Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
39


__ADS_3

"Terimakasih ya...Rabb, engkau telah membuat pagiku seindah ini, udara yang sejuk dan langit yang cerah melengkapi kebahagiaan " Rendra.


Rendra mempersiapkan diri untuk apel paginya, postur tubuh ideal terbungkus pakaian yang rapi terlihat gagah dipandang mata,seutas senyum menambah pesonanya terpancar dari yang menyapanya pagi ini.


Selepas apel paginya, berserah diri kepada pemilik hidupnya yang menjadi rutinitas Rendra.


Seorang ajudan menghampiri Rendra, memberikan pesan bahwa ada perintah dari komandannya untuk menghadap di kantor beliau.


Langka kaki yang panjang dan tegap menandakan siap dengan apa yang akan diperintahkan komandannya.


Ketukan pintu serta salam mengawali, di susul tanda menghormat seperti biasanya.Tapi kali ini berbeda komandan memerintahkan Rendra untuk tidak bersikap formal, hanya normal biasa saja malah cenderung santai.


"Dra...aku mau tahu..kamu sudah punya seseorang untuk masa depan" ucap komandan dengan santai dengan tangan memeriksa beberapa berkas yang akan di tanda tanganinya.


"Siap...dan...Maaf..sudah ada...dan " jawab Rendra masih belum bisa bersikap normal.


"Aku kira...belum ada sebab aku lihat kamu sering sendiri " Komandan dengan senyumnya.


"Sebenarnya aku mau kamu aku jodohin dengan salah satu anak komandan satuan yang lain, cantik loh anaknya" komandan dengan antusias menceritakan anak temannya.


"Maaf...dan, ada hati yang selalu menanti dengan setia ,tempatku bersandar di bahunya disaat aku butuh rehat dari rasa lelah " Rendra menjawab dengan hati merindukan Candy.


"Sebenarnya...aku ga mau kamu tolak tapi kamu sudah punya pilihan apa hakku " Komandan dengan sedikit rasa kecewanya.


"Maaf...dan,aku ga sempurna dan bukan yang terbaik untuknya " ucap Rendra dengan sopan merendahkan diri.


"Dra...ini yang aku suka dari kamu,selalu merasa rendah hati" Komandan menepuk punggung tangan Rendra.


"Tidak...dan,memang aku ga seperti yang dilihat " Rendra dengan senyumnya.


"Dra...kamu atau dia yang beruntung " Komandan dengan rasa penasaran dengan siapa calon Rendra.


"Jelas...aku dan " ucap Rendra dengan senyum mewakili rasa senangnya.


"What...Sebegitu spesialnya" komandan makin dibikin penasaran.


"Ya...dia memang spesial buatku" Rendra rasa senangnya membanggakan Candy.


" Kapan kamu tunjukkan padaku spesial mu itu"Komandan dengan suara tawa kecilnya.


"Siap...dan secepatnya "suara Rendra serius terdengar.


Setelah cukup lama akhirnya Rendra keluar dengan senyumnya yang sedikit mewakili segala rasa yang di rasakannya.


"Seneng amat...bagi - bagi dong "ucap Panji yang dari tadi sibuk memperhatikan Rendra.

__ADS_1


"Komandan nawarin anak perawan dari temannya, tapi...aku menolaknya " jawab Rendra jujur.


"Serius...Kaptn"ujar Farel penasaran.


"Sejak kapan seorang Rendra berbohong " Rendra dengan suara terdengar tegas dan formal.


"Maaf...kenapa di tolak ?" Alpa yang ikutan ngomong.


"Ada seseorang yang telah mengisi kekosongan di hatiku, yang tidak akan ku hiyanati " Rendra dengan gaya konyolnya.


"Busyet....kapt kita udah ikutan bucin dah..."Ifan yang lagi merapikan berkas.


"Gimana...cantik ga?" Alpa yang tumben ikut konyol.


"Info dari Komandan katanya cantik" ucap Rendra santai tanpa ekspresi.


"kenapa ga ditawarin ke gue...kaptn "jawab Farel dengan pesona play boynya.


"Siapa juga yang mau...anaknya dikasihin buaya kaya loe "jawab Panji menepuk pundaknya Farel.


"Apalagi bawa nama Komandan...ga kepikiran deh..."ujar Ifan menepuk jidatnya.


"Gue...bisa berubah kali" Farel membelah diri.


"Ya..nama baik komandan juga yang jadi taruhannya...loh" ucap panji yang tahu siapa Farel.


" Serius...ga jadi deh gue mundur takut " ujar Alpa yang masih polos.


"Untung baru burung, kalau sampai leher apa kepala di dor...gimana?" Ifan masih dengan keusilannya.


"Bukan takut lagi tapi ini mah...masa depan suram kalau sampe burung hilang" ucap Alpa yang masih dengan rasa takutnya.


"Itu mertua apa algojo udah saingan sama begal, galak amat " ucap Panji ikutan serius.


"Ya...sampai merinding dengerinnya, boro- boro jadi mantu, jadi tetangganya aja takut" ucap Rendra sambil mengusap mukanya kasar seperti merasakan apa yang di ucapkan Ifan.


"Ih....memang ada mertua sampe segitu galaknya " ucap Farel yang sekarang kena usilan Ifan


"Ada..lah,sebab semua anak adalah masa depan dan harapan semua orang tuanya, dia yang jadi Ayahnya aja menjaga dan menyayanginya, kenapa orang yang baru jadi mantu sudah bikin anaknya tersakiti...siapa yang ga sewot lah..." Panji dengan suara tegasnya.


" Orang jahat aja...pengen anaknya dapat orang yang baik, sebenarnya rel...kamu juga pengenkan ibu dari anak-anakmu orang baik, supaya bisa mendidik yang baik- baik juga ya...kan" ucap Rendra yang ingin Farel berubah.


Farel diam tertunduk merasakan ucapan Rendra menyentuh relung hatinya yang selama ini terisi kesenangan sesaat yang bersifat semu yang akan hilang begitu saja hingga berkesan berpetualang yang bukan seharusnya di usianya sekarang ini.


"Masih...ada waktu untuk berbenah...untuk jadi loe..lebih baik, yang sebenarnya loe ada sisi baiknya ko"ucap Alpa yang ngomong seperti orang yang paling dewasa di antara mereka,tidak tunggu lama keempat temannya menghampiri Alpa dan mengacak kepalanya bergantian.

__ADS_1


"Maaf...hanya berusaha mengingatkan " Alpa dengan merapikan tampilannya.


"Bocah...kecil udah mulai dewasa bagus..lah" Ifan dengan menunjuk jari jempol nya.


"Gimana proses pengajuan berkas pernikahannya"Rendra mengatakannya ke Ifan.


"Hanya beberapa wawancara berdua dengan calon istri yang belum diatur jadwalnya " Ifan menjelaskan.


"Semoga di mudahkan prosesnya " ucap Rendra menepuk pundak Ifan.


"Gimana perkembangan anak perawanmu "Rendra bertanya kepada Panji.


" Gadis...sibuk, asal di apelin lagi mengerjakan tugas, walhasil nemenin bokapnya main catur" ujar Panji dengan muka betenya.


"Itu resiko kalau cari istri masih anak kuliahan " ucap Ifan dengan mengoda.


"Sabar itu juga untuk masa depan anak - anakmu kelak, kalau ibunya pinter ga perlu cari guru bimbel " Rendra memberikan semangat Panji.


"Bener juga ya...ngapa gue sewot dulu ya.." ucap Panji menyalahkan diri sendiri.


"Makanya...sesuatu harus dilihat juga dari sisi positifnya jangan esmoci aja yang di inget " Rendra mulai usil.


"Emosi...Kapt " bersama mereka protes.


Rendra tersenyum melihat rekannya kompak, protes dari kesalahan ucapannya memang disengaja menambah ricuh suasana.


"Kapten...kita dikenalin sama ibu kapten" Alpa dengan muka masih dengan muka polosnya tanpa dosa.


"Gimana...ya...dia sibuk banget banyak jadwalnya " Rendra menjelaskan bagaimana kesibukan Candy.


"Maaf...Kapt lebih sibuk dari kita gitu" Alpa memang yang paling polos tapi asyik.


"Ya...dia sibuk,dia Dokter sekarang kuliah lagi mengambil program Spesialisasinya" Rendra makin merindukan Candy.


"Ow...keren...serius ga masalah buat Kapten" Panji mulai ikut kepo.


"Ga,dia selalu ngomong untuk semua hal dan selalu ada waktu buatku" Rendra semakin ingin ada sosok itu ada didekatnya .


"Kenapa kita semua ga pernah tahu Kapt jalan bareng gitu " Farel juga ikut penasaran.


"Kalau ada kalian kapan aku bisa kangen-kangenan malah kalian yang akan tebar pesona " Rendra dengan senyum yang datar.


"Siapa yang berani...Kapt " ucap Panji dengan suara tegas.


"Maaf aku hanya becanda jangan di ambil hati" suara Rendra terdengar santai.

__ADS_1


"Santai Kapt...emang sama siapa sih " ujar Ifan agar suasananya normal kembali.


Ya....itulah Rendra walaupun seorang Kapten tetap manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dengan kerendahan hatinya mau meminta maaf untuk hal terkecilpun.


__ADS_2