
"Saudara bukan berarti kita satu ikatan darah tapi ikatan satu keyakinan juga menguatkan hubungan kita" Candy.
Sehabis sholat subuh Rendra sudah meminta ijin ke istri tercintanya yang sudah menyiapkan keperluan yang harus di bawahnya untuk membantu persiapan pernikahan Panji yang akan berlangsung pagi ini dan menjelang siang akan di lanjutkan dengan pesta pedang pora.
"Mas...sudah Can...bawakan sarapan buat Mas tolong dimakan ya..." ucap Candy yang memasukkan semua keperluan Rendra.
"Terimakasih Honey...ya...nanti Mas makan janji" Rendra mencium pipi Candy dengan mesra.
"Sayangnya Papa..., jangan rewel ya...sama Mama dulu ya...nanti Papa jemput" Rendra mengusap lembut kepala dan mencium pipi Ainun dengan lembut, Ainun hanya menggeliat kan tubuh mungilnya yang masih tertidur pulas biasa anak balita kalau malam ngajakin begadang giliran subuh tidur pulas.
"Mas...ga usah jemput Can...biar diantar sopir Papa saja" ucap Candy dengan manja ke Rendra yang merasa tidak ingin meninggalkan istri tercintanya.
"Bener...Honey mau diantar sopir Papa" Rendra merasa tidak ingin istrinya bersama orang lain karena sedikit khawatir.
"Mas jangan Khawatir Can...nanti minta Mama temanmu Can.." Candu seperti tahu suaminya tidak yakin pergi dengan orang lain selain dirinya.
"Ok...nanti Mas yang ngomong ke Mama" ucap Rendra yang sudah menggendong tas yang akan di bawahnya.
Rendra memeluk dan mengusap lembut kepala Candy dan tanpa minta ijin Candy seperti biasa mencium bibirnya yang sontak membuat Candy tersedak karena ciuman dari Rendra, hanya senyuman yang di perlihatkan Rendra ke Candy tanpa merasa bersalah.
"Mas..." ucap Candy malu ke Rendra dengan terdengar manja.
"Ya...Honey " jari telunjuk Rendra mengelap lembut bibi Candy dengan mata masih menatap mesra Candy.
"Hati-hati di jalan ingat Can...sama Ainun masih butuh Mas" ucap Candy memeluk erat satu tangan Rendra manja.
"Ya...Honey juga jangan cape-cape minta bantuan orang rumah bila cape untuk menjaga kesayangan" Rendra seperti tahu candy jarang meminta bantuan orang rumahnya dengan alasan masih bisa belum kerepotan.
Rendra berpamitan akan keluar dari kamarnya Candy mengikutinya tapi Rendra melarangnya sebab Ainun takut terbangun dari tidurnya akan menangis bila tidak ada orang di dekatnya.
Candy hanya menurut saja permintaan suaminya tampa penolakkan, sebab Candy tahu Rendra bukan orang yang suka memerintah lebih sering permintaan menurutnya akan lebih enak seperti itu.
Langkah kaki panjang Rendra menuruni tangga, dan dikejutkan dengan suara sapaan pagi Papa dan Mamanya.
"Assalamualaikum...jagoan...ko sudah rapi sepagi ini?" tanya Mama yang menikmati ceramah pagi di tv.
"Waalaikum salam...iya Ma..bantu teman persiapan nikah" ucap Rendra mencium pipi Mamanya.
"Oh...ya..Ma bisa Rendra minta bantuan Mama" ucap Rendra masih berdiri di sebelah Mamanya.
"Ya...apa sih yang buat Dra, masih bisa sarapan dulu sayang" ujar Mama menepuk tangan Rendra yang masih di dekat Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Takut dra...ga sempet jemput Honey, bisa kan Ma..teman Honey dan Ainun hadir di pernikahan Panji diantar sopir yang pastinya" Rendra meminta ke Mamanya dengan sopan dan memberikan senyum manisnya.
"Ma...terimakasih, soal sarapan Honey sudah siapkan di sini" ujar Rendra dengan menunjukan tas yang dibawahnya.
"Dra...pamit pergi dulu...Assalamualaikum, Ma...Pa" tangan Rendra mencium tangan Mama Papanya.
Seiring kepergian Rendra Mama Papanya mengagumi pribadi menantunya siapa lagi kalau bukan Candy.
"Beruntung ya...Pa...Rendra memiliki istri Candy, selalu memperhatikan keperluan Rendra walaupun tahu dia direpotkan oleh anaknya, sudah gitu ga pernah meminta bantuan orang lain selama masih bisa di lakukan sendiri" ujar Mama yang masih bersama dengan suami tercintanya.
"Iya...Ma, dia gadis mandiri...bersyukur ya..Ma kita punya menantu seperti Can...Ayahnya mendidiknya dengan baik sekali" Ayah menambahkan apa yang diucapkan Mama Rendra.
Ditempat yang berbeda, tepatnya di kediaman rumah dinas Panji.
Sudah ramai dengan kedatangan tamu yang akan mengantar Panji ke tempat acara ijab kabul tepatnya kediaman rumah keluarga besar Rena.
"Sudah siap...bro...calon manten" Ifan menepuk bahu Panji yang sudah nampak gagah dengan baju adat untuk persiapan akad nikah.
"Sudah liat...Kapt kita belum" tanya Ifan ke Panji yang masih memandang tamu yang hadir dengan membalas senyuman ke tamunya.
"Belum liat...tuh...tumben dia telat" ujar Farel yang ikutan berdiri disamping Ifan.
"Aduh...ini mah bisa tertukar pengantin sama yang mengawal " salah satu istri kawan kedinasan dengan candaan ke Rendra.
"Bisa saja...Mba" balas Rendra yang membalas dengan senyuman ramah.
"Gue...jadi ga pd " ucap Panji dengan merapikan bajunya salah tingkah.
"Lah...harus pd dong buktinya Rena memilih kamu bukan yang lain" Rendra menyakinkan Panji dengan menepuk pundaknya.
Akhirnya rombongan pengantin dari pihak Panji disambut dengan baik oleh keluarga besar Rena yang notabene orang berada tapi mereka bukan cari mantu yang harus sama dengan mereka, tapi cenderung mencari yang bertanggungjawab dan menghormati pilihan anaknya.
Prosesi ijab kabul pun siap dilaksanakan karena semua persyaratan sudah lengkap begitu juga para saksi, Rendra di minta untuk menjadi saksi dari pihak Panji sebenarnya Rendra keberatan tapi panji dan keluarga besarnya merasa Rendra pantas menjadi saksi di pernikahan Panji, akhirnya dengan berat hati Rendra menyanggupi.
Dan Akhirnya suara histeria dengan kompak walaupun tanpa di minta terucap kata "Sah" rasa haru menyelimuti seluruh ruangan saat pembacaan do'a untuk kedua mempelai pengantin tanda sudah diserahkan semua kewajiban dari sang ayah mempelai wanita kepada mempelai pria sebagai suaminya, untuk di jaga, dilindungi, di didik, di nafkahi lahir dan batinnya (usai sudah tugas sang ayah tapi tali silaturahmi harus makin di pererat ) sebab bukan berarti ayah melepaskan begitu saja akan tetap memantau tanpa ikut campur selama dalam keadaan baik-baik saja.
Ucapan selamat yang terus terucap dari keluarga dan kerabat serta kawan karib juga kawan dinas di sampaikan kepada kedua mempelai sebagai do'a untuk kebaikan dalam memasuki gerbang kehidupan setelah ijab kabul menjadi suami istri yang telah halal dimata tuhan dan agama juga negara.
"Selamat...ya bro " ucap Rendra dan membisikkan do'a untuk kebaikannya dalam menjalin bahtera rumah tangga.
"Terimakasih...banyak yang tak terhingga" balas Panji membalas pelukan dari Rendra, hanya senyuman yang Rendra berikan sebab masih banyak yang akan memberikan ucapan selamat ke Panji dan Rena.
__ADS_1
"Selamat juga ya...Na.." ucap Rendra ke Rena denga ramah dan sopan.
"Terimakasih Mas...Can..mana" tanya Rena di sela-sela balasan ucapan dari Rendra.
"Honey...nanti bareng Mama sebab Ainun tadi masih tidur...takut rewel kalau di paksakan ikut"ujar Rendra dengan langkah akan meninggalkan keduanya.
Semua kawan satu tim Panji sudah memberikan selamat dan berpamitan untuk mempersiapkan prosesi pedang pora dan Rendra yang menjadi Komandannya.
Disela persiapan Rendra membuka bekal makanan yang sudah disiapkan oleh istri tercintanya dan di nikmati dengan begitu nikmat hingga tidak menyadari seseorang memperhatikan dengan sangat seksama.
"Asyik...bener sampai lupa nawarin" canda Ifan yang langsung duduk disamping Rendra.
"Ehm...ehm...boleh silakan makan aja" ucap Rendra menyodorkan makanannya yang Candy siapkan cukup banyak kalau Rendra makan sendiri.
"Bener...boleh nih.." Alfa yang baru merapat langsung menyuap salah satu menu makanan yang di bawa Rendra.
"Ko...baru makan sih Kapt..." tanya Alfa dengan mulut masih mengunyah.
"Iya tadi aku ga ikut makan sebab kasihan Honey sudah siapkan ini" Rendra menunjukkan makanan yang sedang di nikmatnya.
"Ini Mba Can...yang bikin Kapt..." Farel juga ikut menikmati bekal milik Rendra.
"Iya...makanya aku ga ikut makan tadi takut ini ga ke makan kasihan sudah dibuat dengan cinta oleh Honey" Rendra mempelihatkan senyumnya dengan mata seperti mengingat sosok istri tercintanya.
"Dasar...bucin, mana dia tahu di makan atau tidak orangnya ga ada disini ko" ucap Farel yang terdengar konyol oleh Rendra.
"Itu buat kamu, buatku Honey sudah menyiapkan dengan rasa sayang dan memperhatikan keperluanku itu sudah jadi bukti dia tulus untuk ku jadi sebagai balasan aku menghargai semua yang di buat untukku soal rasa ga kalah ko sama restoran" Rendra sedikit sewot Farel tidak menghargai wanita.
"Masih belum kapok juga ya..." ujar Ifan menepuk pundak Farel yang menundukkan mukanya malu.
"Kita menghargai wanita sama saja kita menghargai ibu kita bro..." Alfa si bocil ikut ngomong.
"Emang kita keluar dari pohon pisang" ucap Alfa lagi yang masih menikmati makanan milik Rendra.
"Ngomong-ngomong doyan apa masih lapar cil..." ujar Ifan yang menertawakan Alfa.
Yaitu lah Rendra yang sangat membanggakan sosok istrinya yang menurut dirinya segalanya dalam hidupnya, tampa banyak yang tahu juga Candy pun sama sangat memuja Rendra sebagai sosok suami yang tidak ada duanya, memang benar mereka berdua merupakan cauple yang nyata didepan kawan dinasnya.
★★ Note ★★
Mohon maaf kepada pembaca novel kalau masih ada perubahan dari covernya sebab masih mencari yang pas dan sesuai, dan saya ucapkan banyak terima kasih bila ada masukan untuk berbaikan baik dalam menulis maupun cover.
__ADS_1