Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
224


__ADS_3

..."Hai..pasangan kita harus selalu belajar dari kaki, tidak pernah berdebat siapa dulu yang harus berjalan di depan atau di belakang untuk menentukan posisi yang harus dihadapi di depan sana tanpa ada perdebatan yang terpenting untuk tetap berjalan ke satu tujuan" Rendra....


Sudah beberapa waktu yang lalu Azlan dan Allea sudah kembali ke tempat dinas bukan dikarenakan waktu libur Azlan habis tapi di dikarenakan Azlan mendapat panggilan harus menghadiri pelantikan dirinya untuk mendapatkan kenaikan jabatan pangkat menjadi kapten.


Upacara diadakan di mabes hampir semua keluarga besar hadir termasuk eyang, terlihat wajah bahagia dari eyang sebab bukan soal Azlan yang akan menjadi seorang kapten tapi Allea sudah menerima kehadiran Azlan.


Terlihat Allea yang tidak mau melepas gandengan tangannya dari Azlan, begitupun Azlan yang merasa nyaman bersama Allea di dekatnya.


Semua berjalan baik-baik saja hingga acara selesai termasuk acara ramah tamah, namun saat akan menuju dimana mobil milik Azlan tubuh gagah Azlan merasa tidak dapat lagi menopang dirinya.


Guprak..." mas.." teriak Allea yang kebetulan ada di dekat Azlan.


Tubuh Azlan tumbang disamping mobil miliknya begitupun Allea tidak bisa menolongnya sebab tubuh Azlan dua kali besarnya dibanding dirinya.


Keluarga besarnya yang kebetulan juga masih belum pulang langsung menolongnya, terlihat tubuh Azlan lemah dan Rendra berinisiatif membawanya ke rumah sakit.


Rendra yang sangat protektif terhadap keluarganya banyak bertanya pada dokter yang menangani Azlan walaupun Candy mencoba menenangkan dan memberikan penjelasan bahwa putranya baik-baik saja hanya perlu istirahat tapi Rendra tidak percaya dan menyakini ini buka putranya yang lemah.


"Honey..boleh tolong..mas.." pinta Rendra pada Candy yang bingung.


"Iya..mas..tolong..apa.." Candy seperti bingung juga tidak mengerti.


"Bisa tanyakan..sama Al..kapan terakhir dapat.." pinta Rendra yang membuat Candy menepuk dada Rendra yang menurutnya itu tidak sopan.


"Coba..aja..mas..yakin ko..kita akan dapat cucu baru.." ucap Rendra yang membuat Candy bersembunyi di dada Rendra merasa senang.


Candy melaksanakan tugas yang di minta suami tercintanya, langkahnya menghampiri Allea yang duduk di samping ranjang dimana Azlan masih terbaring lemah dengan tangan terpasang selang infus.


"Sayang mama boleh tanya.." ucap Candy pelan dengan mengusap tangan Allea lembut.


"Iya..ma..boleh..apa ya..ma.." Allea terlihat santai yang masih menjaga Azlan.


"Kapan terakhir Al..dapat.." tanya Candy setengah berbisik pada Allea.


"Bulan kemarin..ini belum ma..sudah telat dua minggu..Al rasa ma, ada apa ya..ma.." Allea meminta penjelasan dari Candy.


"Ikut mama yuk sayang.." Candy mengajak Allea ke dokter kandungan, Allea bingung dengan sikap mertuanya yang menurutnya aneh sebab dirinya baik-baik saja kenapa juga harus ke dokter kandungan segala.


Tapi tidak rugi juga pikir Allea mungkin menurut mamanya Azlan dirinya perlu di cek, menuruti maunya akan lebih baik dari pada harus berdebat tidak baik juga dalam situasi ini, terlihat Candy banyak bicara dengan dokter kandungan yang bahasanya tidak di pahami Allea, maklum saja Allea tidak tahu siapa Candy yang sekarang lebih dikenal sebagai ibu rumah tangga.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan Candy mendapatkan ucapan selamat dari dokter kandungan yang merupakan adik kelasnya dulu di kuliah kedokteran.


"Sayang..selamat..jadi bunda.." ucap dokter pada Allea uang masih bingung.


"Selamat..mba..jadi nenek.." ucap dokter pada Candy yang memegang tangan Allea.


"Selamat sayang.." ucap Candy pada Allea yang masih bingung.


"Memang benar ma..Al..hamil.." tanya Allea polos yang membuat Candy tersenyum dan mengusap tangan Allea dan mengajaknya duduk untuk menjelaskan.


"Sayang..ya..Al..hamil..sudah masuk dua minggu..dijaga ya..sayang" pinta Candy dengan suara lembutnya.


"Tapi..ko Al..ga merasakan..apapun ma..bukannya orang hamil harus muntah-muntah..ma.." Allea dengan polosnya menjelaskan yang dia tahu.


"Sayang tidak semua orang hamil harus muntah-muntah..mama, mba Nasya ga mengalami itu semua tapi papa mas Andika yang mengalami itu.." Candy menjelaskan pada Allea yang tertawa dengan menutup mulutnya yang menurutnya aneh kenapa bisa yang lelaki yang merasakan mabuk.


"Terus Al..harus gimana ma.." tanya Allea masih dengan polosnya maklum saja dia hanya tahu perempuan itu hamil.


"Al..jaga kesehatan dan makan makanan yang bergizi nanti mama akan bicara sama mas..mu.." Candy menjelaskan.


"Nenek.." teriak si kembar dengan berlari menghampiri Candy yang duduk dengan Allea.


"Mba..Ais.." panggil Allea pada Aisyah dengan memberinya tempat duduk.


"Kasih..selamat dong..tantenya.." pinta Candy pada si kembar yang bingung begitu juga dengan Andika dan Nasyauqi, bukannya mereka sudah memberikan selamat pada Azlan untuk karirnya.


"Tante sama om mau punya baby kecil nih..masih disini.." Candy menjelaskan yang membuat Andika juga Nasyauqi senang banget.


"Selamat..ya..Al.." ucap Nasyauqi memeluk Allea yang membalas pelukan dari Nasyauqi.


"Terimakasih mba.." balas Allea dengan tersenyum.


Begitupun dengan Andika memberikan selamat pada Allea, Andika yang ikut senang sebab ini bukti Azlan sudah bisa mencairkan gunung es yang ada di hati Allea, Andika tahu tidak mudah menaklukkan Allea dengan sikap dinginnya selama ini pada Azlan yang hanya bisa berbagi dengan dirinya.


"Ma..papa mana..?" tanya Andika yang menggandeng tangan si kembar.


"Ada..di kamar rawat ade..mas.." Candy menjelaskan pada Andika yang langsung berpamitan menuju ruangan dimana Azlan dirawat.


Setelah mengucap salam Andika tidak sabar ingin memberikan selamat pada Azlan atas keberhasilan menaklukkan gunung es yang sudah bisa mencair sebagai misi terbesarnya.

__ADS_1


"Selamat..ya dek..kamu hebat langsung tokcer..sepertinya tepat sasaran ya..waktu nembak.." Andika memeluk Azlan yang bingung.


"Bukannya udah kasih selamat mas tadi pagi.." ujar Azlan pada Andika.


"Jadi kamu belum tahu..Al..hamil..dek.." Andika menepuk tangan Azlan yang masih bingung antara harus senang atau sedih sebab dia yang tahu bagaimana nanti sikap Allea untuk menerima atau menolak kehamilannya saat ini, walaupun Allea sudah menerima cinta Azlan.


"Kaget boleh tapi ga sebegitu juga kali dek.." protes Andika yang mencari keberadaan si kembar.


Satu persatu keluarga pulang hanya meninggalkan keduanya yang terlihat seperti canggung yang dirasakan oleh Azlan sebab dari awal dirinya sadar Allea sudah tidak di dekatnya setelah kembali dia hanya jadi pendengar kehebohan si kembar yang bercanda bersama papa.


"Qalbii.." "mas" keduanya bersamaan berucap dan tersenyum bersama.


"Ya..qalbii ada apa.." tanya Azlan lebih dulu memulai.


"Mas..Al..hamil.." ucapnya dengan tertunduk bukan malu tapi terlihat cemas terlihat dari tatapan matanya.


"Ya..mas tahu dari mas Andika..selamat ya qalbii..jaga kesehatan ya.." ucap Azlan lembut.


Allea memeluk Azlan yang duduk di atas kasur milik rumah sakit, Azlan menenangkan Allea dengan mengusap lembut kepalanya dan punggungnya.


"Kenapa..qalbii..ada yang menggangu qalbii..bicaralah biar mas tahu apa yang qalbii rasakan..jangan diam bukan jalan terbaik..sebab tidak semua diam qalbii mas mengerti..ayo..sini mas mau dengar.." pinta Azlan dengan berharap Allea menghadap ke dirinya.


"Al..ga ngerti gimana ngurus kehamilan.." ucapan Allea terdengar berbisik yang membuat Azlan bertanya lagi karena tidak mendengar ucapan Allea.


"Al..ga ngerti ngurus kehamilan.." Allea lebih dekat dengan Azlan, moment ini dimanfaatkan oleh Azlan dengan mencium pipi Allea yang protes.


"Mas..bukan ga dengar tapi manfaatin kesempatan.." seru Allea tapi dirinya juga senang di perlakukan seperti itu oleh Azlan.


"Tapi..suka kan.." goda Azlan dengan menggenggam tangan Allea agar tidak jauh darinya.


"Soal itu..kita sama-sama dan kita akan banyak bertanya sama mama juga mba..ok ga usah khawatir ga baik loh buat bumil juga debay.." Azlan menenangkan Allea dengan tersenyum dan bersandar di dada Azlan.


"Mas..Al..cape.." Allea merasa lelah seharian ini dia beraktivitas dan belum beristirahat.


"Sini.." Azlan berbagi tempat tidur dengan Allea dan tidak tunggu lama Allea sudah masuk ke alam mimpi yang membuat Azlan iba sekaligus menggoda.


"Siapa yang sakit..tapi kasihan juga qalbii saharian ini di bikin sibuk.." gumam Azlan seorang diri.


Azlan bersyukur ternyata yang dia khawatirkan tidak terjadi, memang Azlan terlalu hati-hati dalam menjalani hubungan ini sebab kedekatan ini baru belum lama ada kekhawatiran itu wajar menurut Azlan yang sedikit banyak semakin tahu siapa Allea.

__ADS_1


__ADS_2