Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
62


__ADS_3

"Selamat malam kamu yang tak dekat dan tak jauh yang menyelusup sampai ke mimpi sepi" Rendra.


Menunggu memang hal yang paling tidak diinginkan semua orang termasuk Rendra yang saat ini memandang langit malam yang kebetulan penuh bintang dengan pikiran melayang jauh penuh kerinduan kepada Pemilik mata indah, mengingat senyum malunya saat digoda olehnya "oh...aku merindukan senyum malumu Honey " gumam Rendra dalam hati tapi tidak dengan senyumnya terlihat dengan mata masih memandang langit malam.


"Sendirian...tapi senyum-senyum " tegur Ifan mengejutkan Rendra tapi terlihat selalu siaga sebab ini daerah rawan konflik.


"Hmmm....aku rindu seseorang yang jauh di sana" Rendra berkata jujur dengan apa yang dirasakannya.


"Iya...serasa lama" Ifan ikut duduk di samping Rendra melihat langit malam di negara orang.


"Simpan dulu rindu itu..tinggal beberapa hari lagi"ucap Panji yang datang menghampiri keduanya.


Ketiga hanya diam dalam pemikiran masing-masing hingga Farel menepuk pundak Panji dan turut duduk disampingnya.


"Ngopi-ngopi...jangan bengong aja" Alfa membawakan minuman yang sepertinya tahu kegundahan kawan timnya saat ini.


"Terimakasih...tahu aja" ujar Rendra menepuk tangan Alfa dengan tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Santai...Kapt"balas Alfa dengan tangan masih memegang minumannya.


"Kangen...Kapt ?" tanya Alfa ke Rendra dengan polosnya.


"Ya...itu pasti ingin ku bersandar di bahunya untuk sesaat" Rendra sepertinya membayangkan rupa seseorang yang dirindukannya.


"Ini...bahuku Kapt " Farel mendekat ke Rendra dan menepuk bahunya untuk jadi sandaran Rendra.


"Ga...enak bahu loe.." ujar Panji dengan tawanya mengejek.


"Jahat...loe..." Farel meninju tangan Panji yang masih dengan tawanya.


"Oh...bintang jatuh" ucap Alfa melihat langit malam.


"Bukan...itu...mah..." ucap Rendra dengan sikap berdiri dan kelimanya bersiap berlari mencari tempat aman ternyata bukan bintang jatuh tapi kiriman roket dari lawan negara berkonflik.


"Ayo....!!" Panji menarik Alfa yang tertinggal, semua berlindung di tempat aman dari jauh terlihat asap mengepul menandakan roket jatuh di daerah yang menimbulkan kebakaran.

__ADS_1


Rendra berusaha mencari informasi dari yang saat ini berjaga untuk melakukan tindakan selanjutnya, yang lain dengan posisi bersiap lengkap dengan perlengkapannya.


Semua personil bersiaga hingga pagi menjelang terasa sekali kelelahan karena kejadian semalam yang menyisakan kekhawatiran tapi syukurlah hanya kebakaran rumah penduduk yang tidak berpenghuni jadi tidak ada warga sipil yang jadi korban.


"Hu...perang bikin rakyat jadi korban saja" ujar Alfa melihat sekitar sisa kebakaran akibat roket yang jatuh.


"Ya...kasihan anak-anak yang tak berdosa" Rendra melihat anak-anak berlarian seakan tidak ada kejadian semalam.


"Tapi...disini berbeda Kapt" Ifan mengusap salah satu anak yang melewatinya.


"Iya...seakan-akan mereka menikmati saja tampa takut"ucap Panji mengekor di belakang Rendra.


"Masa anak- anak yang seharusnya untuk bermain dan nyaman dengan keluarganya telah hilang" ucap Rendra dengan menghentikan langkahnya melihat sekitar.


Anak-anak mendekat kearah tim Rendra dan beberapa orang dari tim yang lainnya, bahasa tubuh mereka mengisyaratkan kesedihan terlihat dari mata-mata bocah itu terpancar kesedihan yang dalam, mereka sebenarnya mengharapkan dunianya baik-baik saja seperti anak-anak yang lain.


Rendra dan kawan satu tim serta beberapa orang relawan menghibur anak-anak itu dengan bermain, bernyanyi dan menari bersama.Tawa mereka mengembang sesaat dengan melihat salah satu dari kawan satu tim Rendra bertingkah lucu yang membuatnya tertawa menghilangkan beban hidup di negara berkonflik.


"Indah...dunia anak-anak bila dalam keadaan dunia damai" ucap Rendra dengan mata memperhatikan tingkah pola anak-anak di depannya.


"Dunia anak-anak adalah dunia penuh kepolosan" ucap Ifan mengingat dia baru saja menjadi ayah baru.


Sengatan sinar mata hari mulai terasa dan menyudahi pertemuan anak-anak beserta tim Rendra dan beberapa orang lainnya untuk melanjutkan tugas selanjutnya.


Didalam barak Rendra merapikan perlengkapannya sebelum melanjutkan tugas nya tapi rasa rindu akan seseorang melintas di benaknya.


"Honey...sedang apa saat ini" gumam Rendra terdengar jelas dengan tangan mengusap sebuah foto dengan gambar diri seseorang yang dirindukannya.


"Gue..tahu loe..kangen ga usah di omongin" ujar Ifan menepuk pundak Rendra.


"Gue..juga kangen..Kapt" ucap Alfa mendekati Rendra dengan polosnya.


"Jangan loe..bilang kangen sama biniku" ucap Rendra dengan tegas.


"Memang ga boleh ya Kapt"ucap Alfa dengan polosnya.

__ADS_1


"Lah..iya lah ga boleh bini orang" ujar Panji mengacak kepala bocil.


"Ya...kecewa dah gue"balas Alfa dengan muka polosnya.


"Apa sih yang kamu kangen dari biniku" ucap Rendra bertanya ke Alfa tapi tidak dengan muka marah menahan emosi.


"Gue...menganggap Mba Candy seperti kakak dan senyumnya itu tulus banget" jawab Alfa yang hanya menunduk lesu.


"Coba kalau kata itu keluar dari mulut gue sudah tinggal nama gue" ujar Farel yang tahu siapa Rendra yang mempunyai kemampuan menembak jitu.


"Jangankan sampai ngomong melirik dan ketahuan sudah bogem mentah melayang ke wilayah yang tidak bisa kita tebak" Panji tidak mau kalah memberikan komentar sebab seberapa parah kebucinan Rendra.


"Memang kalian mau bini kalian di taksir sama orang lain" ujar Rendra terdengar tegas penuh penekanan.


"Ga..lah Kapt"jawab Farel sedikit serius.


"Itu dari mulut seorang play boy gimana dari Kapten" ujar Alfa yang dari tadi menyimak.


"Ha..ha..ha kena lagi loe" Panji tertawa meledek ke Farel yang tersudut.


"Pasangan hidup adalah segalanya bagi setiap pasangan yang menyayanginya apapun akan di lakukan untuk dipertahankannya sebagai tanda memiliki" ucap Rendra dengan tatapan serius.


"Maafin gue...Kapt" ucap Alfa mendekati Rendra bukan sebagai teman satu timnya tapi seperti adik minta maaf ke seorang abang.


"Aku tahu kamu seperti apa jangan ambil hati ucapan ku" ujar Rendra memeluk Alfa yang seperti adik kecil buatnya.


Yang lain hanya diam melihat keduanya nampak seperti adik abang di mata mereka, Alfa nampak bersalah tapi pelukan Rendra menenangkan Alfa.


"Bikin gue...haru aja sih Kapt" ujar Panji dengan membuang pandangan ke arah lain.


"Bocil jadilah bocil selalu di mata gue"ucap Ifan ke Alfa yang masih polos.


"Kamu...tetap adik kecilku selamanya" ucap Rendra menyudahi pelukannya dan menepuk pundak Alfa.


Alfa sendiri hanya tersenyum ke Rendra dan memberikan hormat ke Rendra tanda patuh tapi sedikit santai terlihat diantara keduanya.

__ADS_1


Dalam senyum Rendra membayangkan wajah imut Candy yang memiliki pesona mata indah tidak hanya Rendra yang terpesona tapi kawan satu timnya ternyata terpesona juga tapi tak mampu untuk melarangnya melihat adalah hak asasi.


"Honey...Honey " Rendra manggil-manggil nama kesayangan yang diberikan darinya untuk Candy dalam kesendiriannya selepas menjalankan sholatnya dengan harapan Candy juga merindukannya dari tempat yang nun jauh disana, waktu seakan lambat berjalan sedangkan rasa rindu sudah tidak dapat di bendung lagi lewat telpon tidak mengurangi berat rindunya untuk segera bertemu dengan istri tercintanya yang sangat malu bila digodanya.


__ADS_2