
"Sahabat sejati akan selalu memberikan kebaikan dan akan selalu ada di saat kita terjatuh, mudah-mudahan di pertemukan di di surganya Allah" Rendra.
Senyuman manis itu selalu menjadi obat keresahan hati seseorang yang merasa kesal sendiri yang sudah lama hilir mudik di depan kantor Rendra dengan muka masamnya karena kesal.
"Kemana aja sih..." ucapnya dengan muka hampir tidak enak di lihat oleh Rendra.
"Habis mengantar bidadari surgaku...lah" Rendra membalas ucapan Farel dengan santai walaupun tahu Farel lagi kesal.
"Bro...tolong gue apa..." ujarnya menundukkan kepalanya yang seakan ada beban.
"Tumben jagoan...jadi cengeng" goda Rendra dengan menepuk bangku yang kosong agar Farel duduk di sebelahnya.
"Bro...serius...bantu gue..."ucap Farel lagi dengan menyandarkan kepalanya di bahu Rendra tanpa malu.
"Serius...nih...apa, coba ceritakan dulu masalah mu" ucap Rendra serius dengan rasa penasaran yang sangat ingin di diketahuinya.
"Bro..ada cewe minta pertanggung jawaban ke gue..gimana dong.." ucap Farel dengan menundukan kepalanya di akhir ucapannya karena menurutnya masalah ini beban terberatnya.
"Tenang...bro pasti ada jalan keluarnya" ujar Rendra dengan muka seperti sedang berpikir untuk mencari jalan keluarnya.
"Kapan kau kenal dengannya terus apa saja yang sudah kamu lakukan bersamanya" Rendra bertanya tanpa jedah ke Farel dengan seriusnya.
"Gue...juga bingung...ko bisa gini sih...mati gue" ujar Farel menjelaskan ke Rendra dengan tangan mengusap mukanya seakan kesal sendiri.
"Coba...kamu ingat-ingat semua kejadian yang sebenarnya biar kita cari jalan keluarnya...kalaupun harus kamu yang nanti harus bertanggung jawab" ujar Rendra tidak serius berucap agar ada efek jera di diri Farel.
"Jangan lah...bro...bukan tipe gue...emang gue ga boleh mencari yang lebih baik lagi apa... walaupun gue badung boleh dong gue mendapatkan istri yang baik untuk ibu anak-anakku yang terbaik gue meminta" ujarnya seakan ga merasa bersalah Farel berucap dengan pedenya.
"Hebat...ya...kamu sudah tahu punya masalah...orang lain suruh mikir jalan keluarnya tapi disisi lain kamu masih punya ego yang digedein" Rendra sedikit diremehkan dalam masalah ini.
__ADS_1
"Ok...gue...salah..bro, gini ceritanya...saat malam itu seperti biasa gue nongkrong di kafe biasa cuma buat ngopi doang, saat itu gue duduk sendiri nah...ada cewe yang nyamperin ke bangku gue dan dia minta ijin duduk di tempat gue jadi ngobrol dan berlanjut sampe jalan bareng beberapa minggu deh...gitu hingga suatu hari ketemu dia lagi habis minum bareng temannya ketemu di kafe lagi tapi dia sudah minum di mana ga tahu yang jelas dia sudah bau alkohol gitu, dari pada dia bikin malu ngoceh-ngoceh ga jelas gue bawa ke rumah dinas ga mungkin, akhirnya gue bawa ke hotel tapi jujur gue ga ngapa-ngapai tuh...cewe cuma gue tunggui sampe dia sadar tapi ga tahunya gue ketiduran disampingnya tampa tahu kalau dia sudah sadar dan dia memanfaatkan momen itu untuk mengambil foto dan merekam gue disampingnya yang seperti orang yang habis tidur bareng dengannya dan momen itu dia jadikan bukti yang memberatkan gue untuk mempertanggung jawabkan bayi yang di kandungnya, dengan cara ini dia mengancam gue dan akan menyebar luaskan bukti itu " Farel menjelaskan dengan detail ke Rendra tanpa disadari Farel kawan satu timnya sudah ada di dekatnya semua mendengar dengan seksama dan ikut prihatin.
"Aduh...tacian...udah ga ngapa-ngapain malah disuruh tanggungjawab "ucap Panji mengacak kepala Farel kasar.
"Kaya gini aja repot amat...sih minta tolong aja sama Mba Candy pasti langsung beres" ucap Alfa yang berucap santai tanpa senyum.
"Hebat...bocil tambah gede aja nih..."ujar Rendra mengusap pundak Alfa dengan senyumnya penuh arti.
"Sama Mba Can...di cek pasti tahu bener hamil apa ga kalaupun hamil bisa tahu berapa minggu dia hamil"ucap Ifan yang lebih tahu soal kehamilan sebab sudah punya satu jagoan yang lagi lucu-lucunya.
"Akhirnya buaya masuk perangkap...biar kapok dia" Panji dengan jail meledek Farel yang memanyunkan bibirnya ga terima di jailin Panji.
"Makanya jangan makan nangka sama getahnya itu...lah yang di dapat" ucap Rendra dengan candaan ke Farel yang masih galau.
"Ups...salah ya...ga makan ya nangkanya tapi kena getahnya..."ucap Rendra lagi dengan tawa kecilnya takut Farel sewot.
"Kena...batunya...kan akhirnya" ucap Panji lagi yang makin bikin Farel tersudut.
"Tenang...yang jelas pastikan kapan dia minta kamu pertanggungjawaban dari situ kamu bisa ambil kesempatan untuk membawanya ketemu sama Honey dan soal foto dan vidio itu urusan ajudan aku ada yang pinter soal gituan...pokoknya pastikan kamu tenang jangan ambil tindakan sendiri.." Rendra dengan tangan tanda larangan untuk Farel.
"Tapi...kasihan juga tuh cewe kalau bener hamil terus bukan anak loe bang...siapa yang tanggungjawab ya..." ucap Alfa yang serius dengan polosnya mikirin cewe itu.
"Iya...ya...nasib jadi cewe ko jadi gini amat ya...kasian..." ujar Panji merasa iba ke cewe itu dengan nasibnya.
"Eeee...jangan tebak-tebakan dulu kalau ga hamil terus cuma buat merusak reputasi gue... atau mau memeras gimana" ujar Farel yang berasa yakin dia bener.
"Yang gue...yakin bang...cewe ini mungkin punya dendam ke loe kali bang..." ucap Alfa menepuk pundak Farel agar menyadari kekhilafannya.
"Bener juga...cil...ucapan loe, coba diingat-ingat" ujar Ifan dengan menepuk tangan Farel.
__ADS_1
"Loe...sih suka bikin anak orang sakit hati terus ini lah akibatnya...kapok ya..." ucap Panji yang ga suka mempermainkan perasaan anak orang.
"Iya..gue salah...tapi bener deh gue baru kenal sama ini anak" ucap Ferel menyakinkan kawan satu timnya.
"Bisa jadi dia hanya jadi boneka orang lain..." ucap Rendra dengan gaya seperti orang berpikir.
"Mungkin salah satu korban loe kali bang...terus dia yang dijadikan bonekanya" ujar Alfa makin memperjelas.
"Bisa jadi...benar itu caranya dia balas dendamnya" Rendra berucap dengan mata meminta kejelasan dari Farel.
"Kalaupun iya siapa ya...gue jadi makin penasaran " ucap Farel mengingat-ingat siapa saja yang pernah disakitinya karena harapan palsunya.
"Makanya jangan suka tebar pesona...baru cakep segitu aja udah kelewat pede loe...malah bikin senjata makan tuan...emang enak" Ifan dengan gaya menirukan model yang jalan di cat work.
"Iya...iya...gue salah..." Farel merendahkan dirinya karena rasa bersalahnya.
"Gue...baru tahu bener...bang liat loe cemen kayak gini biasanya PeDenya ga ketulungan ga ada tanding" ucap Alfa dengan polosnya berucap ke Farel.
Spontan membuat yang lain ketawa ngakak yang ga bisa di hentikan melihat Farel mati gaya plus muka mateng kaya kepiting rebus di skak langsung sama Alfa yang notabene boca kemaren sore yang ga banyak tahu soal asmara dan wanita.
"Udah tahu gue korban malah jadi bulan-bulanan...puas...puas kan"Farel dengan kontrolnya ngomong yang makin bikin kawan satu timnya terkekek-kekek geli melanjutkan tawanya.
"Makan tuh...ganteng...bikin susah iya..."ucap Panji dengan menepuk pundak Farel yang masih galau.
"Bilang aja syirik punya wajah pas-pasan" balas Farel yang terdengar menggerutu.
"Masih aja...belum nyadar...istighfar" Ifan menyadarkan Farel yang masih punya nyali pede abis.
"Ini hasil dari perbuatan mu loh...ambil hikmahnya " ucap Rendra dengan bangkit dari tempat duduknya untuk keperluan lain.
__ADS_1
Rendra hanya menggelengkan kepalanya melihat Farel belum menyadari sepenuhnya hasil perbuatannya dan hanya dalam diamnya Rendra berharap Farel menyadari ke kekhilafannya untuk jadi pribadi lebih baik lagi.