
"Menyimpan rindu itu tidak mudah, bagaimana caranya rindu itu sampai pada seseorang yang kita rindukan itu...tuhan pemilik rindu yang sebenarnya titipkan padanya akan ada waktu yang tepat dipertemukan oleh-Nya" Rendra.
Indra yang sudah bersiap untuk kepergiannya kembali ke negeri penganut kebebasan sebagai pilihan studinya, seakan seirama dengan cuaca siang ini yang terbilang cukup berawan.
Bandara saat ini dirinya yang ditemani keluarganya yang duduk santai menunggu jadwal keberangkatannya, sesekali ada obrolan santai diantara mereka.
Indra yang sudah berpamitan kepada keluarga besar mamanya semalam, tapi mereka tidak bisa menemani kepergiannya karena ada keperluan yang tidak bisa diwakilkan.
Indra tidak kecewa dia seakan paham kesibukan keluarga besar mamanya, tapi do'a dan restu tetap mereka berikan untuk keberhasilan Indra yang akan menyelesaikan studinya tidak lama lagi.
Kehangatan keluarga indra saat terusik dengan suara khas milik gadis yang sangat dikenalnya siapa lagi kalau bukan Ainun yang ramah dan jail bila bersamanya.
"Mas...." teriak Ainun yang melambaikan tangannya ke arah keluarga Indra.
"Ade..." balas Indra yang senang melihat Ainun bersama sosok yang dipujanya sudah lama.
"Mas..ini..pesanan kakek..maaf katanya ga bisa datang" balas Ainun yang menyerahkan amplop yang tidak diketahui apa isinya.
Ainun yang sudah bersalaman dengan mama papa dan adik Indra, begitu juga Nisrina melakukan hal yang sama tapi ada pelukan yang lama yang mama Indra lakukan padanya.
"Terimakasih sayang sudah datang.." ucap mama Indra yang terdengar bingung oleh Nisrina.
Seperti mama papa Indra memberikan kesempatan Indra untuk saling berbincang dengan Nisrina, sedangkan Ainun sendiri sudah banyak dihujani pertanyaan dari papa mama Indra juga adik semata wayang Indra.
"Terimakasih..Nis..sudah menyempatkan datang.." ucap Indra dengan tersenyum.
"Sama-sama..mas sebenarnya Nis ga tahu kalau ade mau ajak ke sini.." ujar Nisrina menjelaskan.
"Oh..ya..maafkan ade..ya.." balas Indra lagi ke Nisrina.
"Sedikit..kaget sih..tapi ya..sudahlah.." ucap Nisrina jujur apa adanya.
"Karena ada mas..juga keluarga mas gitu.." Indra menggoda Nisrina.
"Apaan..sih..mas.." Nisrina yang tidak bisa menutupi malu didepan Indra.
"Nis..maaf mas ga bisa membantu menjelaskan keterlambatan kemarin itu.." Indra ingin melihat respon Nisrina.
"Ga...apa-apa mas..malahan Nis ditawarin kerja selepas masa magang nanti.." Nisrina menjelaskan apa adanya.
"Serius..selamat ya.." Indra sepertinya ikut senang Nisrina mau terbuka padanya.
"Iya..terimakasih tapi Nis takut..mas..Sebab Nis masih harus kuliah..dan takut mengecewakan.." Nisrina menunduk dan memainkan jari tangannya tanda cemas.
"Mereka percaya sama Nis..apa salahnya di coba.." Indra menyemangati Nisrina.
"Tapi..kan magang sama kerja itu..beda..mas" Nisrina merendahkan dirinya.
__ADS_1
"Untuk soal itu Nis bisa tanya, bukannya dunia kerja itu semua patner.." Indra menjelaskan dengan bahasa yang di bisa di cerna oleh Nisrina.
"Di tempat magang Nis..jarang berinteraksi dengan teman kerja..mas mau bantu Nis.." pinta Nisrina dengan sopan.
"Dengan..segenap jiwa.." balas Indra tanpa malu berucap.
"Ih..mas ga seserius itu juga Nis hanya bertanya yang Nis ga mengerti bukannya mas teman dari pemilik kantor tempat Nis magang" Nisrina dengan jelas menjelaskan.
"Oh..cuma sebatas itu..saja..ya.." goda Indra yang senang melihat Nisrina malu.
"Mas..ih..apaan sih..." balas Nisrina makin malu.
"Kuliah..gimana Nis.." tanya Indra menenangkan suasana.
"Persiapan pengajuan skripsi mas.."Nisrina menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Nis..hebat ya..di sela magang sudah menyiapkan diri mengajukan skripsi.." Indra sedikit dibuat kagum oleh kemampuan akademi Nisrina.
"Nis biasa aja mas masih ada yng lebih dari Nis.." Nisrina merendahkan diri.
"Mas..lihat Nis pintar..membagi waktu ya.." puji Indra ke Nisrina.
"Ga juga mas..terkadang Nis masa bodoh dulu dengan jalan sam ade.." Nisrina menjawab seadanya.
"Memang ga ada someone..." goda Indra dengan asal ucap.
"Kirain ada yang punya ternyata..." gumam indra samar terdengar di telinga Nisrina yang hanya tersenyum.
"Akan..lama mas disana.." Nisrina hanya asal bertanya.
"Kenapa..gitu.." Indra senang Nisrina bertanya seperti itu.
"Ga...apa-apa hanya mau tanya aja.." Nisrina menjawab santai tidak ada maksud lain.
"Kirain mau bilang..mas jangan lama-lama dong disana.." Indra menggoda Nisrina.
"Siapa Nis meminta seperti itu..mas bisa aja.." balas Nisrina dengan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Kalau Nis..minta mas akan senang..sekarang bukan siapa-siapa kedepannya siapa tahu.." jawab Indra dengan serius.
"Oh..iya..mas..kok..hanya keluarga yang mengantarkan mas" tanya Nisrina mengalihkan pembicaraan.
"Ada Nis sama ade..itu sudah cukup buat mas.." ujar Indra tersenyum karena sosok yang diharapkannya ada didekatnya.
"Ko..Nis mas.." Nisrina bertanya balik, mengharapkan Indra menjelaskan apa yang diucapkannya.
"Ya..Nis, Nis..spesial buat mas.." Indra sudah berani menyatakan isi hatinya.
__ADS_1
"Mas..banyak yang lebih pantas dan lebih baik dari Nis buat..mas" Nisrina boleh berbangga tapi harus tahu siapa dirinya yang harus menerima Indra yang jauh dari dirinya.
"Mas..tidak butuh yang lain yang seperti Nis bilang..Nis yang mas mau.." jawab Indra tanpa malu membuka diri.
"Mas..saat ini yang terbaik fokus study mas.., soal hati biarlah dititipkan kepada pemilik hati.." ucap Nisrina yang membuat Indra terkejut sebab Nisrina menenangkan kegalauan hatinya.
"Apa..Nis mau menjaga separuh hati mas..hingga waktu yang tepat.." Indra tembak langsung ke sasaran.
"Mas..semua sudah Allah atur jalannya..Nis akan berusaha.." jawab Nisrina yang masih bingung.
"Yes.." Indra berdiri dan mengepalkan tangannya tanda sesuai harapannya.
Yang membuat keluarga dan Ainun bingung ada apa dengan Indra juga Nisrina yang tertunduk malu.
Tanpa disadari waktu begitu cepat bergeser suara pemberitahuan jadwal keberangkatan Indra sudah tiba, Indra yang sudah berbunga-bunga harus sedih tapi ada sedikit semangat dalam hatinya untuk secepatnya menyelesaikan studinya karena ada hati yang harus dia beri kepastian secepatnya.
"Nis..mas janji secepatnya kembali.." ucap Indra saat akan melangkah meninggalkan Biarkan yang hanya diam menundukkan wajah ayunya.
"Cie..cie..yang sudah berani memberikan kepastian.." bisik adik Indra saat memeluk Indra sebelum meninggalkannya.
Indra tidak menjawab hanya tersenyum senang walaupun harus meninggalkan hati yang mulai berbunga itu, pelukan dari mama papa juga diberikan sebelum Indra melangkah memasuki pesawat yang akan ditumpanginya, hanya lambaian tangan dari Ainun yang terus diberikan hingga bayangan Indra menghilang.
"Nis..terimakasih sudah..mau datang mengantarkan mas.." ucap mama Indra sebelum berpisah meninggalkan bandara.
"Sama-sama..tante.." balas Nisrina yang bingung harus berkata apa.
"Main-main..ke rumah sayang..ya..ditunggu " pinta mama Indra.
"Insha allah..Nis usahain.." jawab Nisrina seadanya masih bingung harus menjawab apa.
Akhirnya mereka berpisah meninggalkan bandara juga meninggalkan kisah yang akan jadi awal untuk Nisrina dan Indra yang terpisah jarak dan waktu untuk lebih saling mengenal pribadi dari keduanya.
Indra yang masih membayangkan wajah cantik Nisrina yang tersenyum malu, didalam pesawat yang sudah berada diatas ingin rasanya senyum itu turut serta menemani perjalanannya saat ini tapi apa daya semua perlu proses.
Indra teringat amplop putih pemberian kakeknya dibukanya dengan hati-hati isinya hanya selembar kertas putih dengan tulisan tangan milik kakeknya yang khas.
Assalamualaikum sayangnya kakek...maaf kakek tidak bisa mengantarkan mas ke bandara sebagai gantinya kakek kirimkan bidadari yang mudah-mudahan mas senang dan lebih bersemangat menyelesaikan studi mas..semoga dimudahkan dan kakek akan selalu mendukung apapun yang terbaik buat mas...
wassalam kakek sayang mas..
Indra tersenyum ternyata ini ide kakeknya yang menghadirkan Nisrina di bandara, sebegitu sayangnya kakek kepadanya dan Indra jadi berpikir bisa jadi kakeknya juga yang merencanakan Nisrina magang dikantornya.
Sebegitu perhatian kakeknya kepada dirinya, kakek yang dilihatnya biasa saja tapi dibelakang penerusnya melakukan apapun yang terbaik " terimakasih kek..is the best good father " gumam Indra dengan melipat kertas putih itu.
Nisrina sendiri saat ini di kamarnya masih bingung bila mengingat momen di bandara tadi seperti itu mimpi baginya tapi nyata dia rasakan.
Ada banyak pertanyaan yang harus bisa di temukan jawabannya menurut Nisrina, walaupun saat ini masih belum bisa ditemukan jawabannya mungkin seiring waktu satu persatu akan ada jawaban dari semua pertanyaan itu.
__ADS_1