
..."Kita terkadang merasa tidak seberuntung orang yang disana, tapi sebenarnya orang yang disanapun sama berpikir dirinya tak seberuntung disitu, jadi secara kasad mata nikmat itu hanya dapat dilihat tidak dirasakan coba rasakan dengan apa yang sudah dimiliki sekarang kita tidak akan menginginkan yang orang punya, rasa syukur yang utama" Rendra....
Ainun disibukkan dengan kegiatannya hingga liburan sekolah Azlan kali ini tidak ditemani olehnya yang biasanya ada saja yang Azlan lakukan untuk membuat Ainun berteriak memanggil namanya karena ulah usil Azlan.
siang menjelang sore ini Azlan memilih berkunjung ke panti publik papanya, seperti biasa dia akan membawa beberapa mainan baru untuk anak panti tentunya yang mendidik seperti buku bacaan, ular tangga conglak juga beberapa bola untuk anak laki-laki tentunya.
Kedatangan Azlan disambut dengan teriakan seperti biasanya tapi kali ini ada yang berbeda hanya anak laki-laki yang menghampirinya sedangkan anak-anak perempuan sedang asyik dengan seseorang yang baru saja dilihatnya.
"Mas..mainan yang ini..mau dibagikan sekarang.." tanya pengurus panti pada Azlan.
"Boleh..pak..pak..maaf..yang disana itu siapa..ya..rasanya saya baru lihat.." tanya Azlan cukup penasaran.
"Oh..itu..mba Farah..mas..dia sering kesini ko..mas terutama kalau libur sekolah seperti saat..ini.." ujar pengurus panti menjelaskan.
"Oh..cuma aneh..aja ya..pak..anak seusia dia mau main ke panti.." Azlan sedikit menjelaskan yang dia tahu.
"Dia..dari pagi sampai menjelang magrib mas..di sini selama masih libur sekolah..seperti itu setiap hari.." pengurus panti lebih jauh menjelaskan.
"Loh..ko bisa..pak.." Azlan sedikit heran juga bingung.
"Yang..saya tahu dari sopirnya..dia kesepian di rumah bila..sendiri mba Farah akan mengurung diri di kamar atau menangis sepanjang hari..." penjelasan dari pengurus panti membuat Azlan semakin bingung.
"Kasihan..ya pak..ya..sudah kalau disini dia merasa nyaman biarkan..tolong pak..kasih makan atau keperluan yang lain maaf..dia..siapa tadi namanya..?" Azlan meminta pengurus panti memperhatikannya.
"Mba..Farah mas..dia membawa sendiri makan dan keperluannya mas..malah makanan punya dia, dia tukar dengan anak-anak kata anak-anak mba Farah yang minta..gitu mas.." penjelasan dari pengurus panti membuat Azlan makin bingung tidak mengerti ada apa dengan gadis yang baru di lihatnya ini.
Mobil mewah yang di depan itu ternyata miliknya itu yang sekarang ada dalam otak Azlan yang mengira ada tamu atau donatur yang sedang berkunjung.
Bukannya anak orang berada lebih memilih liburan jalan-jalan, apalagi dilihat dari mobilnya dia bukan anak orang cuma kaya saja pasti lebih setidaknya seperti kakeknya itu yang ada di pikiran Azlan yang saat ini memilih berkeliling panti.
"Assalamualaikum..mas Azlan .." sapa salah satu penghuni panti ramah dengan tersenyum.
"Waalaikum salam..gimana kabarnya..?" balas Azlan ramah seperti biasanya.
"Alhamdulillah..mas..baik..mari gabung mas.." dia mengajak Azlan untuk bersama-sama penghuni panti mengisi waktu luang diruangan bermain.
Terlihat anak-anak bermain congkak, membaca buku yang tersedia di rak buku yang sangat besar dengan buku yang tertata rapi juga banyak, ada juga yang mengambar dan belajar menjahit.
"Mas..kenalkan..ini..mba Farah.." ujar salah satu anak panti yang sedikit dewasa hampir seumur Farah.
"Oh..iya..Azlan.." Azlan memperkenalkan diri tapi Farah tidak seperti gadis lainya yang bila berkenalan memberikan tangannya Farah lebih menyebutkan nama tanpa memberikan tangannya.
"Farah.." ucapnya singkat lalu kembali menyibukkan diri bersama anak panti.
Azlan yang sedikit tahu dari pengurus panti tidak merasa kaget hanya merasa kasihan seusianya seperti sekarang harusnya dia ceria tidak seperti sekarang ini seperti ada trauma atau tekanan dalam dirinya Azlan tidak tahu yang jelas prihatin itu yang Azlan berikan pada Farah.
Usianya terpaut tiga atau dua tahun di bawah Azlan yang sudah duduk di sekolah menengah atas saat ini.
__ADS_1
Terlihat dia tidak banyak bicara hanya menjawab bila salah satu anak panti yang kecil bertanya atau memerlukan bantuannya, dia tersenyum bila melihat tingkah lucu atau konyol dari anak panti bercandan tidak lebih.
"Mba..yang ini..gimana.." pinta anak panti yang masih kecil meminta bantuan pada Farah.
"Mba..lihat..dulu ya.." terlihat sabar dia membantu dan memangku bocil itu.
"Hore..bisa..makasih mba.." teriaknya senang Farah hanya tersenyum melihat bocil bahagia.
Begitu terbebanikah hidupnya hingga senyumnya pun hilang dari wajahnya itu yang terlintas di pikiran Azlan .
"Mas..Azlan ayo..main bareng.." pinta penghuni panti pada Azlan yang pura-pura membaca buku.
Mereka saat ini bermain tebak kata dari huruf dan hukuman bila tidak bisa menebak harus memperlihatkan wajah terjeleknya.
Semua dapat giliran hukuman termasuk Azlan setiap hukuman membuat peserta permainan tertawa karena muka jelek harus tidak sama satu dengan yang lain dan tiba giliran Farah yang kena hukuman dia terlihat bingung harus seperti apa muka jeleknya.
Farah diam tapi dia harus sportif atas hukuman yang diterimanya dia sudah berusaha tapi masih juga bingung dan tanpa sadar dia meneteskan air mata yang dia sendiri tidak menyadarinya yang membuat semua anak panti memeluknya.
Dalam bingungnya dia diam tidak berkata sepatah katapun, Azlan dibuat tidak berdaya harus berbuat apa dan tanpa berpikir panjang dia mengusap punggung Farah menenangkan nya dan bertanya.
"هل انت بخير؟" ("?apakah kamu baik-baik saja")
"أنعم انا بخير"( "ya saya baik-baik saja")
Azlan baru menyadari dia bertanya mengunakan bahasa arab yang biasa dia gunakan di pondok dan Farah bisa menjawabnya berarti dia bersekolah di sekolah yang mengunakan bahasa itu atau dia juga anak pondok itu jadi pertanyaan yang sekarang ada di benak Azlan.
Azlan tidak bisa lama-lama di panti sebab sudah janjian dengan mamanya yang akan menemaninya berbelanja selepas sholat magrib nanti.
Sesuai janji Azlan saat keduanya sudah berada di supermarket untuk membeli kebutuhan rumah jadi yang pastinya yang dibeli cukup banyak.
Setelah selesai berbelanja Azlan membawa beberapa kantong belanjaan begitu juga dengan sopir dan mamanya.
Azlan dan mamanya menunggu sopir untuk mengambil mobil di tempat parkir sedangkan keduanya menunggu di depan supermarket, dengan beberapa kantong belanjaan entah siapa yang salah seorang laki-laki yang terburu-buru menabrak mama Azlan dan beberapa isi kantong belanjaan berhamburan.
"Mas..hati-hati dong..memang ga lihat..." sewot Azlan pada lelaki itu.
"Maaf..maaf..mas saya terburu-buru.." jawabnya tanpa membantu langsung kabur saja.
"Tidak bertanggungjawab.." omel Azlan merapikan barang-barangnya.
"Bunda..tidak..apa-apa.." tanya gadis yang tidak dikenal membantu mama Azlan merapikan bajunya dia ikut terpelanting.
"Oh..ya..tidak apa-apa terimakasih..nak.." ucap Candy tersenyum ramah.
Gadis itu ikut merapikan barang belanjaan tapi sayang kantong belanjaan rusak, hinggap Azlan harus kembali ke tempat belanja tadi untuk membeli kantong.
"Bunda..pakai..ini saja punya..ku.." pintanya dengan memasukkan semua barang belanjaan milik Candy kedalam kantong miliknya.
__ADS_1
"Terimakasih..nak..maaf merepotkan.." balas Candy sopan.
"Tidak bunda..kebetulan saya..lewat.." ujarnya tersenyum manis terlihat lesung pipinya juga gigi gingsulnya menambah ayu wajahnya.
"Bunda..masih menunggu.." tanya sopan.
"Oh..iya anak..saya sedang membeli kantong belanjaan.." Candy menjelaskan.
Tidak lama sopir datang dan terkejut melihat Candy sedikit lusuh karena jatuh tadi.
"Ibu..ga apa-apa.." tanyanya sedikit khawatir.
"Ga..tolong ini masukkan.." pinta Candy sopan.
"Bunda..saya..pamit..duluan.." pinta gadis itu sopan.
"Kita..sama-sama..saja..biar..saya antar.." Candy meminta dengan sangat pad gadis itu.
"Maaf..bunda saya bareng sopir.." gadis itu menunjukkan mobil yang baru saja berhenti didepan keduanya.
Mobil yang sama dengan milik suaminya, bukan mau sombong cuma ada sedikit rasa kagum pada gadis yang membantunya sebab dilihat dari mobil yang dia gunakan bukan mon biasa terlihat dia dari kalangan berada tapi dia punya kepribadian yang sudah jarang di miliki anak seumuran dengan anaknya.
"Oh..begitu ya..terimakasih sudah membantu.."ucap Candy pada gadis yang baru dikenalnya.
"Sama-sama..bunda mari..assalamualaikum.." ucapnya sebelum menuju mobil miliknya.
"Waalaikum salam..hati-hati..nak.." balas Candy dan terlihat dia mengangguk dibayangi dengan sebaris senyum manisnya.
Gamis syar'i yang dia gunakan semakin menambah anggun pribadinya itu yang dilihat oleh Candy.
"Lihat..apa sih..mah..sampai terkesima gitu.." tanya Azlan yang sudah di dekat mamanya.
"Bidadari..dek.." balas mamanya yang membuat Azlan geleng kepala.
"Mama..belum malam ma..jangan halu.." ujar Azlan mencari belanjaan milik mamanya.
"Ma..mana barang belanjaan mama..?" tanya Azlan bingung mencari.
"Sudah dalam mobil dek.." jawab Candy yang sudah masuk kedalam mobil milik suaminya.
"Ko..bisa ma.." tanya Azlan yang sudah duduk disamping supir.
"Sudah mama bila tadi ada bidadari yang bantu mama..dek.." balas Candy menjelaskan.
"Ya..ya..terserah mama saja siapapun itu..terimakasih sudah bantu..mamaku.." ujar Azlan yang duduk manis memainkan benda pipi miliknya.
Berbeda dengan Candy yang memikirkan gadis yang menolongnya dia begitu santun padahal dia tidak mengenalnya seperti dia gadis yang baik pikir Candy tapi ya..sudahlah bilang memang harus bertemu lagi Candy ingin mengajaknya makan sekedar ucapan terimakasih itu pikirnya.
__ADS_1