
Masa kuliah "universitas"
Candy sudah melewati masa-masa OSPEK dengan suka cita, dan berharap dapat menyelesaikan masa kuliah sesuai target tanpa halangan dan berharap lulus jadi yang terbaik di angkatannya.
Semester demi semester pun telah di laluinya dengan baik dan dengan hasil sesuai harapan Candy, walaupun ada sedikit kesulitan tapi tidak mengurangi semangat Candy untuk dapat melaluinya dengan baik.
Banyak juga yang mengharapkan Candy untuk menjadi kekasihnya, karenanya terpesona dengan kecantikan ditambah pesona mata indahnya dari teman satu angkatan, kakak tingkat, asisten dosen, anak senat bahkan anak yang bukan satu angkatan pun mengharapkannya tapi Candy selalu menolaknya dengan alasan untuk jadi temannya saja, namun ada saja yang tidak menyerah tapi tidak membuat Candy terbawa emosi, dibawa santai saja jawabnya mungkin ini ujian yang harus di hadapi.
Waktu seakan bergulir sesuai alurnya yang meninggalkan jejak kenangan yang berkesan menyenangkan, menyedihkan maupun menyakitkan.
Candy tidak banyak memiliki teman tidak seperti dimasa SMAnya dulu, dia lebih banyak memfokuskan pada pelajarannya dari pada pergaulannya, hanya sebatas tahu kalau siapa-siapa saja teman-teman satu kelasnya hanya itu tidak lebih.
Masa kuliah ini banyak membuat Candy sangat serius dalam pelajarannya tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tidak bermanfaat, di luar waktu belajar dia gunakan untuk ke perpustakaan untuk sekedar mencari buku atau membacanya.
Candy ingin lulus sesuai harapannya tidak ingin membuat ayahnya kecewa, dia ingin membanggakan ayah dan kedua mas yang sangat dia sayangi yang selama ini telah membantu untuk keberhasilannya.
Proses yang harus Candy jalani untuk menjadi seorang dokter satu persatu dapat Candy lalui walaupun masih ada beberapa tahap lagi yang harus di laluinya dengan harapan dapat melakukannya dengan baik tanpa ada halangan dan hambatan yang tidak di harapkannya, dengan do'a serta dukungan dari keluarganya yang membuatnya selalu bersemangat.
Waktunya menjalani masa-masa KOAS akan Candy hadapin, dengan persiapan yang sudah disiapkan dengan matang dari kesehatan, fisik maupun mental yang benar-benar Candy persiapkan dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa KOAS, harapannya semua berjalan sesuai keinginannya, tapi bila ada sesuatu itu diluar kehendak Candy sebagai manusia biasa itu lain lagi ceritanya menurut Candy.
Tapi ada kesedihan yang tidak dapat Candy hindari, dalam kesibukan KOAS yang sangat menyita dan menggikat waktunya, mas Iqbal harus mengakhiri masa lajangnya setelah beberapa bulan yang lalu proses lamaran, kini akan memasukinya proses pernikahan.
"Maafkan, aku mas tidak bisa membantu persiapan untuk acara pernikahan mas" Candy membatin dengan rasa bersalah yang dirasakannya.
__ADS_1
Tapi di sisi lain Candy sangat bersyukur mendapatkan dokter pembimbing (konsulen) yang baik, terbuka dan mau berbagi ilmu dan pengalamannya buat Candy yang masih dalam proses penerapan ilmu dalam praktek langsung terbantu.
"Can...kamu jadi tukar jadwal jaga dengan lisa" ucap dokter Ridwan (konsulen) mengatakan kepada Candy.
"Memang boleh, dok..." Candy minta kepastian dari dokter Ridwan yang mengijinkan tukar jadwal jaga dengan lisa teman KOAS Candy.
"Boleh....asalkan ada, imbalannya " canda dokter Ridwan yang terkenal baik dan suka bercanda dengan santai.
"Boleh saja...dok, asal jangan mengajak kencan aja dok, takut istri dokter mengacak-acak muka imut aku" Candy balas candaan dokter Ridwan dengan muka polosnya.
"Kepedean....kamu Can, siapa juga yang mau mengajak kamu kencan, jalan sama kamu itu sama saja jalan sama anakku, mukamu itu Can...kelewat imut ga pantes jadi pelakor " dokter Ridwan tertawa tak henti-hentinya sambil mengusap atas kerudung yang Candy kenakan.
"Ih...dokter jahat..." ucap Candy yang merona malu dengan ucapan dokter Ridwan.
"Ya...terima kasih, dok" jawab Candy dengan senyum yang terlihat senang.
"Jangan lupa, traktirannya " canda dokter Ridwan dengan mengoda Candy .
"Siap...dok, asal sesuai kantong mahasiswa aja, jangan sesuai kantong dokter " Candy dengan suara sopan dan senyum simpulnya yang dia tampakan.
"Ok...waktunya aku yang tentukan ya...." dokter RIdwan sambil berjalan ke ruangan lain masih dengan kesibukannya memeriksa pasien.
Candy dan dokter Ridwan berpisah dengan kesibukan masing-masing, yang belum bisa ditinggalkan karena bukan waktunya pulang.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa menghadiri acara pernikahan mas Iqbal walaupun hanya sebentar" ucap Candy dalam batin dengan muka sumringah tanda senang.
Pertukaran jadwal pun mendapat persetujuan dari Lisa sebab Candy anak yang terbuka dan suka membantu sama siappun, dan menurut Lisa ini waktunya membalas kebaikan Candy yang selama ini baik dan selalu membantunya, Candy pun berterimakasih kepada Lisa atas kebaikannya mau membantunya bertukar jadwal jaganya untuk dapat hadir dalam pernikahan mas Iqbal dengan mba Salma Istiqomah.
Hari ini Candy dapat jaga malam, memang cukup santai hanya sesekali memeriksa pasien, kalaupun ada tindakan darurat tidak seperti siang hari, yang menjadi masalah rasa kantuk dan dinginnya malam yang terkadang susah di tahan serasa ingin menarik selimut tinggi-tinggi, apalagi melihat pasien tidur dengan pulasnya bikin syirik saja.
Tapi apa daya tugas ya tetaplah tugas harus tetap harus di jalanin, itulah suatu kondisi yang sekarang Candy alami, semangat itu yang selalu Candy tanamkan dalam dirinya biar tidak mudah menyerah dalam menjalaninya dengan tetap dalam keikhlasan.
Mengingat banyak pasien yang membutuhkan pengobatan dan perawatannya, kesabaran juga sangat di perlukan disini sebab tidak semua orang yang datang ke rumah dakit dalam keadaan sakit, keluarganya yang cenderung tidak sabar bila melihat dokter atau perawat sedikit lamban dalam pemeriksaan terhadap pasiennya.
Dokter juga manusia punya lelah, marah, galau masih banyak lainnya, namanya manusia biasa, tapi pasien dan keluarganya tidak perdulikan itu hanya dituntut jadi orang yang siap sedia seperti harapan pasien dan keluarganya.
Itu baru soal kesabaran tapi yang lebih parahnya mereka mengharapkan seperti malaikat yang harus jadi penyelamat jika pasien tidak dapat tertolong, mereka cenderung menyalahkan tindakan kami para medis yang kurang cepat dalam bertindak.
Harapan semua orang tua banyak yang menginginkan anaknya jadi seseorang yang bekerja di dunia medis kalau tidak terwujud, kalau bisa punya menantu orang medis harapan mereka, itu juga pernah di alami Candy dalam masa KOASnya, bukan kesel yang dirasakannya tapi lucu saja menurutnya.
Belum lagi tubuh mungilnya Candy banyak yang tidak percaya kalau dia seorang dokter yang harus memeriksa dan menolong juga merawat pasiennya mereka melakukan penolakan tidak percaya akan profesinya, menurut mereka anak yang sedang belajar takut jadi kesalahan prosedur kesehatan.
Faktor kesehatan juga menjadikannya harus tetap dalam kondisi selalu sehat, kerena kondisi para medis yang selalu bersentuhan langsung dengan pasien dengan beragam penyakit yang dideritanya cenderung tertulari itu sudah pasti jadi tim medis dituntut harus tetap dalam kondisi yang optimal selalu.
Tapi karena sudah jadi ke ingin Candy untuk menjadikan dirinya seorang dokter jadi mau tidak mau perlakuan seperti apapun yang Candy terima dari pasiennya ada sebagai sedikit ujian tapi kesembuhan pasien lebih di utamakan dari pada dirinya sendiri.
Jadi suka tidak suka terima saja ketidak kenyamanan itu sebagai batu ganjalan untuk tetap bersemangat menyembuhkan orang banyak yang membutuhkannya, tidak semua kebaikan kita akan dinilai baik oleh orang lain tapi untuk tetap baik adalah keharusan biar semua berjalan sesuai jalurnya, semangat yang selalu Candy tunjukan sesuai pesan ayahnya sebagai inspirasi hidupnya.
__ADS_1