
..."Tidak selamanya duka akan memayungi kita selamanya, akan ada pelangi sesudah hujan yakinlah kita tidak sendiri akan ada penolong datang diwaktu yang tepat" Candy....
Pintu ruang operasi terbuka gadis muda itu berlari menghampiri salah satu dokter yang keluar, dengan sedikit gemetar dia bertanya.
"Dok..gimana..kakek.." ucapnya lirih terdengar dengan gemetar.
"Sayang..sabarnya..operasi berhasil tapi kondisinya belum sadar.." jawab Candy membuka maskernya.
"Bunda.." ucapnya dengan kondisi masih gemetar.
"Ya..nak tenang..kakek..baik-baik..saja" ujar Candy ingat siapa gadis itu yang menolongnya.
Candy mengajaknya ke ruangannya, dia masih terlihat kacau entah kenapa seperti banyak hal yang dia alami.
"Minumlah.." pinta Candy sedikit membujuknya agar lebih tenang.
Setelah berapa saat dia mulai membaik dan minta undur diri ingin melihat kakeknya yang sudah dulu di pindahkan ke ruangan rawat.
Dia tidak sendiri saat ini ada nenek dan dua orang yang terlihat penting menemaninya.
"Papa.." sapa Candy kebetulan baru keluar dari ruangannya berpapasan dengan papanya Rendra.
"Ya..sayang.." balasnya seperti mencari ruangan.
"Ada yang bisa Can..bantu pa.." tanya Candy dengan menggandeng tangannya.
"Teman papa ada yang sakit..papa ingin menengoknya" papa menjelaskan dan sopir papa membawa beberapa bingkisan yang berjalan di belakang keduanya.
"Siapa nama pasiennya pa.." tanya Candy agar lebih mudah mencarinya.
"Hartanto..Pratama" ucap papa menjelaskan.
"Oh..kesini..pa.." Candy menggandeng papa menuju ruangan yang tertera nama pasien itu.
Tidak lama papa dan Candy juga supir sudah berdiri di depan pintu yang papa minta, begitu pintu di buka dua orang penting itu langsung menyambutnya dengan hormat, begitu juga dengan istri pasien dia seperti bersedih dan papa mengusap punggung tangannya agar bersabar.
"Dek..kenalkan..Candy menantu saya.." papa mengenalkan Candy pada istri pasien.
"Candy.." ucap Candy mencium tangan wanita seumuran mama Rendra.
"Sayang..salam sama kakek.." pinta wanita itu pada gadis muda yang terlihat masih sedih.
"Can..gimana..kondisinya.." tanya papa yang berdiri disamping pasien yang masih tertidur pulas.
"Masih terpengaruh obat bius..pa..tunggu beberapa jam lagi..sebab kondisinya stabil insyaallah cepat pulih lagi.." ujar Candy menjelaskan.
__ADS_1
"Syukurlah..cepat bangun..orang tercintamu..menunggu " seru papa menyentuh tangan pasien.
Tidak berapa lama papa minta undur diri ada keperluan lain yang harus dihadirinya, walaupun Candy sedikit berpesan papa mertuanya.
"Pa..jangan terlalu cape.." pinta Candy memegang tangannya yang sudah seperti ayahnya sendiri.
"Iya..lepas dari sana langsung pulang.." papa mengusap hijab Candy lembut.
"Papa..nitip..dia sahabat terbaik papa" pintanya pada Candy dengan sangat memohon.
"Siap..pa..Can..akan jaga.., pa..boleh Can tanya kenapa tidak ada keluarga yang bersamanya..anak gitu.." tanya Candy ingin tahu.
"Anak dan menantunya sudah tidak ada, meninggalkan karena korban pembunuhan orang yang tidak bertanggungjawab.." Candy sedikit terkejut pantas saja gadis yang tadi itu sedikit takut kehilangan orang tercintanya.
"Keduanya di bantai didepan anak semata wayangnya hingga sekarang dia seperti trauma bila sendirian.." papa masih menjelaskan.
"Sudah coba di dampingi psikolog pa.." tanya Candy seperti prihatin.
"Sampai hari ini dia masih terus di dampingi Can..makanya dia tidak mau sendiri selalu mencari keramaian..kalau ga salah dia suka ke panti milik Rendra..coba sesekali Can..kesana saat libur..sekolah.." pinta papa yang masih menjelaskan.
"Ya..pa..Candy usahakan.." jawab Candy yang turut kasihan pada gadis itu.
Setelah mengantarkan papa dan sopir pergi Candy kembali berkerja sesuai jadwal hingga menjelang sore, diwaktu pulang kerja nanti Candy ingin menyempatkan diri berbicara berdua dengan gadis yang belum dikenalnya tapi Candy terlebih dahulu memberi tahukan dulu pada Rendra agar tidak khawatir.
Candy membawa beberapa makanan dan dua minuman berupa jus, yang cukup disuka anak jaman sekarang yang jelas cukup segar dan enak untuk di nikmati sambil mengobrol santai di sore hari ini.
"Bunda..eh..dokter..maaf.." ucap gadis itu bingung harus memanggil apa pada Candy.
"Sayang..mama saja seperti anak-anak..mama.." ujar Candy mengusap lembut kepalanya yang tertutup hijab.
"Mama..belum tahu siapa namamu..sayang.." tanya Candy dengan meminta dia menyebutkan namanya.
"Farah Aleena Yasmin (perempuan yang ceria cantik seperti melati)" Farah menyebutkan namanya.
"Nama yang cantik..sesuai orangnya.." Candy memuji Farah yang malu.
"Sekolahnya dimana..sayang.." tanya Candy berharap Farah nyaman bersamanya.
"Farah bersekolah sambil tinggal di pondok.." Farah menjelaskan pada Candy.
"Oh..ya..sama anak mama..juga tapi dia laki-laki tapi lebih tua dari Farah mungkin beda dua tahun sama Farah" Candy menjelaskan.
Keduanya banyak berbagi cerita terutama yang lucu walaupun Candy tidak bisa melucu seperti Rendra tapi dia berusaha untuk menghibur agar Farah nyaman bersamanya.
"Sayang..ikut pulang mama aja dulu biar kakek suster yang jaga..nenek juga harus istirahat kasihan..nanti nenek juga bisa sakit.." Candy meminta agar Farah merasa ada yang peduli dengannya.
__ADS_1
"Terimakasih..ma..biar Farah disini saja..biar nenek yang pulang.." jawabnya dengan menunduk.
"Memang kenapa ga mau ke rumah mama..ada mas Azlan loh yang akan menemani kemana pun Farah mau.." seru Candy yang membuat Farah sedikit tidak asing dengan nama yang Candy sebut.
"Ga..ma..terimakasih sudah buat Farah senang..dengan mau mendengarkan cerita Farah.." ujar Farah dengan senyum yang dia tunjukkan.
"Sayang mama yang terimakasih sudah ditemani duduk santai.." balas Candy tersenyum dengan senang.
Keduanya harus berpisah karena Candy ada tanggungjawab pada keluarga tercintanya yang harus di perhatikan keperluannya.
Sesampainya dirumah Candy seperti biasanya memenuhi kebutuhan keluarga seperti menyiapkan makan malam dan menemani suaminya santai yang kali ini duduk di taman ditemani Azlan main catur.
Candy bercerita pada keduanya tentang apa yang menimpa Farah orang yang membantunya di supermarket yang membuat Azlan menghubungkan dengan gadis yang ada di panti beberapa hari yang lalu.
Kalau memang Farah gadis itu betapa kasihannya nasibnya begitu stragis apalagi dia seorang gadis pantas saja dia begitu jadi gadis yang pendiam mungkin dari rasa trauma yang masih belum dapat dia lupakan dan ini pastinya bukan hal yang muda untuk dia yang menyaksikan langsung kejadian itu pikir Azlan yang dikejutkan dengan suara papanya.
"Dek..ayo..jalan malah ngelamun.." tegur Rendra dengan mengacak rambut Azlan yang masih bingung mana yang harus dia jalankan bidak caturnya.
"Udah..kalah aja.." seru papanya dengan suara yang menggoda Azlan .
"Papa..diam dulu..apa..aku butuh konsentrasi..lah.." ujar Azlan yang membuat papanya tertawa.
"Kenapa sih..dek.." tanya mamanya yang juga bingung setelah mendengarkan ceritanya Azlan jadi tidak konsen bermain catur bareng papanya.
"Ga..ma..ga apa-apa mungkin waktunya harus papa yang menang.." jawab Azlan santai walaupun bikin papanya curiga.
"Bener..nih..papa yang menang.." ujar Rendra menggoda Azlan yang biasanya ga mau kalah.
"Iya..pa..untuk kali..ini..ingat ya..pa kali ini.." ucap Azlan yang langsung cabut entah kemana.
"Ada..yang aneh..nih.." ucap Rendra pada istri tercintanya.
"Sama..kaya yang ngomong kalau lagi ada maunya.." goda Candy dengan pura-pura merapikan catur.
"Mas..diem ya..jadi..ini..nih yang ngomong " Rendra memeluk Candy tanpa ingin melepaskan hingga Candy sedikit protes.
"Mas..ini..dimana..kita.." ujar Candy agar Rendra melepaskan pelukannya.
"Maaf..ya..honey " Rendra melepaskan pelukannya tapi mencium pipi Candy berulang-ulang.
Ditempat yang berbeda Azlan di berdiri seorang diri memandang jauh dari balkon kamarnya mengingat wajah Farah yang selalu terlihat sedih dan hanya terlihat sedikit senyumnya bila anak panti melakukan hal konyol itupun tidak lama selanjutnya dia berdiam diri lagi, dan kalau Farah yang mamanya ceritakan Farah yang sama berarti dia benar-benar gadis malang yang hidup diantara kemilau harta milik keluarganya yang berarti dia termasuk orang yang tidak bahagia.
Ternyata ada orang yang hidup tapi sebenarnya dia sendiri tidak hidup itu yang Azlan pikirkan, coba saja disisi lain ada orang yang hari ini memenuhi kebutuhan hidupnya hanya untuk hari ini saja tapi memiliki keluarga yang selalu ada tapi ada di sisi lain orang hidup berlimpah harta tapi keluarga yang dia miliki meninggalkannya selama-lamanya dengan alasan ada orang yang menyimpan dendam hingga nyawa yang harus dihilangkan untuk alasan yang terbilang sepele itu.
Hidup memang penuh dengan cerita yang tidak akan sama tiap pemilik nyawa walaupun satu keluarga jelas-jelas tidak akan sama ujiannya, Azlan masih memandang jauh lampu malam juga bintang yang jauh selangit malam berkedip menandakan ada seberkas harapan untuk siapapun untuk jadi lebih baik lagi dalam hidup.
__ADS_1