Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
221


__ADS_3

..."Kesetiaan berarti ketulusan untuk menyimpan satu hati didalam hati, dan berjanji untuk tidak akan menghianati " Rendra...


Azlan dan kawan tugasnya bersiap untuk kembali ke negara tercinta, terlihat wajah-wajah gembira akan bertemu keluarga dan kerabat yang juga menantinya.


Keluarga besar Azlan yang menjemput kedatangan Azlan tanpa kehadiran Allea yang Azlan tidak tahu kalau Allea dirawat karena sakit sudah beberapa hari Allea demam tinggi dan selalu memanggil Azlan, eyang dibuat khawatir sebab demam Allea tidak kunjung membaik malah makin mengkhawatirkan setiap makanan yang masuk bersamaan dia akan memuntahkannya.


Allea terlihat makin kurus dan pucat, Candy sebagai mama Azlan juga selalu menangis bila mengunjunginya sebab kondisi Allea makin memprihatinkan.


Lanud terlihat ramai dengan keluarga yang menanti kedatangan salah satu anggota keluarganya yang pulang dari tugasnya, selepas upacara pelepasan Azlan menemui orang tercintanya tapi kehadiran Allea tidak di lihatnya begitu jugapun dengan eyang yang membuat Azlan bertanya pada keluarganya.


"Al..mana..ma..pa.." tanya Azlan seperti khawatir dan merasa kehilangan.


"Ada..dek, oh ya..dek masih ada yang diurus ga mas antar yuk.." tanya Andika pada Azlan.


"Ada..mas..menyerahkan laporan juga sekalian ijin cuti.." Azlan menjelaskan pada Andika yang langsung mengantarkan Azlan ke kantor pusat.


Andika masih menyembunyikan keadaan Allea pada Azlan dengan terus bertanya bagaimana keadaan disana, Azlan masih bisa tenang menceritakan keadaan disana dengan segala suka dukanya tapi sekarang dia bersyukur bisa bertemu kembali bersama keluarga besarnya.


Selepas memberikan laporan dan mengajukan cutinya, Azlan begitu bersemangat ingin secepatnya bertemu dengan Allea dan meminta Andika cepat ke rumah dinas agar lekas melepaskan rindunya pada Allea.


"Loh..ko..malah ke rumah sakit..sih mas..aku mau ketemu qalbii mas.." Azlan protes pada Andika yang terus menarik tangannya.


"Sebentar temani..mas.." Azlan di buat kesal oleh Andika, hingga Andika memintanya untuk menunggu di luar.


"Tunggu dek..sebentar.." pinta Andika pada Azlan yang terlihat sewot dia tidak mau duduk, sesekali Azlan menggosok tangannya tanda gelisah.


"Dek..sini..masuk.." pinta Andika pada Azlan, bersama mbok keluar dari ruangan yang mas Andika meminta Azlan masuk.


"Mbok.." sapa Azlan pada mbok yang biasa mengurusi urusan rumah eyang.


"Eh..mas Azlan..masuk mas ada eyang di dalam.." ujar mbok menjelaskan pada Azlan yang mulai bingung dan curiga.


Azlan memberikan salam dan dijawab eyang, Azlan terkejut dengan apa yang dilihatnya sosok yang dirindukannya terbaring begitu pucat dan begitu kurus badannya dengan beberapa selang infus melekat di tangannya.

__ADS_1


"Qalbii..qalbii..mas datang.." Azlan memeluk dan mencium seluruh bagian muka Allea penuh kerinduan dan rasa bersalah.


Mata Allea terbuka tapi berlahan dan tampak lemah kondisinya ucapan pelan terdengar dari bibirnya " mas sudah pulang.." Azlan menangis dengan memeluknya.


"Ya..mas akan ada di sini..di dekat qalbii.." Azlan melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh lemah Allea dan tangan Azlan menggenggam tangan Allea erat tidak ingin meninggalkannya.


Andika dan eyang meninggalkan keduanya untuk saling melepaskan kerinduan yang selama ini di pendam keduanya.


"Kenapa..bisa sakit..ga dengerin pesan mas..ya.." Azlan mengusap lembut kerudung Allea, hanya senyum yang Allea tunjukkan pada Azlan.


"Mas..Al..lapar.." pinta Allea pada Azlan yang langsung mengambil menu makanan yang tersedia di meja yang disiapkan untuk dirinya dari pihak rumah sakit.


"Ayo..mas suapin.." pinta Azlan dengan membantu Allea duduk, tapi Allea menolaknya.


"Mas..Al..mau masakan mama.." pinta Allea pada Azlan yang langsung menghubungi mamanya,mamanya mengiyakan dan akan membawakan langsung ke rumah sakit.


Azlan jadi sosok yang banyak bicara saat ini, dia ingin Allea sehat dan agar merasakan dia tidak sendiri lagi sudah ada dirinya didekatnya saat ini.


Tidak lama mama Azlan datang membawa makanan yang di inginkan oleh Allea, dan dari tangan Azlan makanan itu diberikan dengan sangat sabar membuat mama, eyang dan mas Andika terharu.


"Ma..ma..insyaallah Allea akan cepat pulih dia hanya merindukan ade..ma.." Andika menenangkan mama yang sudah sedikit tenang.


"Enak.." tanya Azlan pada Allea yang masih mengunyah makanan yang lembut di buatkan mama agar mudah dicerna oleh Allea.


Hanya senyum dan anggukan yang Allea berikan pada Azlan, eyang terlihat gembira Allea sudah mulai mau makan walaupun sedikit menyusahkan karena harus dari tangan Candy tapi terlihat Candy senang direpotkan oleh menantunya.


"Lekas..sembuh ya..sayang mama akan masakin apapun..yang sayang mau..ok.." Candy sedikit haru mencium kepala Allea.


"Iya..mama.." jawab Azlan mewakili Allea yang tersenyum mendengar ucapan Azlan.


Dan tidak lama kemudian Candy dan mas Andika undur diri karena Azlan tahu mas Andika harus membantu mba Nasyauqi mengurus toko juga si kembar, begitupun mama yang harus mengurus kakek nenek juga suami tercintanya.


Azlan meminta eyang juga mbok pulang biar dirinya yang mengurus dan menjaga keperluan Allea saat ini, hingga sembuh apalagi kondisi eyang yang butuh istirahat sebab sudah beberapa hari bermalam di rumah sakit.

__ADS_1


Ternyata kehadiran Azlan obat ampuh bukan obat dari dokter manapun atau rumah sakit yang berkelas yang Allea butuhkan untuk kesembuhannya.


Berangsur-angsur kondisi Allea mulai membaik dari yang pertama tiap kali ke kamar mandi harus di bantu Azlan kini bisa sendiri yang membuat Allea malu bila di goda Azlan.


"Bener..bisa sendiri.." goda Azlan yang tersenyum menggoda Allea.


"Apaan sih mas.." ujar Allea yang meninggalkan Azlan masuk ke kamar mandi.


Tapi Allea lama di dalam kamar mandi yang membuat Azlan khawatir dan ternyata benar Allea merasakan kepalanya masih pusing, hingga dia bersandar di tembok kamar mandi.


"Qalbii..mas juga bilang apa.." Azlan memegang tangan Allea dan membantu melepaskan bajunya, Allea terlihat malu dan Azlan tahu itu.


"Ya..udah mas panggil suster ya..biar bisa bantu qalbii.." seru Azlan tapi tangan Allea menarik Azlan agar tetap bersamanya dan tidak butuh bantuan suster.


"Kenapa..harus malu sama mas..qalbii.." Azlan menjelaskan agar Allea merasa nyaman bersamanya.


Dengan rasa malu Allea di bantu Azlan membersihkan diri hingga selesai berganti baju dan Azlan tidak sedikit pun berpikir macam-macam walaupun dia istri halalnya, hingga membuat Allea menangis di pelukan Azlan dengan rasa bersalah.


"Maafkan..Al..mas belum jadi istri yang baik.." dalam tangisnya Allea berucap yang membuat Azlan menenangkannya.


"Akan tiba waktunya qalbii.., qalbii harus sehat dulu sebentar lagi wisuda loh..mau hadiah apa dari mas.." tanya Azlan dengan yang menangkap wajah Allea yang sudah mulai sedikit segar tidak pucat lagi.


"Mau..baby.." pinta Allea yang membuat Azlan terkejut sekaligus shock sebab dari mana datangnya baby dirinya saja belum pernah menyentuh Allea.


"Iya..kita akan punya baby..secepatnya.." jawab Azlan ingin Allea senang walaupun belum terpikir bagaimana mana memulainya untuk melakukan itu pikir Azlan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas..kapan Al..pulang.." tanya Allea yang sudah bosan di rumah sakit.


"Kata dokter hari ini mau di cek lagi..sabar..ya..mas kan ada disini.." Azlan sendiri juga sudah bosan disini sebab


karena tidak bisa tidur memeluk istrinya, sebab dokter beberapa jam sekali mengecek kondisi istrinya.


Walaupun Allea sudah menerima dirinya tapi Azlan tahu diri, Allea pasti masih ada sisi rapuhnya karena itu Azlan selalu berhati-hati sebab dirinya belum tahu di bagian mana Allea merasa tidak nyaman dalam suatu hubungan maklum saja keduanya di pertemukan tidak lewat jalur pengenalan satu dan lainnya secara pacaran.

__ADS_1


Saat akan mengenal Azlan harus di kirim untuk tugas yang cukup lama, kepulangan di sambut dengan istri yang terbaring sakit dan butuh perawatan dirinya.


Ibarat berjalan Azlan masih harus merambah tiap langkahnya agar tidak terperosok melukai pasangannya, jadi harus butuh ekstrak rasa kesabaran dari dirinya yang sudah dari awal memilih keputusan untuk menerima perjodohan dari eyang tanpa harus mengenal lebih dulu siapa Allea, Azlan hanya memegang ucapan dari mas Andika sabar itu kunci untuk kebahagian rumah tangganya, walaupun sabar itu tidak berujung agar sampai di titik Allea menerima sepenuh hatinya dan mengakui bahwa Azlan suami yang bertanggungjawab dalam keadaan apapun dan mencintainya sepenuh hati tanpa ada keraguan sedikitpun dari Azlan untuk menerima keadaan Allea yang pernah kecewa dalam suatu hubungan.


__ADS_2