Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
161


__ADS_3

"Sekolah bukanlah satu-satunya tempat kita mendapatkan ilmu, terkadang ada ilmu yang bisa kita petik dari perjalanan hidup orang-orang yang terkadang di pandang sebelah mata oleh orang lain tetapi dia lebih menggunakan ilmu dan akalnya...itulah hebatnya tuhan menyadarkan kita bahwa ilmu itu lebih menyelamatkan kita dari pada harta itu sendiri.." Rendra.


Dari awal masuk kampus pagi ini Ainun sudah dibuat tidak nyaman dengan perilaku Fatur yang mengusik ketenangannya dalam menerima mata kuliah saat ini, ada saja yang dia buat untuk memecahkan konsentrasinya, salah satunya dengan minta ijin pada dosen bahwa dirinya ingin bertemu salah satu rekan Ainun yang kebetulan sama-sama anak senat.


Tidak hanya itu setelah berganti mata kuliah baru ada saja ide gilanya dengan memberi tahukan pada dosen tentang rencana pihak kampus yang akan mengadakan acara donor darah dan meminta kesanggupan dosen untuk jadi pendonor yang jelas-jelas jadi mengganggu mata kuliah yang sedang berlangsung.


Tapi memang dasar Ainun yang super cuek yang jelas dia sudah bersikap wajar tidak berpikiran yang aneh-aneh hanya berpikiran positif mungkin dia atau dosen ya g susah bertemu itu yang ada di otaknya saat ini.


Mata kuliah di kelas Ainun hanya sampai siang tidak sampai sore, ini kesempatan bagi Ainun untuk meminjam buku-buku untuk referensi salah satu tugasnya bulan depan itu yang sekarang Ainun pikirkan.


Ainun tidak sendiri menuju perpustakaan milik Kampusnya yang saat ini tidak begitu ramai dikunjungi mahasiswa seperti dirinya, tapi terlihat beberapa mahasiswa yang asyik membaca ada juga yang memilih buku-buku yang tertata rapi baik secara abjad maupun jenis bukunya.


Ini waktu yang tepat menurut Ainun mengambil beberapa buku untuk tugasnya, tapi sayang buku yang dibutuhkanya letaknya cukup tinggi hingga membuat dirinya harus berjinjit pada kakinya, hingga tangan kokoh itu membantunya.


"Terimakasih.." balasan dari Ainun untuk seseorang yang berbaju hampir sama seperti papanya.


"Sama-sama.." balasnya sopan dengan tersenyum ramah.


Ainun terlihat senang karena buku yang dicarinya sudah dalam pembukaannya berarti dirinya orang yang pertama meminjam buku yang akan jadi referensi tugasnya itu yang Ainun pikirkan berbeda dengan seseorang yang menolongnya.


"Ternyata dari dekat lebih terlihat..cantik" gumamnya dalam hati yang melangkah meninggalkan Ainun.


Ainun tidak lama didalam perpustakaan karena ingin pulang lebih awal ke asrama pikirnya ada waktu buat dirinya istirahat siang tapi dugaannya salah, Fatur yang melihat dari jauh ingin mengajaknya jalan ke suatu tempat dan hanya dengan dirinya saja.


"Ai...tunggu Ai.." teriak Fatur dengan langkah panjangnya menyusul Ainun yang sudah menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ya..ada yang bisa Ai..bantu kak.." tanya Ainun masih sopan pada Fatur.


Tapi dari jauh Dinda merasa posisinya tidak nyaman dengan berpikir Fatur akan menyatakan sesuatu yang akan merugikan dirinya dengan tergesa dia menyusul, disisi lain Ainun juga tidak mau Dinda akan menilainya tidak sesuai ucapanya sebab Ainun selalu berkata dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Fatur dan memang benar adanya demikian tidak lebih.


Ainun yang posisi terpojok mencari akal dan tuhan memang baik mengirimkan seseorang yang sesuai dalam do'anya dalam keadaan terdesak saat ini.


"Mas..tunggu.." teriak Ainun pada seseorang yang tadi menolongnya di perpustakaan kampus.


Seseorang itu tidak menjawab hanya menunjukkan dirinya denga jarinya kepadanya, yang mengartikan "Saya" pada Ainun.


"Ya.." teriak Ainun lagi tapi sedikit pelan.


"Maaf..ya..kak..saya pergi dulu..mari Din.." ucap Ainun meninggalkan Fatur yang kecewa tapi untuk Dinda terlihat senang.


Dalam benak Fatur berkata " Oh..ini orang istimewa Ainun" masih memandang keduanya yang berjalan beriringan.


"Kenapa harus minta maaf..saya yang harusnya berterimakasih..jadi ada teman jalan.." balasnya dengan pandangan lurus kedepan.


Keduanya hanya dalam diam berjalan menelusuri lorong kampus hingga ke tempat tujuan masing-masing dan sebelum berpisah Ainun mengulang kembali ucapannya.


"Terimakasih kakak sudah membantu.." melihat sesaat dan keduanya saling memandang tapi tidak lama dengan saling memberikan senyum ramah dari keduanya.


Ainun yang melanjutkan keinginannya untuk pulang ke asrama lebih cepat sesuai keinginan awalnya untuk bisa beristirahat di siang hari ini.


Berbeda dengan pemuda yang baru dikenal Ainun dia memilih ruangan kerjanya sebagai asisten dosen dan dia sendiri seorang perwira yang juga salah satu mahasiswa yang mengambil master lewat jalur beasiswa yang diambilnya saat ini.

__ADS_1


Sebenarnya dia tahu siapa Ainun gadis yang membuat dirinya terpesona untuk pertama kalinya pada lawan jenis walaupun hanya lewat curi pandang tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Dalam ruangan kerjanya dia tersenyum seorang diri mengingat kejadian yang baru saja dilewatinya dengan seseorang yang membuat dirinya terpesona beberapa waktu yang lalu dan yang mengejutkan lagi ternyata gadis yang membuat dirinya terpesona itu berkuliah dimana dirinya mengambil kuliah masternya juga diminta menjadi asisten dosen oleh salah satu dosen yang sangat dikenal dekat dengan dirinya.


Sebenarnya dia bukan orang yang santai di kedinasannya, dia salah satu orang penting dalam kedinasannya tapi dia tidak ingin mengecewakan salah satu mantan dosennya yang sangat baik padanya karena itu dia menyanggupi salah satu permintaannya untuk menjadi asistennya.


Sedangkan persoalan kuliah dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang awalnya coba-coba mengikuti seleksi jalur beasiswa untuk jenjang master yang sebenarnya cita-cita tertingginya untuk jadi orang yang pandai dalam menguasai ilmu kimia, dan hasilnya dia mendapatkan beasiswa itu sesuai harapan dan keinginannya.


walaupun dirinya hanya anak angkat dari seorang pemilik salah satu pondok pesantren yang terpencil tapi cita-citanya setinggi bintang di angkasa sana, dia bukan sosok yang rupawan tapi sekilas pandang dia sosok yang berkharisma dengan pembawaan yang tenang sopan dan memiliki kepribadian yang bagus tahu diri dimana dirinya berpijak.


Tapi untuk lebih jauh mengenal Ainun dia tahu diri siapa dirinya sebab dia tahu saat di cafe dulu Ainun dijemput dengan kendaraan yang hanya dimiliki oleh kalangan kolongmerat jadi untuk mendapatkan seorang Ainun dirinya harus memiliki sesuatu yang membuat Ainun yakin dirinya adalah orang yang tepat untuk dirinya dalam bentuk tanggung jawab bukan lewat apa yang sama dimiliki keluarganya.


Dirinya saat ini ingin memantaskan diri terutama didepan Ainun bahwa dirinya merasa pantas bersama dengannya walaupun tidak dalam bentuk berkecukupan seperti orangtua itulah yang saat dia lakukan.


Semua itu dia lakukan tampa Ainun tahu lebih tepatnya cinta dalam diam, tapi dia senang melakukan itu tampa merasa terbebani sebab dia menyerahkan semua urusan cinta yang terkadang diluar logikanya pada pemilik hati yang sesungguhnya tanpa harus terlebih dahulu menyatakan pada pemilik hatinya langsung semua akan datang diwaktu yang tepat itu prinsipnya tapi tidak dengan berdiam diri juga ada usaha yang harus dia lakukan yaitu memantapkan diri terlebih dahulu itu yang sekarang lakukan.


Ainun sendiri setelah membersihkan diri dan sholat dzuhur memilih merebahkan tubuhnya di kasur milik asrama, baginya tidur siang itu sesuatu yang jarang dilakukannya bila jam kuliahnya padat jadi bila ada kesempatan tidak dia sia-siakan.


Tapi semua keluar dari rencana awal mata Ainun susah terpejam mengingat seseorang yang sudah menolongnya dan kenapa juga harus orang yang sama itu pikir Ainun seperti berpikir lewat akal sehatnya.


Sebenarnya siapa dirinya, kenapa ada di Kampusnya dan kenapa dia menggunakan seragam yang sama dengan papanya itu sederet pertanyaan yang ada didalam pikiran Ainun masih dengan berbaring dikasurnya.


Sekilas memandang itu yang Ainun ingat saat ini dia tidak tampan tapi memiliki kharisma, dia berbeda dari lelaki yang ingin mengenalnya tidak banyak berkata yang Ainun rasakan, dia berkata secukupnya saja ini yang membuat seorang Ainun sedikit bersimpati padanya.


Sebab semua anggota keluarganya tahu Ainun gadis yang dididik dengan baik dan penuh kasih sayang, perlakuan dan perhatian dari seorang laki-laki itu dari papa, kekek dan dari orang-orang terdekatnya yang berjenis kelamin laki-laki itu dengan penuh kasih sayang dan lembut, dan Ainun merasakan rasa itu ada dalam sosok yang baru dikenalnya tampa tahu namanya walaupun ada sebaris huruf tercantum di bagian kanan dadanya.

__ADS_1


Tapi yang harus Ainun ingat biarlah sosok itu bermain di benaknya saat ini tapi untuk urusan asmara dia akan gantung setinggi langit dulu karena ingin lulus kuliah sesuai target itu keinginannya saat ini.


Dan dalam diamnya dia berpikir akan tiba diwaktu yang tepat soal siapapun dia biar jadi rahasia tuhan pengatur kehidupan itu yang dia yakini saat ini.


__ADS_2