Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
140


__ADS_3

"Bukankah Allah mampu mengubah siang menjadi malam? lantas kenapa kamu masih khawatir? tenang Allah akan ubah kelambu menjadi lillah inshaallah " Candy.


Pagi ini tidak seperti pagi yang lain, selepas subuh Indra sudah langsung berolahraga pagi hanya sekitaran rumah saja tidak biasanya hingga taman kota sebab ada hal yang harus segera dia urus untuk kantornya sebelum kembali ke negeri paman syam untuk studinya berharap selesai lebih awal, agar lebih fokus di negeri tercintanya ada hal yang harus di kejarnya untuk masa depannya itu harapannya.


Sang mama yang sedikit dibikin bingung dengan sikap yang tidak biasa ini hanya menggelengkan kepalanya sebab tahu kemauan anaknya itu.


"Jangan lupa sarapan dulu..mas.." pinta Ayu ke Indra yang akan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Mas..usahain ya..mama.." sautnya sebelum dirinya menaiki tangga.


Ayu hanya tersenyum melihat anaknya yang sudah punya tanggungjawab bukan hanya untuk studinya saja tapi memiliki usaha diusianya yang cukup muda, ditambah dengan segudang prestasi baik akademi juga diluar akademi.


Tidak beberapa lama Indra sudah berpenampilan resmi tapi masih dengan gaya anak muda gaul yang terlihat dia bukan cowok sembarangan tapi tidak dengan dirinya yang pembawaannya kalem.


"Ma..mas..ga bisa makan bareng sudah ditunggu..ga enak ma.." Indra meminta mamanya mengerti.


"Ya..udah..bawa ini jangan lupa dimakan..mama bikin dengan cinta loh..mas.." canda mamanya dengan mengusap kepala Indra.


"Siap..iya mama mas tahu..mama bikin dengan cinta..pasti mas buang..disini..lalu..disini.." Indra menunjukkan mulutnya lalu perutnya yang membuat mamanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Indra.


"Paling..pinter bikin mamanya senang.." ucap Ayu dengan sayang.


Papa Indra dan adik semata wayangnya yang sudah duduk di meja makan hanya tersenyum melihat tingkah Indra dan mamanya yang saling balas, Indra sendiri memasukan kotak bekal makanannya kedalam tas yang terpisah dengan berkas yang akan di bawah ke kantor pusat miliknya.


Indra berpamitan dan meninggalkan keluarganya yang akan menikmati makan pagi bersama seperti biasanya.


Jalanan pagi ini masih terlihat lengang sebab belum banyak orang meninggalkan rumah untuk beraktivitas paginya hanya lalu lalang anak-anak sekolah juga ibu-ibu yang pulang dari pasar sebagai rutinitas paginya berawal.


Mobil sport milik Indra sudah memasuki pelataran parkir hingga sosok yang sangat dikenalnya membukakan pintu.


"Pagi..pak terimakasih.." sapa Indra sopan pada sosok yang lebih tua dari dirinya yang berseragam putih biru dengan pentungan samping tangannya.


"Pagi..mas..sama-sama..tumben mas..pagi sekali.." tanyanya sopan dengan berjalan meninggalkan mobil milik Indra.


"Ada yang harus di rapikan..pak.." ucapnya Indra sopan dengan langkah panjangnya sedikit tergesa.


Satpam itu hanya mengangguk tanda mengerti walaupun sebatas mengerti saja tidak lebih dari itu karena dia tidak mengerti perihal kantor sebab tugasnya hanya menjaga properti kantor Indra hanya itu yang dia pikir.


"Pak..saya tinggal dulu.." Indra meninggalkan satpam dan masuk kedalam kantornya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, satu persatu staf kantor Indra berdatangan dan menempati meja kerjanya masing-masing dan hanya sekretaris orang kepercayaan Indra yang tahu kalau Indra sudah ada didalam kantornya.


Orang kepercayaan Indra memberikan bahwa orang yang ditugaskan dari kantor kakeknya sudah datang dan sudah menempati meja kerja sesuai permintaan Indra.


Sebagian staf kantor indra seperti berbisik memuji wanita muda itu tepatnya dia lebih pantas disebut gadis, gadis ini anggun tepatnya bila dilihat bukan cantik sebab tidak bosan siapapun yang melihatnya.


Balasan sopan yang terucap dari mulutnya tidak lupa senyum dari bibir yang manis dia tunjukkan tanpa bertujuan untuk menggoda hanya memberikan kesan ramah, selebihnya dia lebih banyak diam hanya fokus pada benda tipis di meja kerjanya dengan setumpuk berkas milik perusahaan yang sekarang dia magang.


Indra sendiri belum bertemu langsung sebab didalam kantornya Indra masih sibuk dengan beberapa berkas yang harus di pelajarinya sebelum dia memberikan tanda tangan miliknya.


Rasa haus yang Indra rasakan mengharuskan dirinya menuju pantry, dia tidak ingin memerintahkan seseorang untuk sesuatu hal selama dirinya mampu melakukan sendiri, hanya saja ada yang membuat dirinya terusik dengan bisik-bisik staf yang terdengar di telinganya.


Indra sendiri tidak suka mendengar orang bergosip yang jelas belum tentu kebenarannya dengan suara khasnya Indra hanya mengeluarkan isyarat menandakan untuk stop bergosip.


"Hm..hm..hm.." dengan langkah santainya.


"Sttt.." salah seorang staf memberikan tanda satu jari dimulutnya dan ucapan pelan untuk menghentikan obrolan yang tidak jelas diantara mereka.


Indra mengambil segelas air putih, tapi tanpa diketahui dua stafnya juga ada bersamanya masih dengan membahas yang tadi didengarnya dalam perjalanan menuju pantry.


"Cantik..sih..tapi..cuek.." ucap salah seorang staf Indra.


"Benar juga..ya.." jawab yang satunya lagi dengan menikmati minumannya.


Sepeninggal kedua stafnya Indra bingung siapa yang saat ini mereka bicarakan sebab selama ini biasa saja, memang Indra banyak tahu dari orang kepercayaannya secara persoal dia tidak hapal satu persatu stafnya.


Tapi seperti biasa Indra tidak mau ambil pusing bukan kapasitas juga untuk soal ini, masih banyak hal yang penting yang harus dia urus apalagi waktu yang tidak banyak dia punya untuk urusannya disini, sebab dibelahan dunia sana tugas menantinya juga.


Hampir jam makan siang Indra melupakan menu sarapan buatan mamanya, dengan menepuk kepalanya dia tersenyum mengingat pesan mamanya.


Menu makanannya masih layak dimakan hanya saja dia kehabisan air minum hingga membuat dirinya cegukkan, dengan berlari kecil dia menuju pantry, saat bersamaan tangannya bersentuhan dengan seseorang yang sama-sama akan menekan tombol mengambil air minum.


"Maaf..silakan..lebih dulu" Indra dengan suara cegukkan yang terdengar oleh seseorang itu.


"Mas..lebih..dulu saja.." seseorang itu tanpa melihat lawan bicaranya.


"Mba..lebih..dulu.." ucap Indra juga sama tanpa mau melihat muka lawan bicaranya.


"Silakan.." seseorang itu berinisiatif memberikan air minumnya untuk indra yang masih dalam keadaan cegukkan.

__ADS_1


Tanpa disadari keduanya saling memandang betapa terkejutnya keduanya sebab, keduanya saling kenal dan tawa keduanya pecah.


"Mas..." panggilannya lembut dan sopan terdengar oleh Indra.


"Mba..Nis..ada keperluan apa..disini.." tanya Indra ke Nisrina dengan rasa senang terlihat dari binar matanya.


"Magang..mas..kebetulan di pindahkan oleh kantor yang lama..mas..sendiri ada keperluan apa disini" Nisrina balik bertanya ke Indra.


"Hanya main saja.." ujarnya tidak ingin menyombongkan diri.


"Oh..gitu..kapan mas..sampai..libur.." tanya Nisrina tanpa ada jedah.


"Satu..satu..mba..nanyanya..kemarin sampainya..libur tapi harus secepatnya kembali..sebab disini ada hati yang mas tinggal.." dengan menggoda Indra menjawab setiap pertanyaan Nisrina.


"Oh..gitu ya..mas.., mas kalau bisa jangan panggil mba..saya bukan mbanya mas..loh.." pinta Nisrina tanpa ada maksud lain terlihat dari raut wajahnya yang biasa saja.


"Enaknya..apa..mba..ma..aaf.." gugup Indra mendengar permintaan Nisrina.


"Nama..saja boleh.." ucap Nisrina singkat terdengar oleh Indra yang hanya tersenyum tipis dalam benaknya " Susahnya menaklukkan hatimu.." Indra menggaruk kepalanya.


"Emang tidak ada yang lain..selain nama.." Indra dengan santai bertanya berharap Nisrina merespons keinginannya.


"Ga..baik mas..disini tempat formal akan tidak baik dengar orang lain.." terdengar sopan tapi tegas didengar oleh Indra tiap baris kata yang Nisrina ucapkan.


"Ok..jadi ditempat lain..boleh..benar begitu.." Indra mengeluarkan sisi konyolnya.


"Ga..juga..mas..bukan siapa-siapa Nis, mas cuma mas dari Ainun sepupu Nis..ga lebih..maaf mas bukan Nis..tidak sopan tapi itu faktanya" penjelasan Nisrina semakin memantapkan keinginan Indra memiliki sosok yang ada didepannya yang semakin nyaman ada di dekatnya.


Indra terdiam tampa disadari olehnya, tepukan tangan di bahunya dari seseorang membuyarkan lamunannya.


"Maaf..mas..Nis harus kembali ke meja Nis..tidak enak, Nis orang baru disini.." ucap Nisrina meninggalkan Indra yang hanya mengangguk tanda menyetujui Nisrina meninggalkannya.


Rasa senang itu kembali hampa tapi ada secercah harapan untuk dirinya yang tahu siapa orang yang menjadi akuntan di kantornya akan banyak waktu dia bisa berkomunikasi dengan alasan kerjaan dengan senyum tertahan dia meninggalkan pantry.


Di kursi kebanggaannya Indra yang terlihat seperti Ceo muda tersenyum sendiri mengingat kejadian dipantry tadi.


"Apa..ini rencanaMu..untukku tuhan.." gumamnya sendiri mengingat sosok yang diharapkan jadi jodohnya.


Indra yang semakin ingin cepat menyelesaikan studinya, dia tidak ingin seseorang yang diharapkannya jatuh ketangan orang lain sebab dia yakin sosok itu membuat dirinya semakin ingin jadi orang yang lebih baik dalam banyak hal.

__ADS_1


Tapi ada sedikit ragu yang Indra rasakan apakah Nisrina sudah memiliki seseorang yang istimewa dihatinya, itu yang sekarang jadi tugas berat dirinya yang harus dia cari tahu tapi ada banyak cara untuk hal itu yang lebih pasti mampukah dirinya membuat Nisrina yakin akan dirinya.


__ADS_2