Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
165


__ADS_3

"Semua orang berhak jatuh cinta, cinta itu juga dapat tubuh kapan saja dan juga dimana saja tanpa terbendung " Rendra.


Sinar mentari begitu cerah seceria perayaan ulang tahun kedinasan Rendra yang diisi dengan beberapa kegiatan baik untuk kalangan umum maupun kalangan kedinasan.


Bazar murah diadakan bukan hanya utuk untuk kalangan dinas saja juga untuk masyarakat sekitar tempat dinas yang diadakan oleh ibu-ibu persit yang dibantu putra putri mereka yang ikut dilibatkan begitu juga dengan Candy dan Ainun yang dimintai tolong oleh Rendra dengan suka cita memenuhi keinginan orang tercintanya, bazar diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun kedinasan.


Candy yang terlihat anggun mengunakan seragam persit membantu melayani masyarakat yang membeli sembako murah di bazar yang dia sediakan, Ainun yang juga kebetulan libur mengunakan gamis polos warna peach ditambah kerudung bermotif bunga dengan warna yang sama dengan gamisnya terlihat makin cantik.


Rendra yang dari jauh memperhatikan keduanya yang selalu tersenyum ramah pada pembeli atau sekedar bertanya dengan sopan menjelaskan apa saja yang tersedia di bazarnya saat ini.


"Hai..dek..libur.." sapa Ifat (anak dari Ifan) yang sangat dekat dengan Ainun seperti kakak buat Ainun sebab usia keduanya tidak berbeda jauh.


"Oh..iya..mas..gimana kabar.." balas Ainun yang senang sudah lama tidak bertemu dengan Ifat yang sudah mau wisuda.


"Alhamdulillah..baik..mas dengar sudah mulai praktek di rumah sakit." Ifat dengan tersenyum bertanya.


"Ya..gitu..deh.." Ainun singkat menjawab tidak menjelaskan.


Keakraban keduanya ternyata diperhatikan oleh seseorang yang menurutnya pernah melihat gadis itu di pernikahan Indra, menurutnya gadis yang bersama Ifat itu berbeda dengan gadis yang selama ini mengharapkan dirinya, dia memberanikan diri mendekat.


Sapaan seseorang menghentikan bincang santai keduanya yang jelas Ainun tidak mengenal orang yang menyapa Ifat.


"Hai..bro ikut..sibuk..nih.." tanya Rafiq dengan salam gaya lakinya.


"Ga..mas..hanya membantu.." balas Ifat dengan ramah, jelas Ifat kenal Rafiq dia satu lingkungan rumah dinas walaupun Ifat tidak dinas hanya ikut ayahnya Ifan yang masih berdinas.


"Ga..mau loe..kenalin ke gue.." ujar Rafiq dengan menyenggol tangan Ifat.


"Oh...maaf..dek..kenalkan.." Ifat sebenarnya tidak enak pada Ainun yang jarang sekali mau berkenalan dengan orang baru dia sendiri mengenalnya karena teman kecil juga kedua orang tua mereka kenal dekat.


"Rafiq..." dengan senyum termanisnya Rafiq tunjukkan.


"Ainun.." Ainun tersenyum dengan sedikit dipaksakan.


"Oh..iya..maaf..mas kami tinggal dulu.." ujar Ifat dengan sopan yang sibuk membantu melayani pembeli yang meramaikan bazar.


"Oh...iya..ya..silakan.." Rafiq terlihat senang melihat Ainun dan Ifat yang meninggalkan dirinya.


Setelah sedikit menjauh dari Rafiq, Ifat meminta maaf pada Ainun karena memperkenalkan Rafiq padanya tanpa meminta persetujuan Ainun yang membuat Ainun pasti tidak nyaman.


"Maafin..mas..dek..habis mas bingung maafin mas..ya.." Ifat memohon dengan membujuk Ainun.


"Pokoknya Ai..marah sama mas.." Ainun masih ngambek pada Ifat.


"Sebagai permintaan maaf mas traktir apapun yang ade..mau.." Ifat merayu Ainun agar tidak marah padanya.


"Bener..nih..mas mau beliin Ai..ice cream yang rasa coklat..boleh.." ucap Ainun dengan senang.


"Boleh..lah bila perlu sama gerobaknya tapi jangan sama abangnya mas nanti repot..abangnya makannya banyak.." Ifat ingin Ainun senang.

__ADS_1


"Mas bisa aja..ayo.." Ainun menarik tangan Ifat menuju stand ice cream.


"Mas..boleh..dua.." pinta Ainun dengan menunjukkan dua jarinya.


"Boleh..apa sih buat ade yang ga boleh..." goda Ifat dengan merangkul bahu Ainun yang membuat sepasang mata sedikit kesal melihat kedekatan keduanya.


Dengan duduk santai Ainun menikmati ice cream yang ditemani Ifat yang juga sama menikmati ice cream, sesekali Ainun menjailin Ifat dengan menempelkan ice cream di ujung hidung Ifat yang hanya dibalas senyuman oleh Ifat.


"Sedekat apa sih..dia dengan Ifat.." Rafiq penasaran melihat keduanya seperti dekat sekali.


"Hai..bro..serius amat..liat apa sih.." salah satu kawan dinas Rafiq bertanya.


"Bro loe..tahu siapa yang disamping Ifat.." tanya Rafiq pada teman dinasnya yang sudah lebih dulu dinas di tempatnya sekarang berdinas.


"Oh..dek Ainun..dia anak Letnan mayor Rendra..pantas dekat dengan Ifat dia teman kecilnya dan orang tua mereka juga sangat dekat..ada apa..gitu..bro " teman dinasnya seperti ikut penasaran.


"Ga cuma tanya aja..cantik ya..dia" ucapnya yang membuat temannya tertawa.


"Lah...iya namanya juga cewek..kalau cowok yang pasti ganteng lah..loe aneh.." dengan tawanya teman Rafiq meninggalkannya.


Semakin siang semakin banyak acara yang disuguhkan termasuk lomba-lomba, seperti saat ini Ainun begitu semangat menyemangati ajudan papanya yang saat ini mengikuti lomba balap karung.


"Ayo..om...dikit lagi..ayo..om.." teriak Ainun penuh semangat sehingga membuat Ifat menutup telinganya.


"Dek ...jangan terlalu semangat.." pinta Ifat tapi tidak dihiraukan oleh Ainun.


"Dek..senang boleh aja tapi ga sampai gini juga.." protes Ifat pada Ainun.


Kini giliran Ifat ikut lomba kelereng pakai sedok seperti halnya mendukung ajudan papanya Ainun begitu bersemangat sehingga seseorang yang baru dikenalnya berdiri disampingnya tidak dihiraukannya, hanya keterkejutan Ainun pada orang baru dikenalnya itu.


"Semangat banget.." ujar Rafiq yang berdiri di sampingnya Ainun, hanya senyum yang datar yang Ainun tunjukkan.


"Hai..mba..baru lihat..lagi sibuk ya.." tanya anak Farel pada Ainun sepertinya dia takut Ainun menyukai Rafiq.


"Hai..juga dek..ga cuma mau ketemu siapa ya..mas Ifat juga sibuk.." balas Ainun yang masih melihat Ifat berjalan membawa kelereng.


"Ayo..mas...ayo..ayo.." teriak Ainun lagi tidak memperdulikan kedua orang di dekatnya.


"Ya..mas..Ifat.." Ainun berlari kecil menghampiri Ifat, entah apa yang Ainun ucapkan dari mulutnya melihat Ifat tidak berhasil dalam lombanya, berbeda dengan Rafiq yang melihat kepergian Ainun.


"Senangnya yang jadi orang terdekatnya" gumam Rafiq yang membuat anaknya Farel bertanya "ngomong apa ya..mas.." tanyanya yang hanya gelengan kepala yang Rafiq tunjukkan.


"Maaf..saya tinggal dulu..ya.." ucap Rafiq meninggalkan anak Farel yang sepertinya kecewa.


Ainun yang memang dekat dengan Ifat hampir seperti adik buat Ifat tanpa sungkan keduanya saling jail seperti saat ini keduanya asyik menikmati makanan dari coklat, ujung jari telunjuk Ainun menyentuh coklat dan dengan jail Ainun menempelkannya pada pipi Ifat dan Ifat membalasnya hingga keduanya terlihat sangat lucu dengan sisa coklat di pipi masing-masing memberikan kesan terlihat kedua pacaran padahal tidak termasuk Rafiq yang baru melihatnya karena begitu dekat.


"Aduh..kalau sudah ketemu.." seru Ifan pada anaknya dan Ainun yang hanya tersenyum dan masih tertawa dengan ulah kejailan keduanya.


"Mas..Ifat om.." protes Ainun tapi diiringi tawanya.

__ADS_1


"Bukannya ade..duluan.." balas Ifat masih juga dengan tawanya.


"Cantik..sibuk ya..ko jarang main ke rumah.." tanya Ifan pada Ainun yang sudah mulai menghapus coklat dari pipinya.


"Iya..om..ini juga papa yang minta Ai..ga libur ko.." jawab Ainun dengan mengelap pipinya.


"Sibuk..apa..sibuk.." goda Ifat dengan pura-pura mencolek pipi Ainun dengan coklat.


"Mas..Ai..nanti jadi tambah manis.." ujar Ainun yang membuat Ifat tertawa keras.


"Pede..amat..siapa yang bila ade..manis.." ucap Ifat dengan mengacak kepala Ainun yang tertutup hijab.


"Saya...memang Ainun manis.." ucap Rafiq datang tiba-tiba tanpa menimbulkan suara.


Yang membuat Ifan dan Ifat saling memandang tapi tidak dengan Ainun yang terlihat tidak suka dipuji oleh orang baru dikenalnya.


"Om..mas..Ai..ke tempat mama dulu..ya..dah.." dengan sedikit berlari kecil Ainun menjauh dari mereka.


"Kenapa..ya..dengan Ainun.." tanya Rafiq ingin tahu.


"Maaf..ya..mas Ainun memang seperti itu dia tidak begitu nyaman bila dengan orang baru.." Ifan menjelaskan sebab Ainun sudah seperti anak buatnya.


"Iya..mas..dia sebenarnya sangat baik anaknya.. cuma sangat tertutup.." Ifat menjelaskan dia tidak ingin Ainun mendapatkan penilaian sepihak tanpa mengenal siapa dirinya.


"Saya...kira dia tidak suka dengan saya.." ucap Rafiq dengan tersenyum.


"Tidak mas..dia memang seperti itu, mas belum kenal aja..asyik ko anaknya.." ucap Ifat yang sudah ditinggalkan ayahnya.


"Ya..saya lihat dia nyaman dengan kamu.." Rafiq tanpa malu menjelaskan.


"Oh...jadi dari tadi mas memperhatikan kami..mas..mas kenapa ga gabung aja..Ainun pasti senang.." balas Ifat yang sebenarnya asal ngomong sebab bingung takut Ainun dicap yang tidak-tidak, sebab kedekatannya suka di nilai berlebihan oleh orang yang belum mengenal keduanya.


"Oh...gitu..ya lain kali deh.." balas Rafiq yang berpamitan meninggalkan Ifat yang belum mengerti dengan situasi yang ada.


Ainun sendiri tidak begitu suka dengan kehadiran Rafiq yang terlihat ingin mendekatinya belum lagi mata anak dari Farel yang sepertinya tajam tidak menyukai Ainun dan ini tidak biasa buat Ainun.


"Ma..kapan selesainya sih..Ai..cape.." pinta Ainun dengan sedikit merengek, ini tidak seperti biasanya menurut mamanya sebab Ainun paling suka bila di ajak ke rumah dinas banyak alasan dia ingin ke rumah dinas bukan hanya ketemu Ifat tapi juga menggoda ajudan papanya yang sudah seperti om buat dirinya.


"Cape..ya..kita tanya papa dulu..ya.." suara lembut mamanya menenangkan hati Ainun yang memeluk satu tangan Candy.


"Oh..pantas anaknya cantik..mama juga cantik.." gumam Rafiq dari kejauhan.


Rendra yang kebetulan juga ada keperluan lain mohon ijin untuk pulang lebih awal, dalam mobil Rendra merasa ada yang tidak nyaman pada anak gadisnya.


"Kesayangan papa..kenapa sayang.." tanya Rendra tanpa melihat langsung wajah Ainun.


"Ga..pa cuma cape.." Ainun menutupi rasa nyaman yang dia rasakan.


Ainun merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rafiq yang sepertinya mencari perhatian padanya, berbeda bila bersama dengan Andika ada rasa yang nyaman apakah sosok Andika lebih awal Ainun kenal pikirnya dan perkenalam keduanya dalam proses yang wajar tanpa ada ikut campur tangan orang lain, sedangkan Rafiq hadir dengan sosok lain ikut serta seperti mengawasi dirinya dan seseorang itu yang siap menerkam Ainun lebih disebut perebut bila ada di dekat Rafiq, hal ini membuat Ainun merasa tidak bagitu nyaman ada di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2