Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
212


__ADS_3

..."Ya Allah dalam do'aku banyak teruntai harapan dan impian, hanya Engkau yang bisa mengabulkan tiap harapan dan impian itu" Candy...


Apa ini waktu yang tepat tapi siapa sosok yang tepat itu, entah sudah beberapa hari Azlan terusik dari tidur nyenyaknya sosok yang tidak pernah di kenalnya tapi seperti pernah melihatnya tapi dimana itu yang Azlan pikirkan selepas berwudhu untuk melaksanakan sholat malamnya yang terlihat di jam dinding kamar dinasnya pukul setengah tiga pagi.


Dengan khusyuk Azlan berdo'a tanpa meminta sesuatu hal yang lain, yang dia panjatkan hanya pengampunan dosa dan berharap dirinya selalu berjalan di jalan yang sesuai ridho-Nya serta kesehatan keluarga besarnya terutama papa mamanya.


Selepas sholat subuh Azlan berolah raga dan tanpa di duga sosok yang sudah menggangu tidurnya tampak nyata tapi ada banyak pertanyaan siapa dia, putri siapa ada kepentingan apa dia ada di lingkungan dinas dan sosok ini baru saja di lihatnya memang Azlan bukan orang baru tapi benar dia baru melihat sosok yang ada dalam mimpinya ini.


Azlan masih bisa berpikir normal mungkin ini hanya suatu kebetulan pikirnya dan kembali melanjutkan olahraga paginya serta bersiap untuk rutinitas paginya untuk bersiap ke tempat dinas.


Tidak beberapa lama Azlan sudah bersiap untuk apel pagi sebagai rutinitas di kedinasannya seperti biasa.


"Bro..ada tugas..buat loe.." rekan Azlan menjelaskan pesan dari komandan Azlan.


"Terimakasih bro.." Azlan langsung tancap gas menuju ruangan dinas komandannya.


"Pagi.." Azlan yang memberikan hormat pada komandannya.


"Pagi..oh..ya ada tugas buatmu..hari ini ada yang meminta dikawal letnan jendral Prasetyo mohon kerja samanya..ya.." perintah komandan Azlan pada Azlan.


"Siap..laksanakan" Azlan siap menjalankan tugas dan meninggalkan ruangan Komandannya dan menuju ruangan letnan jendral Prasetyo yang usianya kurang lebih seperti adik dari kakeknya yang paling muda.


Singkat cerita Azlan sudah dalam perjalanan dinas mengawal letnan jendral Prasetyo untuk keperluan pertemuan para petinggi di mabes yang berarti di tempat Andika.


Saat jam bebas tugasnya Azlan menemui Andika yang kebetulan juga sedang santai untuk sekedar bincang santai.


Andika senang bisa bertemu dengan Azlan yang sama-sama sibuk di kedinasannya masing-masing, hanya sesekali berjumpa di kediaman papa Azlan yang berarti mertua Andika.


Setelah lama berbincang santai yang awalnya santai sekarang mengarah ke hal yang menganggu Azlan beberapa hari ini mungkin tepatnya hampir dua minggu ini.


"Mas..boleh minta penjelasan dengan apa yang aku alami.." Azlan memulai menceritakan apa yang mengganggu pikirannya.


"Insyaallah kalau aku bisa bantu..aku bantu..tapi serius amat..dek.." ujar Andika yang duduk di dekat Azlan.


Azlan menceritakan bahwa dirinya di minta seseorang lelaki tua dan seperti lelaki itu sepertinya kakek dari seseorang gadis yang meminta menjaga gadis itu dan mimpi itu seperti nyata dan terus datang dalam tidurnya dalam beberapa hari ini hingga membuatnya sedikit bertanya apa maksud dari semua mimpinya.


"Mas..apa arti mimpi itu ya.." ucap Azlan serius, tapi apa yang Azlan dapat dari Andika hanya tawa dari Andika yang dia hadirkan untuk dirinya.


"Maaf..mas perasaan aku cerita ga ada bagian yang lucunya.." seru Azlan masih dalam muka serius sebab Andika makin tertawa.


"Dek..tandanya kamu akan dapat jodoh.." Andika menjelaskan dengan tawa yang sedikit redah.


"Bisa aja..mas.." balas Azlan sepertinya belum percaya dengan penjelasan Andika.


"Dek..boleh ga mas..kasih masukkan.." ujar Andika yang disetujui Azlan.

__ADS_1


Andika menjelaskan seandainya kalau memang kejadian itu sesuai dengan mimpi, yang diartikan bahwa si gadis harus menerima perjodohan dari orang tuanya dengan lelaki yang tidak dikenalnya terlebih dahulu, di sini letak kesulitan atau tepatnya ujian apakah Azlan akan sanggup menjadi lelaki yang harus sabar untuk bisa membuat gadis itu jatuh cinta pada Azlan yang sudah dalam ikatan pernikahan itu baru soal gadis.


Berbeda dengan Azlan akankah dia menerima perjodohan ini dengan gadis yang belum dikenalnya dan bagaimana dengan Azlan sendiri yang belum jatuh cinta pada gadis yang belum di kenalnya.


"Serius..mas..terus aku harus bagaimana mas.." tanya Azlan yang membuat Andika diam sejenak.


"Yang pertama kalau kamu menyanggupi perjodohan itu niatkan ibadah karena Allah agar kamu kuat menjalankan amanah ini.." Andika menjelaskan.


"Yang kedua kamu harus sabar dengan segala perlakuan dari istri kamu dalam hal apapun dan jangan berharap dia seperti istri yang saling mencintai misalnya menyiapkan segala keperluan kamu atau memperlakukan kamu sebagai mana istri yang mencintai kamu...jangan cemberut di depan kamu saja sudah syukur dek.." ujar Andika yang membuat Azlan mengerutkan dahinya.


"Waduh...separah itu mas.." seru Azlan tapi dengan tersenyum.


"Tapi dek apa bila kamu sukses menaklukkan hatinya jangan di tanya lebih parah..kamu akan di layani lebih dari suami-suami pada umumnya.." ujar Andika lagi dengan tersenyum.


"Serius..mas..tapi kerja kerasnya ini.." balas Azlan yang membuat Andika tertawa.


"Semua tidak ada yang instan dek..usaha tidak akan membohongi hasilnya.." ucap Andika dengan menepuk pundak Azlan.


"Benar..juga sih mas.." seru Azlan yang terlihat tenang.


Tanpa terasa keduanya harus berpisah dan hanya salam buat Nasyauqi juga si kembar dari Azlan sampaikan sebab tidak bisa bertemu langsung karena dalam waktu dinas.


Dalam perjalanan pulang dalam mobil milik letnan jendral Prasetyo, beliau banyak bertanya pada Azlan yang mau tidak mau Azlan menjawabnya dengan sopan dan tidak ingin menyinggung perasaan sebab buka soal pangkatnya tapi faktor usia yang Azlan pertimbangan.


"Sudah..punya calon..mas.." tanyanya dengan tersenyum santai.


"Siap..jendral..belum.." jawab Azlan dengan sopan.


"Tidak usah formal bila di luar kedinasan..panggil saja eyang..seperti cucu-cucu ku.." pintanya dengan tersenyum yang sepertinya tahu usia Azlan yang tidak beda dengan cucu-cucunya.


"Sayang banget ya..kamu yang sholeh belum punya calon.." sepertinya beliau tahu Azlan aktif di masjid rumah dinas bukan hanya sebagai imam saja sesekali Azlan membantu mengajari anak-anak yang tinggal di rumah dinas selepas magrib.


Azlan hanya tersenyum tanpa berkata apapun, begitupun ajudan beliau hanya memberikan senyum yang tidak percaya apa kurangnya dari seorang Azlan sudah sholeh gagah, tampan dan karir yang sekarang sedang dirintisnya.


"Beruntungnya..gadis yang bersama mu mas.." ujar lelaki yang berpangkat itu yang ingin di panggil eyang.


"Eyang bisa saja.." balas Azlan yang membuat eyang tertawa yang menurut ajudannya beliau sudah jarang tertawa setelah peristiwa yang menimpa cucunya.


Itulah awal keakraban Azlan dengan eyang yang sebenarnya atasan dirinya di kedinasannya tapi apalah itu bagi Azlan semua tidak ada yang kebetulan pasti ada rencana tuhan untuknya.


Setiba di kantor dinas Azlan kembali ke ruang dinasnya seperti biasa, tapi tidak lama kemudian Azlan di panggil menghadap lelaki yang di minta dipanggil eyang oleh Azlan, yang sebenarnya membuat Azlan bingung sekaligus banyak pertanyaan didalam benaknya apa ada kesalah yang telah dia lakukan.


Azlan berjalan dengan ajudan eyang dan Azlan sedikit mencari tahu ada apa letnan jendral memanggilnya.


"Ada..apa ya..pak.." Azlan sopan pada ajudan letnan jendral.

__ADS_1


"Ga..tahu ya..mas.." ajudan letnan jendral sebenarnya tahu sebab selepas kepergian Azlan beliau meminta saran pada ajuadannya yang kebetulan juga aktif di masjid.


Dan setelah memberikan salam dan hormat Azlan di persilakan duduk di tempat yang santai tidak untuk pertemuan resmi.


"Mas...bisa memenuhi permintaan eyang.." ucapnya langsung ke pokok masalah yang membuat Azlan kaget bukan kepalang.


"Selama saya bisa saya akan menyanggupi dengan segenap jiwa.." jawab Azlan serius.


"Menikahlah dengan cucu eyang.." pintanya dengan memohon.


Azlan seakan tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya dan Azlan jadi teringat apa yang mas Andika jelaskan padanya.


"Sebelumnya saya minta maaf..apakah boleh saya meminta waktu untuk memberikan jawaban dari permintaan eyang.." ucap Azlan dengan serius.


"Silakan eyang tidak memaksa tapi menurut eyang mas yang cocok bersanding dengan cucu saya..tapi ada syarat yang mas harus penuhi..." eyang sepertinya tidak main-main dengan ucapannya.


"Sebelumnya maaf..eyang apa syaratnya.." pinta Azlan sopan.


"Bia mana mas menyanggupinya eyang akan jelaskan..syarat itu dan mas tidak boleh mundur.." pinta eyang yang sepertinya berat syarat itu.


"Siap..saya akan menjalankan syarat itu walaupun berat dalam pelaksanaannya sebagai mana janji seorang prajurit pada tanah airnya.." Azlan menjelaskan yang membuat eyang semakin yakin Azlan lelaki yang pas untuk menjadi pendamping cucunya.


Setelah cukup lama perbincangan yang tidak seorang pun tahu kecuali ajudan eyang yang memang berawal dari dia memperkenalkan nama Azlan yang dijadikan kandidat untuk pendamping cucunya yang terluka karena ditinggalkan oleh seseorang yang dianggapnya setia tapi ternyata dia melukainya.


Azlan meninggalkan kantor eyang untuk melanjutkan ke kampus karena ada jam kuliah yang harus di isinya, di siang menjelang sore ini.


Suara canda dan obrolan ringan serempak terhenti tanpa ada yang memberikan komando, Azlan memberikan salam dan mulai menjelaskan materi semua mahasiswa mengikuti dengan tenang.


Dan Azlan seperti biasa memberikan tugas diakhir pertemuannya terdengar suara yang mengartikan bahwa tidak suka dari mahasiswanya dan dengan santai diiringi candaan yang menjadi ciri khas Azlan dengan berucap yang jelas merugikan mahasiswa.


"Kalau yang tidak suka boleh..tidak mengerjakan tugas..tapi jangan memohon bila nanti nilai kalian tidak sesuai harapan.." diakhir ucapannya dia tersenyum.


Yang membuat mahasiswanya bersorak kompak " Wah.." dan langsung terdiam.


Tanpa disadari Azlan sosok gadis yang ada dalam mimpinya hadir diantara mahasiswa yang saat ini dia menjadi asdosnya.


"Ya..rabb..ini benar..nyata.." dalam batin Azlan berkata, sosok itu tidak seperti yang lain ramah dan terlihat ceria, yang pasti Azlan tidak berpikir halu.


Gadis itu terlihat jutek padahal dari parasnya dia cantik walaupun Azlan baru menyadarinya padahal sudah lama dirinya menjadi asdos di kelas ini tapi baru menyadarinya ada sosok yang ada dalam mimpinya.


Azlan sudah berada di masjid kampus untuk menjalankan sholat ashar terlihat sosok itu lagi yang sepertinya baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai kewajibannya sebagai manusia yang taat akan tuhan.


Azlan makin yakin tapi bagaimana dengan janjinya pada eyang pikir Azlan dan hanya satu jalan yang harus Azlan lalui yaitu sholat istiqoroh sebagai manusia yang lemah dia harus lebih dulu menyerahkan pilihannya pada Allah sebaik-baiknya penentu kehidupan.


Azlan yakin yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah tapi baik menurut Allah pasti baik untuk manusia, memang sesuatu hal terkadang Allah kasih tidak sejalan dengan keinginan kita tapi satu yang pasti akan baik di depan nanti rencana Allah untuk umatnya.

__ADS_1


__ADS_2