
"Guru terbaik dalam hidup adalah pengalaman yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan jadi belajarlah dari pengalaman itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi" Rendra.
Rendra sudah merapikan meja kerjanya sebelum kepulangannya, sebab saat ini sudah lewat jam pulang kerjanya.
"Sore...Kapt...kapan mau di tempati rumah dinas" ajudan Rendra masuk untuk merapikan ruang kerja Rendra seperti biasanya.
"Sore...entahlah...saat ini aku ga bisa memastikan kapan waktunya" balas Rendra menjawab pertanyaan ajudannya.
"Memang kenapa Kapt..." ajudan Rendra masih penasaran dengan jawaban Rendra yang masih menggantung menurutnya.
"Honey...lagi sibuk sidang kasihan gadis kecilku harus ada yang menjaganya" ucap Rendra menjelaskan ke ajudannya, yang sekarang sudah mulai paham dan hanya memberikan anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kenapa kau tanyakan itu" tanya Rendra yang sekarang penasaran ke ajudannya.
"Ga...ada apa-apa Kapt, hanya saja biar aku rapikan terlebih dahulu" ujarnya menjelaskan maksudnya.
"Oh...begitu, bukannya setiap hari kau rapikan dan bersihkan" Rendra meminta penjelasan ke ajudannya.
"Itu...mah sudah jelas Kapt, maksud ku akan disiapkan apa lagi keperluan baby gitu" ajudan Rendra dengan sedikit gugup menjawabnya.
"Untuk yang itu nanti aku tanya Honey dulu, biar dia yang tentukan apa maunya" Rendra dengan senyumnya menunjukkan gigi rapihnya.
Sebelum berpamitan Rendra, tangannya mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah muda dari dalam saku celananya.
"Ini buat beli keperluan mu" Rendra menyerahkan lembaran uang itu ke ajudannya.
"Tidak usah...Kapt " tangan ajudan Rendra menolaknya yang merasa malu sering kali Rendra memberikan uang untuk dirinya.
"Kamu pasti memerlukannya kalau tidak simpan pasti suatu saat kamu memerlukannya" Rendra dengan tangan yang satunya menepuk pundak ajudannya.
"Terimakasih...Kapt...aku selalu merepotkan" ajudan Rendra menundukkan wajahnya.
"Sama-sama aku yang selalu meminta bantuanmu terus" ucapnya tanpa sungkan ke ajudannya.
"Kewajibanku Kapt..." ajudan Rendra dengan penuh hormat di hadapan Rendra berdiri tegap.
Rendra pun berpamitan untuk pulang, namun di halaman kantor kedinasan Rendra bertemu komandannya yang menyapahnya dan ada perbincangan yang cukup serius.
"Sore..Dan..." Rendra dengan tangan memberikan hormat dan di balas oleh komandannya.
"Dra...ada niat mengambil beasiswa lagi ga" tanya komandan ke Rendra yang membuat Rendra cukup terkejut.
"Maaf...Dan...ga...salah di berikan ke aku" ucap Rendra yang sudah terlihat santai menjawab ucapan komandannya.
"Ga...lah kamu yang cocok untuk studi ini" ujar komandan Rendra dengan menepuk pundak Rendra.
__ADS_1
"Maaf...Dan boleh tahu kapan waktunya?" tanya Rendra ke Komandannya serius.
"Masih belum pasti yang jelas masih tahun ini"ucap Komandan ke Rendra dengan serius.
"Siap...Dan...akan aku mempersiapkan diri" ucap Rendra dengan menunjukkan sikap siapnya.
Akhirnya pembicaraan pun berakhir dan langkah kaki Rendra menuju tempat mobilnya terparkir, tapi sekali lagi Rendra terpaksa membatalkan niatnya untuk segera menemui orang tercintanya.
"Buru-buru amat sih...bro" ucap Panji yang seakan menghalangi Rendra untuk pulang.
"Ga...cuma aku rindu...sama yang tersayang aja" Rendra berucap dengan sedikit senyumannya dan tangan membatalkan membuka pintu mobilnya.
"Iya...gue...tahu tapi emang ga bisa santai dulu sebentar " ujar Panji yang masih berdiri di dekat Rendra.
"Ga...gitu...kasihan Honey...saat ini dia harus banyak belajar untuk keperluan sidang" Rendra berkata menjelaskan memberikan alasannya.
"Oh...macam tuh..." canda Panji ke Rendra yang hanya berdiri memandang.
"Betul, betul, betul..."balas Rendra dengan tawanya ke Panji yang ikut senyum-senyum.
"Gimana...bang kabarnya si cantik" tanya Alfa nonggol tiba-tiba dari belakang mobil Rendra.
"Alhamdulillah baik dan sehat...menyusunya kuat banget hampir setiap satu jam dia lapar" ucap Rendra menjelaskan ke Alfa yang bertanya.
"Hebat...dong bisa cepat besar..." ujar Alfa dengan senyumnya.
"Apaan...sih bro...ada bocil ngomong yang aneh-aneh aja" ucap Rendra dengan sedikit memanyunkan mulutnya tanda tidak suka.
"Oh...ternyata Papanya juga ga mau ngalah ya..."Farel dengan suara kerasnya mendekat ke kawan satu timnya.
"Gawat...ini mah...awas loh anak loe kurang gizi" Ifan dengan tawanya berucap mengoda Rendra yang masih manyun.
"Amit-amit anakku kurang gizi, aku masih kuat cari duit buat cukupin gizi anak istri mah tampa minta ke orang tua" Rendra berucap terdengar tegas dan serius.
"Becanda...bro..." tepukan tangan Ifan di pundak Rendra.
"Kapt...benerkan ga habisin jatah si cantik" Alfa yang baru nyambung bikin yang lain tertawa geli.
"Aku ga ngabisin tapi berhenti dulu sampai batas waktunya tiba" ujar Rendra membalas candaan semua kawan satu timnya.
"Kapt...tega deh...bukanya banyak susu yang di jual dipasaran " ucap polos Alfa lagi yang bikin Panji mengacak kepala Alfa ngemas.
"Bocil yang di jual di pasaran itu...cepat kadaluarsanya malah sudah terkontaminasi virus dan bakteri" ucap Farel juga ngemas ke Alfa yang makin kocak saja.
"Kenapa ga langsung dari sapinya aja Kapt" Alfa masih bikin ketawa yang lain karena ucapannya.
__ADS_1
"Ya...itu sapinya lagi di karantina bocil di kandangin dulu" ujar Ifan makin dibikin ngemas aja sama Alfa.
"Bukannya sapi itu banyak... di ternakan Kapt apa yang bedain" ucap Alfa lagi dengan muka polosnya.
"Hai...bocil denger baik-baik sapi yang satu ini, sapi istimewa" ucapnya Farel dengan menatap muka Alfa agar sedikit paham.
"Enak aja biniku disamain sama sapi...tega ya.."Rendra dengan menggelengkan kepalanya.
"Maaf...Kapt jadi ini, yang lagi di bahas...maaf Kapt aku ga nyambung" ucap Alfa dengan tangan menangkup tanda maaf ke Rendra.
"Telat...kemana aja loe...dari tadi" ucap Panji ke Alfa yang merasa bersalah.
"Udah-udah jelas aku tahu kalian hanya ingin menghalangiku agar tidak pulang cepatkan" Rendra dengan senyumnya seakan tahu kawan-kawannya rindu kehadirannya untuk bercanda seperti dulu lagi.
"Tapi...sudah puas...puaskan bikin aku naik darah" ujar Rendra dengan tawanya menundukkan kepalanya.
"Tahu...aja nih...gimana musuh ga bertekuk lutut "Ifan dengan tangannya menepuk pundak Rendra.
"Kirain bakal marah...hu...gue...udah mau ngompol rasanya" Alfa bicara dengan muka polosnya.
"Pasti ini dalangnya...yang mau jadi pengantin" Rendra meninju tangan Panji pelan dan Panji hanya tertawa merasa bersalah.
"Susah ini orang terlalu peka..."Panji makin dibikin takjud ke Rendra yang makin matang dalam segala hal.
"Yang jelas satu kata...Hebat.." Alfa menepuk tangan Rendra tanda mengagumi.
"No..no...kalian yang hebat" ucap Rendra penuh penekanan ke kawan satu timnya.
"Kenapa sih bro tidak pernah mau dinaikin ke langit "ucap Farel dengan tersenyum penuh arti ke Rendra.
"Aku ga berdiri sendirian ada kalian yang memberikan dukungan sepenuh jiwa ada di dekatku" Rendra merangkul semua kawan satu timnya.
"Gue...jadi pengen nangis..." ujar Alfa yang merasa haru biru diperlakukan istimewa oleh Rendra khususnya.
"Nangis aja selama masih bisa..."Panji dengan spontan menyuruh Alfa menangis.
"Emang ada nangis harus di suruh dulu" ucap Ifan seperti orang lagi bingung.
"Adalah..kalau lagi main terus di ledekin pasti kawan-kawannya bilang awas mau nangis, nangis nih...gitu"Panji mengatakan dengan meberikan penjelasan.
"Jangan-jangan loe yang jadi bahan bullyannya...bener...kan" ucap Farel dengan menunjuk ke Panji dan hanya tersenyum datar Panji berikan ke Farel.
"Ga...menyakinkan banget badan gede jadi korban bullyan" ucap Ifan ke Panji yang masih tersenyum datar.
"Jangan salah...mereka itu beraninya keroyokan ga gentle banget" ucap Rendra yang merasakan pernah jadi korban bullyan itu.
__ADS_1
"Benar itu...gue satu pemahaman sama loe" ucap Panji yang masih merasa enggan bercerita apa alasannya.
Jadi korban bully akan meninggalkan kesan yang dalam buat yang pernah menerima pengalaman pahit itu, malah berkesan menjadi trauma buatnya, ingin melupakannya apa daya pasti ada yang tertinggal di benak paling dalam untuknya.