy selintas saja tanpa ingin berargumen.


"Untuk saat ini...Mas..akan berkata jujur...Mas...akan mengundurkan diri...Mas...sekarang lebih egois..sebab Honey segalanya buat Mas..." terdengar jelas di telinga Candy.


"Mas...kenapa seperti itu..." ujar Candy yang tahu siapa suami tercintanya.


"Honey...adalah segalanya bagi Mas, kalau harus terpisah lagi..seakan hilang separuh jiwa Mas, Honey...sudahlah...Honey...Mas ga mau jauh.." ucap Rendra makin mendekap Candy.


"Bagaimana...kalau...Can...harus pergi lebih dulu...seperti ibu meninggalkan ayah" tanya Candy lagi, Rendra yang mendengar langsung menangkup wajah Candy dengan air mata Rendra yang sudah meluncur bebas silih berganti.


"Honey...tega..tinggalkan Mas...lagi...kenapa tidak bersama saja kita pergi...Honey, apa Honey..tidak kasihan melihat Mas yang akan terus memandang dan mengenang semua kenangan yang manis kita lalui bersama..."dalam isak Rendra masih bisa berkata hanya Candy yang terdiam entah apa yang dalam hatinya.


"Biarlah..kita menua bersama Honey hingga anak-anak kita meraih semua mimpinya di masa depan.." ujar Rendra lagi yang menerawang masa depan.


"Can..akan jelek kalau sampai tua..Mas.." ucap Candy menghibur Rendra.

__ADS_1


"Mas...ga..memandang Honey dari fisik tapi, ketulusan Honey menerima Mas..itu buat Mas segalanya" Rendra memandang mata indah Candy dengan sangat intens.


"Sebegitu istimewanya...Can...di mata Mas...?" tanya Candy ke Rendra yang matanya masih memerah.


"Sangat istimewa dan semangat...Mas" dengan serius Rendra berucap dan mencium kedua mata Candy.


"Ade...tahu ga...lihat..Papa jadi cengeng..." ujar Candy dengan mengusap lembut perutnya.


"Mama...sih yang menggoda Papa..de.." seru Rendra yang tertawa kecil di goda Candy.


"Ayo...Mas...antar ke kamar mandi..kita cuci muka dulu..sebelum bobo" ucap Rendra menggandeng tangan Candy.


"Mas...aduh...susah"ucap Candy saat melepaskan sandal lantainya saat akan masuk ke kamar mandi, karena kesempitan.


"Nanti Mas..beliin yang baru.."ujar Rendra yang melepaskan sandal dengan berjongkok di depan Candy.


"Can...tambah gendut ya..Mas.." ucap Candy yang apa adanya.


"Ga..tambah cantik..ko...Mas..tambah sayang ko..." ujar Rendra yang mencubit pelan pipi Candy.


"Bilang ya...gitu.." Candy pura-pura marah ke Rendra yang masih berdiri disampingnya.


"Siapa yang bilang...gitu..Mas malah senang Honey...seperti ini...seksi.." ucap Rendra berbisik ke telinga Candy.


"Ih...Mas..." Candy mencubit pinggang Rendra dan tanpa disadari Candy, Rendra mengalami rasa mual yang datangnya tiba-tiba.


Rendra menundukkan wajahnya di wastafel dan mengeluarkan semua isi perutnya, Candy yang berdiri di sampingnya mengusap leher Rendra dan punggungnya.


"Honey...tinggalkan Mas...Honey keluar saja biar Mas bersihkan sendiri.." ucap Rendra yang tidak ingin Candy kerepotan karenanya.


"Mas...biar..Can..bantu..." ujar Candy dengan sayang mengusap leher Rendra.


Rendra sudah lebih baik dan saat keluar dari kamar mandi keduanya tersenyum, entah apa yang membuatnya ingin saling melemparkan senyuman.


"Apa..." tanya Candy ke Rendra.


"Apanya.."balas Rendra yang tidak kalah ke Candy yang makin tersenyum.


"Ga..." ucap Candy ke Rendra yang masih tersenyum penasaran.


"Mas...bucin..ya..." ujar Rendra ke Candy yang hanya tersenyum lebih lebar.


"Ga..tahu..Can..ga ngerti..." ucap Candy yang memang tidak mengerti.


Dan seperti biasa hanya aroma tubuh Candy sebagai penawar rasa mual itu, Rendra seperti kucing yang mengendus menempel di salah satu tangan Candy yang tidak mau menjauh hingga rasa mual itu reda.


Rendra sang penakluk lawan hanya bisa takluk dengan aroma tubuh istri tercintanya membuat Candy tersenyum memandang tubuh gagah dan tatapan mata tajam saat menghadang lawan, tapi tidak saat berada di sisinya seperti kulit tanpa kerangka tidak berdaya lemah lunglai.


★★ Note ★★


Mohon maaf baru meneruskan penulisan episodenya, mohon masukkannya biar tidak kehabisan ide guna memudahkan penulisan.

__ADS_1


Ucapan terimakasih buat dukungan dan yang selalu membaca dan memberikan masukkan sebagai semangat.


__ADS_2