Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
167


__ADS_3

"Lelaki hebat bukan berarti harus kuat tetapi berani memperjuangkan wanita yang dicintainya tanpa menyerah hingga ikrar janji suci terucap" Rendra.


Setelah kembali berbulan madu baik Nisrina maupun Indra sepakat tinggal di rumah orang tua Indra dengan banyak pertimbangan salah satunya mama Indra terkadang harus sendiri bila papa Indra dinas malam.


Kini sudah enam bulan keduanya menjalani hidup berumah tangga, hari-hari di rumah mama Indra penuh gelak tawa oleh tingkah Indra yang bucin membuat mamanya senang anak pertamanya ternyata tulus mencintai Nisrina.


Indra yang sangat memanjakan Nisrina, sering kali membuat Nisrina malu di depan papa mama Indra yang hanya gelengan kepala yang keduanya tunjukkan.


Seperti saat ini Nisrina yang sibuk di dapur membantu asisten rumah tangga mama Indra, dikejutkan dengan kedatangan Indra yang tanpa permisi langsung memeluk dari belakang dengan tanpa malu mencium pipi Nisrina di depan asisten mamanya.


"Ya'asalii..masak apa..," tanya dengan menopang dagunya di pundak Nisrina.


"Mas.." Nisrina malu dengan ciuman yang Indra berikan di depan asisten mamanya.


"Waduh..mas..dimasak...segede apa..tempatnya.." goda Indra yang membuat asisten mamanya tersenyum.


"Ih..mas..bau..tahu.." rengek Nisrina yang membuat Indra bingung sebab dia sudah serapi ini di bilang bau oleh istri tercintanya.


"Wangi..wangi..ko.." Indra mengendus bagian tubuhnya sepertinya Nisrina salah pikirnya.


"Ya'asalii...sakit..pilek.." Indra menyentuh dahi Nisrina tapi tidak panas menurutnya, Indra seperti bingung ada apa dengan istrinya saat ini.-


"Mba..coba..cium..aku bau ga.." Indra memerintahkan asisten mamanya untuk mendekat dirinya.


"Ih..mas..jangan mas.." asisten mamanya mengira dirinya harus mencium Indra.


"Apaan...sih mba ga harus mencium juga kali mba.." ujar Indra yang membuat asisten mamanya malu.


"Benar..mba Nis ga bau ko..mas Indra ..malah...wangi.." ucapnya dengan malu menunduk.


"Ga..pokoknya bau.." Nisrina menutup hidungnya menjauh dari Indra.


Nisrina tidak mau diantar Indra pergi ke kantor saat ini karena menurutnya bau dan hanya dengan supir keluarga Indra Nisrina pergi ke kantor.


Di dalam ruangan kantor Nisrina bertingkah tidak seperti, menurutnya ruangannya bau tidak sedap sehingga membuat dirinya mual dan hampir muntah-muntah membuat sekretaris orang kepercayaan Indra khawatir dan membawanya ke rumah sakit.


"Tante.." sapa Nisrina pada Candy yang kebetulan lewat.


Kini Nisrina sudah berada di rumah sakit bersama supir pribanya.


"Hai..sayang ada keperluan apa.." tanya Candy dengan mencium dan memeluk Nisrina.


"Ga..tahu tante..sudah satu minggu hidung Nis seperti mencium bau yang Nis ga suka..terutama kalau mas Indra pakai baju kerja.." Nisrina menjelaskan yang membuat Candy tersenyum senang.


"Ayo..ikut..tante.." Candy merangkul Nisrina menuju ruangan yang Nisrina sendiri tidak tahu mau dibawa kemana dirinya.


"Loh..ko..kesini..tante.." Candy membuka pintu ruangan dokter kandungan.


"Udah masuk aja..nanti ada kejutan buat mba.." pinta Candy dengan membuka pintu.


Di dalam ruangan keduanya menemui Rena yang seorang dokter kandungan, Nisrina di bantu suster untuk di periksa dan hasilnya benar mengejutkan Nisrina yang menyatakan dirinya sudah positip hamil beberapa minggu.


Nisrina senang tapi juga takut yang sekarang dia rasakan dan dengan malu di bertanya pada Candy yang juga didengar oleh Rena.

__ADS_1


"Tante..gimana nanti kata mas..Indra.." tanya Indra dengan malu.


"Dia pasti senang mba." jawab Candy dengan memeluknya.


"Selamat ya..sayang.." ucap Candy masih memeluk Nisrina yang masih belum percaya didalam rahimnya sudah ada calon anaknya dari buah cinta dirinya dengan Indra.


Begitu juga dengan Rena memberikan selamat dan memberikan tahukah apa yng baik di lakukan dan yang tidak begitu juga dengan makanan apa saja yang sebaiknya di makan serta vitamin apa saja yang boleh di


konsumsi.


"Mba..Nis sebenarnya mas Indra juga tahu mana yang terbaik untuk istri juga buah hatinya.." ujar Rena dengan mengusap punggung Nisrina.


"Terimakasih..dok.." balas Nisrina dengan tersenyum ramah.


Sebelum pulang Nisrina banyak mendapatkan masukan dari Candy baik untuk kehamilannya juga untuk menyampaikan hasil tes kehamilan pada Indra yang menurutnya sebagai hadiah juga kejutan untuk Indra.


Nisrina pulang lebih awal ini membuat asisten mama Indra sedikit khawatir dengan keadaannya yang sangat lemah.


"Mba..sakit.." tanyanya dengan memandang muka Nisrina yang pucat.


"Nis..lemes aja..mba.." Nisrina langsung menuju kamarnya.


Nisrina tidak keluar kamar hingga mama papa dan Indra pulang dari tempat dinasnya, mama Indra yang tahu mobil dan sopir sudah ada dirumah bertanya pada asistennya.


"Mba..mba..Nis..sudah pulang.." tanya mama Indra seperti khawatir.


"Iya..bu..sepertinya kurang sehat.." jawabnya sesuai yang dia lihat.


"Mas..mas.." teriak mama Indra memanggil Indra yang baru turun dari mobilnya.


"Mas..coba lihat..Nis..kata mba di kurang sehat.." mama Indra sedikit khawatir.


"Iya..ma.." Indra bergegas ke kamarnya dan ternyata di lihatnya Nisrina dalam kamar salam keadaan baik dia sudah terlihat segar selepas menjalankan sholat ashar yang masih mengunakan pakaian sholatnya.


"Ya'asalii..ga kenapa-kanapa kan.." Indra seperti memastikan keadaan Nisrina.


"Ih..mas ga..salam..ih..bau..mas..bau.." teriak Nisrina dengan menutup hidungnya.


"Maaf...assalamualaikum ya'asalii..ya mas langsung mandi.." ucap Indra yang langsung mengambil handuk menuju kamar mandi.


Entah berapa kali Indra membasuh tubuhnya dengan sabun agar tidak tercium bau yang di maksud oleh Nisrina.


Selepas sholat magrib berjamaah Nisrina langsung menuju kamarnya hingga menimbulkan pertanyaan Indra juga kedua orang tuanya sebab tidak seperti biasanya.


Indra langsung mengikutinya ke dalam kamar Nisrina tidak di temukannya hanya suara gemericik air dari kamar mandi dan suara orang menumpahkan isi perut yang di keluarkan.


"Ya'asalii..ya'asalii.." panggil Indra dari luar kamar mandi dengan suara yang lembut.


Tidak berapa lama Nisrina keluar dan terlihat pucat dari wajah ayunya, Indra merangkulnya dan memberikan handuk untuk mengeringkan mukanya.


Saat Indra duduk di ujung tempat tidur ada sesuatu kotak yang menarik pandangan matanya, tanpa curiga Indra membukanya dan Indra tidak dapat berkata-kata hanya duduk bersimpuh di bawa Nisrina yang duduk diujung tempat tidurnya.


__ADS_1


"Ya'asalii..benarkah..ini.." tanya Indra yang sudah berkaca-kaca.


"Iya..mas..Nis tadi ke rumah sakit kebetulan ada tante..juga.." jawab Nisrina dengan mengusap kepala Indra yang tidur dipangkuannya.


Nisrina memberikan gambar hasil usg pada Indra yang semakin meleleh, Nisrina sendiri hanya memandang wajah tampan suami tercintanya yang berlinang air mata, memandang gambar calon buah hatinya.



"Mas..kenapa.." tanya Nisrina dengan memandangnya.


"Alhamdulillah..tuhan mempercayai kita dengan menitipkannya.." ucap Indra dengan menatap Nisrina dari bawah.


"Iya..mas..insyaallah kita..bisa.." balas Nisrina menenangkan suaminya.


"Kita..kasih kabar gembira ini sama mama papa ayo.." Indra mengajak Nisrina ke luar dari kamarnya untuk menemui mama papanya.


Kedua orang tua indra yang kebetulan duduk santai di ruang keluarga sedikit terkejut melihat Nisrina yang terlihat pucat.


"Sayang..kenapa.." mama Indra langsung bangun dari duduknya menghampiri Nisrina.


"Ga..apa-apa..ma.." ucap Nisrina dengan tenang dan imut serta duduk bersama.


"Mama papa mau dipanggil nenek kakek.." ucap indra dengan menunjukkan gambar hasil usg yang Nisrina berikan tadi pada Indra.


"Benar..kah sayang.." mama memeluk dan mencium Nisrina dengan kasih sayang.


"Selamat..ya..jaga baik-baik.." ucap papa Indra menepuk dan memeluk Indra.


Nisrina sendiri masih dirangkul mama yang sangat terlihat bahagia dengan kabar yang baru saja didengarnya.


"Mas..apa..ga sebaiknya Nis..dirumah saja dulu.." pinta mamanya dengan serius terdengar.


"Iya..ma..ini juga sedang mas pikirkan.." jawab Indra tidak kalah senang terlihat senyum yang terus mengembang dari bibirnya.


"Mulai sekarang mama ga mau lihat Nis cape..mama mau Nis menikmati tiap momen ini dengan suka cita..ya..sayang.." mama Indra menepuk tangan Nisrina.


"Apa..yang dirasakan..sekarang sayang.." tanya mama Indra dengan lembut dan sayang.


"Ga..kuat bau mas Indra bila pakai baju dinas.." mama langsung tertawa.


"Anaknya tahu..kalau papanya ga boleh kerja..biar temani mama terus.." seru papa dengan ikut tertawa.


"Jadi kalau baju santai..gini..ga bau gitu.." tanya Indra pada Nisrina.


Nisrina hanya mengangguk yang membuat papa mama Indra makin tertawa geli.


"Mas..mas..anaknya aja udah ngalahin..bucin papanya..gimana tuh.." ujar mamanya yang masih tertawa.


"Tandanya sayang mamanya..ma.." jawab Indra dengan tersenyum.


"Paling..bisa.." ujar papa dengan mengacak rambut Indra.


Nisrina yang melihat suaminya diperlakukan seperti hanya tersenyum menurutnya Indra masih dianggap anak kecil oleh papa mama tapi sudah mau di kasih titipan anak.

__ADS_1


Keluarganya besar Indra sangat bahagia dengan kabar yang menggembirakan ini, rumah besar ini akan ramai dengan tangis dan tawa si kecil itu yang sekarang mama papa Indra bayangkan.


Apalagi membayangkan rupa wajahnya betapa lucu cucu tercintanya sebab kedua orang tuanya begitu cantik dan rupawan.


__ADS_2