Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
152


__ADS_3

"Tuhan akan selalu ada bersama kita disaat yang lain tiada, tuhan selalu mendengar kita disaat yang lain tidak mendengar suara kita maka yakinlah akan keberadaan dan ketetapan-Nya " Rendra.


Selepas subuh Nisrina sudah sibuk merias diri, begitu cepatnya waktu bergulir hingga tiba waktu wisuda yang dinantikan setiap mahasiswa tidak terkecuali Nisrina.


"Sudah..cantik.." goda kakek yang masih sehat diusianya memperhatikan Nisrina.


"Kakek.." Nisrina memeluknya dengan hangat.


"Semoga...ilmu yang didapat bermanfaat ya..sayang" doanya dengan masih dipeluk cucunya.


"Terimakasih kek.." Nisrina mencium pipi tuanya.


"Sama-sama kakek..hanya bisa mendoakan yang terbaik..buat mba.." ujarnya mengusap kepala Nisrina lembut.


"Kek..Nis sayang kakek.." Nisrina bersandar di dada kakeknya.


"Mba...udah siap belum..eh..ngapain manja-manja sama kakek.." goda ayahnya yang sudah rapi dengan baju batiknya.


"Ih..ayah bilang aja..iri..ya..kek,kasihan..deh ayah" balas Nisrina yang langsung bangun meninggalkan keduanya.


Tanpa sepengetahuan Nisrina sudah ada buket bunga yang dikirimkan dari keluarga Indra dan kelurga Rendra juga Candy sebagai ucapan selamat kelulusan Nisrina yang hari ini akan melakukan acara wisuda yang ditemani ayah, bunda juga kakek tercintanya yang sudah bersiap diri.



Ucapan selamat juga terkirim berupa buket bunga yang di kirimkan dari perusahaan dimana Nisrina bekerja, yang jelas dari perusahaan yang Indra miliki untuk mewakili memberikan selamat atas keberhasilannya studinya saat ini.



"Mba..sudah..siap.." ucap Nisrina yang terkejut melihat beberapa buket bunga yang besar juga indah dengan boneka juga bunga menghiasi.


"Ok..ayo.." ajak ayahnya yang melangkah ke pintu.


"Ayah..kapan ini sampai..ko..mba ga tahu.." tanya Nisrina senang.


"Baru tadi mba.." ayahnya menjelaskan dengan apa adanya.


"Terimakasih..tante dan om..oh..ini dari keluarga mas Indra.." dengan senang Nisrina membaca kartu ucapan.


"Dan yang ini..dari tempat mba kerja.." ayahnya menunjukkan bujet bunga yang lain.

__ADS_1


"Terimakasih..ih jadi berasa wisuda beneran..sih.." ucapnya senang melihat semua buket bunga yang dikirimkan dari orang yang menyayanginya.


Tempat wisuda yang sekarang tujuan keluarga Nisrina tujuh untuk memenuhi undangan wisuda anak tercintanya yang masuk tanpa mengetahui anak tercintanya sebagai wisudawati berprestasi terbaik diangkatnya.


Sudah terlihat ramai undangan memenuhi luar gedung juga kursi-kursi undangan begitu juga dengan wisudawan dan wisudawati juga orang tuanya sebagai tamu undangan tidak terkecuali para dewan dekan juga rektor dengan pendampingnya sudah memenuhi ruangan gedung yang telah ditata rapi sesuai acara.


Tahapan-tahapan acara satu persatu telah dilalui hingga tiba waktunya pemberitahuan bahwa siapa-siapa saja wisudawan fan wisudawati yang berprestasi, ada rasa senang juga bangga dalam hati Nisrina ingin memberikan kejutan buat orang tersayang yang sangat di hormatinya.


Mc menyebutkan satu persatu wisudawan, wisudawan dan tiba nama Nisrina di sebutkan sebagai salah satu wisudawati yang berprestasi yang membuat bunda dan ayahnya saling memeluk, karena rasa bangga sekaligus terkejut sebab Nisrina tidak bicara apapun soal prestasinya di kampusnya selama ini.


Kedua orang tua juga kakeknya merasa sangat bangga juga terharu sebab Nisrina tidak hanya jadi anak yang baik tapi juga kebanggaan keluarga, Nisrina yang aktif tapi tahu batasan dalam pergaulan yang sekarang bisa membuktikan dirinya memiliki prestasi dalam pendidikannya.


Sesi foto-foto pun sekarang sedang berlangsung Nisrina yang sangat senang bisa berfoto dengan orang tercinta dan tersayangnya, dengan fose yang paling santai sampai paling konyol Nisrina lakukan terutama bersama ayah tercintanya yang suka sekali menggodanya, memang hubungan keduanya sangat dekat sekali terbuka dalam hal apapun terkecuali urusan wanita pastinya bersama bundanya.


Ayahnya pigur yang mendominasi dalam jiwanya hanya saat keduanya di rumah tapi di luar rumah Nisrina lebih memprotek diri terutama dalam pergaulan, selama masih yang wajar dia akan menyambutnya baik dalam berorganisasi maupun pertemanan tapi soal diluar itu seperti asmara Nisrina lebih mundur teratur sebab disaat ini menurutnya ingin lebih fokus pada pendidikannya hingga tiba waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat menempati relung hatinya.


Rumah adalah tempat ternyaman untuk Nisrina dan keluarga saat ini setelah lelah seharian memenuhi undangan wisuda, Nisrina yang sudah berganti baju santai menikmati semilir angin sore dari balik jendela kamarnya yang dulu milik Candy.


"Mba..bisa bantu bunda..ada tamu diluar..tolong ditemui dulu.." pinta bundanya yang kebetulan sedang merapikan dapur.


"Siap..86..bunda.." balasnya dengan meninggalkan kamarnya menuju luar rumah.


Ada rasa senang juga haru yang Nisrina rasakan dari orang yang dia temui, yang begitu berasa mewakili seseorang yang jauh disana ingin memberikan selamat atas keberhasilan yang sudah melewati prosesi wisudanya.


"Oh..ya..maaf kami semua tidak di rumah..mas" jawab Nisrina menjelaskan.


"Oh..gitu ya..habis mas yang kirimin buketnya minta mba sendiri yang menerimanya, seneng ya..mba punya seseorang yang special sebegitu perhatiannya.." ucap pengirim buket menerima tanda bukti dari Nisrina.


Nisrina inginnya tersenyum tapi air matanya tidak bisa tertahan meluncur bebasnya dari sudut matanya, dan membuat bingung pengirim buket yang melangkah meninggalkan Nisrina yang masih memegang boneka juga buket cantik dari seseorang.


.



"Siapa yang datang..mba.." tanya bunda dengan bingung sebab Nisrina menangis.


"Mba..kenapa.." tanya bunda dengan menenangkannya.


Bundanya melihat buket bunga mawar yang indah juga boneka besar dari seseorang, bundanya membaca ucapan dari seseorang itu yang begitu romantis pantas saja anak gadisnya meleleh.

__ADS_1


"Selamat atas keberhasilanmu ya'asalii aku ikut bahagia, setelah ini ya'asalii akan memasuki kehidupan yang sesungguhnya untuk bersanding denganku".


"Aku tahu ya'asalii lulusan terbaik tapi ya'asalii tetap yang terbaik untukku, selamat wisuda ya'asalii ".


Indra Pramudya Bagaskara.💜


"Mba..menyukainya.." tanya bundanya dengan memeluknya.


Nisrina tidak bisa menjawab hanya bisa menangis masih dalam pelukan bundanya sebab ada rasa malu juga sedikit takut akan adanya perdebatan dirinya dengan orang tuanya.


"Mba..harus jujur pada diri mba..bunda, ayah hanya bisa mendukung mba.." bundanya mengusap kepala anak gadisnya yang sudah pantas mencari pendamping.


"Mba..masih bingung bunda.." ucapnya masih dengan rasa sedihnya.


"Boleh..bunda tanya..sejak kapan Indra mendekati mba.." tanya bundanya dengan menatap Nisrina lembut.


"Belum lama..bunda..tapi dia tidak seperti lelaki yang lain walaupun Nis..baru mengenalnya" ujar Nisrina sesuai yang dia rasakan.


"Mba..nyaman bersamanya.." tanya bundanya dengan santai.


"Iya..bunda..dia tidak pernah kasar, tidak pernah memaksakan dan sabar juga selalu menjadi yang terdepan untuk Nis, dia sangat lembut dalam memperlakukan wanita.." Nisrina menjelaskan sedikit yang dia rasakan selama bersamanya.


"Mba..dalam hubungan memang harus ada rasa nyaman terlebih dahulu..itu yang paling penting soal yang lain..akan berjalan seiring kita saling mengenal dalam ikatan suci itu akan terasa indah yang bunda rasakan saat bersama ayah.." bunda memberikan pengertian pada Nisrina yang sudah mulai tenang.


"Tapi..bunda gimana ayah..Nis takut.." Nisrina memeluk bundanya, walaupun Nisrina dekat dengan ayahnya untuk yang satu ini pengecualian sebab menurutnya ada banyak hal yang menjadi pertimbangan seorang ayah untuk melepaskan anak gadisnya kepada seseorang yang dipercayai untuk menjadi penggantinya dalam keadaan bagaimana pun.


"Ayah..orang yang bijak mba..bunda mengerti kecemasan mba tapi ayah bukan seperti yang mba pikirkan..wajar mba takut tapi tidak perlu mba takut, kita tunggu saja apa responnya..ok." bundanya menenangkan Nisrina.


Bundanya seperti mengerti sebab selama ini Nisrina belum pernah membawa seorang pemuda untuk berkunjung ke rumahnya teman pria pun belum pernah, baru beberapa bulan yang lalu Indra yang bertamu itupun karena mengantarkan Ainun bukan untuk bertamu secara khusus menemui Nisrina.


"Mba..sebenarnya..mamanya Indra sudah terlebih dulu meminta mba menjadi menantunya saat mba masih kecil dulu..sebelum mba seperti sekarang ini.." ucap bundanya yang membuat Nisrina terkejut sekaligus bingung.


"Cuma..ayah khawatir setelah tahu Indra bersekolah di luar negeri..takut dia mengikuti pergaulan bebas..seperti yang lain..tapi seiring waktu penilaian ayah keliru sebab Indra tetap lah Indra yang dari awal sudah mengemban ilmu agama yang baik dari pondok pesantren hingga sekarang menjadi pribadi yang baik.." bundanya menjelaskan.


"Bunda kenapa baru sekarang cerita ke Nis.." ujar Nisrina memegang tangan bundanya.


"Mba..ayah yang melarang..dan ayah pikir mba punya pilihan sendiri, ayah takut mba marah dan akan protes tidak seperti yang lain boleh memilih pilihannya sendiri, itu yang ayah pikirkan untuk kebaikan mba" bundanya menjelaskan yang sebenarnya.


"Bunda pilihan bunda sama ayah pasti yang paling baik menurut mba..pasti ayah sudah mempertimbangkan baik buruknya..iya..kan..bunda.." Nisrina memeluk satu tangan bundanya yang tersenyum dalam benaknya " Mas..ternyata benar dugaanmu anak gadismu menurut apa kata kita berdua..dia anak baik..semoga tuhan selalu menjagamu nak..dan kami berharap pilihan kami tidak salah.." dalam senyumnya.

__ADS_1


Dalam diamnya Nisrina berharap Indra jodoh terbaiknya agar tidak ada penyesalan untuk orang tua yang menyayanginya sepenuh dan setulus hati kepadanya.


Indra sendiri masih menunggu wisudanya soal sidang dia sudah lulus sesuai harapan dan mendapatkan nilai terbaik, sebenarnya dia ingin memberi kejutan hadir di acara wisuda Nisrina tapi waktu yang tidak memungkinkan dan Indra hanya bisa memberikan ucapan selamat untuk mewakili kehadirannya.


__ADS_2