
..."Aku ingin cinta yang akan berkata " bahwa kematian pun tidak akan memisahkan kita, karena kita akan dipertemukan kembali di surga ~insyaallah" Rendra....
Selepas subuh Andika sudah bersiap diri sesuai janjinya pada Ainun, beberapa orang yang melihat dirinya sedikit bertanya sebab biasanya dia berolahraga pagi tapi kali ini dia membawa motornya.
"Mas..arep nang die..masih isuk..( mas..mau kemana..masih pagi..)" tanya seseorang yang mengenalnya.
"Arep..nganter calon bojo..dinas..( mau mengantar calon istri dinas)" balas Andika dengan tertawa kecil.
"Apa aku rah..salah krungu..(apa saya ga salah dengar)" ujar seseorang lagi dengan heran.
"Rah..opo aku salah duwe bojo ( ga..apa saya salah punya istri)" jawab Andika memanaskan motornya.
"Yo..wis calon bojo..ku ngenteni..( ya..sudah calon istri..ku menunggu..)" ujar Andika berpamitan meninggalkan seseorang itu.
Siapa yang tidak kenal Andika di mabes, dia punya karir bagus begitu juga pribadi soal wajah dia ga jelek-jelek amat yang jelas berkharisma tapi untuk urusan asmara dia baru saat ini seseorang itu tahu, sebab dia pribadi yang tertutup.
Begitu juga dengan dunia akademis Andika lebih dikenal aktif dalam study dan sebagai asisten dosen tidak banyak yang tahu untuk soal asmara.
Yang jadi pembahasan ternyata sudah jauh menelusuri jalan raya yang masih cukup sepi sebab baru saja subuh lewat sedikit, dia sudah beberapa orang yang olah raga pagi juga beberapa penjajah makanan pagi yang banyak dicari orang untuk sarapan paginya.
Tidak beberapa lama dirinya sudah berada di depan gerbang asrama putri dimana Ainun tinggal selama menjadi mahasiswa.
"Mas..maaf..ada yang bisa saya..bantu" tegur satpam asrama putri.
"Ya..maaf..pak saya mau menjemput mba Ainun.." jawab Andika tidak kalah sopan pada satpam.
"Oh..mas..ojek pesanannya..sebentar saya..panggilkan.." balasnnya dengan meninggalkan Andika.
"Ya..pak saya tunggu.." ujar Andika dengan sedikit bergumam" Aku dikirain tukang ojek kali ya.., kasihan deh..aku..cuma dianggap tukang ojek..tapi ga apa..lah..yang penting yang pesan..cewek cantik " Andika masih menunggu di depan gerbang.
Di tempat berbeda tepatnya depan pintu kamar Ainun, satpam mengetuk pintu kamar Ainun.
"Non..ojek pesanannya sudah nunggu di depan.." ucap satpam yang membuat Ainun yang mendengar bingung.
"Iya..pak tunggu sebentar.." balas Ainun dengan berpikir " ko tukang ojek..salah kali.." Ainun berkata seorang diri dengan mengenakan sepatunya.
Setelah mengunci pintu kamar Ainun bergegas ke depan gerbang dan betapa terkejutnya Ainun yang melihat Andika yang tersenyum manis tapi di panggil tukang ojek.
__ADS_1
"Non..itu ojek pesanannya.." ujar satpam yang membuat Ainun menahan tawanya.
"Oh..iya pak terimakasih..mari pak.." ucap Ainun berpamitan.
"Ayo..bang antar saya..ke rumah sakit.." ucap Ainun yang membuat Andika menyentuh ujung hidung Ainun.
"Kasihan..deh sudah dandan rapi..cuma di panggil tukang ojek.." ujar Andika mengasihi diri sendiri.
Walaupun motor sudah menelusuri jalan tapi Ainun masih saja tertawa kecil mengingat Andika yang disamakan dengan ojek online.
"Ai..selucu itukah..hingga tawa Ai..tidak bisa berhenti.." ucap Andika dengan pandangan ke depan.
Ainun tidak bisa menjawab masih saja dengan tawanya yang ditutupi dengan tangannya, Ainun sudah berusaha menahannya tapi tetap saja susah bila melihat Andika lewat kaca spion.
Tidak beberapa lama keduanya tiba di rumah sakit dimana Ainun KOAS, Andika tahu Ainun belum s$sarapan 4pagi dengan memarkirkan motornya Andika mengajak Ainun sarapan di kantin rumah sakit.
"Kita sarapan dulu..ya.." pinta Andika pada Ainun yang hanya mengikuti maunya Andika.
Sesampainya di kantin Andika memesan apa yang Ainun minta yang terlebih dahulu bertanya pada Ainun apa yang mau dimakan untuk sarapan pagi ini, dia minta roti bakar sama jus apel untuk Andika sendiri dia memesan roti bakar sama lemon teh.
Keduanya sekarang menunggu pesanan datang dengan berbincang santai.
"Sama-sama..dengan senang hati.." balas Andika membuka benda pipinya seperti sangat penting.
"Mau dijemput lagi..tinggal pesan saja.." Andika memulai menggoda.
Ainun kembali tertawa dengan menutup mukanya dengan baju kebesaran seorang dokternya, hingga terlihat kedua pipinya memerah.
"Ai..sudah..sudah pesanan sudah datang tuh.." ujar Andika yang masih menahan senyumnya tidak enak ada pelayan.
Keduanya menikmati sarapannya dengan nikmat, nikmat makanannya apa momen berduanya yang jelas itu yang keduanya rasakan.
Sarapan pagi sudah keduanya lewati kini waktunya Andika undur diri untuk kembali ke alamnya kembali untuk berdinas tapi sebelumnya berpamitan dulu pada Ainun.
"Kak..pulang..dulu..ya..ingat jaga diri..jangan terlalu malam..satu lagi yang penting jaga kesehatan..ga lucu masa yang ngobatin malah sakit.." ucap Andika yang memakai helm.
"Ya..hati..hati kabari..Ai..kalau sudah sampai.." pinta Ainun pada Andika dan balasan Andika memberinya hari jempol.
__ADS_1
"Kak..pulang dulu..oh ya..buru ojek hubungi aja tahukan nomornya..assalamualaikum.." ucap Andika menghidupkan mesin motornya.
"Waalaikum salam.." dengan tawanya Ainun menjawab dan lambaian tangan mengiringi kepergian Andika.
Ainun kembali beraktifitas seperti biasanya dengan mengunjungi beberapa pasien untuk pemeriksaan bersama dokter senior tentunya.
Begitu juga dengan Andika yang harus menghadiri rapat yang kebetulan juga Rendra dilibatkan dalam rapat kali ini.
Seperti biasa Andika memperlihatkan kecerdasannya tanpa berniat menggurui para seniornya tapi dengan cara memberikan ide-ide yang cukup berlian membuat peserta rapat makin ingin tahu siapa sih Andika termasuk Rendra.
Beberapa rekan dinas yang seumuran dengan Rendra berbincang santai di sela-sela istirahat siangnya, tapi Rendra lebih memilih ke masjid lebih awal untuk menjalankan sholat sunahnya.
Dalam benak Rendra hanya dirinya orang pertama yang ada didalam masjid ternyata salah ada sosok yang dia kagumi, jiwa muda dengan ide-ide cemerlangnya membuat senior di bikin takjub sama kecerdasan yang dia miliki.
Rendra lebih memilih sholat terlebih dahulu dan berdzikir menurutnya ingin lebih menenangkan diri disaat siang ini yang cukup terik bisa menguras emosi karena itu kita perlu berserah diri pada pemilik hidup.
Tapi berbeda dengan Andika memiliki melantunkan ayat suci terdengar sangat syahdu di telinga pendengarnya, Rendra yang telah selesai menjalankan sholat sunah dan dzikir dibuat kagum dengan bacaan juga suara Andika yang sangat sama dengan suara muratal yang biasa mengimami sholat di masjidil haram.
Tidak beberapa lama seorang melantunkan adzan zuhur dan dilanjutkan dengan sholat sudut berjama'ah untuk kali ini rekan dinas menunjuk Rendra untuk menjadi imamnya, bagi Rendra tidak masalah tapi ada yang bawaannya lebih baik apa salahnya orang tersebut pikir Rendra tapi anak muda ini begitu merendahkan diri dengan sopan dia berkata.
"Bapak..yang lebih..pantas..untuk saat ini.." ucap Andika dengan menundukkan pandangan.
Beberapa senior makin dibikin kagum dengan pribadi Andika yang sangat rendah hati walaupun secara pangkat sama dengan Rendra tapi dia lebih memandang diri lebih rendah dari seniornya.
Sebenarnya Rendra ingin berkenalan secara pribadi tapi ada saja kendalanya seperti rekan senior mengajak berbincang, atau mengalihkan pembicaraan tapi bagi Rendra tuhan belum berkehendak padanya jadi tidak ingin memaksakan itulah Rendra yang selalu berpikir positif sama urusan Allah.
Untuk Andikanya sendiri tidak pernah jadi masalah dia tetap jadi dirinya sendiri tidak pernah merasa paling diatas atau berpikiran lain, baginya sudah berusaha memberikan yang terbaik selebihnya Allah yang tentukan.
Rapat berlanjut hingga berakhir pas jam kepulangan kerja jadi Rendra berniat bertemu Ainun untuk melihat atau berbincang ringan sebab pertemuanmya kemarin tidak ada pembicaraan yang berarti untuk keduanya karena Ainun harus kembali.
"Mampir..dulu..pak.." sapa Andika pada Rendra yang keduanya lupa pernah disatukan dalam keadaan yang tidak senyaman ini.
"Oh..ya..terimakasih saya..harus menemui anak saya..lain kali saja" balas Rendra dengan tersenyum ramah.
"Ya..pak saya tunggu.." balas Andika melihat punggung Rendra yang semakin menjauh.
Andika sendiri kembali ke dalam ruangannya yang ingin menanyakan seseorang apakah ingin di jemput atau tidak untuk saat ini.
__ADS_1
Itulah Rendra dan Andika yang keduanya belum menyadari sudah penah di pertemukan dalam momen yang semua orang