
"Guru yang baik itu waktu dan pengalaman yang menjadikan kita belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya" Rendra.
Anak muda yang sekarang jadi pembahasan di tempat kedinasan adalah Rafiq Aulian ( seorang pemimpin yang lemah lembut), itu nama yang dia sandang, saat ini dia laksana selebriti yang lagi jadi bahan pembahasan baik di kedinasan maupun lingkungan tempat tinggal dinasnya.
Dia seperti idola baru anak-anak dari seniornya yang mulai dari abg sampai yang sudah siap di pesunting untuk jadi istri ditambah juga dengan bunda-bunda mereka yang mengharapkan menjadikan dirinya menantu.
Yang paling sedikit mengejutkan salah satu dari anak Alfa dan Farel bersaing mengharapkan dirinya yang menjadi salah satu orang istimewa dihati Rafiq, hal ini membuat Alfa dan Farel tidak enak hati sebab anak-anak mereka saling mengenal dan sangat dekat hubungannya dalam dinas maupun pertemanan.
Sedikit banyak berpengaruh pada keduanya sebab anak-anak mereka berharap mengenal lebih dekat dengan Rafiq lewat bantuan ayah mereka, tapi Alfa yang apa adanya dan lebih banyak berkonsultasi baik kepada Rendra maupun Panji juga Ifan dengan bahasa yang masuk akal menjelaskan kepada putrinya yang masih berstatus pelajar menengah atas agar lebih memilih bersekolah dulu dari pada berpacaran.
Dan belum tentu juga Rafiq menyimpan rasa yang sama pada anak gadisnya, dan anak gadis Alfa mengerti walaupun sedikit kecewa tapi bagi Alfa tidak apa dari pada setelah tahu langsung dari Rafia sendiri akan lebih menyakitkan pikir Alfa seperti itu.
Berbeda dengan anak Farel yang masih saja mengharapkan Rafiq menjadi pacarnya, Farel yang sudah menjelaskan dengan berbagai macam cara termasuk mamanya dalam hal ini istri Farel juga tidak henti-henti mengingatkannya agar lebih fokus ke pendidikannya.
Menurutnya kenapa tidak berjalan beriringan saja kalau memang keduanya bisa berjalan baik pacaran maupun pendidikannya yang akan memasuki ujian nasional, hingga Farel di buat kesal dengan ulahnya.
Ada rasa tidak enak juga Farel pada Alfa yang terlihat tidak berubah dia lebih bersikap biasa saja lebih cenderung tidak ada perubahan begitu juga dengan anak dan istri Alfa masih seperti biasa tidak ada perubahan sama sekali.
Saat kumpul bersama masih seperti biasa Alfa yang polos dan apa adanya, Alfa masih jadi diri Alfa yang dulu di mata Farel, hanya dirinya yang terlihat canggung.
"Sudahlah..namanya juga anak-anak..seiring waktu akan berubah.." ujar Panji menjelaskan.
"Apa..sih..bocil..dia mah santai aja..dari dulu dia memang seperti itu.." Ifan ikut menambahkan agar semua kembali normal.
"Tapi ga enak..aja..bro, lantaran anak gue..ga..mau rusak pertemanan.." ucap Farel serius terdengar oleh Ifan dan Panji.
"Tenang..bang..gue ga seperti itu.." Alfa merangkul Farel dari belakang yang membuat Farel balas memeluk.
"Maafin..anak..gue..bro.." ucap Farel sedikit sedih sebab tidak ingin pertemanannya rusak karena hal yang konyol.
"Ga ada yang salah..namanya juga anak muda masih lebih memilih ego..dari pada logika.." balas Alfa yang membuat semua kawan satu timnya sedikit terkejut termasuk Rendra yang tersenyum senang Alfa sudah makin dewasa menurutnya.
__ADS_1
"Gue..makin sayang sama loe..bocil yang sudah bikin anak kecil.." ujar Panji menepuk pundaknya.
"Apaan..bang..bikin anak kecil.." balas Alfa dengan polosnya.
"Iya..loe..udah punya anak..kan betul..apa betul." balas Panji lagi yang makin menggoda.
"Bukannya yang bikin anak kecil bini gue..bang.." balas Alfa yang sebenarnya ingin mencairkan suasana agar tidak terlihat tegang.
"Iya..bini..loe tapi sumbernya loe.." jawab Ifan mengacak kepala Alfa yang hanya nyengir kuda.
"Kirain gue..numpang enak-enak aja.." balasnya lagi yang semakin membuat Panji gemas.
"Bocil..kalau numpang enak-enak..disini.." jawab Panji menunjukkan lobang hidung.
"Ih..abang..itu..mah buat ngupil.." dengan polosnya Alfa menjawab.
Rendra tertawa tak tertahan mendengar penjelasan dari Alfa yang sebenarnya Rendra tahu Alfa hanya mencairkan suasana agar melupakan selisih paham soal anak-anak mereka.
"Gue..tahu..puas-puasin loe ngupil" ucap Panji masih dengan gemas pada Alfa yang hebatnya dia tidak sedikit pun tersenyum seakan-akan lepas aja dari dirinya.
Saat Rendra masih melepaskan tawanya sosok yang sekarang lagi jadi idola dengan polosnya bertanya yang kebetulan lewat.
"Maaf..bapak kesakitan atau lucu ya.." tanyanya sebab Rendra memegang perutnya tapi masih dengan senyum yang terlihat dari bibirnya.
"Ada..yang lucu.." jawab Rendra yang langsung menghentikan tawanya.
"Oh..begitu..saya permisi pak.." ujarnya sopan dengan meninggalkan Rendra.
"Oh..ini yang jadi rebutan anak-anak.." dalam kesendirian Rendra berkata.
Dalam benak Rendra berpikir kenapa bisa anak-anak gadis itu menyukai orang yang sama yang bisa membuat perpecahan keduanya baik pertemanan juga persaudaraan, dengan menggelengkan kepala Rendra masuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
"Kenapa..bro.." tanya Ifan pada Rendra yang sedikit bengong.
"Ga..lucu..aja.." balas Rendra dengan kembali menempati kursinya.
"Iya..tuh bocil..ada aja tiap ucapnya yang bikin sakit perut.." balas Farel yang sudah mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
"Lah..bang gue..ga bikin sakit perut orang loh.." dengan polosnya Alfa berucap.
"Memang ga bikin..tapi tiap ucapan loe bikin pengen nyengir nih..gigi.." balas Panji ga kalah lucunya.
"Sekolah dimana sih..loe..ngelawak mulu hidup loe..kebayang bini ama anak loe.." ujar Ifan yang sudah mulai tenang.
"Di sekolah umum lah..bukan sekolah lawak..bang" balas Alfa yang santai berucap.
"Tuh..kan asal aja..tapi cara penyampaian loe yang bikin ngakak.." panji yang langsung bersambung tawanya.
"Lah..gue ngomong apa adanya dibilang ngelawak..ya..udah mendingan gue diam biar ga ada yang cegar cegir deh.." ucap Alfa yang makin bikin kawan satu timnya ngakak berjamaah.
Itulah Alfa yang apa adanya tapi tanpanya seakan sepi walaupun kesannya pelengkap tapi sangat berarti dalam tim Rendra, dengan segala mampuan yang dimilikinya dia benar-benar pelengkap bagi tim Rendra yang butuh jiwa mudanya sebab hanya Alfa yang secara usia paling muda.
Rafiq sendiri saat ini lebih memikirkan karirnya yang baru saja di mulainya, untuk asmara menurutnya akan datang diwaktu yang tepat biarlah jadi pekerjaan tuhan pikirnya.
Jiwa mudanya masih ingin menambah pengalaman dalam karirnya ditempatnya yang baru dengan dunia baru juga orang-orang yang baru tapi untuk menambah pertemanan dengan siapapun dia akan dengan tangan terbuka dia terima tapi untuk asmara saat ini tidak' dulu.
Itu pikirnya tapi tidak dengan orang diluar sana yang dipikirnya dia bujangan, penuh talenta secara wajah tidak kalah dengan artis sinetron baik yang sudah terkenal atau baru merintis yang jelas dia cocok jadi model begitu menurut orang yang mengaguminya.
Dia ingin menimbah ilmu dari senior-seniornya yang lebih banyak jam terbangnya dalam memecahkan kasus baik yang memerlukan kerja sama tim atau individu.
Sebenarnya ada rasa risih juga bila berpapasan dengan istri-istri seniornya yang mengeluk-elukkan dirinya dengan sebutan calon mantu, dalam benaknya apaan semua ini tapi apa daya senyum sopan dan ramahnya harus bisa diperlihatkan agar tidak berkesan sombong maklum saja anak baru masih bujangan pula jadi terima resiko saja.
Yang lebih parah lagi anak-anak gadis mereka yang tanpa malu ingin berkenalan langsung yang membuat Rafiq lebih aman bersembunyi di rumah dinasnya atau lebih baik keluar rumah sekalian kemana saja asal tidak jadi bulan-bulan gadis-gadis di rumah dinasnya.
__ADS_1
Memang masih batas wajar tapi tidak dengan dirinya yang lebih memilih menonton tv, ngobrol bareng kawan dinasnya atau jalan untuk menghabiskan waktu diluar dinasnya maklum anak muda masih ingin bebas.
Kapan lagi menurutnya bila kewajiban memanggil dia akan tinggalkan semua kesenangan itu dengan waktu yang tidak bisa di tentukan, curi-curi waktu pun akan sulit jadi nikmati selagi bisa itu pikirnya.