
"Tuhan ciptakan ku dengan kekurangan dan kelebihannya karena tuhan telah menciptakan menyempurna kekurangan itu dari dirimu" Candy.
Di siang yang terik ini tidak menyurutkan niat Indra untuk pergi ke kantornya, bukan untuk soal kerjaan tapi persoalan hati yang merindu pada seseorang yang lama telah ditinggalkannya, pinta mamanya saat ini tidak jadi pertimbangan buat dirinya.
"Mas..istirahat saja dulu..mas baru sampai loh.." pinta mamanya yang akan membersihkan diri.
"Gampang..ma..bisa di kantor.." balasnya mencium tangan mamanya.
Indra yang sudah membersihkan diri terlebih dahulu terlihat sangat fres tidak terlihat wajah lelahnya yang tampak senyum penuh kerinduan pada seseorang yang sangat dirindukannya.
Senyum yang tidak mau lepas dari bibirnya menandakan suasana hatinya saat ini dirinya sedang gembira, sapaan dari penjaga pintu gerbang utama kantornya hanya dibalas dengan senyumanya, hingga memancing rasa curiga sang penjaga ada apa dengan bos besarnya.
Sambutan orang kepercayaan pun dihiraukannya dia lebih memilih langsung menuju ruangan orang yang dirindukannya.
"Assalamualaikum..ya'asalii.." ucapnya dengan memberikan senyum termanisnya.
"Waalaikum salam..." balas Nisrina dengan terkejut juga senang.
"Mas..ko..ada disini..kapan sampai.." tanya Nisrina tanpa jedah.
"Ga..bisa ya nanyanya satu..satu.." balas Indra dengan tersenyum.
Nisrina yang mendapatkan balasan dari Indra hanya diam melanjutkan kerjanya tanpa menghiraukan Indra yang ada di depannya.
"Mas..baru sampai tadi dan langsung..kesini.." ujar Indra dengan terlihat senang.
"Ya'asalii ga..kangen ya..sama mas.." goda Indra dengan memainkan kertas yang ada didepannya.
"Ih..apaan sih..mas.." Nisrina malu mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Indra.
"Ya'asalii..mas boleh tanya.." tanya Indra terdengar serius.
Hanya anggukkan yang Nisrina berikan pada Indra , dia sendiri yang masih fokus mengerjakan berkas dengan mata tanpa memandang pada Indra, hal ini membuat Indra gemas sebab dia tahu Nisrina malu dan tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya.
"Om..ada di rumah jam berapa ya..?" tanya Indra dengan serius terdengar di telinga Nisrina.
__ADS_1
"Kenapa nanyain..ayah..?" tanya Nisrina menghentikan perkerjaannya memandang serius pada Indra.
"Ingin..silaturahmi..aja.." ucap Indra dengan bangun dari kursinya.
"Mas..tinggal dulu..ya'asalii.." Indra meninggalkan Nisrina yang terlihat bingung dengan banyak pertanyaan didalam pikirannya.
Senja yang akan pulang ke peraduannya begitu juga Nisrina yang akan pulang ke rumah yang jadi tempat ternyamannya, lalu lalang pejalan kaki meramaikan jalan sore menjelang malam ini.
Aroma masakan bundanya membuat Nisrina penasaran dengan suara manjanya dia menyapa bundanya.
"Jadi..laper..masak apa..sih..bunda.." ujar Nisrina memeluk bundanya.
"Mandi..dulu..acem..nih.." goda bundanya yang sudah menyelesaikan masaknya.
"Siap..bunda.." Nisrina yang meninggalkan bundanya yang masih di dapur.
Selesai sholat magrib mereka menikmati makan malam bersama dan dilanjutkan dengna obrolan santai ayah dan kakek Nisrina di ruang keluarga, Nisrina sendiri membantu bundanya merapikan meja makan dan mencuci beberapa peralatan makan mereka.
Saat akan kembali ke kamarnya Nisrina di kejutkan dengan suara yang memanggil namanya yang memintanya untuk ke ruang tamu membawakan minuman dan makanan kecil.
Nisrina yang berbalut baju santai dengan hijab rumah yang dia kenakan, dengan santai membawa pesanan permintaan bundanya.
"Silakan..diminum.." pinta Nisrina yang akan meninggalkan ruang tamu tapi ayah lebih dulu memintanya untuk duduk bersama.
"Mba..ayah minta waktu mba..tetap disini " pinta ayah sedikit serius tidak seperti biasanya.
"Mba..ayah bisa bicara dengan mba.." pinta ayah lagi dengan menggenggam tangan Nisrina.
Nisrina yang duduk disamping ayahnya hanya diam dan mengangguk perlahan menyetujui permintaan ayahnya.
"Mba..ayah sudah mendengar permintaan nak Indra yang meminta mba untuk jadi pendamping hidupnya..ayah secara pribadi bisa saja langsung menerima permintaan nak Indra tapi..rasanya tidak adil bila ayah tidak bertanya terlebih dulu pada mba sebab yang akan menjalankan biduk rumah tangga nanti mba..jadi ayah serahkan keputusan kembali pada mba yang akan menjalankan ayah..bunda juga kakek hanya memberikan restu saja..jujurlah pada kata hati mba..ingat ayah tidak memaksakan kehendak ayah..ayah akan menerima keputusan yang akan mba pilih.." ayah masih menggenggam tangan Nisrina.
Nisrina yang merubah duduknya dengan bersimpuh di bawah kaki ayah tercinta dengan rasa haru yang ditahannya.
"Yah..Nis..hanya seorang anak..yang belum bisa jadi anak yang baik apalagi menyenangkan dan belum membuat ayah bunda juga kakek bangga..Nis masih saja..menyusahkan ayah..bunda juga kakek.." ucapnya dengan isak yang tertahan.
__ADS_1
"Kalau memang dengan menerima pinangan dari mas Indra sebagai bakti Nis kepada ayah..bunda juga kakek..Nis terima dengan segenap hati..Nis ikhlas menerimanya yah.." dengan air mata yang sudah meluncur bebas di kedua pipinya.
"Mba..ayah tidak seperti itu..ayah ingin mba mengikuti kata hati mba..kalau nak Indra pilihan mba bukan atas dasar pilihan ayah..mba" ayahnya mengusap kepala Nisrina dengan kasih sayang.
"Tidak..yah..Nis tidak berhak menentukan, Nis akan ikut kata ayah Nis..ingin jadi anak yang berbakti..yah, sebelum Nis berbakti pada suami.." Nisrina masih bisa menahan tangisnya dengan lancar dia menyampaikan keinginannya.
"Sayang...mba..sudah jadi..kebanggaan ayah.." ayah menangis mendekap kepala Nisrina dan diciumnya.
"Ayah...Nis sayang ayah..." keduanya menangis bersama, bunda Nisrina yang tidak jauh dari keduanya tidak kalah harunya dia sampai tidak tahan menahan tangisnya dalam pelukan ayah mertuanya, begitu juga kakeknya yang sedikit harunya masih bisa ditahannya.
"Yah..bila kata ayah..mas Indra baik buat Nis secara agama..dan tanggung jawab..Nis terima tapi bila tidak baik buat Nis, Nis..ikhlas ayah..untuk menolaknya" dalam isaknya Nisrina menyampaikan apa yang ingin disampaikan pada ayahnya.
"Bila..mba..meminta ayah yang harus memberikan keputusan baiklah..dengan bismillah nak..Indra saya terima pinangan nak Indra untuk anak saya Nisrina Nur Kamilah bersediakah nak Indra menjaga lahir batin juga tidak menyakiti baik lahir maupun batinnya anak gadis ayah.." dengan air mata yang tertahan ayah memegang tangan Indra yang sedikit gemetar karena harunya.
"Dengan bismillah..saya Indra Pramudya Bagaskara..meminta Nisrina Nur Kamilah untuk jadi pendamping saya baik dalam suka maupun duka dan saya berjanji tidak akan menyakitinya lahir dan batinnya..juga dengan segenap jiwa dan raga akan menjaganya.." ucap Indra yang serius terucap dari bibirnya.
Ayah memeluk Indra dengan tangisnya seakan melepaskan anak gadisnya yang akan di bawah pergi jauh darinya, oleh Indra dan tidak lama keduanya melepaskan pelukkan.
Kini giliran Indra meminta langsung pada Nisrina untuk memastikan pinangannya di terima atau tidak.
"Ya'asalii...Nisrina Nur Kamilah binti Dimas Kurniawan dengan kesungguhan hati dan sepenuh jiwa bersediakan menjadi pendamping hidup Indra Pramudya Bagaskara untuk selama-lamanya " pinta Indra dengan bersimpuh di hadapan Nisrina yang disaksikan oleh kedua orang tua Nisrina juga kakek tercintanya.
"Mas..Nis terima pinangan Mas Indra tapi Nis bukan perempuan yang sempurna dan masih banyak kekurangan..bersediakah mas menerima kekurangan Nis.." pinta Nisrina dengan kerendahan hati.
"Terimakasih..sudah menerima pinangan mas..dengan segenap hati mas terima kekurangan Ya'asalii..begitu juga dengan mas bukan lelaki yang sempurna masih banyak kekurangannya..mudah- mudahan dengan kita. bersama kita akan saling melengkapi.." ucap Indra tegas yang membuat ayah Nisrina yakin anak gadisnya bersama orang yang bertanggungjawab.
"Om..secepatnya saya akan melamar secara resmi bersama keluarga besar saya.." ucap Indra serius.
"Kapan pun..kami siap nak Indra..maaf panggil ayah saja.." balas ayah Nisrina.
Kedua orang tua dan kakek Nisrina memberikan waktu keduanya untuk berbicara berdua, mungkin ada yang ingin Indra sampaikan pada Nisrina.
"Bener..nih terima mas..tanpa merasa terpaksa.." goda Indra dengan memandang serius.
"Oh..jadi minta Nis tolak..ini lamarannya.." balas Nisrina ga mau kalah.
__ADS_1
"Jangan..dong..mas nanti sama siapa.." Indra memohon seperti anal kecil.
Tidak lama Indra di rumah Nisrina, setelah berbicara seperlunya saja Indra undur diri untuk pulang yang meninggalkan rasa senang dan bahagia untuk keduanya yang akan menuju bahtera rumah tangga.